Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
120. Rekaman CCTV


__ADS_3

Dimas dan Reno menyusuri setiap sudut rumah mewah itu dengan teliti. Dimulai, dari ruang tamu yang luas, kemudian beranjak ke ruang tengah. Tak ada yang mencurigakan, karena rentang waktu pelaksanaan pesta sudah agak lama, sehingga susah mencari sesuatu yang ganjil. Semua terlihat normal. Tak ada sedikit pun sisa-sisa pesta yang tertinggal.


Mereka juga memeriksa kamar mandi tempat di mana jasad Jenny ditemukan pertama kali. Semua tampak normal. Mereka hanya melihat kamar mandi biasa. Namun, mata Reno menangkap sesuatu yang agak aneh di dindingnya.


“Dim, menurutmu ini bercak darah?” tanya Reno.


Dimas memicingkan mata untuk melihat sesuatu yang ditunjukkan Reno. Bercak itu sangat susah dilihat, hanya berupa titik-titik kecil berwarna merah kehitaman. Dimas tak bisa memastikan apakah itu bekas darah atau bukan.


“Aku tidak yakin. Sangat sulit untuk melihat dengan mata telanjang.”


“Hmm, ini agak mencurigakan. Kita sudah menyisir seluruh sudut rumah ini, tetapi sepertinya tak ada yang aneh. Semua terlihat biasa saja, seolah tak ada apa pun yang terjadi di rumah ini,” kata Reno.


“Mari kita cek rekaman CCTV pada malam diadakan pesta itu!”


Reno dan Dimas pergi menemui Gerry kembali. Mereka meminta Gerry menunjukkan rekaman CCTV pada tanggal 31 Desember antara pukul sepuluh malam sampai pukul empat pagi. Gerry sebenarnya sangat khawatir dengan ini, karena dalam rekaman CCTV itu pasti terlihat saat ia dan teman-temannya mengangkat jasad Jenny ke dalam mobil.


Gerry tak bisa mengelak. Ia memandu kedua polisi itu pergi ke lantai dua, tempat di mana pusat keamanan dikendalikan. Mereka menghadap sebuah layar televisi lengkap dengan pengontrolnya. Reno dan Dimas segera bertindak cepat. Ia meminta Gerry untuk memutar rekaman saat pesta berlangsung.


Mereka menatap layar dengan saksama. Pada menit-menit awal, terlihat dalam layar, tamu-tamu mulai berdatangan. Tak ada yang janggal dengan itu. Semua tamu yang datang adalah anak muda, baik datang secara berpasangan atau berkelompok. Paras mereka tampak bahagia tanpa beban.


“Ini Jenny Pak. Ia datang bersama Rudi pukul 22.16, kemudian masuk. Kemudian seperti yang Anda lihat, teman-teman yang lain mulai berdatangan,” terang Gerry.


“Itu siapa? Kok kelihatan menyendiri?”

__ADS_1


Dimas menunjuk salah seorang mahasiswa yang kelihatan menyendiri di ujung teras sambil membawa minuman dalam gelas. Ia tidak berbaur, malah terlihat tidak nyaman dalam pesta itu.


“Itu Adinda, Pak. Sepertinya ia kurang menikmati pesta malam itu. Dia anak rumahan,” jawab Gerry.


Dalam rekaman layar itu, sosok Adinda tampak didekati seorang pria muda. Mereka bercakap-cakap, tampak akrab. Kemudian mereka berdua meninggalkan teras, tak terlihat lagi di layar televisi.


“Siapa yang mengajaknya ngobrol?” tanya Dimas lagi.


“Itu Ferdy. Dia adalah sepupuku. Kurasa mereka sedang mengobrol dengan nyaman,” ucap Gerry.


Semua yang tampak pada rekaman terlihat normal, sampai pada pukul 00.37 menit, sesaat setelah terompet tahun baru ditiup, dan kembang api dinyalakan, terlihat sosok Jenny tampak gelisah di teras belakang. Tak banyak mahasiswa di situ. Ia sendirian, mondar-mandir tidak jelas, dengan paras cemas.


“Lihat! Jenny terlihat cemas di menit 37 lepas dari pukul 12 malam. Ia tampak khawatir, seperti ada orang yang mengikuti, kemudian sengaja menyingkir ke teras belakang!” ucap Dimas.


“Astaga! Ada yang mematikan rekamannya, Pak. Semuanya tidak terlihat setelah pukul satu!” ucap Gerry dengan panik.


“Siapa yang mematikan? Bukannya kamu sendirian di rumah ini? Masa pembantu yang melakukan ini?” cecar Reno.


