
Setelah memperoleh sejumlah barang yang dibutuhkan di toko peralatan medis, Cornellio tidak langsung kembali ke kastil. Segala kekacauan yang ada di kastil membuatnya ingin meluangkan sedikit waktu untuk minum kopi di sebuah kedai yang cukup ramai di pinggir jalan. Sudah lama ia tak menikmati suasana kota yang begitu meriah. Pikirannya melayang ke zaman di mana ia masih berjaya di dunia kepenulisan. Saat karyanya menghiasi rak-rak di toko buku. Hal itu membuat rasa ingin menulis kembali menyeruak.
Setelah menikmati kopi, ia menyempatkan diri singgah ke sebuah toko buku, menyusuri rak-rak yang terisi berbagai macam jenis novel. Banyak penulis-penulis novel baru bermunculan. Walaupun begitu, ia masih menjumpai beberapa karyanya masih bertengger di sebuah rak dengan label Best Seller. Ia melihat salah satu novel yang ia buat, masih terbungkus plastik. Ia bangga, namanya masih disejajarkan dengan penulis-penulis lain yang menulis di luar genre horror.
Tiba-tiba ia menyadari, bahwa posisinya kini bukan lagi tersangka dalam kasus pembunuhan di kastil tua. Hasratnya untuk meninggalkan kastil kian hebat. Segera saja, ia berpikir harus hengkang dari tempat itu. Sayangnya, ia merasa agak bimbang. Sebab, Ammar masih dalam keadan sakit. Sedangkan satu-satunya orang yang dipercaya oleh Ammar di kastil itu adalah dirinya. Tekadnya sudah bulat. Ia harus pergi dari kastil!
Ingatannya melayang pada paras Adrianna yang jelita, serta sentuhan lembut bibirnya yang mendarat di bibirnya tadi pagi. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan wanita muda itu, tetapi ia tak mau menaruhkan nyawanya di dalam kastil. Sudah dua kali ia lolos dari percobaan pembunuhan, dan mungkin tak akan ada kesempatan ketiga. Ia hanya menghela napas.
“Semoga kamu bisa keluar kastil itu dengan selamat, Adrianna!” gumam Cornellio.
Selepas dari toko buku, ia menemui seorang teman dekatnya yang bernama Arvan, di sebuah kedai kopi.
“Kamu harus tolong aku, Van! Nanti aku akan serahkan segala alat medis ini ke temanku di sana, dan kita akan pergi bersama-sama kembali ke kota,” ucap Cornellio pada Arvan sambil menyeruput kopinya.
“Maksudmu, aku harus membawa mobilku ke sana?” tanya Arvan.
“Iya, bawa mobilmu ke kastil itu. Karena mobil yang kupakai ini adalah mobil pinjaman, jadi harus kukembalikan. Setelah itu aku akan bekemas, dan meninggalkan tempat itu,” kata Cornellio.
“Tunggu! Mengapa kelihatannya kamu seperti cemas, dan ingin meninggalkan kastil itu cepat-cepat?” tanya Arvan penasaran.
“Nanti begitu sampai di rumah akan kuceritakan semuanya, karena ini sungguh pelik. Harusnya aku meminta bantuan seorang dokter atau polisi, tetapi aku sengaja tak lakukan karena situasi di sana sangat berbahaya,” ujar Cornellio.
“Berbahaya bagaimana?” cecar Arvan.
“Susah diungkapkan, Arvan. Susah sekali. Nanti aku akan cerita. Kita harus cepat ke kastil itu. Alat medis yang aku beli ini sangat dibutuhkan oleh kawanku yang lagi sakit di sana,”kata Cornellio.
__ADS_1
“Oke.Oke. Aku akan ikut kamu ke sana. Tetapi aman saja buat aku kan?” tanya Arvan.
“Semoga saja. Kita tidak perlu lama-lama di sana. Setelah aku menyerahkan alat medis ini, aku akan segera berkemas dan kita pergi. Sudah itu saja!”
Arvan mengernyitkan dahi, menimbang semua kalimat yang diucapkan oleh Cornellio. Ia ingin menolak, tetapi urung dilakukan karena Cornellio adalah teman dekatnya.
Arvan bukan seorang penulis, tetapi dia adalah seorang ilustrator yang cukup piawai. Cornellio sering memanfatkan jasanya untuk mendesain sampul novel atau memberi ilustrasi pada novel yang dibuatnya.
Setelah semua urusan di kota beres, mereka berdua telah siap berangkat menuju kastil. Besar harapan Cornellio untuk bisa segera meloloskan diri dari sana, walaupun untuk itu ia harus mengucap permintaan maaf sebesar-besarnya pada Ammar yang masih dalam kondisi sakit, karena terpaksa meninggalkannya sendirian.
