
Jeremy masih menelusuri lorong gelap di ruangan bawah tanah yang tampak suram. Keberadaan Stella yang diduga berada di ruang bawah tanah itu masih belum ia temukan, padahal ia sudah memeriksa setiap bilik yang ia lalui. Ia hampir putus asa, sehingga ia kembali berpikir bahwa mungkin Stella masih berada di dalam hutan. Ia merasa sangat gusar dengan keadaan itu. Perasaannya bercampur aduk, marah, kesal, dan bingung. Terpaksa ia berhenti sebentar, sekedar mengembuskan napas, agar merasa sedikit lebih lega.
"Maafkan aku, Stella. Aku bukan suami yang baik. Tak bisa melindungimu dengan baik," gumam Jeremy.
Sejenak ia ragu, apakah ia akan melanjurkan pencarian Stella di ruang bawah tanah, atau harus kembali ke atas. Ia sadar, bahwa malam sudah sangat larut, bahkan mendekati pagi. Namun, ia tidak mau kembali ke atas dalam keadaan tangan kosong.Paling tidak, ia harus menemukan petunjuk yang bisa mengarahkan ke tempat Stella berada.
"Toloong! Siapa pun di sana, toloong!"
Tiba-tiba Jeremy mendengar suara teriakan dari arah lain. Teriakan itu sepertinya tak terlalu jauh, masih berada di ruang bawah tanah. Sontak Jeremy merasa terkejut. Jelas sekali terdengar di telinga, kalau yang ia dengar adalah suara teriakan perempuan. Dalam pikirannya, langsung muncul nama Stella. Harapannya langsung bangkit. Setengah berlari ia mencari sumber suara.
"Bertahanlah! Kamu di mana?" balas Jeremy.
Suara yang didengar Jeremy adalah suara Niken yang baru saja disekap oleh sosok misterius di sebuah bilik yang memang tak jauh dari tempat Jeremy berdiri. Jeremy mencari-cari sumber suara tersebut, karena ia mengira yang meminta pertolongan tadi adalah Stella. Ia menengok tiap bilik, kalau-kalau wanita yang dicarinya berada di dalam salah satu bilik.
"Tolong ... tolong! Aku di sini!"
Suara Niken terdengar makin dekat, sehingga Jeremy memastikan kalau suara itu berasal dari bilik yang tak terlalu jauh. Ia mengetuk tiap bilik, dan tibalah ia di bilik tempat Niken disekap. Dari jeruji yang ada di pintu, Jeremy melongkok ke dalam bilik yang gelap. Ia melihat seorang wanita muda terduduk di lantai dengan putus asa dan lelah. Jeremy memastikan kalau perempuan yang berada di bilik itu bukanlah Stella, seperti sangkaannya.
"Siapa kamu?" tanya Jeremy.
"Tolong ... tolonglah aku. Seseorang mengurungku di sini. Aku ini polisi. Namaku Niken. Kalau kamu nggak percaya kamu boleh tanyakan pada Pak Reno. Pasti dia tahu aku. Tolonglah aku, karena aku sedang bertugas mencari pembunuh berantai di sini tetapi aku tadi disergap oleh seseorang yang nggak misterius. Tolong aku, kumohon!," pinta Niken.
"Astaga! Kamu ini polisi? Aku sedang mencari istriku. Maaf, aku nggak punya waktu untuk menolongmu, karena sebentar lagi pagi, dan aku nggak mau juga terpergok sosok itu. Lagipula, pintu bilik ini digembok menggunakan gembok baja yang besar, pasti akan sulit untuk membukanya," kata Jeremy.
"Kalau begitu sampaikan saja kepada Pak Reno bahwa aku terperangkap di sini. Kumohon, aku nggak mau membusuk di tempat ini. Banyak yang harus kukerjakan. Tolonglah, aku janji nanti akan kubantu dirimu menemukan istrimu, yang penting aku bisa lepas dulu dari tempat jahanam ini!" pinta Niken.
