Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
325. Sosok Hitam


__ADS_3

Ammar, Edwin, dan Juned memutuskan untuk mengikuti lorong yang berada di hadapan. Lorong itu memanjang gelap, dengan bilik-bilik pitu baja di samping kanan dan kiri. Hawa kengerian sudah terasa saat mereka mulai melangkah, seolah ada yang mengawasi di balik dinding-dinding yang kusam dan berlumut itu. Ketegangan mencengkeram. Bunyi tetes-tetes air terdengar entah dari mana. Ammar mengeluarkan senternya, kemudian menerangi lorong di hadapan. Terasa sekali aura yang lain daripada yang lain. Edwin merasakan bulu kuduknya mulai meremang.


"Dahulu tempat ini adalah tempat penyiksaan," ucap Ammar perlahan.


"Aku bisa merasakannya, Pak," timpal Juned.


"Dan kalian jangan lupa, tempat ini pernah menjadi ajang pembunuhan banyak penulis. Aku pernah membaca beritanya di salah satu rubrik kriminal. Kupikir arwah mereka masih bergentayangan," tambah Edwin.


Mereka terus melangkah menyusuri lorong, sampai terdengar suara logam jatuh dari salah satu bilik. Edwin hampir terlonjak karena kaget, sedangkan Ammar menghentikan langkahnya.memasang pendengaran lekat-lekat.


"A-apa tidak sebaiknya kita kembali saja?" ucap Edwin perlahan.


"Bukankah kamu yang tadi melihat ada bayangan orang di sini? Lalu kamu meminta kembali? Kamu ini bagaimana sih?" semprot Juned.


"I-iya, aku memang melihat bayangan hitam berkelebat di lorong ini. Tapi mungkin aku salah," ucap Edwin.


"Lebih baik kita periksa sampai ujung, apabila tidak ada apa-apa, kita kembali saja," ujar Ammar.


Mereka segera menyetujui usulan Ammar itu, walau sedikit waswas. Lorong itu lembap dan gelap, sehingga menciptakan suasana tidak nyaman. Paras Edwin tampak semakin cemas. Ia hanya mengkiti langkah Ammar dan Juned, sembari melihat ke arah bilik-bilik tersebut, siapa tahu pintunya terbuka secara tiba-tiba.


Setelah beberapa langkah,tiba-tiba hal mengejutkan terjadi.


Krieeet!


Sebuah pintu bilik baja terbuka begitu saja, menampakkan ruangan yang gelap dan lembap. Ammar tterhenti, begitu juga Juned. Edwin tampak ketakuan, ia melihat ke dalam ruangan gelap itu. Sayup-sayup terlihat sebuah benda menggantung dalam ruangan itu. Bentuknya mirip sekali dengan manusia, tetapi tidak dapat dipastikan karena gelap.


"Ti-tidak! Ada seseorang tergantung di dalam sana!" pekik Edwin.


***

__ADS_1


Setelah didera rasa panik karena melihat jasad Kara, perempuan muda yang dikenalnya, Mariah berusaha menguasai emosinya, karena ia punya tanggung jawab untuk menyiapkan sarapan untuk penghuni kastil yang lain. Ia segera menyelesaikan persiapan makan pagi, kemudian membawa potongan-potongan roti yang telah dioles selai dan margarine ke ruang makan. Ia berusaha untuk tenang, walau saat ini perasaannya tidak karuan. Salah seorang pegawainya mati secara mengenaskan di depan mata, dan kini ia dipaksa untuk bersikap baik-baik saja.


Ia melangkah penuh percaya diri menuju ruang makan. Sayangnya, ia menjumpai ruang makan sudah sepi. Yang ada hanya Ryan dan Jeremy yang tengah mengobrol serius. Mereka berhenti mengobrol ketika Mariah datang ke situ sambil membawa nampan berisi makanan.


"Mana yang lain?" tanya Mariah.


"Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Mereka tak berselera makan pagi ini. Tapi perutku terasa lapar banget, dan kamu datang tepat waktu, Mariah!" ucap Jeremy.


Mariah meletakkan nampan ke atas meja. Jeremy mengambil sepotong roti isi selai tersebut, kemudian memasukkan ke dalam mulut sekaligus. Sedangkan Ryan kurang berselera pula untuk makan pagi ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Mariah? Mengapa Ammar bersikap aneh pagi ini?" tanya Ryan.


"Hmm, aku tidak terlalu mengerti urusan Bang Ammar. Nanti kalau ada apa-apa, dia juga cerita kok. Jangan khawatir," ucap Mariah sambil berusaha tersenyum.


Kedua pria itu hanya saling memandang dan berusaha untuk memahami apa yang diucapkan Mariah. Suasana mendadak menjadi dingin dan kaku, karena masing-masing tak ada yang berbicara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Kecemasan masih melanda perasaan Mariah, sehingga ia merasa gelisah.