***
Suara letusan senjata api itu datangnya dari arah kamar Ammar. Michael segera berlari menuju ke sana, untuk melihat apa yang terjadi. Ia khawatir, karena Ammar masih dalam keadaan lemah. Tentu akan sangat mudah dilumpuhkan oleh siapa pun. Ia melihat pintu kamar terbuka, dan melihat Adrianna sudah sampai di sana dengan paras ketakutan. Sementara Ammar masih dalam keadaan waspada, dengan pistol tegenggam di tangan.
“Adrianna! Apa yang terjadi!” tanya Michael.
“Kalian semua jangan ada yang mendekat! Jangan ada yang mendekatiku!” ucap Ammar dengan panik, sambil mengacungkan pistol.
“Ammar! Tenang! Kami hanya ingin membantumu!” Michael berusaha meyakinkan.
“Tidak! Aku nggak percaya sama kalian. Tadi kulihat ada bayangan berjubah hitam menyelinap masuk dengan belati di tangannya. Untung aku menyimpan pistol ini di bawah bantal, sehingga dengan mudah dapat kuraih. Kutembak sosok itu, tetapi karena kondisiku lemah, aku tak bisa mengenainya. Sosok berjubah hitam itu dengan mudah meloloskan diri. Dan mungkin dia adalah salah satu dari kalian!” ucap Ammar.
“Yang jelas itu bukan aku!” sewot Adrianna.
“Tenang Adrianna! Tenang!”
__ADS_1
Tak berapa lama, Helen juga datang ke tempat itu, disusul oleh Elina yang baru saja tiba dari kebun teh. Mereka terkejut dengan kejadian penembakan yang terjadi di kamar Ammar.
“Rumah ini mulai nggak aman, karena si pembunuh mulai berani menyusup ke dalam kamar. Kusarankan kalian selalu mengunci pintu apabila berada di dalam kamar sendirian,” saran Michael.
“Aku takut. Sepertinya aku harus numpang di kamar seseorang. Adrianna, aku boleh numpang di kamarmu kan?” tanya Elina.
“Bukannya tidak boleh, Elina. Tapi Tiara sudah numpang di kamarku. Sepertinya setelah peristiwa ini aku takut berada dalam kamar sendirian. Mungkin bersama-sama akan jadi lebih aman,” jawab Adrianna.
“Sekarang kumohon kalian untuk meninggalkan kamar ini. Ammar masih terpukul dengan kejadian barusan. Biarkan dia menenangkan diri dulu.”
Michael membiarkan Ammar sendirian, kemudian menutup pintu kamarnya.
“Aku akan kunci kamarnya sementara. Sebab posisinya sangat lemah saat ini. Helen, apabila kamu ingin antar makanan, maka kamu bisa minta kunci kepadaku. Maaf, saat ini aku nggak bisa percaya dengan siapapun!” ucap Michael dengan tegas.
“Kami pun juga nggak percaya denganmu, Michael! Bagaimanapun posisimu sama dengan kita, yaitu tersangka. Bagaimana kalau ternyata dirimu yang diam-diam menyelinap ke dalam kamar Ammar dan menghabisinya?” ujar Adrianna.
“Astaga! Oke, kalau begitu akan kuserahkan kunci ini kepadamu! Silakan dibawa!” Michael mulai kesal dengan kecurigaan Adrianna terhadap dirinya.
“Maksudku ... aku nggak mau membawa kunci kamar itu,” ujar Adrianna.
“Lalu maumu apa, wahai Adrianna? Mengapa kamu begitu susah? Kalau aku menyelinap di kamar Ammar dan membunuhnya, maka kamu boleh ledakkan kepalaku dengan pistol. Ini demi kebaikan dia. Kumohon. Kita harus saling percaya dalam hal ini. Jangan saling mencurigai, karena pembunuh akan memanfaatkan rasa saling benci di antara kita.”
“Michael benar, Adrianna. Kita harus bersatu untuk bisa menghentikan pembunuh itu. Biarlah kunci dibawa oleh Michael, dan kita percayakan saja segala sesuatu padanya. Sekarang mari kita kembali ke kamar masing-masing!” ajak Elina pada Adrianna.
Adrianna mengangguk. Ia mulai melunak. Michael menatap kepergian dua wanita muda itu, setelah mengunci kamar Ammar. Ia berharap, dengan pintu yang terkunci, Ammar akan lebih aman di dalam.
__ADS_1
***