Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
113. Jam Tangan


__ADS_3

Ferdy tergesa memasuki cafe untuk menemui Gerry yang duduk terdiam dengan wajah pucat pasi. Ia masih menatap layar televisi yang diletakkan di atas. Berita di layar televisi masih menayangkan seputar pembunuhan seorang gadis yang tewas terbunuh di parkir bawah tanah sebuah rumah sakit. Dalam tayangan itu, reporter Gilda Anwar berusaha menerobos masuk ke TKP, tetapi dihalangi oleh polisi.


“Ger, ada apa sih?” tanya Ferdy.


Gerry baru menyadari kehadiran Ferdy di situ. Ia tak bisa berkata apa-apa, hanya menunjuk siaran televisi. Ferdy melihat siaran itu dengan serius.


“Astaga! Memangnya siapa yang terbunuh itu? Kamu kenal?” tanya Ferdy.


“Ya Fer. Aku sangat kenal dia. Walau polisi belum mengungkap identitas korban, aku sudah tahu siapa yang terbunuh itu. Bahkan mungkin aku lah yang pertama kali tahu identitas korban itu,”ucap Gerry dengan nada putus asa.


“Kok bisa begitu?” tanya Ferdy penasaran.


Gerry menyerahkan ponselnya pada Ferdy. Sepupunya itu menerima, dan mengecek pesan-pesan yang dikirim dari nomor Alma. Ferdy melihat semua itu dengan serius. Ia menutup mulutnya seketika.


“Astaga! Ini ... ini ... Alma?” tanya Ferdy seolah tak percaya.


“Iya Fer. Itu Alma. Seseorang telah membunuhnya.”


Ferdy terdiam, tak tahu harus berkata apa. Gerry juga tampak bingung, pikirannya mengembara entah ke mana. Ferdy merasa ia harus mengantar Gerry malam itu.


“Kita pulang saja, Ger. Biar polisi yang mengurus itu,” ucap Ferdy.


“Aku ... aku benar-benar nggak tahu, Fer. Kemarin Jenny, sekarang Alma. Besok siapa? Aku nggak tahu apakah ini kebetulan atau ada kaitannya dengan apa yang kita lakukan?” tanya Gerry.


“Udahlah Ger! Nggah usah dipikir terlalu serius. Aku yakin ini nggak ada hubungannya kok. Alma salah apa, kok dia ikut juga dibunuh? Mungkin itu ulah orang jahat atau seseorang yang ingin ambil uangnya. Mending kuantar kamu pulang saja yuk. Ntar kita datang ke pemakaman Alma. Maaf aku tadi nggak bisa ke pemakaman Jenny karena sibuk kerja,” ajak Ferdy.


Pada akhirnya, Gerry menuruti Ferdy. Malam itu, Ferdy mengantar Gerry pulang. Walau Ferdy berusaha menenangkan, ia tetap tak bisa tidur malam itu. Bayangan Alma terus menghantui pikiran. Ia berpikir, setelah ini polisi pasti akan mencari dan bertanya seputar kedekatannya dengan Alma.


“Ah, mengapa semua jadi kacau begini?” gerutunya.

__ADS_1


***


Di tempat kejadian perkara, sudah banyak dikerumuni orang. Masyarakat sekitar cukup antusias untuk mengikuti berita pembunuhan itu. Polisi sengaja memasang garis polisi warna kuning, agar masyarakat tak terlalu dekat ke tempat kejadian perkara. Sementara, para wartawan juga sudah hadir. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan berita terlebih dahulu.


Di dalam ruang parkir bawah tanah hanya ada beberapa polisi yang memeriksa sekitar tempat itu. Reno dan Dimas mengitari sekitar tempat parkir, kalau-kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan.


“Pembunuh itu sudah tahu sebelumnya kalau gadis malang itu akan pergi ke rumah sakit. Mungkin ia membuntuti juga sampai tempat parkir ini. Aku menduga, pembunuh ini tentu kenal dekat dengan korban. Nanti coba kita lihat rekaman CCTV di sekitar sini, apakah kita bisa mengidentifikasi pembunuh itu atau tidak,” ucap Reno sambil menyusuri lorong parkiran mobil.


“Menurutku ini agak aneh. Jarak waktu pembunuhan Jenny dan gadis ini bisa dibilang cukup dekat. Aku khawatir ini ada hubungannya dengan pembunuhan pertama. Besok kita akan lihat, apakah keduanya mempunyai keterkaitan. Saat ini identitas gadis ini sudah cukup jelas dari identitas pengenalnya. Tak ada barang hilang, kecuali ponsel korban. Jelas ini bukan perampokan.” Dimas menambahkan.


Tiba-tiba pandangan Dimas tertuju pada sesuatu yang tampak berkilauan di kolong mobil, dekat jasad Alma ditemukan. Buru-buru ia ambil sesuatu yang berkilau tersebut. Sebuah jam tangan pria berwarna perak yang terbilang mahal, dengan merek yang terkenal.


