Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
332. Rahasia Lain


__ADS_3

Hari makin beranjak sore. Suasana hutan semakin redup, karenasinar mat ahari yang menerobos dedaunan kian sedikit. Rasa gelisah terus membayangi Jeremy. Ia merasa bosan berada di tempat itu. Rasa lapar juga mulai menggerogoti lambungnya. Ia mondar-mandir saja di depan pondok tua, tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Ia ingin menggerutu, tetapi merasa segan kepada Reno. Polisi itu masih duduk tenang di sebuah batu, sambil menggigit rumput di ujung mulutnya.


"Bersabarlah, Jer. Cobalah untuk tenang. Kamu lapar kan? Sama aku juga. Kuperkirakan sejam lagi mungkin tim medis akan tiba di tempat ini. Kalau kau masih merasa bosan juga, kamu bisa jalan-jalan di sekitar sini, tetapi jangan lengah dan tetap waspada. Aku yakin pembunuh itu sekarang berada di kastil bersama mereka," ucap Reno.


"Sejujurnya aku masih resah memikirkan keadaan Stella. Bagaimana kondisinya sekarang? Firasatku mengatakan Stella masih hidup, tapi entahlah. Kalau terjadi apa-apa maka aku patut disalahkan karena aku tak mampu melindungi dia dengan baik. Dia tak sepantasnya mati, tapi aku yang mati," ucap Jeremy dengan nada pasrah.


"Kamu nggak boleh menyalahkan diri sendiri begitu, Jer. Kurasa Stella masih dalam keadaan baik. Pembunuh itu tak serta merta membunuh begitu saja. Ingat! Maya juga ditangkap tetapi tidak dibunuh kan? Nadine juga tak mati begitu saja, Rosita juga. Jadi besar kemungkinan Stella masih hidup. Kamu nggak merasa khawatir seperti itu. Tenanglah, dan mari kita tunggu tim medis sebentar lagi," ucap Reno menenangkan.


Jeremy hanya mengangguk, tetapi pikirannya masih membayangkan Stella. Ia mencoba untuk duduk agar bisa lebih tenang.


"Jer, aku mau tanya pendapatmu tentang kasus ini? Siapa yang menurutmu melakukan kekacauan ini semua?" tanya Reno.


Jeremy terperangah. Ia tak menyangka kalau Reno menanyakan hal ini padanya. Ia agak bingung untuk menjawab, sehingga ia sedikit gugup. Ia hanya menggeleng cepat.


"Aku ... aku tidak tahu, Pak. Sungguh, kejadian pembunuhan berantai ini sangat mengejutkan. Kami ke sini hanya untuk bersenang-senang, kemudian yang kami dapatkan adalah rasa teror dan ketakutan. Lidya dibunuh secara brutal, kemudian Farrel juga. Ini sangat mengerikan dan di luar dugaanku. Sangat sulit menebak siapa di antara kami yang melakukan ini semua. Sebab ...  sebab entahlah. Hubungan di antara kami begitu baik di masa lalu, sama sekali tak terbayang di pikiran kalau salah seorang di antara kami akan tega menghabisi yang lain," ucap Jeremy.


"Kadang persahabatan itu tak seindah dalam film atau yang seperti yang kau bayangkan. Mungkn salah seorang di antara kalian mengidap trauma di masa lalu sehingga menjadi psikopat atau berbuat nekat. Coba kau ingat. Apa ada kejadian di masa lalu yang sangat membekas dan memicu perbuatan yang tak seharusnya ini," pancing Reno.


"Entahlah. Kalaupun ada itu hanya cendaan-candaan belaka kurasa. Kami kadang mengerjai Maya, karena dia memang lugu dan pendiam, jadi kadang kami mengerjainya. Tapi sesungguhnya itu semua hanya candaan dan nggak ada maksud kami untuk serius. Tapi kami nggak tahu apa yang tersimpan di dalam hatinya," ucap Jeremy.


"Hmm, Maya? Baiklah. Aku akan catat informasi itu. Maya memang wanita yang sedikit berbeda. Ia cerdas, tetapi suka menyendiri, punya motif dan alibi, tetapi kami harus mempunyai bukti-bukti yang kuat sebelum menyimpulkan bahwa dia memang pembunuhnya," kata Reno.


"Bagaimana dengan saya, Pak? Apakah Anda mencurigai saya juga?" tanya Jeremy.


