Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
151. Termos Air


__ADS_3

Surat undangan resmi dari kepolisian telah resmi beredar ke semua orang yang ditengarai sebagai tersangka. Lagi-lagi, undangan itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan mahasiswa yang secara langsung terlibat dalam pembunuhan Jenny dan Alma. Mereka sepakat untuk berkumpul sekali lagi di taman kampus untuk membicarakan perihal undangan isolasi itu.


“Jadi untuk sementara kita off kuliah ya. Kurasa ini bagus, untuk mengetahui siapa sebenarnya dalang dibalik segala kekacauan ini,” ucap Rasty.


“Tapi menganggu kegiatan perkuliahan kita doong,” rajuk Lena.


“Halah! Sok-sokan kuliah aja lu. Biasanya juga males-malesan gitu!” kata Rasty.


Paras Adinda tampak cemas. Demikian juga paras Alex, seperti ada sesuatu yang mengganjal pikiran. Rasty melihat perubahan paras itu dengan cepat.


“Kamu kenapa Din? Nggak mau memenuhi undangan itu?” tanya Rasty.


“Nggak gitu juga sih. Cuman aku memang ada rencana untuk balik ke kampung pekan depan. Ibuku bilang lagi sakit jadi kepengen aku pulang. Aku khawatir saja kalau proses isolasi ini berlangsung lama, maka aku harus menunda pulang kampung,” desah Adinda.


“Sama. Seharusnya minggu depan aku harus segera mengurus visa dan segala macam sebelum keberangkatanku ke Jerman. Semua rencanaku jadi tertunda gara-gara urusan gila ini,” keluh Alex.


“Nggak kalian aja yang punya urusan penting. Kita semua punya urusan penting. Tapi kurasa kita harus memang meluangkan waktu untuk menguak semua misteri yang membuat kita gila ini. Jadi berhentilah mengeluh seperti anak manja. Mari kita hadapi ini dan kita temukan pelakunya!” geram Rudi.


“Aku setuju. Kita nggak bisa mengelak. Lebih baik kita terima saja apa yang sudah diputuskan oleh polisi tanpa banyak alasan. Salah-salah nanti kita malah dituduh sebagai tersangka beneran kalau kita mengelak dari semua ini," tambah Rasty.


Miranti sedari tadi diam. Ia juga merasa galau, tetapi bukan karena undangan dari polisi. Yang membuatnya galau adalah beberapa pesan misterius berisi ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Ia belum berani menceritakan itu kepada teman-temannya, karena ia beranggapan bahwa salah satu dari mereka adalah pembunuhnya.


“Bagaimana dengan Gerry dan Ferdy? Apakah mereka juga mendapat undangan yang sama?” tanya Rudi lagi.


“Sampai sekarang nasib Gerry belum diketahui. Kita tidak tahu di mana dia. Sedangkan Ferdy pastinya juga mendapat undangan yang sama. Semuanya mendapat perlakuan sama. Jadi mari kita tunggu babak baru dari kasus ini!” ucap Rasty.


Semua terdiam dalam pikiran masing-masing.


“Apakah kita akan berangkat bersama-sama atau seperti apa?” tanya Adinda.


“Tentu tidak! Kita akan berangkat secara pribadi, kemudian bertemu di kantor polisi. Kita akan berangkat ke suatu tempat yang tak disebutkan. Aku penasaran banget. Semoga bukan suatu tempat yang mengerikan. Semoga ini akan menjadi semacam liburan yang menyenangkan buatku!” harap Rasty.


“Atau malah sebaliknya? Bagaimana kalau pembunuh itu semakin menggila kemudian menghabisi kita satu persatu di tempat isolasi itu?” tanya Alex.


“Polisi pasti sudah menyiapkan sistem keamanan yang ketat. Kita nggak perlu khawatir!” ujar Rasty lagi.

__ADS_1


“Kalau ada yang terbunuh lagi di tempat isolasi maka aku bersumpah akan kabur dan tak akan kembali kesana. Kurasa isolasi ini buang-buang waktu saja!” keluh Alex.


“Diam Alex! Ikuti saja aturannya. Oke? Jangan coba keluar dari aturan. Kalau memang ada yang terbunuh duluan, kuharap memang orang yang layak untuk mati!” ucap Rudi.


“Jaga bicaramu, Rud! Memangnya siapa di antara kita yang layak untuk mati?” Rasty mulai emosi.


“Mungkin kamu layak untuk mati, Ras!” seringai Rudi.


“Kurang ajar kamu, Rud! Kamu masih menyalahkan aku dengan kematian Jenny?” tanya Rasty lagi.


