Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
304. Amanah untuk Mariah


__ADS_3

Aditya memasuki area kolam renang, tetapi tak ada Lidya di sana. yang ada malah sosok wanita cerdas, Maya Larasati, sedang duduk di gazebo sambil membaca sebuah buku tebal. Aditya heran, darimana datangnya wanita ini? Padahal tadi ia saat ia pergi, tak ada siapa pun di kolam renang. Mengapa tiba-tiba ia berada di sini? Ia celingak-celinguk, mencari keberadaan Lidya, tetapi sang istri tak ada di tempat itu.


"Mana Lidya?" tanya Aditya pada Maya yang seolah tak acuh dengan kehadirannya.


Wanita muda itu melirik ke arah Aditya sekilas, kemudian menggeleng, sambil melanjutkan membaca buku.


"Lid, kamu di mana? Aku nggak bisa temukan krim itu. Mungkin kamu lupa nggak bawa kali," ucap Aditya sambil menuang jus jeruk dalam gelas. Siang yang terasa menyengat membuat ia merasa sangat haus.


Namun, ucapannya itu tak berbalas. Pada akhirnya, Maya menutup buku tebalnya. Ia juga ikut celingak-celinguk, karena ia memang tak mendapati siapa-siapa di tempat ini dari tadi.


"Di sini tak ada siapa-siapa kok. Aku tadi dari ruang baca, tetapi ruang baca itu terasa pengap karena lama tak dipakai, jadi aku pindah di sini. Tapi, rasanya nggak ada Lidya di sini," ucap Maya sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Ini baju gantinya masih di sini, dan beberapa menit lalu ia masih berenang bersamaku. Masa dia pergi begitu saja?" tanya Aditya.


"Bisa jadi dia ke dalam kastil tanpa sepengetahuanmu" jawab Maya sambil mengangkat bahu.


"Aku akan cari di dalam kastil, siapa tahu ia kembali ke kamarnya, pas aku keluar tadi. Nanti bilangin aku kalau kamu ketemu sama Lidya ya!" ucap Adiyta.


Pria itu segera kembali ke dalam kastil dengan gusar. Maya hanya menghela napas sambil melanjutkan membaca buku. Tak ada seorang pun yang berpikir bahwa Lidya sedang berada di dalam toilet, karena baju gantinya memang masih berserak di pinggir kolam renang.


Sementara di dalam kastil. Aditya merasa panik karena Lidya juga tak ditemukan di dalam kamar. Ia mondar-mandir di dalam kastil mencari keberadaan Lidya, tetapi tak kunjung bersua. Tiba-tiba, dari arah kolam renang terdengar teriakan. Jelas itu adalah teriakan Maya. Teriakan itu tak hanya mengejutkan Aditya, tetapi para penghuni lain yang sedang istirahat dalam kamar masing-masing.


"Ada apa sih, siang-siang gini teriak-teriak!" gerutu Rosita.


Edwin, Ammar, Ryan, dan Farrel keluar hampir bersamaan dari dalam kamar masing-masing. Lengkingan Maya di area kolam renang itu memang sangat nyaring. Tentunya ada hal buruk terjadi. Setengah berlari para pria itu mendekati area kolam renang, mendapati Maya yang terduduk di dekat toilet denga paras pucat pasi. Ia terlihat ketakutan, seperti habis melihat hantu.


"Ada apa, May?" tanya Ryan penasaran.

__ADS_1


Tak lama kemudian, para wanita juga menyusul di area kolam renang pula. Mereka heran, mengapa Maya jatuh terduduk dengan paras pucat. Maya tak menjawab apa-apa, tetapi tangannya menunjuk ke arah toliet. Ammar, yang mempunyai insting kuat, tak tinggal diam. Ia segera mengecek toilet.


Ia membuka pintu kamar mandi, tetapi tiba-tiba dadanya berdesir kencang ketika melihat sosok Lidya di lantai kamar mandi bermandikan darah. Sementara darah juga terpercik di segala sudut kamar mandi. Jelas wanita itu sudah dalam keadaan tewas mengenaskan.


"Ada apa, Pak?" tanya Aditya yang tiba-tiba menyusul Ammar di toilet.


