
Penemuan Rosita dalam kondisi setengah telanjang di loteng sontak menghentak para penghuni kastil. Sepertinya seharian ini mereka memang sedang diteror kejadian-kejadian beruntun. Pagi tadi, walau informasinya masih dirahasiakan, seorang gadis muda ditemukan terbunuh di halaman samping dengan kepala luka berat. Belakangan. Mariah mengenali kalau gadis itu adalah Kara, gadis yang biasa membersihkan kastil tiap minggu. Belum beres urusan Kara, tak lama Nadine ditemukan di ruang bawah tanah dalam keadaan tergantung, dan sekarang Rosita ditemukan di loteng atas dalam keadaan terikat.
Ammar langsung mengamankan Rosita dalam sebuah kamar. Ia tidak ikut masuk ke dalam, seperti biasa yang menemani adalah Mariah, karena kondisi Rosita yang hampir tanpa busana, tidak mungkin Juned dan Ammar menangani. Semua yang tidak berkepentingan dilarang masuk, kecuali Edwin, sang suami. Mariah segera memakaikan baju pada tubuh Rosita, seraya mengecek bagian tubuhnya, apakah ada yang terluka atau tidak.
"Apa ada yang dilukai? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Mariah.
"Tidak ada, Mariah. Demi Tuhan, aku tidak mau tinggal lebih lama di sini. Kastil ini mengerikan. Aku ... aku tak habis pikir ketika melihat orang jahat itu tiba-tiba menyergapku dari belakang, menyeretku, kemudian membuat aku tidak sadar. Ia mengikat kaki tangan, dan menutup mulut serta mataku. Aku merasakan kekejiannya, saat tiba-tiba aku mendengar suara seorang gadis memergoki sosok itu, sehingga dia marah besar. Gadis itu sepertinya dikejar, aku tidak yakin karena mataku tertutup. Aku mendengar suara gadis itu seperti disakiti, dijambak, dan diseret. Gadis itu berteriak, tetapi kemudian suasana hening. Lalu aku ditelanjangi dan .... "
Rosita menghentikan kalimatnya karena tak kuasa menahan tangis. Ia sesenggukan, sementara Mariah memeluknya. Edwin tak tahu harus berbuat apa-apa. Ia merasa iba melihat kondisi istrinya seperti itu. Namun, ia merasa akan lebih baik kalau Rosita ditangni oleh sesama perempuan. Ia membiarkan Rosita memeluk Mariah lebih lama.
"Nanti saja kamu ceritakan, Ros. Yang penting kamu sudah aman sekarang. Lebih baik kamu istirahat dengan ditemani Edwin," ucap Mariah sambil melepaskan pelukan Rosita.
"Aku hanya ingin pergi dari tempat jahanam ini!"
Mariah mengangguk, kemudian mengehela napas. Ia mengisyaratkan agar Edwin menunggui istrinya, sementara ia keluar dan melaporkan apa yang diucapkan Rosita tadi kepada Ammar. Ia berkesimpulan bahwa sosok itu mungkin menghabisi Kara saat gadis muda itu memergoki si pembunuh yang hendak menyakiti Rosita. Mariah merasa penasaran, siapa sebenarnya yang mengacaukan acara reuni yang seharusnya menyenangkan ini?
Di dalam kamar pribadi Ammar, Mariah membeberkan semua cerita Rosita, bahwa awalnya Rosita memang tertarik dengan suara denting musik dari kotak musik, kemudian Rosita penasaran hingga memutuskan untuk memeriksa loteng sendirian. Hal ini membuat ingatan Ammar kembali ke beberapa waktu silam, saat hal serupa juga terjadi pada Rania. Wanita itu juga dihempaskan dari atas loteng secara brutal setelah mendengar denting musik dari sebuah kotak musik usang. Ammar semakin berpikir, bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi kastil ini jelas ada hubungannya dengan pembunuhan para penulis di kastil ini sebelumnya, hanya saja belum diketahui pasti motif dan penyebabnya.
"Jelas ini ada hubungannya dengan kasus Tiara. Semua pembunuhan yang terjadi begitu mirip. seolah berulang. Aku akan segera menuntaskan ini," gumam Ammar.
"Aku akan membantumu, Ammar. Aku merasa bersalah karena membawa teman-temanku ke dalam kastil ini," ucap Mariah.
Ammar menggeleng. Ia tidak mau menyalahkan Mariah. Kondisi seperti ini jelas tidak diinginkan oleh siapa pun. Ia berusaha menenangkan istrinya.
"Aku akan segera menyiapkan makan siang," ucap Mariah kemudian.
"Apa Ramdhan sudah kembali dari kota?"
