
Jarum jam sudah merapat ke angka tujuh. Dimas sudah rapi dan wangi dengan kemejanya yang berwarna lembut. Untuk urusan laundry, ia tidak bisa menangani sendiri karena kesibukan yang padat. Ia menggunakan jasa laundry di luar. Ditatapnya pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar. Ia hanya ingin sedikit merapikan jenggot yang mulai tumbuh.
Setelah semuanya beres, ia menuju garasi, bersiap hendak menuju rumah isolasi untuk menggantikan tugas Reno. Ia berharap tidak ada kejadian yang luar biasa tadi malam. Hari demi hari di rumah isolasi dilewati dengan perasaan tegang, karena masih ada seorang pembunuh di dalam sana. Mereka seolah berpacu dengan waktu, jangan sampai menjadi korban berikutnya.
Mobilnya keluar dari garasi, segera meluncur menuju arteri jalan kota yang lumayan sibuk pagi itu. Banyak pekerja dari berbagai kalangan sedikit tergesa menuju tempat kerjanya, berbaur dengan manusia-manusia lain dengan berbagai kepentingan. Dimas harus ekstra hati-hati, karena pagi seperti ini adalah puncak kepadatan lalu-lintas. Untuk meredam stres, ia mnegunyah permen karet sembari mendengarkan berita pagi melalui radio mobil.
Sementara, di belakang mobil Dimas, tampak sebuah mobil lain yang membuntuti dengan jarak tak terlalu dekat. Di dalamnya ada Badi dan Arland yang akan mencari lokasi tempat pembunuh itu diisolasi. Mereka tak puas apabila kasus ini ditangani oleh polisi. Mereka punya rencana tersendiri dengan si pembunuh yang telah menghabisi nyawa Tari.
“Kira-kira apakah dia tahu kalau kita sedang membuntutinya?” tanya Arland sambil memutar-mutar saluran radio di mobil.
Sayangnya tak ada sinyal radio yang tertangkap, hanya suara bergemerisik, karena memang radio mobil itu sudah tak berfungsi secara baik. Arland mendengkus.
“Aku sengaja tidak mengambil jarak terlalu dekat agar dia tidak menyadari. Sebab kalau dia tahu, mungkin dia akan mengubah arah. Lebih baik kita membuntuti dengan jarak agak jauh,” kata Badi sambil terus menyetir.
“Awas ada lampu merah di depan! Jangan sampai kita terjebak, segera lajukan mobilnya!”
Arland mengingatkan. Di depan, terdapat sebuah persimpangan yang cukup padat. Mobil Dimas juga mulai melambat karena lampu lalu-lintas sudah menjadi merah. Sementara, mobil Badi juga ikut melambat berjarak dua mobil di belakang mobil Dimas.
“Jangan sampai kehilangan jejak. Dia sedang menuju pinggiran kota yang sepi!” ucap Arland.
“Jangan khawatir. Aku sudah berpengalaman dengan ini!” sungging Badi.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju pinggiran kota. Suasana terasa berbeda dengan pusat kota, karena di pinggir kota jalanan relatif sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Saat itulah Badi makin meningkatkan kewaspadaan karena mungkin Dimas akan curiga jika ada mobil lain yang membuntuti. Lagipula, Badi berpikir bahwa Dimas mempunyai insting yang baik sebagai seorang polisi. Ia pasti tahu kalau sedang dibuntuti.
Tiba-tiba Badi dan Arland dikejutkan dengan suara radio yang tiba-tiba berbunyi. Irama musik hip-hop tiba-tiba terdengar nyaring walau sedikit putus-putus.
“Radio sialan!” umpat Arland.
“Dia terus melaju. Sepertinya tempat isolasi ini agak jauh. Daerah sekitar sini mulai jarang rumah penduduk, hanya ada kebun dan perbukitan,” ucap Badi.
“Jangan-jangan Dimas mengecoh kita nih!” Arland mulai khawatir.
“Sepertinya nggak deh. Dia belum tahu mungkin kalau kita sedang membuntuti,” kata Badi.
