
Tulisan di kaca mobil itu sontak membuat Gerry panik. Ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikan segala gerak-geriknya. Bahkan di kantor polisi sekali pun, ia mendapat ancaman. Jelas ini bukan bercanda. Nyatanya, Gerry merasa tak nyaman seketika. Ia segera masuk kembali ke kantor polisi, langsung menghambur ke dalam ruangan Reno.
Ia membuka pintu tiba-tiba saat Rasty masih berbincang dengan Reno. Hal itu tentu saja membuat Reno terkejut. Apalagi ditatapnya paras Gerry yang terlihat cemas.
“ Maaf. Nanti kamu akan kupanggil kalau sudah selesai,” tegur Reno.
“Ma-maaf, Pak! Saya tidak berniat mengganggu, tetapi ... Bapak harus melihat sesuatu di tempat parkir. Seseorang mengancam saya. Ia akan membunuh saya,” ucap Gerry dengan gugup.
“Mengancam bagaimana? Ini kantor polisi. Bagaimana mungkin seseorang berbuat yang melanggar hukum?”
“Bapak harus lihat! Bapak harus lihat sendiri!”
Reno mengernyitkan dahi. Bagaimanapun, cerita Gerry ini membuatnya penasaran. Ia menoleh ke arah Rasty sebentar.
“Kita sudahi saja pembicaraan ini, Rasty! Terima kasih atas kedatanganmu. Nanti kalau ada yang perlu kami tanyakan, akan kami konfirmasi kembali,” ucap Reno pada Rasty.
Rasty mengangguk, seraya tersenyum lega. Mereka bertiga segera menuju ke tempat parkir, tempat mobil Gerry diparkir, untuk melihat ancaman yang ditulis di kaca mobilnya. Sesampai di sana, tulisan itu masih jelas terlihat. Ditulis dengan lipstik, dengan huruf kapital.
Reno penasaran melihat tulisan itu. Ia mendekat untuk mengamati dalam jarak dekat. Rasty tersenyum lega melihat tulisan itu seraya bergumam,”Apakah hal ini membuatku terbebas dari status tersangka, Pak?”
“Tentu tidak, Rasty! Penulis ancaman ini bisa siapa saja. Bahkan kami juga belum tahu apakah penulis ancaman ini ada sangkut pautnya dengan kematian Jenny dan Alma. Siapa saja bisa jadi tersangka. Termasuk kamu, Gerry! Bisa saja kamu didakwa karena menulis ancaman palsu di mobilmu sendiri. Bagaimanapun pasti kami akan mendalami segala kemungkinan berdasar bukti-bukti yang ada,” ucap Reno tegas.
Rasty terdiam seraya menghela napas. Ia bersedekap, sambil berbisik pada Gerry.
“Apakah kamu juga menganggap bahwa aku adalah pembunuh Jenny dan Alma, Ger?” tanya Rasty.
__ADS_1
“Aku .. aku nggak tahu, Ras. Entahlah. Aku tidak bisa berpikir apa-apa saat ini. Aku khawatir,” ucap Gerry.
“Oke Gerry. Aku sudah memfoto bukti ancaman di kaca mobilmu. Nanti kami akan selidiki lagi. Sayangnya Dimas, rekanku sedang tidak bertugas hari ini. Jadi mungkin besok akan coba kubicarakan dengan dia. Mungkin lebih baik sekarang kamu pulang saja. Kita jadwalkan ulang pembicaraan kita di lain hari,” ucap Reno.
“Ma-maaf, Pak. Kalau boleh saya ... saya minta pengamanan. Saya tinggal sendirian di rumah bersama pembantu. Sepertinya kurang aman kalau saya pulang ke rumah. Saya khawatir ada orang yang mengincar nyawa saya, dan berbuat tidak baik. Saya mohon, Pak. Sepertinya pulang bukan pilihan yang baik,” ucap Gerry dengan nada takut.
Reno menatap Gerry dalam, kemudian mengangguk.
“Oke, aku mengerti. Hari ini aku juga bertugas untuk piket di kantor. Kurasa ada baiknya kalau diantar oleh seorang anggota kepolisian. Sayangnya kebanyakan punya tugas lain malam ini. Biar Fani saja yang menemani dan menjagamu,” ucap Reno.
Gerry sepertinya sangsi mendengar ucapan Reno. Ia mendengar nama ‘Fani’ disebut. Itu artinya yang akan menemani pulang adalah polisi perempuan. Ia ragu, apakah polisi perempuan cukup untuk memberikan perlindungan pada dirinya?
