Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
134. Panggilan Polisi


__ADS_3

Motor yang dinaiki Ferdy berhenti di halaman kantor polisi, ketika hari menjelang petang. Adinda tertegundi depan kantor yang masih ramai itu. Perasaannya berubah tak nyaman. Ia merasa sedikit takut untuk berhubungan dengan dunia hukum. Ia menoleh ke arah Ferdy dengan ragu-ragu.


“Kenapa? Kamu takut bertemu dengan polisi?” tanya Ferdy.


“Belum biasa aja sih, Fer.”


“Tenang aja! Selama kita di jalan yang benar, mereka nggak ngapa-ngapain kita kok!” kata Ferdy sambil tersenyum.


Keduanya hendak melangkah ke dalam, ketika tiba-tiba seseorang menyapa mereka. Adinda melayangkan pandangan ke arah Rasty, yang baru saja turun dari mobil.


“Kok kalian ada di sini? Kalian mendapat surat panggilan juga dari polisi?” tanya Rasty sambil menghampiri Ferdy dan Adinda.


“Sebenernya kami akan ....”


“Iya Rasty! Kami mendapat surat panggilan dari polisi juga!”


Ferdy memotong kalimat Adinda dengan cepat. Ia khawatir kalau gadis itu akan mengatakan pada Rasty bahwa mereka akan membuat pengakuan pada polisi.


“Kira-kira bakalan diapain kita ya?” tanya Rasty dengan penuh ingin tahu.


Ferdy tak menjawab. Ia merasa kurang nyaman dengan kehadiran Rasty di situ. Sementara mereka hendak melangkah masuk, tiba-tiba Gerry juga terlihat berjalan dari area parkir menuju pintu masuk kantor.


“Loh, kok ada kalian?” tanya Gerry.


Ia menatap heran ke arah Ferdy, Rasty, dan Adinda. Terlebih saat dilihatnya Ferdy, sepupunya. Ia sama sekali tak mengharap kehadiran mereka di waktu yang sama di kantor polisi seperti ini.


“Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Rasty.


“Aku ... aku memenuhi undangan polisi. Mereka menelepon untuk meminta sedikit keterangan. Kupikir nggak ada yang serius,” ucap Gerry.


Ada nada gugup di perkataan Gerry, tetapi ia pura-pura tenang dan tersenyum. Ia tidak mau terlihat seolah-olah tersangka di hadapan mereka. Gerry sebenarnya juga tahu, kalau mereka semua terlihat tidak nyaman. Tentu berhadapan dengan penegak hukum akan terasa sangat berbeda dengan orang biasa. Masing-masing dari mereka sedang mengatasi rasa cemasnya.

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk menerima tamu. Fani, salah seorang polisi perempuan mempersilakan untuk menunggu, sebelum dipanggil satu-persatu ke dalam ruang interogasi. Mereka duduk di sebuah sofa, menunggu dengan cemas.


Reno keluar dari ruangannya sambil membawa secangkir kopi. Ia tertegun melihat kehadiran mereka. Ia tak menyangka ada empat orang yang hadir di ditu, karena seingatnya ia hanya mengundang dua orang. Yang sudah dikenalnya tentu saja Gerry, karena sebelumnya ia pernah menginterogasi rumahnya.


“Apa kalian ...?” tanya Reno.


“Ya Pak! Kami datang untuk memenuhi undangan!” ucap Gerry.


“Kami juga Pak! Maaf, bisakah saya meminta waktu duluan, Pak. Karena sebenarnya saya lagi kurang enak badan. Saya harus segera istirahat. ” Ferdy juga berkata dengan cepat.


Reno manggut-manggut. Ia mengernyitkan dahi sambil menatap ke arah Ferdy. Ia alihkan pandangan ke arah yang lain, tetapi sepertinya yang lain tak berkeberatan kalau Ferdy dan Adinda bertemu dengan Reno duluan.


“Baiklah. Silakan masuk ke ruangan saya!”


Ferdy dan Adinda mengikuti langkah Reno menuju kantornya. Sementara Gerry dan Rasty agak merasa agak heran. Bukankah seharusnya mereka dibawa ke ruang interogasi kalau mereka benar-benar memenuhi panggilan polisi? Mengapa ini malah di bawa ke kantor, seperti tamu umum?


“Aku kok melihat ada yang aneh dengan Ferdy ya?” tanya Rasty pada Gerry.


“Aneh gimana, Ras?” Gerry balik bertanya.


“Mungkin mereka gugup aja karena hendak diinterogasi polisi.”


“Nggak juga begitu kali!”


Di dalam ruangan Reno, Ferdy dan Adinda berusaha untuk tenang. Ferdy memutuskan untuk memulai pembicaraan dan menceritakan kronologis kejadian di malam pesta tahun baru yang digelar di rumah Gerry.


“Jadi kalian ini adalah dua dari sembilan mahasiswa yang pulang terakhir di malam pembunuhan Jenny?” tanya Reno untuk memastikan.