"Aduh, waktuku terbatas. Tapi baiklah, aku akan bantu kamu. Nanti setibanya di atas, aku akan sampaikan pada Pak Reno bahwa ada seorang polisi wanita disekap di ruang bawah tanah. Sebentar lagi pagi, sepertinya aku harus naik. Bertahanlah!" ucap Jeremy.
"Terima kasih banyak .Aku nggak akan pernah lupakan bantuanmu. Siapa nama kamu?" tanya Niken.
"Aku ... aku Jeremy!"
"Baik Jeremy, akan kuingat semua kebaikanmu. Lekaslah naik dan sampaikan pada Pak Reno atau siapa saja yang bisa membantu aku keluar dari tempat ini!"
Jeremy mengangguk kemudian ia berpikir bahwa ia memang harus naik. Sudah cukup lama ia mengaduk-aduk isi ruang bawah tanah, namun keberadaan Stella belum juga tampak. Ia harus memberitahu kepada Pak Reno atau Pak Ammar, tentang keberadaan polisi wanita yang disekap di dalam bilik. Sepertinya, tidak mungkin ia memberitahu malam ini juga. Ia harus menunggu sampai besok pagi.
Setelah Jeremy berlalu dan tidak terlihat lagi di lorong, tiba-tiba sosok hitam kembali muncul mendekati bilik tempat Niken disekap. Rupanya ia tahu kalau Jeremy akan memberitahukan kepada polisi lain bahwa ada seorang polisi wanita bernama Niken tengah disekap di ruang bawah tanah. Ia tidak mau itu terjadi. Ia segera membuka gembok yang mengunci bilik Niken.
"Mau apa kau!" tanya Niken dengan gusar.
Dalam keadaan terdesak seperti ini, ia mencoba bersikap berani dan tegas. Sosok itu tak berkata apa pun, sebab yang ia hadapi adalah seorang polisi. Ia tidak mau suaranya dikenali oleh polisi itu. Segera ia bertindak cepat, mengeluarkan sebuah benda tajam dari balik bajunya, kemudian segera ia arahkan ke Niken, memberi isyarat kepada polisi wanita itu untuk berdiri.
"Aku bersumpah, kalau aku lolos dari sini, aku akan balas perlakuanmu ini. Aku akan seret kau ke pengadilan untuk mendapatkan hukuman setimpal, atau kalau tidak aku sendiri yang akan menghukumu. Jangan pernah main-main dengan Niken, siapa pun yang main-main akan .... aah!"
Kalimat Niken tehenti seketika. Sosok itu langsung merekatkan begitu saja lakban di bibir Niken. Kini polisi wanita itu tidak bisa berkata-kata. ia bertambah kesal dan ingin melawan. Namun, saat ini kondisi Niken sedang tidak siap, jadi ia terpaksa menuruti perintah sosok misterisu itu. Tak lama, sosok itu mendorong tubuh Niken keluar dari bilik. Rupanya, sosok itu tidak ingin keberadaan Niken diketahui. Ia harus memeidahkan Niken tempat lain yang lebih susah untuk dicari.
Sosok misterius itu tenyata sangat tahu lekuk-lekuk lorong, sehingga dengan mudah ia membawa korbannya ke bilik mana yang ia suka. Ajaibnya, dia mempunyai semua kunci bilik yang ada di ruang bawah tanah itu!
__ADS_1
***
Malam yang mencekam dan terasa panjang itu pun berganti pagi. Rona-rona merah sudah bertebaran di langit timur, menandakan matahari sebentar lagi terbit. Satu-persatu, penghuni kastil memulai aktivitasnya. Mereka berusaha memulai hari dengn hal-hal yang membuat bersemangat, tidak terlalu larut dalam kesedihan dan ketakutan.