“Yang jelas aku tak pernah mau mempercayaimu Ras! Aku kehilangan Jenny dan Nayya sekaligus. Itu sangat menyakitkan bagiku!” ucap Rudi.


“Dan kamu pikir aku ada hubungannya dengan mereka?” Rasty semakin meradang.


“Cukup!” Tiba-tiba Miranti merasa marah. Ia berdiri sambil memasang tampang gusar.


“Perdebatan ini nggak ada gunanya! Hentikan semua! Aku muak dengan tingkah kalian yang kekanak-kanakan!”


Miranti segera pergi dari pertemuan, diikuti dengan Lena.


“Ulah kalian benar-benar menjijikan!” Adinda ikut menghujat.


Ia juga berlalu dari tempat itu, diikuti dengan Alex. Hanya tinggal Rasty dan Rudi di taman yang tak seberapa ramai itu. Mereka saling terdiam, tak berani saling menatap.


“Maafkan aku. Aku terlalu emosional. Kamu benar. Aku memang pantas mati!”


Rasty hanya melihat sekilas ke arah Rudi, kemudian meninggalkannya sendirian.


***


Udara dingin menusuk kulit, menerobos sampai ke dinding apartemen. Nayya meringkuk di atas sofa menahan hawa dingin yang semakin mencengkeram, hingga membuat Gerry merasa iba. Pria muda itu membuka lemari, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelimuti tubuh Nayya yang mulai menggigil.


“Aku nggak apa-apa, Ger! Kamu nggak perlu repot,” ucap Nayya.


“Tapi ... “

__ADS_1


“Sudahlah! Aku nggak apa-apa kok,” ucap Nayya.


Gadis itu kemudian berusaha duduk dan bersandar pada sofa. Pikirannya menerawang. Rupanya ia mulai putus asa. Sepertinya jalan keluar dari apartemen benar-benar buntu. Sementara Gerry pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Perut terasa perih mencubit-cubit. Sayangnya ia hanya bisa menemukan sekotak teh celup, setoples gula, dan sebuah termos air.


“Tak apa,” gumamnya.


Ia mengambil panci dan mulai merebus air. Tiba-tiba dalam pikirannya terlintas sesuatu yang membuatnya bersemangat.


“Apakah kita akan bisa tetap hidup atau malah akan mati?” tanya Nayya dengan nada lemah.


“Pasti bisa Nayya. Jangan putus asa ya. Kita pasti bisa. Aku ada rencana baru untuk bisa keluar dari apartemen ini. Aku yakin, pasti hal ini akan berhasil,” ucap Gerry.


“Apa yang ada di dalam pikiranmu? Apakah kamu akan menghanguskan tempat ini lagi?” tanya Nayya.


“Tidak Nay! Ini lebih sederhana, tetapi masih ada hubungannya dengan api. Mungkin kemungkinannya kecil, tapi tak ada salahnya kita coba. Kita harus mencoba segala cara,” ucap Gerry.


“Apa rencanamu? Meracuni teh untuk diberikan kepada manusia setan itu?”


“Tentu tidak. Tak ada racun di sini. Aku akan merebus air banyak-banyak, kemudian kumasukkan dalam termos. Nanti kalau dia datang akan kusiramkan ke tubuhnya.”


“Aku nggak yakin, Ger. Kita nggak tahu dia akan datang kapan. Mungkin airmu keburu dingin,” ucap Nayya.


“Ya kita memang tidak tahu pastinya. Tapi kan dia selalu kesini untuk mengantar makanan buat kita. Jadi kalau nggak siang ya malam dia kesini. Aku akan siap-siap sebelum itu. Bagaimana menurutmu?” tanya Gerry.


“Kita tidak akan tahu sebelum dicoba. Tapi okelah. Kita coba saja. Jadi apa yang harus kulakukan?”


“Mungkin kamu harus mencoba menarik perhatiannya dengan mengobrol atau membuat ulah, setelah itu akan hampiri diam-diam dan menyiramkan air ini ke mukanya atau bagian tubuhnya yang lain. Setelah itu kita rebut kunci dari tangannya.”


“Sepertinya nggak semudah itu, Ger. Dia kan bawa senjata yang bisa melukai kita kapan saja,” ucap Nayya.


“Tak apa Nay. Yang penting kita coba. Kalaupun kita terbunuh, paling nggak kita nggak mati sia-sia, karena sudah berusaha melawan. Aku sendiri juga pesimis apakah kita bisa bertahan hidup. Tapi kita nggak bisa diam gitu aja,” ucap Gerry.


“Kamu benar.” Nayya menghela napas. Ia menunduk dengan putus asa.


***

__ADS_1


__ADS_2