Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XLI. The Fears


__ADS_3

Cornellio terperangah mendengar perkataan Ammar. Degup jantungnya berpacu cepat. Sepertinya ia harus menjalankan misi berbahaya malam ini. Ia merasa sebagai seekor cacing yang dijadikan umpan untuk memancing kehadiran ikan buas. Padahal ini nyawa taruhannya!


“Bagaimana kalau pembunuh itu lebih cepat daripada dirimu?” tanya Cornellio.


“Jangan khawatir. Aku akan bergerak lebih cepat dari pembunuh itu. Dahulu aku pernah dijuluki sebagai The Bullet. Artinya apa? Aku akan bergerak seperti peluru dan melumpuhkan lawan. Kamu tak perlu khawatir.” Ammar berusaha menguatkan perasaan Cornellio yang masih terlihat cemas.


“Apa jaminannya aku akan tetap hidup?”


“Jaminan? Percaya padaku. Kalau kamu sampai mati malam ini, maka aku akan melepas kasus ini, dan aku akan mengundurkan diri dari kepolisian. Itu artinya aku tak punya wewenang apa-apa. Kupertaruhkan reputasi yang sudah kubangun sejak bertahun-tahun lalu. Aku akan sekuat tenaga melindungimu,” terang Ammar.


Cornellio manggut-manggut. Dalam hatinya masih timbul keraguan, tetapi karena kalimat Ammar begitu manis, ia langsung percaya bahwa polisi itu akan sungguh-sungguh melidunginya.


“Sampai jumpa nanti malam! Ingat satu jam sebelumnya kita harus sudah siap di sana,” kata Ammar.


Walaupun masih sedikit bimbang, akhirnya ia meninggalkan ruang kerja Anggara Laksono dengan langkah meyakinkan. Saat keluar, ia berpapasan dengan Elina yang tampaknya ingin pula menyampaikan sesuatu pada Ammar. Gadis belia itu agak terkejut melihat Cornellio.


“Hmm. Elina kan kalau tidak salah?” tebak Cornellio.


“Benar. Aku Elina Agustin. Apakah Pak Ammar ada di dalam?” tanya Elina.


“Tentu saja dia ada. Aku baru saja berbincang dengannya. Sepertinya ada hal pentng yang hendak kau bicarakan?” tanya Cornellio.


“Iya. Hanya sedikit masalah kecil,” jawab Elina sedikit gugup.


“Oke. Kamu masuk saja. Kurasa dia sedang tidak sibuk,” ujar Cornellio.

__ADS_1


Perasaan Elina sedikit was-was saat ia hendak masuk ke dalam ruang kerja Anggara Laksono. Ia baru pertama kali menginjakkan ruangan itu, tak heran ia sedikit terpesona dengan arsitekturnya yang istimewa. Sementara di belakang meja besar, dilihatnya Ammar Marutami masih sibuk dengan coretan-coretannya, berusaha membuka tabir yang tersembunyi dari kasus ini.


Mengetahui kedatangan Elina, Ammar meletakkan pulpen, sambil melepas kacamata bacanya. Ia mempersilakan gadis belia itu untuk duduk dengan posisi ternyaman.


“Elina Agustin. Ada angin apa gerangan sehingga kau menemuiku?” tanya Ammar menatap gadis itu tajam.


Elina tampak canggung. Pertama kali dalam hidupnya ia berhadapan dengan penegak hukum, membuatnya sedikit salah tingkah. Ia berusaha tampil sopan dan elegan di hadapan polisi itu.


“Maafkan aku jika mengganggu wantu anda, Pak. Aku kesini hanya menyampaikan sedikit informasi yang mungkin penting. Karena menurutku ini agak aneh buatku,” kata Elina ragu-ragu.


“Informasi penting? Kedengarannya menarik. Aku akan siap mendengarnya, Elin. Silakan katakan saja, dan jangan ragu-ragu!” Ammar terlihat antusias.


“Aku mempunyai sesuatu untukmu. Aku menemukan pagi tadi di atas ranjangku, saat kutinggal sebentar di ruang baca. Aku tidak tahu siapa yang meletakkan ini, tapi kurasa anda harus tahu.” Elina bangkit dari tempat duduk, menyerahkan dua lembar foto kepada Ammar.


Ammar sangat terkejut melihat foto itu. Tentu saja ia sangat mengenali sosok yang berada di dalam foto itu. Kecemasan sontak terpancar di wajahnya. Ia melihat sosok dr.Dwi terikat dan tak berdaya. Dalam kecemasan, ia berusaha bersikap tenang sambil mengusap dagu.


