Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXXIX. Cut the Throat


__ADS_3

Reno menatap sekeliling, memastikan bahwa kamar itu aman. Ia duduk di sebuah kursi dekat meja rias, sementara Maira terlihat berdiri cemas, namun juga senang karena akhirnya ada penegak hukum yang hadir di kastil. Sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bahwa kasus pembunuhan ini akan berakhir, mengingat kaki Ammar yang cedera.


“Apakah kamu perlu minum? Aku akan mengambilkan untukmu kalau kamu mau,” ujar Maira.


“Tak usah. Aku baru saja minum di depan tadi. Aku hanya tak sabar mendengar ceritamu mengenai kastil ini,” kata Reno menatap Maira tajam.


“Baiklah. Sebenarnya cukup panjang kalau hendak diceritakan dari awal, mengingat banyak sekali yang terjadi di kastil ini. Yang jelas, ada sejumlah penulis diundang ke kastil ini untuk menghadiri jamuan makan malam, karena Anggara Laksono tengah berulang tahun. Sayangnya, keesokan harinya, hal mengejutkan terjadi. Anggara ditemukan tewas di dalam kolam renang dengan sejumlah luka tusukan ....”


Maira mengehentikan cerita sejenak, berusaha mengingat rentetan kejadia yang terjadi sebelumnya.


“Kamu bilang Anggara tewas? Kamu yakin?”


“Ya, tentu saja! Itu kejadian sangat nyata. Kamu boleh tanya tiap orang di kastil ini. Mereka melihat sendiri bagaimana pak tua itu tewas di dalam kolam. Bahkan air kolam berubah merah karena darah. Peristiwa itu masih sangat segar dalam ingatan,” ucap Maira


“Hmm, ini sangat berbeda dengan keterangan yang disampaikan Helen,” gumam Reno.


“Apa yang dikatakannya?”


“Helen bilang kepada kami kalau Anggara pergi keluar kota dan tak tahu akan kembali. Sebenarnya aku merasakan firasat kalau dia bohong. Tetapi mengapa dia berbohong?” tanya Reno.


“Nah, berkaitan dengan Helen ini, aku mau menceritakan sesuatu. Tadinya aku hendak menceritakan pada Ammar, tetapi kuurungkan niat itu, mengingat kondisinya sedang sakit.”


“Tunggu! Kamu sebut nama Ammar tadi? Apa yang kamu maksud adalah Ammar Marutami, polisi yang sangat terkenal memecahkan berbagai macam kasus itu?” tanya Reno penasaran.


“Ya, memang dia. Apakah kamu mengenalnya?” Maira balik bertanya.


“Tentu saja, aku sedang mencari dia juga. Apa dia ada di sini sekarang?”


“Ya, sebenarnya dia ada di sini. Nanti akan kuantar kau menemui dia,” ucap Maira.


“Baiklah, selesaikan ceritamu dulu! Apa yang terjadi kemudian?”


“Setelah kematian Anggara, kukira semua akan segera berakhir. Salah seorang penulis lain yang bernama Michael, menginstrusikan untuk tidak meninggalkan kastil karena akan diadakan penyelidikan. Malangnya, korban terus berjatuhan,” Maira menghela napas.

__ADS_1


“Maksudmu, ada korban lain selain Anggara?”


“Benar sekali. Korban kedua seorang penulis wanita bernama Karina Ivanova, lalu tukang kebun Yoga, selanjutnya Rania, sekretaris pribadi Anggara, dan yang terakhir adalah Cornellio. Bahkan aku sendiri juga hampir tewas terbunuh di ruang baca. Selain itu ada beberapa penculikan. Sampai saat ini belum diketahui nasibnya,” gumam Maira.


Astaga ini kasus serius. Mengapa tidak ada yang melapor ke kepolisian?” Reno tampak terkejut.


“Pembunuh itu sangat licik. Dia seolah tahu apa yang kami pikirkan. Kami sudah berusaha ke kota dengan mobil, tetapi mobil-mobil itu sengaja dirusak, bahkan satu di antaranya sampai terjun ke dasar jurang. Jadi kami tak bisa berbuat apa-apa, kami serahkan semua pada Ammar,” terang Maira.


“Hmm. Ini mengerikan sekali. Apakah kalian benar-benar tak tahu siapa pelaku dari serentetan kekacauan itu?”


“Kami sama sekali tidak punya bayangan. Tapi untuk sekarang ini aku punya tersangka kuat, yaitu Helen. Dugaanku makin kuat saat kamu bercerita tentang kebohongan yang dilakukan Helen. Pernah suatu malam, aku memergoki Helen masuk dari ruang bawah tanah dengan mengendap, sangat mencurigakan sekali,” ucap Maira.