“Tepat sekali, Pak. Kami ke sini untuk meluruskan kembali mengenai kronologis terbunuhnya Jenny. Karena yang kami dengar ada kesimpung-siuran berita. Untuk itu kami datang ke sini untuk menceritakan alur sebenarnya dari pembunuhan Jenny,” ucap Ferdy.


“Tunggu ... tunggu! Maksudnya, kalian ke sini hendak menceritakan versi berbeda dari kronologis kejadian yang sudah kami dengar dari salah seorang teman kalian?” tanya Reno penuh selidik.

__ADS_1


“Iya Pak. Karena kami mendengar bahwa teman kami memberi informasi berbeda, jadi mungkin keterangan kami akan memberi pandangan berbeda dari kasus ini,” ucap Ferdy dengan penuh percaya diri.


Reno mengernyitkan dahi. Diam-diam ia penasaran juga dengan cerita yang hendak diusung oleh Ferdy dan Adinda.


“Jadi bagaimana cerita menurut versi kalian?”


“Sebenarnya, teman saya Adinda ini yang menemukan jasad Jenny di rumah Gerry, Pak. Awalnya jasad Jenny tidak tenggelam di danau seperti yang terjadi. Malam itu Adinda menemukan jasad Jenny tergeletak di kamar mandi, saat ia hendak menggunakan kamar mandi,” ucap Ferdy.


“Hmm. Jadi bagaimana lengkapnya? Apakah yang diceritakan temanmu itu benar?”


Mata Reno menyorot ke arah Adinda. Gadis itu segera mengangguk.


"Iya Pak. Memang seperti itu kejadiannya."


“Jam berapa kira-kira itu terjadi?” tanya Reno.


“Maaf, Pak. Untuk waktunya saya tidak bisa memastikan. Yang jelas itu terjadi selepas tengah malam. Saat itu semua tamu sudah pulang kecuali kami bersembilan. Sebenarnya saya mau pulang cepat, tapi teman-teman masih ingin di sana. Kemudian saya hendak ke kamar mandi karena kebelet pipis. Namun, saya benar-benar kaget melihat ada mayat di sana.” Adinda mulai bercerita.


“Hmm. Oke. Ini menarik. Karena cerita kalian bebeda dengan cerita yang kami dapat sebelumnya. Nanti kita cross-check, informasi mana yang paling benar. Lalu mengapa mayat itu tiba-tiba berpindah ke danau?” Reno bertanya lagi.


“Sebenarnya, jujur kami sangat syok dengan penemuan mayat Jenny itu. Waktu itu kami bingung, hendak bertindak kami tidak tahu. Kami ingin lapor polisi, tetapi takut. Salah seorang teman kami yang bernama Rudi mempunyai ide gila untuk membuang mayat Jenny ke danau. Awalnya kami tidak setuju. Ada tiga orang tidak setuju waktu itu. Namun, kami kalah suara. Mereka berniat membuang mayat Jenny ke danau agar urusan tidak menjadi panjang. Tetapi rupanya yang terjadi justru berkebalikan. Masalah ini jadi lebih panjang karena jasad Jenny ditemukan.


Selama berhari-hari kami tidak bisa berpikir jernih, Pak. Kami dihantui rasa bersalah karena membuang jasad Jenny ke danau. Untuk itu, kami berdua ke sini untuk menyampaikan yang sebenarnya, tetapi kami juga mohon agar kasus pembuangan jasad ke danau tidak diperkarakan ya Pak. Malam itu kami dalam keadaan bingung, jadi kami nggak tahu harus berbuat apa,” papar Ferdy.


Detektif Reno kembali mengernyitkan dahi. Saat ini belum bisa seratus persen mempercayai apa yang diungkap oleh Ferdy. Memang, sejak awal ia mencurigai ada yang tak beres dengan laporan yang dibuat oleh Rudi. Bahkan laporan itu diperkuat pula oleh Gerry. Namun, kini ada dua orang bercerita dengan versi berbeda dari sebelumnya. Reno ingin menyelidiki, manakah yang benar dari dua versi cerita ini.


“Oke, laporan kalian sudah saya catat. Kami akan dalami lagi kasus ini. Kami dari kepolisian sangat berterimakasih karena kalian telah menyampaikan laporan sebenarnya tentang penemuan mayat Jenny. Masalah apakah kalian bisa tersandung hukum atau nggak karena membuang mayat Jenny ke danau, ini juga menunggu penyelidikan berikutnya. Tapi anyway aku salut sama kalian karena berani mengungkap cerita yang sebenarnya.”


“Kami dihantui rasa takut, Pak. Jadi kami sepakat untuk mengungkap kisah sebenarnya,” ujar Ferdy.


“Oke, setelah ini mungkin aku akan panggil semua yang terlibat dalam pesta tahun baru itu. Aku ingin masing-masing dari kalian menceritakan kronologis kejadian malam itu. Karena kupikir, semuanya mengusung cerita yang berbeda,” ucap Reno.

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk, dan bernapas lega karena telah menyampaikan yang sebenarnya pada Reno. Mereka diizinkan keluar ruangan setelah terlibat obrolan seru dengan Reno.


***


__ADS_2