Ryan terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Entah mengapa ia merasa lelah sekali kemarin, sehingga tertidur pulas. Padahal ia tidur di bawah beralas karpet, sedangkan Nadine tidur di ranjang. Hal pertama yang ia khawatirkan adalah Nadine. Ia segera mengecek keberadaan istrinya, kemudia menghela napas lega ketika melihat Nadine terlihat pulas pula tertidur. Ia tidak ingin membangunkannya.
Ia kemudian berdiri, dan melangkah ke arah jendela untuk melihat suasana pagi dari jendela. Untuk sementara, jendela itu ditutup dengan sebuah papan, karena sempat dipecahkan kacanya oleh seseorang yang ingin membunuh Nadine. Ryan melihat langit tampak cerah, mulai terlihat biru bersemu merah, karena matahari sudah mulai muncul. Ia menggeliatkan badannya yang terasa penat. Ia ingin mandi, agar teras lebih segar.
"Kamu sudah bangun?"
Tiba-tiba ia mendengar suara Nadine menyapanya dari belakang. Ryan menoleh, dilihatnya Nadine sudah duduk di ranjangnya. Ia kelihatan lebih segar daripada kemarin.
"Eh, iya. Aku sedang melihat suasana pagi ini yang begitu cerah. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ryan.
"Aku sudah mendingan kok. Kurasa aku sudah bisa ikut sarapan pagi dengan yang lain di meja makan. Tapi sebaiknya aku membersihkan diri dulu, karena sudah beberapa hari aku tidak mandi," ucap Nadine.
"Aku senang kamu kembali seperti sedia kala Nadine. Semoga setelah ini tidak ada kejadian yang buruk lagi, dan kita semua bisa keluar dari kastil ini dalam keadaan aman," ucap Ryan.
"Ryan, terimakasih sudah menjagaku dan berkorban banyak untukku. Kamu memang suami yang luar biasa. Maafkan aku kalau selama ini aku membuatmu repot," kata Nadine dengan suara serak, seperti hendak menangis.
"Sudahlah Nadine. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang suami. Kamu nggak perlu mikirin itu. Sudahlah, nggak usah pake episode mellow-mellow. Yang penting sekarang kamu sehat dan semangat, itu suda membuatku senang. Sekarang mandilah, nanti kita ke ruang makan sama-sama untuk sarapan!" lanjut Ryan.
"Oya bagaimana dengan Stella? Apakah dia sudah ditemukan? Kurasa dia juga berada di ruang bawah tanah itu juga," kata Nadine.
"Sudahlah Nadine. Jeremy tengah mencari keberadaan Stella. Kita doakan saja agar Stella segera diketemukan dalam keadaan selamat. Mendingan kamu pikirakan keadaanmu saja."
***
Hari ini yang memasak sarapan pagi adalah Maya, karena Mariah merasa sangat lelah sejak kejadian kemarin. ia memilih untuk beristirahat saja di kamar hari ini. Maya tak keberatan untuk memasak, walau ia merasa kurang bisa. Ia lebih suka duduk di ruang baca dan membaca buku-buku kesukaannya. Ia sengaja memasak makanan yang sederhana dan tidak membutuhkan proses memasak yang lama.
Maya memasak makanan yang berbahan dasar ayam, kemudian memadukan dengan nasi putih. Cukup cepat ia memasak. sehingga makanan segera disajikan di meja makan. Para penghuni kastil sudah menunggu di meja makan dengan antusias. Ammar dan Reno sudah duduk paling awal, kemudian disusul oleh Juned.
"Kemana Mariah? Tidak ikut makan bersama kita?" tanya Reno.
"Dia merasa kurang enak badan karena kelelahan. Banyak sekali yang ia pikirkan," jawab Ammar.
Satu-persatu penghuni kastil mulai berdatangan. Jeremy yang kelihatan masih mengantuk, juga sudah tiba di sana. Wajahnya terlihat kusam karena kurang istirahat, sebab tadi malam ia masih berada di dalam ruang bawah tanah untuk mencari keberadaan Stella. Ia melirik ke arah Reno, karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya, hanya mencari waktu yang tepat.
