Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
372. Interogasi Mendadak


__ADS_3

Setelah mencurigai satu nama penyebab kekacauan yang terjadi di kastil, Dimas segera memeriksa kamar yang bersangkutan. Dimas ingin memastkan bahwa nama yang ia curigai itu benar-benar pelaku dari kasus pelik ini. Ia mengetuk pintu kamar, tetapi tak ada jawaban.  Dimas membuka pintu, ternyata pintu itu memang dalam keadaan tak terkunci. Kemana penghuninya, gumam Dimas.


Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang sedikit berantakan itu. Ranjangnya masih dalam keadaan belum ditata rapi, seolah ditinggalkan begitu saja. Lantai kamar juga dalam keadaan kotor, tak pernah dibersihkan, seolah penghuninya tak ada waktu untuk membersihkan lantai. Ia beranjak untuk memeriksa meja rias. Tak ada yang mencurigakan di sana. Penghuni kamar ini bukan tipe orang yang suka berdandan berlebihan, karena ia melihat alat-alat kosmetik yang ada tidak terlalu banyak, sebagaimana layaknya kaum wanita masa kini.


Ia memeriksa laci-laci meja rias itu, tetapi isinya hanya benda-benda kecil yang tak terlalu penting, seperti bros dan penjepit rambut. Setelah memastikan tak ada yang patut dicurigai, ia membuka lemari pakaian yang terletak di sisi samping. Tak banyak pula pakaian yang dibawa orang ini. Tiba-tiba. Dimas melihat sebuah kotak aksesoris yang di simpan di balik tumpukan pakaian. Dimas penasaran, apa sebenarnya isi kotak aksesoris itu.


Kotak aksesoris itu tampak cantik, berbentuk persegi yang dicat warna sillver dengan hiasan pita di tutupnya. Dimas membuka perlahan, mendapati sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf. Dimas mengernyitkan kening, karena sepertinya ia tak asing dengan kalung ini. Ia pernah melihatnya, tetapi lupa di mana. Huruf yang menjadi liontin di kalung itu adalah SA.


"SA?" gumam Dimas.


Dimas teringat sesuatu, kemudian ia bergumam," Tak salah lagi. Kurasa memang dia terlibat dalam kasus ini."


Agar liontin itu aman, Dimas mengantongi liontin itu ke dalam saku. Ia hendak mencari petunjuk lain di dalam kamar itu, tetapi harus mengurubgkan niat karena tiba-tiba ia mendengar suara dari  luar.


"Tolong ... tolong!"


Suara itu sepertinya berasal dari koridor di luar kamar. Dimas segera membuka pintu, mendapati Juned yang berjalan bergegas membawa Niken dalam gendongan. Dimas terkejut melihat kedatangan Juned. Ia segera bertindak untuk memastikan bahwa mereka berdua baik-baik saja.


"Cepat! Bawa masuk ke dalam kamar sini!"


Dimas segera membuka sebuah kamar yang sementara belum ada penghuninya. Begitu masuk, Juned segera membaringkan Niken ke atas ranjang yang di situ. Niken tampaknya masih lemah dan tak sadarkan diri, tetapi ia masih hidup. Kondisinya sangat kotor dan berantakan.


"Apa yang terjadi, Jun?" tanya Dimas.


"Aku dan Jeremy berhasil menemukan keberadaan Niken di hutan. Waktu kutemukan, Niken sudah dalam keadaan terikat di sebuah pohon dan dalam keadaan tak sadarkan diri, mungkin karena kelelahan dan kelaparan. Lihat! Wajahnya pucat sekali kan? Jadi aku punya inisiatif untuk menggendong Niken dan aku meminta Jeremy untuk mengawasiku. Karena kupikir keselamatan Niken sangat penting, maka aku yang harus bertanggungjawab kepadanya. Aku menggendong Niken, sementara Jeremy berjalan di belakangku sambil  membawa senjata. Sayang sekali ...."

__ADS_1


Juned menghentikan kalimatnya. Parasnya tampak cemas, ada sesuatu yang dipikirkannya. Dimas makin penasaran mendengar cerita Juned.


"Apa yang terjadi kemudian? Di mana Jeremy sekarang?"


"Sayang sekali, saat kami melewati kembali ruang bawah tanah, sosok pembunuh itu berhasil mengikuti kami dan ... dan dia berhasil menangkap Jeremy. Entahlah. Aku sempat mendengar Jeremy berteriak. Sayangnya ketika aku berbalik arah, dia menghilang. Aku khawatir dia tidak selamat," ungkap Jeremy.


"Astaga!" ucap Dimas.


Juned hanya bisa terdiam, merasa bersalah. harus diakuinya bahwa menghilangnya Jeremy adalah kesalahannya juga. Ia harusnya tidak melewatkan warga sipil dalam urusan ini. Ia hanya psarah sambil tertunduk.


