
Melihat penemuan yang tak diduga tersebut, sontak Dimas berbuat sigap. Ia segera memeriksa kondisi dua orang perempuan yang tergeletak tak berdaya di tengah ruangan. Kondisinya memang sangat memprihatinkan. Kedua perempuan itu terlihat pucat dengan bibir mengering karena kurang cairan. Tubuhnya lemas dan nayaris tak bergerak. Dimas memeriksa denyut nadi mereka, masih terasa walau sangat lemah.
"Hampir saja," gumamnya.
Dimas segera menelepon ambulans untuk segera menolong dua perempuan malang ini. Selain itu, ia juga menelepon pihak kepolisian untuk memeriksa kondisi di sekitar rumah. Dalam hati ia merasa bersyukur, karena belum sepenuhnya terlambat. Kedua perempuan itu, Niken dan Rani masih sempat diselamatkan. Mungkin, kalau ia terlambat, akan lain cerita.
Tak lama pihak medis segera datang ke lokasi. Mereka mengangkat Rani terlebih dahulu ke atas sebuah tandu, kemudian dibawa ke dalam ambulans untuk segera mendapat penanganan. Hal yang sama juga dilakukan terhadap Niken. Dua buah mobil ambulans disiapkan khusus untuk mengevakuasi kedua perempuan itu.
Pihak kepolisian juga mulai berdatangan ke lokasi. Mereka tidak menyangka kalau lokasi penemuan Niken dan Rani berada tepat di depan kediaman Renita. Sebelumnya, tak ada yang menaruh curiga sama sekali. Rupanya si pembunuh itu cukup pintar, menempatkan Niken dan Rani di sebuah tempat yang cukup dekat, hanya terpaut beberapa puluh meter. Tak ada yang menyadari kalau mereka ditempatkan di rumah kosong itu.
Kini Dimas telah mengantongi sebuah nama, yakni pemilik rumah kosong ini yang ternyata adalah seorang yang sangat mengejutkannya. Pantas saja, akses keluar masuk perumahan begitu mudah. Namun, ia tak mau buru-buru mengambil kesimpulan, ia harus mendalami lebih jauh dan membutuhkan bukti yang lebih menguatkan lagi tentang keterlibatan pemilik rumah kosong dalam kasus pembunuhan berantai ini.
Namun, nama pemilik rumah kosong ini sangat lah mengherankan. Bagaimana mungkin orang mati bisa mempunyai akses keluar-masuk ke dalam lingkungan perumahan dengan mudah? Ya, ia mendapati bahwa rumah kosong itu dimiliki oleh Daniel Prawira! Jadi siapa yang sebenarnya mempunyai akses ke dalam rumah itu?
Segera ia meminta kejelasan hal ini kepada pihak perumahan. Saat itu juga, kembali menemui Leila, gadis belia yang bekerja sebagai resepsionis, sekaligus juru bicara perumahan. Leila agak terkejut melihat kehadiran Dimas. ia menduga bahwa polisi ini akan menanyainya seputar penemuan dua orang wanita di dalam rumah kosong di seberang rumah Renita Martin.
"Jadi siapa yang mengurusi rumah itu? Bukankah rumah itu milik Daniel Prawira? Sedangkan seperti yang kita tahu, Daniel Prawira telah meninggal. Pasti ada orang lain yang mengurusi aset itu," ucap Dimas.
Leila tampak berpikir keras, tetapi sejenak kemudian menggeleng.
"Setahu saya sih, Pak. Rumah itu memang terbengkalai, dan kami tidak tahu siapa yang mengurusinya. Kami tidak mengurusi lagi siapa-siapa yang berkunjung ke rumah kosong itu. Bisa jadi keluarga atau teman Pak Daniel, kami tidak ada wewenang untuk menanyai. Kami pihak perumahan tak tahu informasi detail kalau memang ada pergantian pemilik, kecuali kalau rumah itu dibeli orang lain. Kami hanya mendata, siapa pemilik rumah. Itu saja, bukan yang merawat, karena itu sudah terlalu jauh," papar Leila.
Dimas manggut-manggut. Kesimpulannya, kasus ini masih menyimpan teka-teki. Pemilik rumah besar itu ternyata adalah Daniel Prawira. Ia menduga, bahwa ada yang menguasai aset ini selain Daniel sendiri. Pasti Daniel memberikan hak kepada seseorang untuk mengakses rumah ini. Tapi siapa?
Setelah memeriksa sekitar rumah kosong, Dimas segera ke studio film. Sekali lagi, ia ingin memeriksa kantor yang ditempati Daniel Prawira, untuk menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk penting dari kasus ini. Sayangya, di studio film, ia tak menemui siapa pun. Seorang kru film mengatakan bahwa kegiatan syuting ditunda sampai batas waktu yang tak ditentukan, karena pemeran utama dan beberapa kru sedang dalam proses isolasi.