Mobil Dimas tiba-tiba melambat, kemudian menepi di pinggir jalan. Badi langsung tanggap melihat itu. Ia juga ikut menepikan kendaraan di pinggir. Jarak kedua mobil itu berkisar antara dua ratus atau tiga ratus meter. Tak terlalu mencurigakan, karena ada beberapa kendaraan lain yang berlalu-lalang di jalan raya.
Dimas turun dari mobil dengan masih mengunyah permen karet. Ia layangkan pandangan ke kanan dan kiri, untuk memastikan semua aman. Ia tidak menyadari kalau ada mobil lain yang membuntuti, karena mobil Badi diparkir cukup jauh. Dimas melangkah menuju jalan setapak dengan tanpa rasa curiga.
“Dia masuk jalan setapak kecil! Ayo cepat, kita ikuti!” kata Arland tak sabar.
“Sabarlah sebentar! Jangan terlalu dekat. Nanti dia tahu!”
Setelah beberapa lama, Badi memajukan mobilnya lebih dekat, kemudian memarkir tak jauh di belakang dari mobil Dimas. Keduanya segera keluar, mengikuti langkah Dimas yang sudah menghilang masuk ke dalam jalan setapak kecil menuju rumah isolasi.
“Lokasi ini benar-benar terpencil kan?” ucap Arland.
“Iya, aku bahkan tak menyangka kalau di sekitar sini ada rumah. Kalau dari jalan raya, sama sekali nggak kelihatan kan?” kata Badi.
Mereka melangkah menyusur jalan setapak yang mulai menanjak, sampai akhirnya bertemu dengan sebuah rumah besar dengan pagar besi yang digembok. Rumah itu tertutup oleh pohon-pohon yang tumbuh di bagian depan, sehingga tak begitu terlihat.
“Apakah ini rumah isolasi itu?” tanya Badi.
__ADS_1
“Entahlah! Tapi hanya ada rumah ini di sekitar sini. Mungkin iya. Kalau dilihat dari bangunannya, memang cocok untuk isolasi karena besar dan tersembunyi. Tapi masalahnya, pintu pagar depan ini dikunci, sehingga kita tidak bisa masuk dan mencari informasi. Mungkin ada penjaga rumah yang bisa kita tanyai,” kata Arland.
“Tenang! Aku sudah mengantisipasi!”
Badi mengeluarkan peralatan dari dalam tas pinggang yang dibawanya. Ia selalu membawa tas ini kemana-mana, karena di dalamnya tersedia berbagai peralatan untuk emmecahkan masalah tak terduga. Badi segera berbuat sigap. Ia mulai mengutak-atik gembok yang dipakai untuk mengunci pagar depan.
“Ini hanya gembok biasa, jadi mudah saja!” ucap Badi.
Perkataannya terbukti benar. Dalam waktu singkat, gembok pagar depan terbuka. Kini, mereka bisa masuk ke dalam halaman depan rumah isolasi itu.
“Arland, sepertinya memang di sini rumah isolasi itu. Sebaiknya aku saja yang masuk, agar posisi tetap aman. Kamu kembali saja ke rumah bersama mobilnya. Nanti kalau aku mau pulang kamu akan aku hubungi!” perintah Badi.
“Tapi ... bagaimana nanti kalau terjadi apa-apa?”
“Jangan khawatir! Aku bisa jaga diri kok. Kamu tenang saja, semua akan baik-baik!”
Arland tak berani membantah. Ia percaya bahwa Badi bisa menjaga diri dengan baik. Ia kembali ke jalan setapak, untuk selanjutnya pulang menggunakan mobil, sementara Badi sudah bersiap untu memeriksa rumah isolasi itu.
***
Di sisi lain kota yang sibuk, Raymond mengantar seorang gadis dengan menggunakan mobil usang menuju ke kawasan pemukiman yang tak jauh dari pusat kota. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya termenung, ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Raymond sambil terus mengemudi.
Gadis itu hanya menggeleng, seraya membuang pandangan ke arah luar. Suasana kota yang sibuk membuat pikiran gadis itu makin tak karuan.
“Kamu tak usah takut. Pembunuh itu tak akan mencarimu lagi karena setelah ini kami lah yang akan membekuknya sendiri. Identitasnya sudah kami kantongi jadi dia tak mungkin lolos. Saat ini Badi juga sudah mengetahui tempat isolasinya. Dia nggak akan bisa pergi kemana-mana,” ucap Raymond.