"Ramdhan? Sepertinya belum. Mungkin sebentar lagi. Aku menitip beberapa bahan makanan untuk stok beberapa hari ke depan, daripada aku harus berbelanja ke kota. Kuharap Ramdhan segera sampai ke kastil. Kastil ini terasa lebih aman apabila ada Ramdhan. Dia polisi yang baik," ucap Mariah.
__ADS_1
"Aku setuju. Sudah sepantasnya ia mendapat penghargaan atas usaha yang ia lakukan. Kuharap Dimas juga segera sampai ke kota dan mencari pengganti sementara di kastil ini. Kita tidak bisa mengandalkan Reno atau Juned saja. Lawan yang kita hadapi ini tahu celah-celah kastil. Mungkinkah pamanmu mempunyai pewaris kastil yang lain, selain Tiara?" tanya Ammar.
Mariah menggeleng sembari berkata,"Aku saja baru tahu kalau Paman Anggara menyimpan sejarah kelam dalam hidupnya. Aku tahu perihal Bibi Anastasia, tetapi kalau Anjani, aku sama sekali tidak tahu. Atau mungkin Paman Anggara mempunyai anak lain, aku juga tidak tahu. Entahlah. Dia memang misterius orangnya," papar Mariah.
"Ya sudahlah, biar Dimas yang mencari informasi terkait ini," kata Ammar.
Mariah mengangguk. Ia beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
***
Di kamar yang berbeda, Ryan menatap cemas istrinya yang terbaring lemah. Ia memegang tangan Nadine, kemudian mengecupnya. Nadine hanya memejamkan mata, tak banyak bergerak.
"Jangan mati, Nadine. Jangan tinggalkan aku," bisik Ryan.
Perempuan yang sedang terbaring itu membuka mata perlahan, seraya tersenyum. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Ryan juga tidak ingin memaksanya berbicara. Ia cukup senang melihat keberadaan Nadine yang kembali di dekatnya.
Pasangan Ryan dan Nadine baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Mereka dipertemukan dalam sebuah acara pernikahan, ketika Ryan menjadi wedding singer. Kala itu, Nadine terpesona mendengar suara Ryan, sehingga mereka berkenalan, kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan, Ryan juga begitu mencintai Nadine yang begitu cantik. Ia merasa sebagai pria yang paling beruntung bisa mendapatkan Nadine, mengingat ia harus bersaing dengan bayka pria untuk mendapatkan Nadine.
Ryan mengangguk. Ia memaklumi, Nadine menghilang selama lebih dari satu hari, tanpa makanan, tentu ia akan merasa lapar.
"Aku akan mengambilkan makanan untukmu. Kurasa di dapur masih ada roti isi sisa sarapan," kata Ryan.
"Ja-jangan tinggalkan aku sendiri, Ryan. Aku takut!"
"Hanya sebentar saja, Nadine. Di sini aman kok. Kamu akan baik-baik saja," ucap Ryan.
Nadine tampak sedikit cemas, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ryan segera melangkah pergi meninggalkan kamar Nadine, menuju dapur. Ia teringat kalau tadi pagi Mariah banyak membuat roti isi. Pasti masih banyak tersimpan di dalam kulkas, pikirnya. Setelah berada di dapur, ia melihat Mariah yang sedang menyiapkan masakan untuk makan siang. Ia tidak ingin banyak mengobrol, langsung membuka kulkas, tetapi roti isi itu tak ada di dalam kulkas.
"Roti isi yang tadi pagi habis?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Oh, Ryan?" Mariah memalingkan badannya
"Nadine sedang lapar dan ia memerlukan makanan saat ini. Mungkin ada sesuatu yang bisa dimakan," ucap Ryan.
"Iya maaf, roti isi sudah dimakan oleh penghuni kastil yang lain karena juga mengeluh lapar. Ini aku lagi membuat sup. Tunggulah sebentar, nanti akan segera kuantar ke kamar Nadine. Lagipula, kamu kan harus menunggu Nadine, jangan tinggalkan dia sendirian!" ucap Mariah dengan nada khawatir.
"Dia aman saja kok. Tenang saja," ucap Ryan.
"Kamu kunci kamarnya?" tanya Mariah.
"Tidak."
"Astaga! Di mana kuncinya?"
"Aku ... aku tidak tahu. Biasanya tergantung di pintu jadi .... "
"Kita ke sana sekarang! Cepat!"
Mariah dan Ryan melangkah cepat menuju kamar Nadine. Pintu kamar itu tertutup, seperti tak ada tanda terjadi apa-apa. Ryan segera membuka pintu kamar itu, tetapi ternyata pintu kamar itu terkunci, sedangkan kuncinya juga sudah tidak tergantung lagi!
***
__ADS_1
***