
Helen mengendap-endap waspada, menoleh ke kanan-kiri, melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang yang memergoki. Ia hendak masuk ke dalam kamarnya, yang terletak di belakang kastil. Setelah dirasa aman, ia membuka pintu. Di dalam kamar yang tak begitu besar, ia melihat sosok berjubah hitam sudah menunggu duduk di sisi ranjang. Helen segera mengunci pintu.
“Ada kabar buruk?” tanya Helen.
“Sangat buruk. Ibuku dibunuh oleh dokter sialan itu. Aku akan mencincang tubuhnya. Aku bersumpah!” geram sosok berjubah.
“Aku akan membantu sebisaku, tetapi dengan imbalan yang sudah kamu janjikan soal batangan emas yang ada di brankas kamar Anggara,” ucap Helen.
“Kamu sudah menemukan kode rahasia kunci brankas itu?” tanya sosok berjubah.
“Sayangnya belum. Anggara hanya menyimpan kode rahasia itu di otaknya sendiri. Bahkan dia juga tak memberi tahu Rania. Satu-satunya orang yang mungkin tahu kode rahasia itu adalah Mariah. Sebaiknya jangan kau habisi dia dulu,” ucap Helen.
“Aku memang belum membunuhnya. Tetapi yang lain sudah mulai membuatku sibuk. Apalagi setelah kedatangan dua polisi itu. Mengapa tidak kau bubuhi saja minumnya dengan racun waktu itu?”
“Maaf, aku memang sedikit ceroboh, karena saat itu kupikir mereka akan segera pergi setelah kubilang bahwa Anggara ke luar kota. Mereka sepertinya curuga, bahkan satu di antaranya berkeliling entah di mana,”terang Helen.
“Hmm. Aku sudah mulai muak. Kita harus segera habisi mereka semua, kemudian kita berdua kabur menggunakan mobil polisi itu. Semakin lama kita tidak bertindak, maka akan semakin banyak orang yang tertarik datang ke kastil ini. Anak-anak muda yang sedang berkemah itu membuatku jengkel! Padahal aku sudah menggertak beberapa di antaranya di rumah kayu dalam hutan! Kalau mereka masih nekat, habisi mereka semua!” gerutu sosok berjubah.
“Aku paham. Selama ini belum pernah membunuh, aku belum terbiasa melakukan seperti dirimu,” kata Helen.
“Bunuh yang paling lemah dulu di antara mereka,” bisik sosok berjubah itu.
“Siapa?”
“Aku tidak suka dengan orang yang suka turut campur urusanku. Cornellio mempunyai teman yang sedang terluka kan? Ia bisa jadi musuh berbahaya kalau bertahan hidup. Bunuh dia! Terserah bagaimana caranya, aku ingin dia mati!”
“Maksudmu? Arvan?”
“Ya, aku tak tahu namanya. Yang jelas bunuh saja pria itu!”
“Tapi ... tapi bagaimana caranya?”
“Tolong cerdaslah sedikit Helen. Ingat! Emas itu begitu banyak. Dan aku tidak akan memberikan secara cuma-cuma untukmu. Pikirkanlah sebuah cara! Ada seribu satu cara untuk membunuh!”
“Ba-baiklah. Aku akan bunuh pria itu,” jawab Helen sedikit tergagap.
__ADS_1
“Sekarang pergilah! Aku harus melaksanakan tugas yang lain. Jangan sampai orang curiga bahwa kita saling kenal. Kamu yakin tidak ada yang memergokimu saat masuk kamar ini tadi?”
“Kurasa tidak,” jawab Helen.
“Bagus. Sekarang keluarlah!”
Helen mengangguk. Ia bergegas keluar, kemudian menutup pintu. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang tahu-tahu sudah berada di dekat pintu.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Helen begitu terkejut.
“Ma-maaf. Aku ingin bertemu dengan Pak Ammar, apakah ibu bisa menunjukkan kamarnya?” tanya seorang anak muda yang tiba-tiba saja berada di situ.
“Sudah kubilang panggil aku dengan nama Helen! Mau apa kamu bertemu dia, Ben?”
“Ada yang ingin kusampaikan padanya,” ucap Ben.
“Kembalilah ke kamar dan jangan keluar-keluar! Ammar sedang sakit dan tak ingin diganggu. Kalau kamu masih keluar-keluar, maka aku akan menguncimu dari luar!” ancam Helen.
“Tapi Helen, ini penting!” desak Ben.
Ben mengangguk lemah. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti perintah wanita paruh baya itu.
