Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXXVIII. Escape from The Bunker


__ADS_3

Dua gadis muda itu berlari-lari kecil memasuki halaman depan kastil yang sunyi. Melly bernapas lega karena telah menjauh dari lokasi hutan. Sedangkan Sonya terlihat lebih santai, mengunyah permen karet, dan mengendong ransel besar di pundak. Ia menatap berkeliling, tetapi tak ada siapa pun di sekitar halaman. Tiba-tiba matanya tertuju pada mobil Antony yang terparkir dalam keadaan ban kempes.


“Mel, itu mobil Antony kan?” tanya Sonya.


“Iya. Sebentar lagi mobil itu kita gunakan untuk kembali ke kota. Aku udah nggak sabar!” jawab Melly.


“Coba kamu lihat, Mel! Kok aku merasa ada yang nggak beres ya? Masa iya ban mobil itu kempes keempat-empatnya?” ujar Sonya.


“Ah, yang bener kamu!” Melly melongokkan kepala ke arah mobil.


Untuk memastikan, mereka mendekati mobil. Betapa terkejutnya, ketika melhat ban mobil itu memang kempes keempat-empatnya! Melly berubah cemas. Parasnya memucat.


“Mengapa sih semua jadi aneh begini? Sepertinya dari kemarin-kemarin kita ini sial terus. Yang nemu orang jatuh ke jurang lah, tas hilang lah, baju hilang. Perasaanku nggak enak. Aku pengen pulang cepat-cepat!” gerutu Melly.


“Tenanglah Mell. Kita pasti pulang kok. Kita bisa minta antar penghuni kastil ini untuk antar kita ke kota,” ujar Sonya.


Melly berusaha tenang, tetapi dari parasnya jelas ia merasa cemas. Sekitar kastil terlihat sepi seperti tak ada penghuni.


“Terus kita ngapain di sini?” tanya Melly.


“Kita tunggu Antony dan Ringo, kemudian menjemput Ben, lalu kita pulang,” jawab Sonya.


“Gimana kalo Antony dan Ringo nggak kembali?” cemas Melly.


“Kamu kok ngomongnya gitu sih? Ya pasti kembali dong!”


“Maaf. Aku hanya ngerasa takut saja.”


Sonya mengangguk, berusaha memahami perasaan Melly. Rupa-rupanya, ia merasa sedikit bosan juga berada di tempat itu. Ia menatap bangunan kastil yang terlihat menyeramkan. Berkesan angker, walau dihuni manusia di dalamnya.


Tiba-tiba mereka dikejutkan suara seorang laki-laki menyapa.


“Hey, kalian sudah kembali dari berkemah?”


“Kak Aldo? Iya Kak. Kami berencana pulang hari ini. Masih menunggu Antony dan Ringo,” jawab Sonya.


“Tunggu saja di dalam! Jangan di sini. Biar Helen membuatkan teh buat kalian!” ajak Aldo yang sepertinya baru saja datang dari luar kastil.


Sonya dan Melly saling berpandangan, kemudian mengangguk. Mereka mengikuti langkah Aldo yang berjalan ke samping kastil menuju halaman belakang.

__ADS_1


“Tunggulah di gazebo dekat kolam renang itu. Nanti akan kuminta Helen membuatkan teh,” kata Aldo.


“Wah, nggak usah repot Kak,” kata Sonya.


“Ah, biasa aja kok,” ujar Aldo sambil berlalu dari halaman belakang.


Sonya tersenyum, melirik ke arah Melly, seraya berkata,”Baik banget ya dia. Sudah baik, ganteng, dan cerdas. Benar-benar tipikal aku banget.”


“Aku sedang tidak berminat berpikir yang aneh-aneh. Aku lebih mengkhawatirkan Antony dan Ringo,” ucap Melly.


“Mereka akan baik-baik saja, Mell.”


“Kamu tidak merasakan sendiri bagaimana kondisi hutan itu, dan melihat jerat yang di pasang di sana. Sungguh mengerikan. Aku merasa ada sesuatu yang jahat di sana.” Melly masih terlihat cemas.


“Oke. Oke. Semuanya akan baik-baik saja,” Sonya berusaha menenangkan.


***


Sepeninggal Tiara, Elina berjalan menuju bilik tempat penyimpanan linggis. Ia merasa sedikit lebih lega, karena telah menyelamatkan Tiara. Kini ia harus membantu Dimas membuka pintu bilik yang tergembok di ujung lain ruang bawah tanah.


Elina terkejut. Ia tak melihat ada linggis di dalam bilik itu, padahal sebelumnya jelas-jelas ia melihat ada beberapa linggis yang tergeletak di lantai. Lalu siapa yang memindahkan linggis-linggis itu?