“Apa yang akan kalian lakukan padanya? Apakah kalian akan membunuhnya?” tanya gadis itu.
“Menghabisinya?” tanya gadis itu.
“Ya, bisa jadi. Kenapa? Kamu keberatan?”
“Aku pikir mungkin dia bisa diberi satu kesempatan untuk memperbaiki dirinya,” kata gadis itu lagi.
“Kesempatan hidup sekali lagi diberikan kepada orang yang bukan kategori psikopat. Tapi yang kita hadapi ini adalah seorang psikopat yang sadis. Memberikan kesempatan memperbaiki diri akan lebih mirip memelihara seekor anak kobra. Dia akan mematuk kapan saja dia mau. Aku sangat paham dunia kejahatan, jadi aku tidak mau ambil risiko,” terang Raymond.
Gadis itu kehabisan kata-kata. Ia hanya berharap agar mendapat solusi terbaik dari segala keruwetan yang telah terjadi. Ia tidak menyangka, kini ia masuk dalam pusaran kasus yang rumit ini.
“Tunggu ... tunggu!” kata Raymond kemudian.
Gadis itu menoleh ke arah Raymond. Sepertinya pria berawajah sangar itu hendak menyampaikan sesuatu.
“Sepertinya masih ada yang kamu sembunyikan tentang si pembunuh ini. Aku merasa kamu keberatan kalau kami yang akan menangkap dia. Ada apa sebenarnya? Apa yang telah ia janjikan padamu?” desak Raymond.
“Tidak ... tidak! Lakukan apa saja yang kalian mau. Tidak ada yang kuesembunyikan,” ucap gadis itu sedikit gugup.
Mobil yang mereka tumpangi pada akhirnya berhenti di depan sebuah mulut gang yang sempit, sehingga mobil tidak bisa masuk. Gadis itu meminta untuk berhenti di situ. Tanpa sepatah kata perpisahan, ia turun dari mobil Raymond.
“Hey ... “ Tiba-tiba Raymond memanggil.
__ADS_1
Gadis itu berbalik arah, mengurungkan langkahnya. Dilihatnya Raymond yang menatapnya dalam-dalam.
“Ingat! Semua akan baik-baik saja. Jika kamu butuh bantuan atau merasa terancam. Kami akan siap menolongmu. Aku sudah memberi nomor teleponku tadi malam. Simpanlah dengan baik! Ingat, anggap kita tidak pernah bertemu hari ini. Apapun yang kita bicarakan adalah rahasia, dan aku tidak mau ada orang lain yang tahu,” pesan Raymond.
Gadis itu mengangguk, kemudian ia melanjutkan langkahnya menyusuri gang kecil itu. Raymond masih melihat gadis itu, sampai pada akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.
***
Reno segera menyambut kehadiran Dimas dengan gembira. Ia tak sabar menceritakan apa yang dialaminya tadi malam, berkenaan dengan film dan poster yang tertempel di pintu kamarnya. Ini adalah hal yang mengherankan, seolah pembunuh itu tengah memberi petunjuk.
Sebelum mereka bertukar tugas, mereka menyempatkan diri untuk mengobrol secara pribadi dalam kamar yang terkunci, agar pembicaraan mereka tidak dicuri dengar.
“Mungkin dia sedang memberi tahu, siapa yang akan terbunuh berikutnya,” kata Dimas.
“Aku kemarin sempat berkeliling juga untuk memastikan bahwa kamar anak-anak itu terkunci dan dalam keadaan aman saat malam hari. Aku juga sudah berpesan pada Pak Paiman untuk fokus di dalam rumah saja, tak perlu berpatroli sampai jauh ke depan atau belakang. Aku belajar dari peristiwa Miranti, pembunuh itu beraksi saat Miranti berada dalam kamarnya,” papar Reno.
“Tapi tetap saja kita tidak boleh lengah, Ren. Bisa jadi setelah pembunuh itu menyadari kalau kita hanya fokus di dalam rumah, ia akan beraksi di luar juga. Tetapi kurasa itu tergantung dengan aktivitas penghuni rumah isolasi ini. Kita nggak bisa membatasi para penghuni untuk beraktivitas dalam ruangan saja,” ujar Dimas.