***
Maira menuliskan nama-nama siapa saja yang berada di kastil pada selembar kertas, kemudian menyerahkan pada Reno. Ia berusaha mengingat siapa-siapa yang pernah atau saat ini masih ada dalam kastil.
“Ada beberapa nama yang kucoret. Itu berarti orangnya sudah meninggal atau sudah pergi entah kemana,” ucap Maira.
Reno menerima lembaran kertas itu, memelototi daftar nama yang ada di sana. Ia terkejut saat membaca nama salah seorang di antara daftar nama yang sudah diberikan Maira.
“Kamu yakin dengan nama ini?” Reno menunjukkan nama itu kepada Maira lagi.
“Iya, aku yakin! Penulis itu memang ada di sini kok,” jawab Maira.
“Astaga! Penulis aslinya telah tewas, Maira. Kurasa yang ada di sini adalah orang lain. Mungkin penulis gadungan!” ucap Reno.
__ADS_1
“Apa? Jadi selama ini? Tapi kulihat wajahnya sama. Aku pernah melihat sebelumnya.” Maira terlihat tidak yakin.
“Mereka kembar. Dan kembarannya itu tahu seluk-beluk kehidupan saudara kembarnya. Parahnya lagi, kembarannya ini diduga membunuh si penulis asli. Ia mencuri semua identitas si penulis, oleh karena itu dia dengan mudah menyusup ke dalam kastil,” jawab Reno.
“Ya Tuhan, dia benar-benar psikopat! Aku benar-benar tidak menyangka,” gumam Maira.
“Kamu tahu di mana keberadaannya sekarang?”
Maira menggeleng, kemudian berkata,” Aku jarang bertemu akhir-akhir ini. Entahlah, yang jelas dia sedang berkeliaran di sekitar sini. Aku agak takut saat ini, bisakah aku ikut saja denganmu?” ujar Maira.
“Hmm. Boleh saja. Sekarang kita fokus mencari penulis gadungan itu. Aku khawatir yang lain belum tahu, sehingga dengan mudah ia menyusup seolah tak terjadi apa-apa. Ngomong-ngomong, bisakah kamu mengantarku menemui Ammar dulu? Ada yang ingin kudiskusikan dengannya. Aku yakin dia belum tahu berbagai fakta baru, karena kulihat kastil ini terisolasi dari dunia luar,” pinta Reno.
“Tentu, mari kuantar kamu menemuinya,” jawab Maira.
Mereka segera keluar dari kamar, menyusuri lorong menuju kamar Ammar yang berada di lantai satu. Mereka berharap tidak bertemu orang lain, karena saat ini posisi sedang berbahaya. Lorong terlihat sepi, dengan karpet yang mulai berdebu. Helen mulai jarang tampak belakangan ini.
“Kastil ini sangat luas ya? Bagi orang yang tak pernah ke sini tentu akan tersesat,” ucap Reno.
“Ya, kastil ini luas dan banyak ruang rahasia di dalamnya. Aku yakin dalam ruang baca itu ada ruang rahasia atau semacamnya. Semua mengira aku berfantasi ketika kubilang ada sosok berjubah hendak membunuhku. Jelas-jelas aku sudah mengunci pintu ruang baca dari luar, tetapi sosok itu menghilang tanpa jejak,” terang Maira.
“Nanti aku mau menyelediki ruangan itu lagi. Aku juga sangat penasaran. Instingku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan di balik dinding-dindingnya, dan ada rahasia kelam yang sengaja dikubur selama bertahun-tahun. Aku sudah membaca sejarah kastil ini sebelumnya,” kata Reno.
“Aku akan menemanimu untuk menguak tabir yang menutupi kastil ini,” ucap Maira.
Mereka tiba di depan kamar Ammar. Maira mengetuk pintu perlahan, kemudian langsung membukanya, karena ia yakin Ammar belum bisa berjalan mengingat cedera pada kaki sedang dalam masa pemulihan.
“Ammar?” sapa Maira.
Reno dan Maira masuk ke dalam kamar polisi itu, tetapi tak mendapati seorang pun di sana. Tempat tidurnya tampak rapi. Kamar juga terlihat rapi, seperti habis dibersihkan. Ada sisa sarapan di atas meja. Mandadak wajah Maira cemas. Bukankah Ammar masih belum bisa pulih? Kemana polisi itu pergi?
“Dia tak ada di tempat. Ini aneh. Dia sedang mengalami cedera kaki, kemana dia pergi?” tanya Maira.
“Maksudmu, mungkin ada seseorang yang membawanya pergi?” tanya Reno.
“Bukan hanya membawanya, Ren. Perasaanku nggak enak. Aku khawatir ada orang yang berniat buruk padanya!”
__ADS_1
***