Pada akhirnya, ia mencari benda lain yang mungkin bisa digunakan untuk membuka gembok. Namun, ia tak dapat menemukan apa pun. Elina mendengkus kecewa. Padahal Dimas tengah menunggu dirinya.


Duuuk!


“Aduuh!”


Elina tersungkur sambil memegangi kepalanya. Pandangannya berkunang-kunang, tetapi ia masih bisa melihat sosok berjubah hitam berdiri tak jauh dari tempatnya. Elina terkejut, tak bisa berbuat apa-apa. Kepalanya terasa berdenyut. Sosok itu berdiri diam, menatap gerak-geriknya.


“Ka-kamu mau apa?” tanya Elina terbata-bata.


Sosok itu tak menjawab, malahan ia mendekat dan kembali memukul kepala Elina dengan sebilah balok. Elina kembali tersungkur tak sadarkan diri!


***


Dimas tak sabar. Ia merasa kepergian Elina sudah terlalu lama. Mau tidak mau ia harus mengambil keputusan tepat, tanpa menunggu Elina. Ia mengambil pistol, mengarahkan ke gembok.


Doorr!

__ADS_1


Beberapa detik saja, gembok itu sudah hancur berkeping-keping. Kini ia bisa membuka pintu bilik. Kondisi bilik agak pengap dan gelap, tetapi ia bisa melihat seorang pria yang meringkuk di sudut ruangan dalam keadaan tertekan. Dimas mengarahkan pistol ke arah pria itu.


Sementara di bilik itu pula, ia juga melihat seorang perempuan tua terbaring tak sadarkan diri. Dimas sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di dalam bilik ini, tetapi instingnya sebagai seorang penegak hukum berkata bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi.


“Jangan bergerak!” ucap Dimas.


Pria yang tak lain adalah dr. Dwi itu menengadahkan kepala, menatap Dimas dangan tatapan pasrah. Dilihatnya ada sosok pria muda asing yang baru ia lihat mengarahkan pistol ke arahnya. Firasatnya mengatakan bahwa pria muda ini bukanlah sosok jahat yang selama ini membuat kekacauan.


“Tolong aku ... “ bisik dr. Dwi lirih.


“Siapa Anda?” tanya Dimas. Ia masih tetap waspada dengan senjatanya.


“Ceritanya panjang, tetapi yang jelas aku sudah disekap di sini selama berhari-hari. Kita harus segera keluar dari sini dan menyelamatkan yang lain,” ujar dr. Dwi.


Dimas menurunkan senjatanya. Ia segera membantu dr. Dwi, karena ia melihat kondisi dokter itu mulai lemah. Dokter Dwi jarang menyantap makanan pemberian sosok berjubah.


Tiba-tiba, sebuah kejadian tak terduga terjadi! Saat Dimas membantu dr. Dwi, ia diserang secara membabi-buta oleh wanita tua yang tadinya terbaring di ranjang. Serangan itu tak beraturan, karena wanita itu tak bisa melihat.


“Kalian tak boleh keluar dari bilik ini!” pekik wanita tua itu.


“Siapa dia?” tanya Dimas.


Dokter Dwi tak menjawab, ia segera merampas pistol yang berada di tangan Dimas. Dokter itu bergerak cepat mengarahkan pistol ke arah wanita tua itu seraya berkata,” Jangan coba-coba menghalangiku! Kali ini tamat riwayatmu!”


“Jangan tembak dia!” perintah Dimas.


Belum lagi selesai berbicara, wanita tua itu mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik bajunya, siap menerkam Dimas dengan mengarahkan tusukan ke arah dada!


Walaupun perempuan itu tidak bisa melihat, sepertinya dia terlatih menggunakan indera yang lain untuk menandai keberadaan seseorang.


Door! Door!


Dua tembakan meletus dari pistol melesat menembus dada perempuan tua itu, sehingga tubuhnya tersungkur. Darah mengalir membasahi lantai. Ia jatuh tak bergerak lagi!


“Maaf, aku harus menembaknya. Dia sangat berbahaya!” ucap dr. Dwi terlihat panik.


"Baiklah. Terima kasih sudah menyelamatkan aku," ucap Dimas sambil mengangguk.


Dalam hati ia bersyukur karena lolos dari maut. Mungkin kalau saja dr. Dwi tidak menembak perempuan tua itu, dadanya sudah tertembus pisau. Ia bisa memaklumi apa yang dilakukan dr. Dwi.

__ADS_1


“Kita harus keluar segera!” ajak dr. Dwi.


***


__ADS_2