“Kamu benar. Di mana pun berada, kita harus tetap waspada.” Reno manggut-manggut.
“Oya, kemarin aku mendatangi kediaman Gerru untuk memeriksa keadaan di sana. Saat aku memeriksa kamarnya, aku menemukan sebuah fakta yang terlewat,” ucap Dimas.
“Fakta apa lagi yang kamu temukan di sana?”
“Ini fakta tentang Alma dan Ferdy. Dari hasil wawancaraku dengan Bu Delia, guru TK mereka zaman dahulu, ternyata Ferdy dan Gerry bukan sepupu asli. Ferdy diangkat menjadi anak angkat oleh keluarga Gerry. Hanya saja, Ferdy tidak memilih kuliah saat lulus SMA, melainkan langsung bekerja. Dan yang agak mengejutkan adalah kemungkinan perselingkuhan yang dilakukan oleh Alma. Aku menemukan beberapa foto Alma di kamar Gerry. Foto itu dicoret-coret bagian mukanya. Mungkin ini adalah simbol kebencian yang tak terungkapkan. Tapi masa iya Gerry yang membunuh Alma gara-gara perselingkuhan itu?” ungkap Dimas.
“Catat semua fakta-fakta baru itu! Kita akan hubungkan dengan peristiwa yang sudah terjadi. Jangan lupa, sebelum berpacaran dengan Rudi, Jenny juga mengalami kegalauan. Aku tidak tahu apakah kedua gadis ini mempuyai hubungan atau tidak, yang jelas urusan asmara sepertinya begitu kental pada kasus Jenny dan Alma,” tambah Reno.
“Bagaimana dengan Miranti?”
“Kalau Miranti, kurasa dia adalah koban tambahan yang sama sekali tidak direncanakan. Sama dengan Fani dan Tari. Miranti berada di tempat yang salah, sehingga ia menjadi korban pula dari si pembunuh yang menggila ini,” ucap Reno.
“Mungkin benar begitu. Aku merasa, karena si pembunuh ini berhasil menghabisi Miranti, maka dia berniat akan menghabisi yang lain. Dia sengaja menyelinap ke dalam kamar ini dan meninggalkan sebuah catatan yang mungkin menggambarkan korban berikutnya. Tetapi kurasa ia agak susah ditebak. Aku berharap pembunuhan Miranti akan menajdi yang terakhir di rumah ini,” ucap Dimas.
“Iya semoga saja begitu. Kemarin aku juga sudah mendapat gambar logo ular dari Pak Andika. Menurut dugaanku jelas lah logo ular yang ada di jaket itu sangat mudah dikenali. Tapi aku sangsi, apakah logo itu hanyalah jebakan semata atau memang benar-benar menggambarkan latar belakang si pelaku?”
“Ada baiknya kita telusuri juga asal-muasal gambar itu karena banyak kemungkinan yang bisa kita dalami. Firasatku mengatakan bahwa sasaran kita semakin jelas dan dekat. Si pembunuh itu sebenarnya mulai bingung. Ini adalah kesempatan kita untuk menekan dan menjebak. Aku sedang berpikir untuk menggunakan umpan untuk memancing si pembunuh ini,” kata Dimas.
“Jangan! Jangan memakai umpan!”
“Kenapa?”
“Terlalu berbahaya. Aku masih ingat kisah Pak Ammar di kastil tua. Ketika dia menggunakan umpan untuk memancing kehadiran si pembunuh. Nyatanya, mereka malah hampir mati terbakar dalam sebuah gudang karena salah perhitungan. Sebelum memutuskan menggunakan umpan, kira harus pikir matang-matang dengan segala kemungkinan yang terjadi,” kata Reno.
“Hm, baiklah. Bagaimana kalau mulai besok kita tidak usah bergantian?” tanya Dimas.
“Maksudmu?”
“Kita bertugas berdua di sini. Kurasa sebentar lagi segala kedok si pembunuh itu akan terungkap. Aku sudah mengantongi sebuah nama yang akan kuungkap dalam waktu dekat,” ucap Dimas.
“Aku juga mengantongi sebuah nama juga. Apakah kita mencurigai orang yang sama? Coba katakan! Siapa yang ada dalam pikiranmu!”
__ADS_1
“Dia adalah .... “
***