“Iya, Pak! Saya memang sendirian saja. Tetapi pasti ada yang menyabotase rekaman video ini pas pesta kemarin. Saya yakin ada seseorang menyelinap ke ruangan ini, kemudian mematikan rekaman. Pasti ia sudah merencanakan ini sebelumnya,” ucap Gerry.


“Hmm. Yakin bukan kamu sendiri yang melakukan ini? Untuk menemukan ruangan CCTV ini agak berbelit lho. Pastu kalau pun ada orang yang sengaja mematikan CCTV, dia pasti sudah sering ke sini atau paling tidak tahu seluk-beluk rumahmu!” tembak Dimas.


“Bukan ... bukan saya yang melakukan ini, Pak. Semua teman saya sudah sering ke sini, Pak. Saya kan tinggal sendirian di sini, jadi mereka kadang berkeliaran di mana-mana. Bahkan kadang mereka masuk ke dalam ruang CCTV ini juga, Pak. Hampir semua teman tahu ruangan ini!” kilah Gerry.

__ADS_1


Reno dan Dimas mengernyitkan dahi, berusaha mencerna ucapan Gerry. Tentu mereka tak percaya begitu saja dengan ucapan Gerry. Namun, selain itu mereka juga mencatat kemungkinan lain bahwa memang ada orang lain yang menyelinap ke ruang CCTV saat pesta berlangsung.


“Baik. Kami akan minta rekaman CCTV yang ada, akan kami selidiki di kantor. Bukti-bukti memberatkanmu, karena kamu nggak ada saksi. Tapi kami akan menyelidiki lebih lanjut,” ucap Reno.


“Saya selalu bersama Alma malam itu, Pak. Tapi pacar saya itu juga dibunuh! Kalau dia masih hidup, pasti bisa bersaksi untuk saya!” ujar Gerry.


“Oh, iya. Kami juga sedang menyelidiki keterkaitan kasus Jenny dan Alma, dan ternyata memang benar kasus ini saling berkaitan. Alma dibunuh di parkir bawah tanah rumah sakit. Kami belum bisa memastikan apakah pelaku pembunuhan Jenny dan Alma adalah orang yang sama. Kami akan fokus di kasus Jenny terlebih dahulu. Sebagai tambahan, posisi kamu nggak aman Gerry. Kamu punya alibi untuk membunuh Jenny dan Alma, ditambah penilaian kami bahwa keterangan kamu ada beberapa yang janggal. Jadi, kuharap kamu bisa memberikan bukti yang kuat, agar kamu nggak jadi tersangka. Ngomong-ngomong, setelah ini kami akan meminta juga rekaman CCTV dari pihak sekuriti perumahan ini. Pasti mereka punya. Kami akan memantau setiap tamu yang keluar-masuk perumahan antara pukul 00.00 sampai 04.00 dini hari. Jadi kalau kamu menyembunyikan sesuatu, mending kamu katakan sekarang, karena kami pasti bisa membongkar apa yang kamu sembunyikan!” tandas Reno.


Gerry tak bisa berkata apa-apa lagi. Dadanya bergemuruh kencang seketika. Ia berpikir, rekaman CCTV dari pihak sekuriti pasti akan memperlihatkan saat dua mobil keluar kompleks perumahan saat dini hari. Ia ingat saat itu ia memakai mobilnya sendiri dan mobil Rasty untuk membuang jasad Jenny ke danau. Plat mobil pasti terekam jelas dalam CCTV.


“Jadi bagaimana? Ada lagi yang ingin kamu sampaikan kepada kami?”


Gerry menggeleng. Mulutnya terkatup rapat. Ia hanya ingin dua polisi itu segera pergi dari rumahnya, dan melupakan segala sesuatu yang terjadi. Namun, sepertinya itu hanya khayalan. Polisi itu menyudahi penyelidikan di rumah Gerry, dengan meninggalkan berbagai pertanyaan yang tak terjawab.


Gerry kini dirundung cemas, mengingat ia memang punya alibi kuat atas pembunuhan Jenny dan Alma. Ia sadar, waktu-waktu berikutnya akan jadi lebih berat. Kalau pun itu terjadi, ia tidak mau sendiri. Ia akan memaksa semua teman yang terlibat untuk bertanggungjawab.


“Mau saya bikinkan teh, Mas Gerry?”


Pembantunya, seorang wanita paruh baya melihat kegelisahan majikannya berinisiatif ingin membuatkan teh, agar ia tenang.


“Nggak usah, Budhe Narti! Kalau ada yang nyari, bilang saya nggak ada!”


Gerry merasa gusar dan gelisah, kemudian menaiki tangga, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.

__ADS_1


***


__ADS_2