"Sejauh ini belum, tetapi lihat saja nanti. Kami belajar dari pengalaman dari kasus-kasus yang pernah kami tangani, bahwa seseorang yang paling lugu pun bisa menjadi seorag pembunuh. Semua bisa terjadi. nanti kami akan selidiki ini lebih jauh. Banyak yang sudah menjadi catatan kami, termasuk Aditya, bahkan Stella sekali pun. Semua bisa saja jadi tersangka. Kami tengah mencari kejanggalan-kejanggalan yang ada dalam kasus ini," ucap Reno.


Jeremy mengangguk. Ia sedikit cemas. Kembali ia terbayang Stella. Ia tidak pernah terbayang kalau wanita itu bisa menjadi dalang semua kekacauan  yang berlaku. Ia tidak ingin bicara apa-apa lagi, sebab mungkin perkataannya akan menjadi bumerang dan akan mencelakakan dirinya sendiri.


***


Kastil menjadi lengang setelah kejadian percobaan pembunuhan terhadap Nadine. Semua memilih untuk diam dan melaksanakan aktivitas masing-masing. Ammar menemui Nadine yang masih kelihatan terpukul itu di dalam kamarnya, setelah meminta izin kepada Ryan, sang suami. Ammar hanya ingin bicara berdua dengan Nadine, terkait peristiwa yang sudah dialaminya, hingga ia ditemukan dalam keadaan tergantung di ruang bawah tanah.


Tentu saja, Ryan mengizinkan Ammar untuk bertemu Nadine, bahkan ia menyediakan kursi untuk duduk di samping ranjang Nadine.


"Silakan, Pak. Saya akan ada di luar kalau butuh apa-apa," ucap Ryan.

__ADS_1


Ammar mengangguk, kemudian mengarahkan pandangan kepada Nadine.


"Apa kamu sudah siap memberi kesaksian, Nadine?" tanya Ammar.


Ia tidak ingin membuat wanita itu merasa tertekan atau merasa takut dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia ajukan. Ia bersikap sesantai mungkin, agar Nadine juga merasa nyaman. Pintu kamar tertutup, agar keterangan Nadine tidak bocor keluar, dan menimbulkan spekulasi di antara yang lain.


"Ceritakan dari awal, Nadine. Dari saat keberangkatan ke air terjun, sampai kau tergantung di ruang bawah tanah. Sebab, menurut keterangan Adit dan Ryan, kamu tiba-tiba saja menghilang saat buang air kecil. Apa yang sebenanya terjadi?" tanya  Ammar.


Nadine terdiam sejenak, menggigit bibir, berusaha mengingat penggalan cerita yang telah terjadi sebelumnya. Ia kemudian menghela napas.


"Pagi itu, aku menyusur jalan setapak ke arah kiri bersama Ryan dan Aditya. Sedangkan yang lain mempunyai jalur sendiri-sendiri. Lily melakukan itu agar kami lebih efektif dan bisa menemukan air terjun secara tepat, karena rambu-rambu hutan itu sudah menghilang entah kemana, sehingga agak kesulitan untuk mencari air terjun. Cuaca pagi itu dingin dan berkabut, sehingga membuat aku ingin buang air kecil. Aku izin untuk buang air kecil agak ke bawah, karena aku tidak mungkin buang air kecil di sekitar situ karena ada Adit. Aku menemukan tanah berumput di balik semak, di bawah pohon, kemudian aku buang air kecil pula di tempat itu."


Nadine menghentikan kalimatnya sejenak, berusaha mengingat-ingat kejadian setelah itu. Ammar tak ingin memaksanya atau mendesak Nadine, karena kondisi wanita itu memang belum pulih seratus persen. Ia hanya mengangguk-angguk.


"Kalau kamu masih belum bisa sekarang, kita bisa tunda interviu ini nanti dan akan kita lanjutkan .... "


"Tidak, Pak. Tidak! Aku bisa menceritakannya sekarang. Aku khawatir nanti aku malah lupa," kata Nadine.


"Baiklah," ucap Ammar.


"Jeremy menemukanmu di pondok di tengah hutan. Apa kamu ingat itu?"


"Ya, tentu saja aku ingat. Aku tak sadar kemana sosok itu membawaku, tetapi tiba-tiba saja kudenga ada suara seseorang, hingga aku membuka mata. Ternyata aku sudah di dalam pondok, dan kulihat Jeremy sudah ada di sana. hanya saja kondisiku lelah dan seperti mabuk, tidak bisa bicara banyak. Namun, aku masih bisa melihat dan mendengar," lanjut Nadine.


"Setelah itu?"