“Iya, Pak. Aku mengenalnya. Dia adalah dr.Dwi. Orang yang memberiku tumpangan ke kastil ini,” jawab Elina.


“Seperti yang kamu lihat, dokter yang malang itu kini telah disekap dalam suatu ruangan dalam kastil ini yang aku tidak tahu. Sungguh, baru pertama kali ini dalam sejarah hidupku aku merasa seperti orang bodoh karena dipermainkan oleh pelaku pembunuhan. Ini benar-benar gila!” Ammar terlihat menahan amarah.


“Katakan saja kalau Anda membutuhkan bantuanku, Pak. Aku akan siap membantu!” tawar Elina.


“Untuk awalnya mungkin kamu tak perlu memberi tahu keberadaan foto ini pada siapa pun, Elin. Selanjutnya, kamu hanya perlu waspada. Kastil ini bukan tempat aman untuk gadis secantik dirimu. Saat ini aku hanya butuh kewaspadaan tiap orang di kastil ini, sebab kali ini lawan yang kita hadapi bersembunyi dalam selimut yang sama dengan kita!” terang Ammar.


“Aku paham itu, Pak. Aku memang berusaha merahasiakan foto itu dari siapa pun, termasuk Aldo. Sebenarnya aku sudah mulai tertekan tinggal di kastil ini. Tetapi aku mencoba bertahan dan berharap agar Aldo bukanlah tersangka dari segala kekacauan ini,” ucap Elina.

__ADS_1


“Terima kasih, Elin. Aku dapat membaca dari raut mukamu bahwa kamu adalah seorang gadis yang cerdas. Tentunya aku akan sangat senang bisa bekerjasama denganmu. Aku akan hubungi dirimu lagi kalau membutuhkan bantuanmu. Sekali lagi terima kasih atas informasi penting ini, karena ini sangat berharga,” lanjur Ammar.


Senyum Elina mengembang lebar. Ia merasa bangga menadapat kepercayaan langsung dari Ammar Marutami. Bagaimanapun, ia pernah mendengar gaung popularitas polisi itu dalam memecahkan berbagai kasus.


Elina meninggalkan ruang kerja Anggara Laksono dengan perasaan berbunga-bunga, tanpa menyadari ada sosok lain yang mengintai gerak-geriknya.


***


Hari bergulir menjadi malam. Kegelapan merayap menjadi selimut pekat di kastil tua itu. Kecemasan kembali menyeruak. Gelap selalu menjadi ketakutan dan teror sendiri bagi sebagian orang. Sebagian penghuni memilih untuk bertahan dalam kamarnya, tetapi ada pula yang memilih untuk menghabiskan waktu untuk mengencani kegelapan.


Cornellio berjalan gelisah menuju gudang tua di belakang kastil, tempat yang tertulis dalam kartu yang ia terima bersamaan dengan buket bunga misterius. Degup jantungnya berdetak tak beraturan. Suasana gelap malam sungguh membuatnya terasa kecut. Ammar sudah menunggu di suatu tempat tersembunyi di dalam gudang sebelumnya. Ia siap bertindak apabila ada sesuatu menimpa Cornellio.


Sementara ia juga tak membiarkan Cornellio dalam keadaan tangan kosong. Sebuah pistol sengaja disembunyikan dalam saku jaket yang dipakai Cornellio, untuk berjaga-jaga kalau saja hal buruk terjadi.


Cornellio sedikit ragu membuka pintu gudang yang terlihat menyeramkan. Jarum jam masih menunjuk pukul sembilan lewat sembilan belas menit. Masih cukup waktu untuk menyiapkan segala sesuatu, termasuk mengumpulkan sisa-sisa kebaranian.


Menit-menit berlalu dengan cepat, berpacu dengan gejolak di dadanya. Suasana kian mencekam. Dingin mulai menggigit kulit. Perasaan Cornellio mulai tak nyaman.


“Ingat! Jangan tegang dan panik. Apapun yang terjadi tetap tenang. Aku tetap mengawasi dan tak akan kubiarkan apa pun terjadi padamu. Kamu harus percaya padaku!” pesan Ammar.


Cornellio mengangguk. Ammar sengaja mencari tempat yang tak diduga menjadi tempat persembunyian. Sementara ia hanya berdiri terpaku menunggu detik demi detik yang bergulir. Ketegangan begitu terasa, berpadu dengan keheningan malam yang meraja. Ia makin gelisah. Kemihnya terasa penuh, membuatnya ingin buang air kecil.


“Aku tak tahan ....” gumam Cornellio.


“Seharusnya kamu kencing dulu tadi,” keluh Ammar.

__ADS_1


“Sebentar saja. Aku akan kencing di bawah pohon depan gudang saja!”


***


__ADS_2