
Peristiwa pembunuhan seorang penulis di dalam apartemen mewah itu tengah diselidiki oleh sejumlah polisi. Garis polisi berwarna kuning juga dipasang di sekitar tempat kejadian perkara. Tak ada siapa pun yang boleh mendekat. Para wartawan yang ingin meliput diberi jarak. Beberapa kali terlihat kilatan blitz kamera mengarah ke arah sekitar apartemen.
Tak lama, tim medis berhasil mengevakuasi jenazah si penulis. Ternyata sebuah fakta mengejutkan terungkap! Jenazah dalam apartemen itu tidak hanya satu, tetapi ditemukan kembali sesosok jenazah pria dalam kamar mandi apartemen, hanya saja identitasnya belum terungkap.
Seorang polisi muda, Reno Atmaja memimpin sendiri penyelidikan itu. Ia memerintah anak buahnya untuk menyisir apartemen dengan teliti, tak boleh ada hal sekecil apa pun yang boleh lolos dari pengamatan.
“Kamu tahu kabar Kapten Ammar Marutami?” tanya Reno Atmaja pada seorang rekannya yang bernama Dimas.
“Polisi itu terakhir dikabarkan sedang berlibur bersama istrinya, namun setelah itu seolah menghilang dari peredaran. Entahlah!” jawab Dimas sambil menyulut rokok di mulutnya.
“Aku membutuhkan dia untuk mengungkap pembunuhan penulis ini. Instingnya begitu tajam. Kurasa aku akan sedikit kesulitan untuk mengungkap pembunuh penulis ini,” keluh Reno Atmaja sambil meneguk kopi cup yang dipegangnya.
“Penulis itu dibunuh dengan cara dicekik lehernya. Para petugas sedang meneliti kemungkinan sidik jari yang tertinggal, beserta rekaman CCTV yang ada di apartemen. Mereka juga sedang menanyai tetangga tentang kemungkinan keanehan yang terjadi. Jadi kupikir kau harus sedikit bersabar. Ammar Marutami bukan satu-satunya polisi hebat yang bisa menangani kasus pembunuhan penulis itu. Kamu melupakanku, ha?” ujar Dimas sambil menghirup rokok dalam-dalam, kemudian melemparnya.
Suasana malam di sekitar apartemen yang biasanya senyap, ternyata berubah. Berita pembunuhan itu menjadi magnet bagi para media untuk datang meliput. Banyak warga kota juga datang untuk sekedar melihat sekitar tempat kejadian perkara. Mereka penasaran, siapa sebenarnya yang begitu brutal melakukan pembunuhan itu?
***
Jarum pendek jam baru saja melewati angka sebelas. Malam kian merapat menuju pertengahan. Dua orang pria mengendap keluar dari kastil diam-diam. Cuaca begitu dingin malam itu, sehingga keduanya harus merapatkan jaket.
“Kamu yakin dengan perjalananmu ke kota?” tanya Cornellio.
“Aku tak akan lama, Cornellio. Tak boleh lagi kutunda perjalanan, karena ini adalah kunci. Aku harap kastil dalam keadaan aman selama aku tidak ada. Kurasa ini adalah saat yang tepat, karena kelihatannya semua penghuni sedang beristrahat dalam kamarnya. Besok pagi, jangan katakan apa pun tentang kepergianku. Biar mereka mengira-ngira sendiri!” Ammar Marutami berpesan.
__ADS_1
“Entahlah, Ammar. Apabila mereka tahu, maka itu di luar kuasaku. Yang jelas aku akan berusaha menutup rapat-rapat kepergianmu malam ini. Tetapi mereka tentu bertanya-tanya mengapa mobil Anggara berkurang satu. Tapi tak apalah!” kata Cornellio.
“Oke. Kalau ada apa-apa, tetaplah bertahan sampai aku kembali. Aku ingin semua baik-baik saja.”
“Ya, semoga berhasil! Kuharap kita bisa meringkus si pembunuh itu segera,” ucap Cornellio.
Ammar Marutami mengangguk, seraya memasuki sebuah mobil yang berada di garasi. Sebuah sedan berwarna merah menyala, salah satu kendaraan favorit Anggara Laksono yang jarang dipakai. Ammar Marutami berharap mobil ini masih berfungsi dengan baik, karena Helen pernah berkata mobil Anggara Lakssono kadang suka mogok karena kurang perawatan. Semoga mobil ini tidak begitu.
