Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
160. Teriakan


__ADS_3

Dimas sedikit bernapas lega, karena hari ini yang bertugas di rumah isolasi adalah Reno. Ia bisa menggunakan waktu luangnya dengan sedikit bersantai. Waktu luang seperti ini, ia biasa menggunakan waktu menjelang sore untuk jogging di taman kota yang tak begitu ramai. Ia ingin merehatkan sebentar otaknya yang beberapa hari belakangan mulai dijejali oleh kasus-kasus pembunuhan yang seolah tak ada ujung pangkal.


Ia berlari-lari ringan mengitari taman, sembari melayangkan pandangan ke sekitar taman yang membuat ia bersemangat. Beberapa orang juga memilih taman untuk melakukan kegiatan olahraga atau sekedar jalan-jalan biasa. Ada yang berpasang-pasangan, ada pula yang hanya sendirian. Dimas termasuk dalam komunitas yang sendirian. Kesibukannya di pekerjaan, kadang membuatnya lupa untuk memikirkan masalah jodoh. Bagaimanapun, ia menikmati kesendiriannya.


Aktivitas Dimas yang sedang berolahraga, diam-diam sedang diawasi oleh seorang gadis muda yang sedang duduk di kursi taman sambil mengenakan topi, jaket, dan kacamata hitam. Penampilannya sungguh kasual, dengan sepatu kets berwarna cerah. Ia tersenyum sendiri melihat Dimas. Sesaat kemudian, ia beranjak untuk mendekati polisi muda yang sedang duduk di reruputan sambil menyelonjorkan kaki. Dimas menenggak air dari botol minuman yang sudah ia siapkan dari rumah.


“Dimas!” sapa wanita muda itu, berdiri di dekat Dimas duduk berselonjor.


“Gilda? Ngapain kamu ke sini?” ucap Dimas terkejut.


Kehadiran Gilda yang tiba-tiba, rupanya tak begitu diinginkan oleh Dimas. Ia tak begitu merespon kehadirannya. Walaupun mereka pernah punya hubungan rumit di masa lalu, Dimas ingin segera melupakan. Hanya saja, Gilda masih saja mendatangi, seolah tidak rela dengan perpisahan mereka.


“Loh, ini kan taman umum. Boleh dong aku sekedar berolahraga di sini. Lagipula, sore ini kan cerah banget. Kayaknya asyik buat olahraga,” ucap Gilda sambil tersenyum.


“Ya udah kamu olahraga saja. Nggak biasa saja lihat kamu suka olahraga jogging. Biasanya kan ke tempat fitness. Aku mau lanjut lari!”


Dimas berdiri, hendak melanjutkan aktivitas olahraganya. Namun, segera dicegah oleh Gilda.


“Tunggu!”


“Kenapa lagi?”


“Jadi kamu nggak sedang bertugas nih? Tumben? Menurut sebuah sumber terpercaya, kudengar kepolisian sedang mengisolasi para anak muda itu di suatu tempat. Apakah benar?” tanya Gilda.


Dimas menghela napas. Ia tahu ke arah mana pembicaraan Gilda. Ia malas menanggapi. Sebenarnya ia merasa heran. Bagaimana Gilda tahu kalau para anak muda itu sedang diisolasi? Harus diakui, gadis ini sangat pintar mencari informasi, walau harus dengan menghalalkan segala cara.


“Jadi bener?” Gilda mengulang pertanyannya.


“Maaf, aku nggak mau jawab. Ini bukan kapasitasmu untuk tahu, dan bukan kapasitasku pula untuk menjawab. Aku juga nggak tahu darimana kamu dapat info itu. Jadi aku nggak akan menjawab apapun,” ucap Dimas tegas.


“Dih, ngapain pake rahasia-rahasia segala? Toh masyarakat berhak tahu yang sebenarnya. Lagian, walaupun kalian tutup-tutupi, tetap saja berita akan menyebar dengan cepat.” Gilda menerangkan.


“Cukup Gilda! itu bukan urusanmu kan? Sepertinya aku mau pulang saja! Mendadak mood-ku nggak baik. Silakan berolahraga dengan benar. Itu tujuanmu ke tempat ini kan? Atau jangan-jangan ... kamu buntuti aku?” tanya Dimas.


Gilda gelagapan. Ia tak ingin membiarkan Dimas pergi begitu saja. Secara reflek ia memegang tangan Dimas.

__ADS_1


“Tunggu!”


“Eh, lepaskan aku, Gilda! Apa-apaan sih?”


“Kamu kenapa sih? Aku kan hanya tanya, tapi sikapmu nggak nyenengin banget. Apa sih susahnya menjawab ya atau tidak?”


Kali ini tangan Gilda mulai sedikit mencengkeram, sehingga Dimas merasa terganggu. Ia mengibaskan lengan Gilda dengan marah.