"Sekarang kamu jaga Niken. Kalau dia sudah sadar beri dia minum air hangat dan makanan bila perlu. Usahakan agar Niken tetap sadar, jangan sampai pingsan.  Aku akan kumpulkan penghuni kastil sekarang juga. Ini nggak bisa dibiarkan!" geram Dimas.


***


Bruuk!


Melihat temannya dalam keadaan terluka seperti itu, Mariah merasa sangat geram dan marah, tetapi ia tak bisa melakukan apa pun. Ia ingin menolong, tetapi kedua tangannya terikat, bahkan mulutnya tertutup. Ia hanya bisa menangis melihat Jeremy, berharap pria itu tidak mati.


"Kau lihat kan? Siapa saja yang coba menghalangiku pasti akan berakhir dalam kematian. Aku nggak peduli apakah itu teman atau siapa saja, aku nggak peduli! Aku akan bunuh kalian semua. Dendamku terhadap Lidya sudah terbalaskan. Lalu Farrel dan Aditya sudah menyusul. Kalian tinggal menunggu waktu saja sebelum semuanya kuhabisi. Sekarang aku nggak mau berlama-lama. Pasti si Juned sudah melapor kepada polisi lain tentang Jeremy, dan pastinya para polisi itu akan segera mencariku. Aku akan kembali ke atas, pura-pura tak terjadi apa-apa, dan aku akan memerankan aktingku dengan sangat baik. Oya, menurutmu siapa yang harus kuhabisi setelah ini? Kamu punya saran?" tanya sosok itu sambil menatap tajam ke arah Mariah.


Mariah ingin mengumpat-umpat, tetapi mulutnya dalam keadaan terbekap. Ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan menangis sambil menggelengkan kepala.


"Atau kau kuhabisi dulu setelah ini? Kita lihat saja nanti! Aku mau kembali ke atas! waktuku enggak banyak!"


Sosok itu segera keluar dari bilik, tidak lupa mengunci pintu. Mariah dan Jeremy ditinggalkan begitu saja dalam bilik yang lembap dan pengap. Mariah hanya bisa pasrah, tetapi ia yakin kalau ia akan bisa ditemukan.Ia ingin sekali memanggil Jeremy, tetapi apa daya mulutnya terbekap.

__ADS_1


***


Dimas segera menggelar pertemuan mendadak di ruang makan kedua yang ukurannya lebih kecil dari ruang makan utama. Ruang makan ini terletak di sayap kanan kastil. di lantai dua. Ruang makan ini didesain untuk menjamu tamu-tamu dalam jumlah kecil, serta difungsikan pula sebagai ruang rekreasi. Lantainya diselimuti karpet dan dilengkapi ruang terbuka untuk berdansa. Dimas ingin kembali memastikan bahwa dugaannya tidak salah. Ia berharap nama yang sudah ia kantongi adalah si pelaku dalam kasus ini. Ia sengaja menunggu duluan di ruang makan dengan ditemani oleh Reno.


"Kita akan lihat, Ren! Kalau analisisku benar, maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa pelaku kasus ini memang benar-benar dia," ucap Dimas.


Yang datang duluan ke tempat itu adalah Nadine. Parasnya tampak cemas dan khawatir. ia langsung duduk di sisi kanan meja. Selanjutnya Rosita dan suaminya, datang hampir bersamaan dengan Lily. Yang datang paling akhir adalah Maya. Mereka menempati kursi-kursi yang telah disediakan, sementara Dimas menatap mereka satu-persatu dengan tatapan tajam. Tak ada yang merasa cemas. Masing-masing dari mereka terlihat cemas dan gelisah.


Para penghuni kastil masih  menunggu dengan risau. Biasanya kalau Dimas mengumpulkan mereka secara bersama-sama begini. pasti ada hal penting yang ingin disampaikan. Mereka penasaran, ada hal gerangan apakah yang terjadi?


"Ada hal penting yang ingin kusampaikan pada kalian. Aku senang kalian merespon dengan cepat dan segera berkumpul di sini," ucap Dimas.


"Ada hal penting apa, Pak? Aduh, kok aku jadi deg-degan ya?" tanya Rosita.


"Satu peristiwa baru saja terjadi, yaitu rekan kalian, Jeremy menghilang dan kemungkinan disekap atau dilukai oleh sosok misterius di ruang bawah tanah. Dan itu terjadi sangat cepat. Mungkin sekitar 30 menit lalu. Hal ini membuatku sangat marah dan terpaksa aku harus mengumpulkan kalian, mengetes kejujuran kalian! Aku akan bertanya, apa yang kalian lakukan satu jam terakhir?" tanya Dimas.


Semua saling berpandangan dengan heran, seolah tak ada yang merasa bersalah dan bertanggungjawab dengan hilangnya Jeremy. Dimas masih menunggu, tetapi matanya menatap tajam seorang dari mereka, hingga yang ditatap terpaksa menunduk.


"Jawab dengan jujur, karena aku tahu kebohongan kalian!" ucap Dimas tegas.


***


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2