
Adrianna masih berdiri dengan tatapan menusuk jantung pertahanan Maira. Sedangkan Michael terjebak di antara kedua wanita muda yang dikuasai amarah. Ia ingin melerai, tetapi lebih baik menunggu apa yang terjadi. Maira masih duduk dengan pandangan tak bersalah.
“Parfum itu tidak mungkin berjalan sendiri ke kamarmu, Maira. Aku tahu sudah sejak lama kamu menginginkan parfum itu. Pencurian ini sunguh merendahkan reputasimu!” serang Adrianna.
Maira membuang muka seraya berkata dengan santai,”Jangan konyol, Adrianna. Jujur kukatakan bahwa selera parfum yang kamu pakai sama sekali tak mencerminkan pribadiku. Bahkan menurutku sedikit kampungan. Jadi buat apa aku mengambil parfum itu? Sangat membuang waktu.”
“Jadi kamu mengelak telah mengambil parfum itu?” tanya Adrianna.
“Tentu saja, Adrianna. Aku tidak tahu bagaimana bisa parfum itu berada di lemariku. Mungkin seseorang meletakkan dengan sengaja di sana untuk memecah-belah dan memperkeruh keadaan. Selama ini aku tidak peduli dengan apa pun yang kamu pakai. Sekalipun kamu berjalan telanjang, aku tak akan pernah peduli, Adrianna!” balas Maira.
Adrianna masih terlihat naik darah. Nafasnya tersengal, dan rahangnya terkatup menahan marah. Michael segera menengahi. Ia berdiri, dan memberi isyarat kepada keduanya untuk diam.
“Baiklah, Nona-nona! Tolong diamlah sebentar! Sungguh, aku tidak berniat mencampuri urusan pribadi kalian. Aku juga sedang tidak membela salah satu dari kalian. Tetapi aku di sini menyarankan agar saling menahan diri. Toh parfum itu sudah ditemukan. Jadi tak ada lagi yang perlu diributkan. Masalah siapa pencuinya, kita perlu meneliti lebih lanjut. Jadi, akhiri pertikaian ini!” ujar Michael tegas.
Adrianna menghela napas. Perlahan ia menurunkan temperamennya, walau masih belum merasa puas. Ditatapnya tajam Maira yang seolah berlagak tak berdosa. Setelah mendengus untuk melepas kekesalannya, ia segera membalikkan badan dengan tergesa, berjalan menuju ke luar.
“Dia mencari masalah dengan orang yang salah!” gumam Maira sambil tersenyum.
“Berhentilah menebar kebencian, Maira. Ingat, salah satu dari mereka adalah seorang psikopat yang tengah mengincar nyawamu. Kamu harus tetap waspada!” saran Michael.
“Maaf Michael! Aku lebih curiga kepadamu daripada siapa pun yang ada di rumah ini. Jadi jangan pura-pura baik di hadapanku. Jangan pernah dekati aku lagi!”
Maira berkata dengan ketus, sebelum beranjak dari ruang tengah. Michael menatap kepergian Maira dengan takjub. Kini ia sendirian di ruang tengah. Matanya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah lukisan besar bergambar wanita bergaun putih. Sorot matanya wanita dalam lukisan memancar aneh seolah melambangkan keputusasaan. Ia berdiri mendekat, meraba teksktur kanvas lukisan yang kasar. Sungguh goresan cat minyak yang sempurna. Di ujung bawah lukisan, terdapat tanda tangan si pelukis dengan tulisan kecil.
Dipersembahkan untuk Anastasia Pratiwi.
Anastasia Pratiwi, istri Anggara Laksono yang begitu jelita, namun kecantikannya begitu misterius. Rona merah di pipi seolah nyata, bagai buah plum segar di musim semi. Michael mengingat-ingat nama Anastasia Pratiwi. Sepertinya nama itu tak asing. Tapi di mana?
__ADS_1
Anastasia Pratiwi. Anastasia ... Anastasia ... Hmm. Siapa sebenarnya wanita ini?
Ingatannya melayang pada buku diary tua yang ditemukan Karina di ruang bawah tanah. Ia tersenyum seketika. Parasnya berubah gembira.
Ahaa! Anastasia Pratiwi adalah kepanjangan dari inisial AP seperti yang tercetak di halaman depan diary itu. Jadi selama ini, diary itu ditulis oleh mendiang Anastasia, walau sepertinya belum selesai. Ini menarik! Aku harus bisa menemukan rahasia di dalamnya.
Michael bergumam dalam hati. Bergegas ia menuju kamar, untuk kembali mempelajari isi buku harian tua yang disimpan agak tersembunyi di balik tumpukan baju. Ia tak mau buku itu jatuh ke tangan orang lain. Hasratnya untuk memecahkan kasus semakin menghebat. Ia tidak mau Ammar bergerak lebih cepat darinya.