“Hmm. Mungkin kita simpan dugaanmu dahulu, sebelum kita menemukan fakta baru mengenai ini. Ceritamu sangat membantu. Terima kasih, Maira. Setelah ini, aku mau minta daftar nama penulis yang diundang di sini, serta siapa saja yang berada di kastil ini.”


Reno mengeluarkan sebuah notes kecil dari sakunya. Ia siap menulis hal-hal penting yang diceritakan Maira.


“Aku senang dapat membantu,” ujar Maira.


***


“Tunggu! Ruang bawah tanah ini berliku-liku dan banyak cabang. Kalau kita tidak hapal jalan bisa tersesat. Sebenarnya kita bisa ruang baca, tetapi sulit, karena tidak ada yang membuka dinding di sana,” ucap dr. Dwi.


“Jadi bagaimana? Kalau menurutku kita ikuti lorong depan saja. Sepertinya aku masih ingat jalannya,” kata Dimas.


“Baiklah. Tetap siaga dengan senjatamu!”


Dimas dan dr. Dwi menyusur perlahan sepanjang lorong yang lumayan gelap. Dimas siaga dengan pistol di tangan, sedangkan dr. Dwi hanya memegang sebuah pisau kecil sebagai pertahanan. Pisau itu diambil dari sosok Anjani yang tewas karena tembakan pistol sebelumnya.


Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat beberapa langkah di depan dihadang oleh sosok berjubah hitam membawa senjata tajam berkilauan. Sosok itu tak sendiri. Ia bersama seorang gadis yang tampak ketakutan. Sosok berjubah hitam itu meletakkan senjata tajam di leher si gadis.


“Berhentilah kalian atau aku akan menggorok tenggorokan gadis ini!” ancam sosok


berjubah hitam itu. Ia menekan pisau ke leher si gadis.

__ADS_1


Dimas tercekat, demikian juga dr. Dwi. Mereka terpaksa berhenti, sambil terus menatap waspada.


“Elina, bukankah itu Elina? Rupanya dia ditangkap oleh sosok itu!” gumam Dimas.


Walaupun agak gelap, Dimas dapat mengenali bahwa gadis yang sedang diancam akan digorok adalah Elina. Gadis itu meronta, mulutnya disumpal kain agar tak berteriak. Dimas merasa kasihan, tetapi tak dapat berbuat apa pun. Apabila salah bertindak, bisa saja sosok itu nekat.


“Lempar senjata kalian kesini!” perintah sosok berjubah hitam itu.


Dimas ragu melakukannya, mengingat pistol yang di tangannya adalah senjata satu-satunya yang dipunyai saat ini. Ia melirik ke arah dr. Dwi yang hanya membawa sebilah pisau kecil.


“Jangan lempar! Dia hanya menggertak!” bisik dr. Dwi.


“Dia akan melukai Elina. Sepertinya kita tidak bisa mengambil risiko. Kita turuti maunya dulu,” balas Dimas.


Dimas tak punya pilihan lain. Ia melempar pistol, tetapi bukan ke arah sosok berjubah, melainkan jauh ke belakang. Langkahnya juga diikuti oleh dr. Dwi.


“Ambil sendiri kalau kau menginginkannya!” ucap Dimas.


“Kurang ajar! Kalian mau main-main denganku. Baik!” gerutu sosok berjubah itu.


Rupanya sosok itu tidak bermain-main, ia membuat gerakan menggores ke leher Elina. Gadis itu menjerit. Ia bisa merasakan luka di lehernya. Darah mengucur dari luka goresan.


“Elina!” pekik Dimas.


Sosok berjubah itu mendorong Elina yang terluka ke depan, kemudian cepat-cepat ia berlari, menghilang di kegelapan lorong. Dimas tak berniat mengejar, lebih fokus ke arah Elina yang terluka. Dr. Dwi juga terlihat cemas. Mereka berdua segera menghambur ke arah Elina yang tersungkur. Nyawa Elina harus segera diselamatkan.


“Astaga! Dia benar-benar melukai leher gadis malang ini. Aku harus menghentikan perdarahannya agar dia tidak mati kehabisan arah. Ada alat medis di bilik tempat aku disekap tadi. Kamu duluan saja, aku akan tangani gadis ini dulu!” ucap dr. Dwi.


“Anda yakin tidak apa-apa, Dokter?” tanya Dimas.


“Aku baik-baik saja. Aku akan ambil pisau itu lagi. Lebih baik kamu juga ambil lagi pistolmu untuk senjata. Lekas naik ke atas, dan peringatkan yang lain. Ini kondisi genting. Sosok itu bisa saja melukai yang lain,” ucap dr. Dwi.


“Baik Dokter! Semoga beruntung kali ini!”

__ADS_1


***


^^^“^^^


__ADS_2