Tiba-tiba, dari arah beranda depan muncul Dimas dengan paras cemas. Ia terlihat buru-buru, sambil melihat siapa saja yang berada di ruang makan. Jeremy dan Ryan sontak merasa gembira melihat kehadiran Dimas. Harapan mereka muncul, berharap Dimas membawa kabar gembira mengenai keberadaan Nadine dan Stella.


"Maafkan aku, Jeremy. Kami belum menemukan keberadaan mereka. Ada sesuatu yang penting yang harus kami selesaikan pula. Mana Bang Ammar?" tanya Dimas cepat.


Jeremy dan Ryan mendengkus kecewa. Mereka gusar, karena Dimas tak juga menemukan keberadaan mereka. Mariah segera menimpali Dimas, agar perhatian Jeremy dan Ryan sedikit teralihkan.


"Dia ... dia sedang ada di luar. Ada apa Dim? Kamu kelihatan terburu-buru. Ada apa sebenarnya?" tanya Mariah.


"Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan dia sekarang. Di mana dia?" desak Dimas.


"Tunggulah sebentar, duduk dan tenanglah. Aku akan buatkan kopi untukmu, Dimas. Sebentar lagi Bang Ammar pasti kembali. Santai saja," ucap Mariah berusaha agar tak menciptakan suasana panik.


"Aku nggak ada waktu, Mariah. Aku harus bertemu dengan Ammar!"

__ADS_1


"Dia ...dia tidak sedang berada di tempat. Mari kita bicarakan ini di dalam," ucap Mariah.


Wanita itu memberi isyarat agar Dimas mengikutinya. Sementara, Jeremy dan Ryan yang berada di tempat itu hanya saling berpandangan penuh tanya. Mereka semakin yakin, ada sesuatu yang disembunyikan di kastil ini. Namun, mereka tak pula mempertanyakan hal ini kepada Mariah. Mereka hanya pasrah menunggu keterangan Dimas lebih lanjut, perihal istri-istri mereka.


Mariah mengarahkan Dimas menuju ruang baca, kemudian menutup pintu. Ia persilakan polisi muda itu duduk, kemudian ia berdiri di hadapan Dimas sambil menatap ke arah jendela luar. Dimas sebenarnya tak ada waktu untuk ini, tetapi ia tak bisa menolak juga.


"Ammar sedang menyelesaikan satu masalah hari ini," ucap Mariah.


"Apa lagi?" tanya Dimas.


"Satu korban pembunuhan kembali ditemukan oleh Juned tadi pagi.  Korbannya adalah seorang gadis bernama Kara. Ia biasanya bertugas bersih-bersih kastil. Pagi ini adalah jadwalnya, bergantian dengan Budiman, seorang yang lainnya. Namun, ada seseorang yang tega menghabisi nyawanya. Ini brutal sekali, dan harus dihentikan. Sekarang Ammar dan Juned tengah mengamankan jasad Kara, agar tak menimbulkan kepanikan," papar Mariah.


"Astaga! Ini gila. Pembunuh itu makin leluasa melancarkan aksinya. Rupanya dia juga beraksi di hutan. Sebenarnya aku dan Reno menemukan jasad tanpa kepala, yang jelas itu adalah jasad Farrel. Untuk itu, kami akan dbicarakan ini dengan Ammar, terkait langkah yang harus diambil. Rencanaku, aku akan ke kota siang ini juga, mengurus segala yang terjadi di sini, dan mencari data terkait para penghuni kastil ini," kata Dimas.


"Kamu hendak mencari data di mana? Aku punya buku tahunan saat SMA dulu, kalau kamu mau lihat, nanti aku berikan ke kamu. Tapi buku itu sekarang ada di rumah yang ada di kota. Nanti kamu masuk ke rumahku, dan ambil buku itu di rak buku di ruang keluarga. Terlihat jelas kok, tinggal ambil saja," terang Mariah.


"Baik, Mariah. Untuk saat ini mungkin aku akan menunggu Ammar terlebih dahulu, sebelum berangkat ke kota. kalau perlu aku akan meminta tambahan personil di sini, karena mungkin aku akan agak lama di kota. Mungkin posisiku akan digantikan yang lain," ucap Dimas.


"Ya, kurasa perlu penambahan personel di sini. Mengingat kita semua di sini dalam keadaan tak aman," timpal Mariah.


"Namun, sebelumnya aku harus bertemu dengan Ammar. Dia di mana? Biar kususul!"


"Dia berada di ruang bawah tanah," jawab Mariah


"Astaga! Mengapa dia berada di sana? Aku benar-benar trauma masuk ke dalam ruangan itu setelah kasus Tiara. Apa yang dilakukan suamimu di sana?"


"Dia sedang mengamankan jasad itu, Dim. Jangan sampai penghuni lain tahu," ucap Mariah.


"Biar aku yang susul ke sana!"

__ADS_1


***


__ADS_2