
Dokter Dwi hanya bisa jatuh terduduk, sambil memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Rencana yang ia susun dengan Mariah sebelumnya gagal total. Tenyata rencana itu tak semudah kelihatannya, karena sosok itu muncul tiba-tiba dan membawa senjata tajam. Hal itu yang membuat pikiran Mariah buyar, ia sudah merasa gentar duluan. Ini agak mengherankan, mengingat ia seorang cenayang. Dia lebih berani menghadapi makhluk tak kasat mata daripada berhadapan dengan sosok bersenjata tajam!
Ia membalut pergelangan tangan dengan perban. Dalam pikirannya, kini ia sangat mengkhawatirkan keberadaan Mariah. Ia cemas, kalau-kalau sosok itu benar-benar nekat, mengambil biji mata Mariah. Ia benar-benar ingin membantu, tetapi pintu bilik itu kini kembali terkunci. Yang dapat ia lakukan hanya berdiam sambil berpikir.
“Sebentar lagi aku akan mendapatkan bola mata itu.”
Wanita tua yang terbaring di pembaringan itu tiba-tiba bersuara. Suaranya parau, tetapi cukup jelas terdengar. Dokter Dwi mangatupkan geraham erat-erat, menahan amarah.
“Kamu puas dengan apa yang telah kamu lakukan? Ambisi pribadi dan dendam kesumat yang kamu kobarkan telah merenggut nyawa tak berdosa, dan di sini kamu hanya diam tak bergerak. Kamu puas dengan itu?” tanya dr. Dwi pada Anjani.
“Saat kesenangan dan kepuasan di dalam hati memuncak, di saat yang sama darah tertumpah. Lalu apa bedanya kau dengan Anggara Laksono? Sungguh, yang kalian lakukan tidak mencerminkan perilaku manusia. Ada iblis yang menunggangi kalian untuk melampiaskan hasrat membunuh!” lanjut dr.Dwi.
“Diam! Aku nggak butuh ceramahmu! Apa yang dilakukan anakku sepadan dengan penderitaan yang kami terima. Bertahun-tahun kami disakiti, dan ini saatnya sakit itu terbalaskan!” ucap perempuan itu.
“Oke! Oke! Anggara Laksono sudah dihabisi. Sekarang apa? Mengapa yang lain juga harus menderita akibat dendam kesumat kalian? Apa salah mereka?” cecar dr.Dwi.
“Salah mereka satu. Mereka berada di tempat yang salah. Aku sudah berpesan, jangan biarkan seorang pun lolos. Kalau seorang saja lolos, maka berakhir pula semuanya. Ini masalah hidup dan mati kami. Tak akan ada yang boleh lolos!” Suara wanita itu mulai meninggi.
“Dasar kalian iblis!” Tiba-tiba dr.Dwi tak dapat menahan emosi.
Secepat kilat ia mendekati wanita yang terbaring itu, kemudian mencengkeramkan tangan ke leher Anjani.
“Aku bisa saja mencekikmu hingga tewas sekarang! Kamu pantas mendapatkan itu. Kejahatanmu membuat tak layak untuk hidup lebih lama di muka bumi. Sekarang juga aku bisa menghabisimu, tetapi aku nggak akan lakukan itu! Kamu tau kenapa? Karena aku adalah manusia. Aku manusia! Aku bukan iblis sepertimu!” dr. Dwi berteriak membabi-buta.
“Kamu nggak akan berani. Kamu adalah pengecut! Bunuh saja aku kalau kau berani!” tantang Anjani.
“Jangan paksa aku untuk melakukannya!”
“Kamu nggak akan berani pengecut! Kamu takut kan? Ayo bunuh aku!”
Darah dr.Dwi terasa mendidih karena terus diejek oleh perempuan tak berdaya itu. Ia berusaha mengembalikan akal sehatnya, saat Anjani mencecar dengan ejekan yang dahsyat. Tentu saja, ia tidak akan membunuh seorang perempuan tua yang bahkan melihat pun tidak bisa.
__ADS_1
Plaaak!
Karena ia tidak dapat menahan emosi, ia hanya menempeleng wajah Anjani hingga wanita tua itu tak sadarkan diri. Napas dr.Dwi tersengal menahan emosi yang hendak meledak di dadanya. Provokasi dari Anjani tadi sungguh menyulut emosi yang tak tertahankan.