__ADS_1
"Kalau begitu bolehkan saya memeriksa ruangan yang pernah ditempati oleh Pak Daniel Prawira?" tanya Dimas.
"Maaf, ruangan Pak Daniel sudah ditempati oleh sutradara baru. Seluruh barang-barang pak Daniel sudah dikembalikan ke rumahnya sendiri. Kalau Bapak mau, saya akan berikan alamat Pak Daniel," ucap kru film itu.
Dimas mengangguk. Langkah selanjutnya, ia akan memeriksa latar belakang Daniel lebih dalam. Ia menduga kasus yang teramat pelik ini saling berkaitan. Hari itu juga, ia harus pergi menggeledah rumah Daniel Prawira.
***
Penghuni rumah isolasi sedang sarapan di meja makan dengan hening. masing-masing dari mereka larut dalam pikirannya sendiri-sendiri. Namun, jelas terlihat aura ketegangan yang muncul di paras-paras para penghuni. Padahal, tampilan di meja makan terlihat membangkitkan selera. Bu Mariyati cukup piawai mengolah bahan makanan menjadi masakan yang terlihat sedap.
"Apakah semua tidur dengan nyenyak malam ini?"
Reno membuka pembicaraan sambil mengunyah makan paginya. Semua hanya mengangguk-angguk, sampai pada akhirnya Rianti tampak gugup sambil berkata.
"Sa-saya tidak," ucap Rianti takut-takut.
"Saya mendengar suara dinding yang diketuk-ketuk sepanjang malam, dan ini membuat saya takut. Ketukan itu seolah pertanda bahwa .... "
Rianti mengehentikan kalimatnya. Wajahnya memancarkan rasa takut.
"Bahwa apa?" desak Reno.
"Bahwa mungkin saya adalah sasaran pembunuhnya selanjutnya. Saya merasa takut sekali akan hal ini," ucap Rianti.
Reno mengernyitkan dahi. Informasi sekecil apa pun tentu tak bisa dianggap remeh. Ia menduga, wajar saja kalau Rianti menjadi sasaran berikutnya, karena memang wanita ini sangat suka bersolek, jadi mungkin ada kaitannya dengan teka-teki keenam yang ditaruh di dalam botol, dekat mayat Melani.
__ADS_1
"Kami akan menambah personel dalam waktu dekat. Kalau kau mau, kami akan mengawasi dirimu selama 24 jam untuk memastikan tak seorang pun yang berusaha membunuhmu. Bagaimana?" tawar Reno.
"Dua puluh empat menurut saya terlalu berlebihan, Pak. Mungkin di malam hari saja. Karena di pagi dan siang hari saya akan berinteraksi dengan penghuni lain secara bersama-sama, jadi kemungkinan bahwa saya akan dibunuh watu pagi atau malam adalah kecil. Malam membuat saya takut," ucap Rianti.
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi kalau kamu keberatan, maka oke lah. kami akan memantaumu di malam hari, untuk memastikan bahwa kau benar-benar aman. Saya paham setiap orang di sini mempunyai privasi, dan diawasi oleh orang lain bukan lah sesuatu yang menyenangkan bukan?"
Mereka hampir menyelesaikan acara makan pagi itu, ketika Pak Paiman tiba-tiba masuk ke dalam ruang makan dengan tergopoh. Parasnya tampak cemas, seperti hendak menyampaikan sesuatu.
"Ada apa, Pak?" tanya Reno.
"Ada tamu yang tak diundang, hendak masuk ke dalam rumah isolasi ini lagi, Pak!" ucap Pak Paiman cepat.
"Tamu tak diundang? Pak Paiman kenal dengan tamu itu?" tanya Pak Reno.
"Ya, tentu saja Pak. Bukan saya saja yang kenal dengan dia. Tetapi mungkin seluruh kota kenal dengannya. Dia juga pernah berkunjung ke sini pada kasus sebelumnya, Pak. Kurasa Bapak juga tahu siapa dia," terang Pak Paiman.
"Gilda Anwar," gumam Reno lirih, nyaris tak terdengar.
Ia tak habis pikir, mengapa pencari berita itu selalu tahu saja apa yang dilakukan polisi, bahkan ia selalu tahu nomor satu. Kehadirannya saat ini tentu akan mempersulit keadaan, sebab di kasus sebelumnya, jelas-jelas kehadiran Gilda lumayan membuat repot. Ia sempat terperosok dalam lubang sumur tua, sampai kemudian disekap dalam gudang. Sangat beruntung wanita itu tak dihabisi oleh sang pembunuh.
"Jadi ... gimana Pak? Apakah saya izinkan masuk atau bagaimana?" tanya Pak Paiman.
"Biar saya yang menemuinya Pak!" tegas Reno.
***
__ADS_1