Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
378. Terjebak


__ADS_3

Juned berjalan menyusur lorong gelap dengan gelisah. Perasaanya sangat tidak nyaman, ketika ia melewati bilik-bilik yang kebanyakan pintunya tertutup. Sebenarnya ia ingin melongokkan kepala ke dalam bilik-bilik itu, untuk mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di sana, tetapi ia merasa khawatir. Ia hanya melewati, sambil tetap menyorotkan lampu senternya ke arah depan. ia tidak mau kehilangan fokus.


"Aneh-aneh saja Pak Reno ini. Bawah tanah ini kan luas dan membingungkan. Di mana coba aku harus mencari Mariah?" gerutu Juned.


Setelah beberapa lama ia berjalan, ia menemukan persimpangan di depannya. Ia harus bisa berpikir cepat, menentukan pilihan arah mana yang harus ia tuju, lorong kiri atau lorong kanan. Juned benar-benar buta, tak tahu ke arah mana lorong-lorong ini akan berakhir. Walau ia sudah beberapa kali turun ke ruang bawah tanah, ia tidak bisa mengingat dengan baik lorong-lorong yang pernah ia lewati.


"Kalau ke kiri, sepertinya akan kembali balik ke tempat instalasi listrik itu. Kalau ke kanan sepertinya akan menuju terowongan yang tembus ke hutan. Jadi arah mana yang harus kupilih ya?"


Juned bergumam sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk memilih jalur kanan, walau ia tidak yakin juga apakah lorong itu akan tembus kemana. Lorong terlihat sunyi dan gelap, tak ada tanda-tanda seorang pun di situ. Bunyi tetes-tetes air tedengar entah dari mana asalnya. Juned selalu saja merasa tegang saat menyusur lorong-lorong gelap ini.


Beberapa meter di depannya kembali ia dihadapkan dengan persimpangan lorong yang mengarah ke kiri dan ke kanan. Belum lagi ia sampai di sana, ia melihat sebuah bayangan hitam berkelebat cepat dari arah kiriĀ  menuju ke kanan. Juned sendiri sempat agak kaget melihat itu. Ia tidak tinggal diam, ia segera mengejar sosok hitam yang berkelebat di depannya.


"Woee ... jangan lari kau!"


Walaupun gelap, Juned masih bisa melihat sosok berbaju hitam itu lari menjauh. Namun, tiba-tiba. sosok itu berbelok, masuk ke dalam sebuah bilik yang pintunya terbuka. Juned tersenyum, karena ia mengira sosok itu sudah terjebak dan tidak tahu lari ke mana, sehingga masuk ke dalam sebuah bilik.


"Hahaha ... mau lari kemana kau! Kamu sudah terjebak!"

__ADS_1


Juned mengeluarkan pistol dan menodongkan ke depan. Ia melangkah dengan hati-hati menuju bilik tempat sosok itu masuk. Sambil menyorotkan senter, ia masuk ke dalam bilik dengan tetap waspada. Ia menyorotkan senter ke seluruh ruangan bilik, tetapi sosok itu seolah lenyap begitu saja.


"Kemana dia pergi?" gumamnya.


Juned yakin kalau sosok tadi berlari masuk ke dalam bilik ini, tetapi mengapa seolah menghilang? Yang ia lihat adalah sebuah bilik kosong yang agak luas, lengkap dengan ranjang tua, meja, kursi, bahkan toilet. Tak salah lagi, bilik ini dahulu adalah tempat penyekapan Anjani, dan juga Mariah. Niken juga pernah disekap di tempat ini. Juned mencium aroma tak sedap di ruangan ini, mirip bau pesing dan kotoran manusia. Maklum, tempat ini sangat tertutup dan pengap.


"Ruangan apa ini?" gumam Juned.


Firasat Juned tak enak, sehingga memutuskan untuk segera keluar dari bilik itu, mengingat ia khawatir mungkin bilik ini adalah jebakan. Ia segera berbalik arah untuk keluar, tetapi belum sempat mencapai pintu tiba-tiba pintu bilik tertutup.


Blaaam!


***


"Siapkan mental kalian! Aku pastikan setelah ini pelaku tak akan kemana-mana, karena belajar dari kasus-kasus sebelumnya, pelaku selalu berusaha meloloskan diri. Jadi kami pastikan, malam ini tak akan terjadi!" ucap Dimas sambil tersenyum.


"Langsung saja Pak! Siapa bajing*an itu!" potong Edwin yang mulai tak sabar,

__ADS_1


"Sabar Edwin. Aku tahu kamu tak sabar dengan ini. Sama, aku pun tak sabar untuk mengatakan langsung siapa si pelaku sebenarnya. Sekarang mari kita lanjutkan kronologis kejadian setelah Lidya ditemukan tewas di kamar mandi. Sebenarnya kami belum punya gambaran apa pun siapa pelaku pada waktu itu. Mungin orang luar, atau bisa jadi salah satu dari kalian. Sama sekali belum bisa dipastikan. Makanya, saat Lily berencana mengunjungi air terjun, kami iya kan saja, asal tetap berhati-hati. Namun ternyata, pembunuhan terhadap Lidya adalah awal dari sebuah mimpi buruk," lanjut Dimas.