"Setelah itu ada Stella datang dan dia menemaniku, karena Jeremy sedang mencari bantuan yang lain. Stella membantuku untuk bersikap tenang, tetapi kedatangan Stella membuatku takut Pak. Jujur. Aku trauma dengan kejadian pas aku buang air kecil, karena suara yang memanggilku seperti suara perempuan, sehingga aku khawatir kalau pelakunya Stella. Apalagi setelah itu Stella izin keluar pondok sebentar, entah apa yang ia akan lakukan. Aku menunggu lama, tapi Stella tak kunjung kembali. Yang datang malah sosok bertopeng, kemudian meembawaku paksa keluar pondok. Ia kembali membekapku sampai tidak sadar. Setelah sadar, aku telah berada di dalam ruang bawah tanah yang asing. Sosok itu seperti menyiapkan tali untuk menggantung, sehingga aku merasa takut ...."


Kali ini Nadine menangis, dan menggelengkan kepalanya. Ammar hanya menghela napas. Sepertinya sesi tanya jawab ini harus diakhiri. Ia berdiri sambil tersenyum.


"Tenanglah Nadine. Kamu aman sekarang, karena Ryan akan menjagamu. Ada petugas juga, jadi kamu nggak usah cemas. Untuk sementara sepertinya cukup. Nanti kita akan lanjutkan kapan-kapan lagi. Terima kasih atas informasinya Nadine. Sekarang kamu bisa beristirahat," ucap Ammar..


Saat Ammar keluar kamar, terlihat Ryan sudah menunggu di depan kamar dengan paras cemas. Ia mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Apa dia baik-baik saja, Pak?" tanya Ryan dengan khawatir.

__ADS_1


"Dia akan baik-baik. Jaga dia dengan benar, Ryan!" perintah Ammar.


Ryan mengangguk, segera menghambur ke dalam kamar untuk bertemu dengan Nadine. Perempuan itu terlihat lebih tenang sepeninggal Ammar. Ryan duduk di tepi ranjang, kemudian membelai rambut Nadine.


"Aku akan menjagamu, jangan khawatir," ucap Ryan.


"Maafkan aku jadi merepotkanmu, Ryan."


"Tak apa Nadine. Jangan berpkiran macam-macam, semua akan baik saja,"


***


Di ruang baca kastil, terlihat Lily sedang membaca dengan serius. Wanita muda itu memilih duduk di belakang lemari, dengan arah ke jendela. Sementara Adit duduk di hadapannya sambil memperhatikan Lily dengan saksama. Lily merasa tak nyaman diperhatikan seperti itu, kemudian ia menutup buku yang dibacanya.


"Ada yang salah, Dit?" tanya Lily sambil menatap Adit degan tatapan tajam.


"Kamu merencanakan semua ini kan, Ly?" tanya Adit.


"Apa maksudmu, Dit?"


"Reuni ini. Kamu telah merancang reuni berdarah ini jauh-jauh hari. Mengumpulkan kami semua di sini, dan kamu paham masalah-masalah kami. Itulah sebabnya kamu nggak kaget dengan peristiwa mengerikan ini. Lidya mati seolah menjadi tumbalmu, memuaskan keinginan gilamu!" ucap Adit dengan nada serius.


"Kamu sehat ya Dit? Atau kamu masih trauma dengan kematian Lidya? Aku sama sekali nggak ngerti dengan arah pembicaraanmu. Kamu jangan gila ya! Memang reuni ini sudah kurancang sejak lama, tetapi bukan reuni berdarah seperti ini. Siapa yang mengira akan terjadi tragedi pembunuhan seperti ini? Siapa yang menyimpan dendam selama bertahun-tahun, aku juga tak mengerti. Karena selama ini bukankah semua baik-baik saja. Kita ke sini untuk bersenang-senang, bukan reuni yang seperti ini!" ucap Lily.


"Oya, baik-baik saja katamu? Aku tidak merasa seperti itu Ly. Aku merasa yang ada semua di sini terasa aneh. Kita nggak seakrab dulu, semua saling mencurigai dan saling menjatuhkan. Entahlah, mungkin aku salah. Tapi aku merasakan itu. Apalagi setelah Lidya tewas. aku merasa semua janggal," kata Adit.


"Tau nggak Dit! Kematian Lidya bukan tanpa sebab. Jangan kau pikir aku tak tahu perselingkuhanmu. Aku tahu kamu selingkuh dengan siapa, dan aku memilih diam. Jangan-jangan kau bunuh Lidya gara-gara alasan itu!"


"Cukup Lily! Kamu nggak tahu apa-apa dan jangan menebar fitnah!" kata Adit mulai tersulut emosi.


"Aku akan diam! Dan mari kita lihat, siapa yang mati setelah ini!" tandas Lily


***


.

__ADS_1


__ADS_2