***
Taksi biru tua memasuki gerbang kastil. Dokter Dwi segera keluar untuk mencari Ammar, tanpa mempedulikan penumpang lain. Sepertinya ia terburu untuk menyampaikan pesan penting pada Ammar.
Sedangkan Hans memilih untuk bertahan di taman. Ia merasa lelah karena sebelumnya berjemur di panas matahari hanya untuk mencari tumpangan. Kelegaan menyeruak karena bisa kembali di kastil dengan selamat. Kalau tidak, sudah dipastikan ia akan mati membusuk di areal kebun teh.
“Mari kuantar ke dalam untuk bertemu Aldo Riyanda,” ujar Helen kepada gadis belia yang baru tiba itu. Si gadis masih berdiri sambil menebar pandangan ke seluruh penjuru kastil dengan perasaan heran.
“Ini kediaman Pak Anggara?” tanya gadis belia itu.
Helen menerangkan pada gadis belia itu tanpa menyinggung sedikit pun mengenai hal pembunuhan, agar tak menimbulkan kepanikan. Sementara sang gadis masih berdiri takjub melihat sekeliling kastil.
Baginya, ini adalah pemandangan luar biasa. Tak pernah terpikir dalam benaknya, sebuah bangunan besar yang dikepung kebun teh, seolah tak ada kehidupan, ternyata dihuni oleh banyak manusia.
Taksi biru tua bergerak mundur, kemudian melaju meninggalkan area kastil.
“Mari kuantar kamu masuk!” ajak Helen.
“Terima kasih,” jawab si gadis.
__ADS_1
Hans hanya menyunggingkan senyum nakal saat si gadis menoleh kepadanya. Wajahnya masih tetap menyiratkan pandangan sedingin es di Antartika.
“Kalian masuklah terlebih dahulu. Aku akan menikmati suasana taman ini sebentar. Kamu jadi ke kota lagi untuk berbelanja, Helen? Kalau kamu sudah siap, aku akan menunggu di sini!” ujar Hans.
Helen mengangguk.
“Pria itu penulis juga?” tanya gadis belia pada Helen.
“Ya, dia namanya Hans Christopher. Pengagum wanita cantik. Jadi jangan heran kalau tingkah-lakunya kadang seperti itu,” terang Helen.
“Hans Christopher? Tentu aku pernah dengar itu. Seorang author famous. Jangan khawatir, aku bekerja di majalah wanita. Pria seperti Hans kerap kujumpai dalam kehidupan sehari-hari, jadi aku tidak kaget dengan sikapnya.”
Si gadis belia mengikuti langkah Helen memasuki area dalam kastil. Di ruang tamu, gadis ini semakin takjub melihat aneka pernak-pernik dan ornamen yang menghiasi tiap sudut ruangan.
“Oya, siapa nama anda?” tanya Helen.
“Namaku Elina Agustin. Panggil saja aku Elin atau Lina. Terserah saja,” ucap gadis bernama Elina Agustin itu.
“Ooh, baiklah. Akan kupanggilkan Aldo Riyanda untuk anda!”
Helen bergegas masuk ke dalam, meninggalkan Elina yang masih terkagum-kagum dengan suasana ruangan. Ia melangkah untuk melihat-melihat ruangan tamu, merasakan tekstur benda-benda yang terpajang di sana. Tak lama kemudian, ia beranjak keluar ruang tamu dengan muka bingung, kembali ke taman karena menyadari ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Sebuah gelang bermatakan berlian tak lagi melingkar di pergelangan tangannya.
Di taman depan, ia tak melihat Hans atau siapa pun. Mungkin pria itu sudah masuk ke dalam kastil tanpa sepengetahuannya. Elina cemas karena gelang itu mempunyai arti historis tersendiri dalam hidup. Ia mengamati permukaan tanah, mencari-cari kalau-kalau gelang itu terjatuh di sana. Tak seberapa lama, senyumnya melebar. Sebuah benda berkilauan ditimpa cahaya matahari segera dipungutnya, dipasang pada pergelangan tangan
Aku tak boleh kehilangan gelang hadiah dari Aldo ini, gumamnya dalam hati.
Sementara jauh di lantai paling atas kastil, tepatnya di sebuah loteng kosong, sesosok manusia mengawasi gerak-gerik Elina dari atas dengan saksama. Senyumnya tersungging.
__ADS_1
Calon korban baru telah datang. Tak ada seorang pun yang boleh keluar dari kastil ini dalam keadaan hidup! Gumam sosok itu.
***