“Urusan kita selesai Gilda! Carilah berita dengan cara yang benar!” bentak Dimas.


Polisi muda itu bergegas meninggalkan Gilda yang mulai gusar.


“Dimas! Kamu tega banget ya?”


Dimas tak menggubris perkataan Gilda. Ia meninggalkan Gilda sendirian di taman itu dengan cepat. Gilda hendak mengejar dengan rasa dongkol, tetapi niat itu diurungkan. Ia mengambil ponsel dari saku celana, kemudian menelepon.


“Wandi, kamu terus cari info ya, di mana para anak muda itu diisolasi. Nanti kita ke sana diam-diam. Aku gagal mencari info dari Dimas!”


***


Rasty keluar dari kamar, kemudian menuju ke dapur. Ia mendapati Bu Mariyati yang sedang menggoreng ayam. Ia mengambil air di kulkas, kemudian meminumnya, sambil melihat apa yang dilakukan oleh Bu Mariyati.


“Mau dibantu Bu Mar?” Rasty menawrkan bantuan.


“Nggak usah, Neng. Saya sudah biasa melakukan apa-apa sendiri. Malah nanti kurang nyaman kalau dibantu. Tunggu setengah jam lagi ya, Neng. Nanti saya siapkan semua di meja makan,” ucap Bu Mariyati sambil terus menggoreng.


“Kok sepi pada ke mana ya Bu?” tanya Rasty.


Pandangannya beralih ke jendela yang terhubung dengan halaman belakang. Di luar agak gelap, karena Pak Paiman belum selesai mengganti lampu.


“Wah, kurang tahu juga Neng. Ada tadi salah satu teman Eneng yang jalan-jalan ke belakang, sudah saya larang tapi dia nekat. Kalau yang lain, sejak tadi belum melihat. Baru Eneng yang ke sini sore ini,” jawab Bu Mariyati.


Rasty mengangguk-angguk. Ia meninggalkan dapur menuju ruangan lain. Dalam hati ia berpikir, siapa yang berjalan-jalan ke kebun belakang? Apakah Rasty? Atau Adinda?


Ia beranjak ke ruang tamu, karena mendengar suara orang bercakap-cakap di sana. Ternyata di ruangan itu ada Ferdy dan Rudi yang sedang mengobrol.

__ADS_1


“Kalian lihat Miranti nggak?” tanya Rasty.


“Nggak sih. Aku belum lihat siapa-siapa hari ini kecuali Rudi. Sebentar lagi kan makan malam, Palingan muncul habis ini. Lagi tidur kali di kamarnya. Kakinya kan lagi sakit,” jawab Ferdy.


“Iya sih. Jadi siapa ya yang jalan-jalan ke kebun belakang sana? Bu Mariyati bilang tadi ada salah satu dari kita yang jalan-jalan ke belakang. Dugaanku sih Miranti atau Adinda. Masa Alex sih?” tanya Rasty.


“Kalian sebut namaku?”


Rasty berbalik, mendapati Alex yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Kamu ngagetin aja sih, Lex!” gerutu Rasty.


“Kalian nggak pada makan? Perutku lapar sekali. Sungguh, sebenarnya di sini kurang nyaman. Tapi mau gimana lagi?” ucap Alex.


Tak lama, Adinda bergabung di tempat itu pula. Ia terlihat segar karena habis mandi. Sengaja ia mandi terakhir, karena menunggu antrean kamar mandi masih dipakai yang lain. Ia tampak menarik, mengenakan blus santai bermotif bunga berwarna ungu. Ferdy melihat gadis itu tanpa berkedip.


“Nah kan, hanya Miranti yang nggak ada. Kemana ya dia?” Rasty bertanya dengan nada cemas.


“Udah cek di kamar?” tanya Adinda.


“Belum sih. Ya udah mungkin kita siap-siap makan aja kali ya!”


Tiba-tiba dengan sedikit tergopoh Pak Paiman masuk ke dalam ruang tamu dengan wajah cemas.


“Saya ... saya mencari Mbak Miranti. Apakah ada? Tadi istri saya bilang ada salah satu dari kalian yang jalan ke belakang, tapi dia belum hapal dengan nama kalian. Belum kembali ya?” tanya Pak Paiman.


“Nah bener kan dugaanku! Pasti Miranti!” ucap Rasty.


“Dia belum kembali?” tanya Alex.


“Tadi pas saya sedang mengganti lampu belakang, dekat kebun, saya mendengar suara teriakan minta tolong, tapi samar-samar aja. Saya khawatir terjadi apa-apa dengan Mbak Miranti. Makanya saya ke sini untuk memastikan apakah Mbak Miranti sudah kembali atau belum.” Pak Paiman menjelaskan.


“Waduh! Gawat ini kalau dia sampai terperosok sumur tua. Ayo kita lapor Pak Reno!” ajak Rasty.


***

__ADS_1


__ADS_2