Setelah semua siap, mobil keluar dari garasi, menembus kegelapan malam keluar dari gerbang kastil menuju jalan raya. Cornellio melihat itu dengan perasaan gelisah.
Anggapan Ammar bahwa semua penghuni telah beristirahat dalam kamar, ternyata salah. Di sisi lain kastil, sepasang mata tengah mengawasi gerak-gerik Cornellio dari tadi. Sepasang mata yang penuh nafsu untuk membunuh!
***
Hampir tengah malam, ketika melewati hamparan kebun teh yang gelap. Di sekeliling seolah tak ada kehidupan, begitu gelap. Rasa takut menyelinap di hatinya. Sebagai seorang cenayang yang mempunyai indera keenam, ia dapat merasakan hal-hal buruk di sekitarnya. Parasnya tampak cemas.
“Anda yakin dengan tempat yang dituju?” tanya pengemudi taksi.
“Tentu saja. Ikuti saja jalannya, Pak,” jawab Mariah.
Tiba-tiba paras wanita itu berubah ketika ia melihat sorot lampu mobil lain dari kejauhan yang datangnya dari arah berlawanan. Ia mengernyitkan kening.
“Mobil siapa larut malam begini? Sepertinya dari arah kastil ...,” gumamnya.
__ADS_1
Sayangnya, karena malam begitu gelap, ia tak begitu bisa memastikan keadaan fisik mobil yang berpapasan dengan taksi yang ditumpangi. Padahal sebenarnya, mobil itu adalah mobil yang dikendarai Ammar Marutami, suaminya sendiri. Sayangnya, sang suami juga tak menyadari kalau istrinya berada dalam taksi yang melaju ke arah kastil.
Ammar hanya bergumam,” Hmmm. Sebuah taksi di malam buta begini. Apakah hendak menuju kastil? Kuharap bukan suatu hal yang buruk!”
Mobil dan taksi berpapasan, tetapi tidak berhenti. Mariah hanya menghela napas, kembali fokus dengan ruas jalan gelap yang membentang di depan. Pikirannya semakin tak tenang. Kegelapan di sekeliling sungguh membuat tak nyaman. Matanya bisa menangkap energi-energi tak wajar yang muncul tiba-tiba. Ia hanya menahan diri untuk tak bersuara, agar pengemudi taksi tidak takut.
Empat puluh lima menit kemudian, taksi sudah berhenti di depan kastil. Mariah turun dengan perlahan, membayar ongkos taksi, kemudian membiarkan pengemudi taksi itu meninggalkannya dengan gugup. Si pengemudi merasa merinding berada di tempat yang begitu seram. Mariah juga merasakan aura berbeda ketika membuka gerbang kastil. Padahal, ia beberapa kali mengunjungi kastil ini, tetapi ia merasa malam ini terasa berbeda. Seolah banyak hal buruk yang mengendap dalam kastil.
Ia melangkah perlahan ke area halaman yang luas. Sepi dan hening. Ia berharap agar bisa segera beristirahat di kamarnya, sebelum esok pagi menyampaikan hal penting yang ia bawa untuk penyelidikan. Karena cuaca dingin semakin menggigit, Mariah mempercepat langkah. Ia merasa tak nyaman, seolah ada yang memerhatikan gerak-geriknya.
Sreek!
Tiba-tiba ia mendengar suara semak di sekitarnya saling bergesek. Ia menghentikan langkah, menengok ke kiri dan kanan. Perasaanya tak enak. Ia berharap suara itu berasal dari binatang malam yang berkeliaran. Ia berusaha menguatkan hati untuk melanjutkan melangkah. Jalan setapak yang membelah taman terasa panjang karena melewati deretan pohon yang menjulang. Bayangannya bagai raksasa yang menyeramkan. Ia berharap agar segera sampai ke area samping kastil, dan masuk melalui salah satu pintu di sana.
Sreek!
Suara aneh itu terdengar lagi. Mariah kini tidak berhenti, melainkan mempercepat langkah. Ia merasakan tengkuknya merinding. Beberapa saat lagi ia sampai ke halaman samping.
Duuuk!
Sebuah benda keras tiba-tiba menghantam kepala Mariah. Ia tidak sempat menghindar, karena semua terjadi secara tiba-tiba. Ia terhuyung, kemudian jatuh tak sadarkan diri!
***
__ADS_1