Mata Aditya segera menangkap sosok wanita yang terbujur di lantai kamar mandi, tenggelam dalam kubangan darah. Ia terbelalak, karena ia sangat mengenali wanita itu.


"Li-Lidya! Ti-tidak ... ini tidak mungkin!" ucap Aditya terbata-bata.


"Kuatkan hatimu, Adit."


Ammar berusaha menenangkan dengan menepuk pundak Aditya. Namin, pria itu hanya bisa menggeleng sambil melolong, menyebut nama Lidya.


"Lidyaaaa!! Tidaak! Ini Ttdak mungkin!"


Aditya terlihat terpukul melihat semua kejadian mengerikan itu. Ia jatuh terduduk, tak bisa berbuat apa-apa. Sementara, para penghuni lain juga penasaran dengan apa yang terjadi di toilet. Satu-persatu mereka menyusul ke area toliet, dan mendapati sosok Lidya yang tewas mengenaskan.


Sementara, Lilly, si penggagas acara juga tampak histeris. Pembunuhan ini terlihat begitu mengerikan di matanya. Ia hanya duduk berjongkok sambil memegangi kepala, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Para pria segera mengamankan Aditya, agar tak semakin histeris di tempat itu. Ia membawa Aditya masuk ke dalam kastil. Ammar melarang siapa pun memakai toilet kolam renang untuk sementara. Ia rupanya juga bingung dengan apa yang harus dilakukan, mengingat jarak  kota bukanlah jarak yang dekat. Namun, sebagai seorang pnegak hukum, ia harus bertindak sigap dan cepat dalam mengambil keputusan.


Sore itu juga, ia menjumpai Mariah yang rupanya juga sangat terpukul denngan kejadian ini. Bagaimana tidak? ia sama sekali tidak menyangka bahwa di kastil miliknya terjadi lagi pembunuhan yang sama sekali tak disangka-sangka. Bahkan pembunuhan itu terbilang sangat sadis. Mariah terdiam tak berkata apa-apa, di dalam kamarnya sambil memeluk guling.


"Aku turut menyesal, karena peristiwa buruk ini terjadi," ucap Ammar.


"Aku tidak percaya ini terjadi lagi," gumam Mariah.

__ADS_1


"Aku tahu kamu sangat terpukul dengan kejadian ini, Mariah. Tapi kita tidak bisa diam. Kalau kita diam, mungkin akan ada kejadian yang lebih buruk daripada ini. Sore ini juga, kita harus bergerak cepat, agar kasus ini segera tertangani. Aku tidak bisa sendiri, membutuhkan pertolongan rekan-rekanku. Untuk sementara, biar aku yang mengamankan kastil ini, sedangkan dirimu pergilah ke kota, kabarkan kejadian ini, tetapi hanya kepada Reno dan Dimas. Suruh mereka kesini secepatnya bersama tim medis dan penyidik untuk mengevakuasi dan memeriksa tempat kejadian. Harus sore ini berangkat!" perintah Ammar.


"Apakah ini akan berulang?" tanya Mariah.


"Apa yang berulang?"


"Rentetan pembunuhan, seperti yang terjadi setahun lalu. Kurasa pembunuhan ini akan menjadi suatu tradisi di kastil ini. Ingat, dahulu pernah terjadi penulis-penulis hilang di daktil, lalu berlanjut lagi dengan kasus Tiara, sekarang ini pun terjadi. Apakah ini memang benar-benar sebuah kutukan?"ucap Mariah dengan suara serak.


"Tenanglah Mariah, semua akan baik-baik saja. Kalau kita lambat bergerak, maka hal buruk akan terjadi. Aku benar-benar minta bantuanmu, Mariah. Kita harus bergerak secepatnya!"


Mariah hanya menangguk mendengar ucapan suaminya. Sore itu juga, ia telah menyiapkan diri untuk pergi ke kota. Ia akan memakai mobil Ammar, sedangkan Ammar akan bertugas menjaga agar keamanan kastil ini lebih kondusif. Sebelum pergi, ia memastikan bahwa kondisi kastil baik-baik saja. Ia tidak berpamitan dengan penghuni lain, karena tidak ada waktu. Ia sedang mengemban amanah penting yang harus disampaikan kepada Reno dan Dimas. Jasad Lidya harus segera dievakuasi untuk mendapatkan penanganan segera,


 


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2