Sebelum ia melanjutkan kalimatnya, ia kembali membuka map yang ia pegang untuk memastkan kronologis kejadian yang sudah ia susun.


"Awalnya kami berpikir bahwa perjalanan ke air terjun bisa mengembalikan keceriaan kalian, tetapi ternyata ternyata perjalanan itu dapat dikatakan banyak diwarnai beberapa kejadian drama yang berujung fatal. Yang pertama, dalam perjalanan itu kalian mengalami kebingungan untuk menentukan lokasi air terjun karena tanda-tanda petunjuk jalan yang tiba-tiba menghilang atau sengaja dihilangkan. Akibatnya kalian terpencar untuk mencari jalan ke air terjun. Nah, selanjutnya, kejadian berikutnya cukup mengejutkan. Yaitu saat Nadine menghilang pas buang air kecil. Saat itu ia berjalan bersama Ryan dan Aditya ke jalan setapak sebelah kiri. Menurut laporan Ryan, ia tidak dapat menemukan Nadine karena ia menghilang begitu saja. Ia khawatir Nadine jatuh terperosok ke dalam jurang, karena memang di sisi jalan setapak itu memang ada jurang atau lereng lah kalau aku bilang. Cukup dalam, tetapi masih aman. Kebetulan Ramdhan yang lewat situ segera memeriksa, tetapi tidak menemukan petunjuk yang signifikan. Namun setelah diperiksa lebih jauh, kami hanya menemukan ceceran darah. Sayangnya, ceceran darah itu adalah darah binatang. Selain itu, juga ditemukan sobekan kain yang diduga adalah baju Nadine di tempat kejadian. Sampai di situ, kehilangan Nadine masih begitu misterius, belum ada yang tahu. Benar kan Nadine?" tanya Dimas tiba-tiba.


"Ya, itu memang benar. Saat aku selesai buang air kecil, tiba-tiba aku mendengar suara perempuan memangil namaku. Belu lagi aku tahu siapa yang memanggil, tiba-tiba seseorang menyekapku dan menyeretku pergi. aku sudah meronta dan berusaha minta tolong, tetapi mulutku dibekap sehingga tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan aku juga measakan seperti dibius, sehingga aku tak ingat apa-apa lagi. Bangun-bangun, aku sudah berada di tempat asing, di sebuah pondok," ungkap Nadine.


"Cukup Nadine! Biar aku yang melanjutkan. Jadi setelah kamu mendapati dirimu terbaring di dalam pondok tua itu, secara tidak sengaja Jeremy menemukanmu. Dia begitu khawatir, sehingga ia harus meminta pertolongan yang lain, dan meminta Stella untuk menjagamu. Sayangnya, justru hal buruk yang terjadi. Setelah Jeremy kembali ke pondok itu bersama yang lain, Stella dan Nadine malah menghilang. Benar Nadine?"


"Ya benar. Saat itu Stella memang menungguiku, tetapi dia izin keluar pondok dan tidak kembali. Lalu sosok berbaju hitam muncul kembali untuk membekapku, dan ketika tersadar, aku sudah tergantung di sebuah ruang bawah tanah," ucap Nadine dengan suara bergetar seperti hendak menangis.


"Benar sekali. Setelah kejadian hari itu, banyak teror bermunculan. Yang pertama adalah terbunuhnya salah satu pekerja di kastil ini yang bernama Kara. Gadis belia ini tewas setelah secara sengaja dijatuhkan dari atas loteng, setelah sebelumnya si pelaku pembunuhan ini menyekap Rosita. Benar Ros?"


"Benar sekali, Pak. Hari itu aku sedang memasak, lalu aku mendengar suara musik dari loteng. Aku memang pergi ke sana karena aku penasaran. Siapa yang memainkan musik di atas loteng? Kupikir itu adalah salah satu dari kalian. Sayangnya malah hal buruk yang aku dapat. Seseorang menyekapku tiba-tiba, dan sepertinya hendak berbuat buruk kepadaku. Lalu kulihat ada gadis belia itu yang sepertinya hendak membersihkan loteng. Ia menjerit melihat sosok itu, tetapi kemudian sosok itu melumpuhkannya, dan memakaikan pakaianku. Lalu ... lalu ... "


Rosita tak sanggup melanjutkan ucapannya. Parasnya tampak sedih. Ia hanya bisa menggeleng.

__ADS_1


"Ya, aku tahu lanjutannya. Sosok itu melempar gadis belia yang bernama Kara itu dari atas loteng!" lanjut Dimas.


***


__ADS_2