***
Dimas keluar dari ruang tamu, membiarkan Reno berbincang dengan Helen. Ia menyusuri halaman depan yang tak terawat. Ia berpikir, kastil ini memang sempurna untuk lokasi kejahatan. Letaknya yang tersembunyi dari keramaian dunia, membuat jejak kejahatan sulit untuk dilacak. Ia memeriksa sinyal telepon. Bahkan tak ada sedikit pun jaringan di sekitar sini. Lalu bagaimana bisa Anggara Laksono bisa bertahan di tempat seperti ini?
Setelah dari halaman depan, ia menyusur ke samping kastil. Kondisi juga hampir sama dengan halaman depan yang tak terawat dengan baik. Suasananya sunyi. Ia berharap menemukan petunjuk agar ia bisa mengurai benang kusut kasus yang ia tangani.
Tiba-tiba Matanya tertuju pada seorang gadis muda yang sedang mengamati seekor burung berbulu indah yang sedang berloncatan di sebuah ranting pohon. Gadis itu begitu serius mengamati melalui sebuah kamera yang ia pasang pada sebuah tripod. Ia tak menyadari ketika gerak-geriknya diawasi oleh Dimas.
Dimas mendekat, menunggu sampai gadis itu selesai memotret objek buruannya. Setelah selesai, ia tampak terkejut mendapati Dimas yang tiba-tiba muncul di tempat itu.
“Oh, siapa Anda?” tanya gadis belia yang tak lain adalah Elina. Ia tampak segar pagi itu, dengan tampilan sporty.
“Maaf mengejutkanmu. Aku Dimas, polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan. Aku sedang berjalan-jalan di sekitar kastil untuk melihat kondisi. Boleh aku tahu, apakah kamu pemilik kastil ini?” tanya Dimas.
“Tamu? Hmm. Ada urusan apa Anggara mengundang kalian?” tanya Dimas lagi.
Elina mengernyitkan dahi, menatap Dimas lekat-lekat. Kecurigaan menyeruak. Elina tak ingin membagikan informasi begitu saja, terlebih pada orang asing yang baru pertama kali ditemuinya. Ia hanya menggeleng.
“Maaf, apakah Anda benar-benar polisi?” tanya Elina.
Dimas tersenyum mendengar perkataan Elina. Ia mengeluarkan sebuah kartu keanggotaan polisi, kemudian menyerahkan pada Elina. Gadis itu menerima kemudian menatap wajah Dimas lekat, mencoba mencocokkan antara wajah dengan foto yang ada di kartu.
“Masih ragu?” tanya Dimas.
“Oke. Aku percaya. Maaf. Saat ini aku harus waspada, mengingat kondisi kastil sedang tidak baik, jadi tidak boleh begitu saja membagikan informasi kepada siapa pun,” ucap Elina sembari mengembalikan kartu milik Dimas.
“Mmm, bisa kita mengobrol sebentar?” tanya Dimas.
__ADS_1
“Sebenarnya aku tidak banyak tahu. Tapi baiklah, aku hanya menjawab apa saja yang kutahu. Kurasa kita mengobrol di sini saja, karena di dalam suasananya kurang bagus. Aku tidak betah di sana, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu diluar,” ujar Elina.
“Tak masalah. Ngomong-ngomong, kamu suka memotret?”
“Bukan suka lagi. Ini profesi yang kujalani sebagai seorang fotografer di sebuah majalah terkenal. Rupanya nasib membawaku terdampar ke kastil ini, dan harus mengalami banyak hal ....”
“Bisa kamu ceritakan awal mula kamu berada di kastil ini? Atau mungkin bagaimana kalian mengenal Anggara Laksono?” tanya Dimas.
“Aku nggak mengenal secara pribadi, bahkan sangat jarang mendengar namanya. Tunanganku mendapat undangan untuk ....”
Aaaah!
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara jeritan wanita yang lirih, tetapi cukup jelas terdengar. Elina menghentikan kalimatnya, dan menoleh ke arah Dimas.
“Anda dengar itu?” tanya Elina.
“Ya, aku mendengarnya. Seperti suara jeritan seorang wanita. Asalnya seperti tak jauh dari sini. Dari mana ya?” tanya Dimas penasaran.
“Sepertinya aku tahu dari mana. Aku belum lama tinggal di kastil ini, tetapi suara itu sepertinya berasal dari suatu tempat di bawah tanah,” ucap Elina.
“Bawah tanah?”
“Ya, ruang bawah tanah. Sepertinya kita harus cepat kesana. Aku khawatir ada sesuatu yang buruk terjadi.” Elina tampak cemas.
“Bisa kamu antar aku ke ruang bawah tanah itu?”
“Tentu saja. Mari kita kesana! Aku harap Anda bisa mencegah kejahatan terjadi di tempat ini.”
“Baiklah. Ayo kita kesana!”
***
__ADS_1