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Jangan meremehkan kinerja polisi, Nak! Fani adalah polisi andal dan jago menembak. Ia tak akan segan menembak siapa saja pelaku kejahatan. Dia agak pemarah, tetapi kurasa dia akan bisa melindungimu dengan baik,” lanjut Reno.
***
Malam yang lengang, seperti biasa di kota yang dicekam rasa takut dengan beredarnya isu pembunuh berantai tengah berkeliaran mengincar para gadis-gadis muda. Kematian Jenny dan Alma mengejutkan sebagian warga kota. Mereka memilih menghabiskan malam di kediaman masing-masing, atau keluar mencari angin bersama teman-teman.
Di dalam gedung apartemen yang sepi, Nayya merasa terpenjara. Ruangan itu berukuran tak terlalu lebar. Ruangan terlihat seperti ruangan sebuah hotel, dilengkapi dengan kamar mandi dan dapur kecil. Sebuah TV layar lebar, lemari pakaian, kulkas dan dilengkapi pula dengan pendingin ruangan. Hanya saja, pintu dikunci dari luar, sehingga ia sama sekali tak bisa keluar.
Satu-satunya cara agar bisa menghirup udara di luar adalah keluar melalui pintu yang terhubung dengan balkon. Sayangnya balkon itu juga tak terlalu besar, menghadap langsung ke arah kota yang gemerlap malam itu. Dari balkon kecil itu ia juga bisa melihat gudung-gedung pencakar langit di pusat kota. Nayya mencoba melihat ke bawah balkon. Seketika perutnya mual. Ia takut ketinggian. Tidak mungkin ia mencoba meloloskan diri dari tempat setinggi ini.
Klik!
Pintu apartemen terbuka. Nayya melihat sosok yang menyekapnya masuk ke dalam ruangan membawa makanan dalam bungkus stereofoam. Harus diakui, perutnya terasa lapar. Sayangnya ia tidak ingin makan di hadapan orang yang menculiknya itu.
__ADS_1
“Makanlah! Aku tahu kamu lapar. Aku juga nggak ada niat buat kamu mati kelaparan. Kamu tau nggak! Ternyata membuat orang merasa takut dan cemas adalah hal yang sangat menyenangkan. Hari ini aku sedikit membuat ancaman kepada Gerry. Kamu kenal dia kan? Sebenarnya aku nggak ingin bunuh dia, tetapi kurasa kalau dia dibiarkan hidup terlalu lama agak membahayakan. Kepolosannya adalah sumber bencana,” ucap sosok itu seraya menghempaskan diri di ranjang.
“Kamu sakit!” desis Nayya.
Sosok itu hanya menyeringai mendengar ucapan Nayya. Ia meraih remote TV, dan mengganti-ganti saluran.
“Semua saluran yang ada isinya sampah! Masyarakat kita sudah lelah dijejali dengan berita-berita tak bermutu!” gerutunya.
Nayya tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sebuah kursi di situ. Ia belum melihat-lihat isi apartemen, siapa tahu ada sesuatu yang bisa digunakan untuk meloloskan diri atau senjata untuk melumpuhkan penculiknya ini. Ia hanya menatap sosok yang berbaring di ranjang dengan kesal.
“Oya, aku akan pergi setelah ini. Malam ini ada sesuatu yang kulakukan. Besok mungkin kota akan dikejutkan oleh berita kematian lagi hahaha!” ucap sosok itu lagi.
Drrt ... drrt ... drrt!
Ponsel sosok itu bergetar. Ia meraih cepat, kemudian melihat siapa pemanggilnya. Tampaknya, ia tak suka dengan gangguan telepon itu. Segera ia matikan ponsel, dan letakkan begitu saja. Ia fokus melihat sebuah siaran televisi tentang acara memasak yang dipandu seorang chef terkenal.
“Kamu bisa memasak, Nayya?” tanya sosok itu.
Nayya tak menjawab. Ia tak berniat menjawab pertanyaan itu.
“Ayahku seorang tukang daging. Waktu kecil beliau mengajari aku bagaimana cara memotong daging dengan baik dan benar. Sampai sekarang aku bisa melakukan itu dengan baik. Anjing yang malang itu berhasil kupotong dengan rapi, lalu kumasukkan dalam karung untuk mengecoh polisi hahaha!"
Selanjutnya, sosok itu meracau tak jelas. Beberapa menit kemudian, tampaknya ia tertidur. Mungkin saking lelahnya, kepalanya terkulai. Matanya terpejam. Napasnya naik turun. Nayya merasa ragu, apakah sosok ini benar-benar tertidur? Ia berharap bisa mengambil kunci apartemen agar ia bisa lolos dari sekapan sosok ini.
***
__ADS_1