“Jam tangan siapa ini?” tanya Reno.


“Entahlah. Apakah mungkin jam tangan pelaku yang tak sengaja jatuh saat hendak menghabisi korban? Kalau dilihat dari kualitasnya, jelas ini jam tangan mahal.”


Dimas mengangguk. Ia memasukkan jam tangan itu ke saku celana untuk diselidiki labih lanjut.


“Itu belum seberapa. Bagaimanapun pembunuhan di kastil tua jauh lebih mengerikan. Jasad yang dimakan anjing, kepala dipenggal dan tubuh dimutilasi, dijatuhkan dari menara, kurang mengerikan apa coba?” Dimas kembali membuka lembar-lembar memori tentang kastil yang belum lama berakhir.


“Ya, itu adalah salah satu kasus yang paling mengerikan yang pernah ada,” gumam Reno.


Mereka kembali ke tempat di mana jasad Alma ditemukan. Petugas paramedis sudah datang untuk mengevakuasi jasad Alma secara hati-hati. Jasad itu akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Tubuh Alma dimasukkan ke dalam kantong mayat, dan segera dimasukkan ke dalam ambulans yang sudah disiapkan.


Di luar tempat parkir, suasana semakin ramai. Reno dan Dimas keluar dari tempat parkir, segera disambut oleh sodoran microphone dari beberapa wartawan. Sementara kilatan-kilatan blitz foto bertubi-tubi mengenai wajah mereka.


“Pak, apakah sudah diketahui identitas korban?” tanya Gilda Anwar yang sedari tadi sudah menunggu paling depan dibanding reporter lain.


“Pak, apakah sudah ada tersangka yang ditetapkan?”

__ADS_1


“Pak, apakah kasus ini ada kaitannya dengan pembunuhan mahasiswa yang dibuang di danau tempo hari?”


Pertanyaan-pertanyaan para wartawan bertubi-tubi mencecar Reno dan Dimas tetapi mereka bergeming sambil menuju mobil mereka yang diparkir di halaman depan rumah sakit.


“Pak, apakah tanggapan kepolisian tentang pembunuhan ini?” tanya seorang wartawan pria.


Reno berhenti sejenak. Ia berpikir, paling tidak harus memberikan pernyataan agar para wartawan ini bisa tenang. Setelah mengatur napas, ia mulai berbicara.


“Sejauh ini kami masih mendalami kasus pembunuhan ini. Jadi belum ditetapkan siapa tersangkanya karena itu membutuhkan penyelidikan. Tentu saja belum kami temukan motif pembunuhan. Apakah ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan sebelumnya, hal ini juga perlu kita dalami. Jadi tunggu saja siaran resmi dari kepolisian, dan saya mohon agar kalian tidak membentuk opini apa pun, karena kita menjaga perasaan keluarga korban.”


“Pak apakah benar korban dibunuh secara sadis?” tanya seorang wartawan lagi.


“Nanti akan disampaikan oleh forensik ya. Ini juga akan kami dalami lagi,” jawab Reno.


“Pak apakah korban yang baru ini dalam keadaan hamil juga? Sebab menurut info, korban pertama di danau itu dalam keadaan hamil?” tanya Gilda Anwar.


“Oke. Cukup ya hari ini!” tutup Reno, seraya menoleh ke arah Dimas agar segera meninggalkan tempat itu.


Mereka masuk ke mobil, sementara para wartawan masih terus mengejar karena tidak puas dengan jawaban itu.


“Gila! Dari mana Gilda tahu kalau korban pertama dalam keadaan hamil? Kita kan belum melakukan press release ke publik!” tanya Reno.


“Entahlah! Aku juga heran. Gilda selalu menampilkan berita-berita rahasia yang hanya diketahui polisi. Dari mana dia tahu sumber berita itu? Aku curiga di kepolisian ada yang membocorkan banyak rahasia ke publik,” jawab Dimas.


“Aku juga penasaran. Nanti kita akan selidiki juga masalah ini, karena ini nggak baik. Ada hal-hal yang tak perlu disampaikan ke publik, agar mereka tidak panik dan penting untuk menjaga perasaan keluarga korban. Akan kutangkap sendiri pelaku pembocor rahasia itu. Kalau memang ada!”


Dimas mengangguk tanda setuju. Malam itu mereka kembali ke kantor polisi untuk menyiapkan berkas-berkas yang harus dikerjakan besok. Sebagai polisi, mereka sudah terbiasa mengerjakan sesuatu hingga larut, hingga kadang mengabaikan urusan keluarga. Tak heran, kehidupan rumah tangga Reno dan Silvia, istrinya, sedikit terganggu.


***

__ADS_1


__ADS_2