Pasangan Nadine dan Ryan hadir pula di ruang makan. Keduanya tampak berseri-seri, Nadine tampak sehat, hanya saja bagian lehernya masih dibalut perban akibat luka terkena tali untuk menggantung dirinya. Semua menyambut kehadiran Nadine dengan senyum. Demikian pula Rosita juga hadir di tempat itu dengan keadaan gembira. Ia ditemani suaminya, Edwin. Rosita juga terlihat berseri-seri pagi itu. Lily juga tampak cantik, dengan riasan tipis, ia menebar senyum kepada semua yang hadir di sana.
Namun, sebelum acara makan pagi dimulai, Reno memperhatikan semua yang ada di meja makan satu-persatu. Ia merasa ada yang tidak hadir di situ, yakni Aditya.
"Aditya belum ke sini?" tanya Reno.
Semua saling berpandangan, karena merasa tidak bertemu dengan Adit pagi ini. Jeremy juga tampak heran, sebab ia terakhir bertemu Aditya tadi malam, saat turun ke ruang bawah tanah. Saat itu Aditya minta izin untuk naik duluan. tetapi mengapa sekarang makah tidak ada?
"Coba saya cek ke kamarnya!" ucap Jeremy.
__ADS_1
Penghuni lain belum melanjutkan makan pagi tanpa kehadiran Aditya. Mereka menunggu dengan sabar, tanpa perkataan apa pun. Malahan mereka merasa tegang, khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Aditya. Tak lama, Jeremy kembali ke ruang makan dengan paras cemas.
"Dia tidak ada di kamarnya!" ucap Jeremy.
"Ada yang terakhir bertemu dengan dia?" tanya Reno.
"Aku ... aku, Pak. Tapi bisakah kita bicarakan di lain tempat saja?" ucap Jeremy.
Agar tidak menimbulkan keresahan, acara makan pagi itu tetap berlangsung dengan dipimpin oleh Ammar, sedangkan Reno dan Jeremy segera menyingkir ke ruang baca. Mereka duduk saling berhadapan, seperti pasien yang sedang berkonsultasi dengan dokternya. Awalnya Jeremy merasa ragu untuk bercerita sampai pada akhirnya ia menceritakan bahwa tadi malam ia berinisiatif untuk mencari Stella di ruang bawah tanah, tetapi tidak sendiri, karena Aditya memaksa untuk ikut. Sayangnya, ia tidak menemukan Stella, sehingga Aditya izin naik ke kastil terlebih dahulu. Setelah itu, Jeremy mengira kalau Aditya sudah sampai di atas, tetapi kenyataannya ia menghilang pagi ini.
"Bukankah sudah kubilang kamu jangan sekali-kali pergi ke ruang bawah tanah itu, Jer? Mengapa kamu langgar peringatanku! Kita nggak ngerti apa yang sebenarnya ada di ruangan itu! Sangat berbahaya, Jer! Apalagi kamu ajak Aditya kesana. Dan sekarang, dia menghilang!"
Reno merasa gusar karena sebelumnya ia sudah mengingatkan agar Jeremy tidak pergi ke ruang bawah tanah itu. Ia kesal karena Jeremy melanggar peringatannya. Apalagi sekarang Aditya menghilang, tentu akan lebih merepotkan lagi.
"Saya tidak pernah mengajak Adit, Pak! Dia sendiri yang memaksa untuk ikut. Saya juga tidak menyangka kalau dia tidak ada pagi ini, sebab tadi malam dia izin untuk naik duluan. Tetapi ... ah! Semoga dia nggak kenapa-kenapa!" gumam Jeremy.
Walaupun Jeremy tidak merasa mengajak Aditya pergi ke ruang bawah tanah, bagaimanapun ia merasa bersalah dengan menghilangnya Aditya. Ia juga bingung, langkah apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Sekarang gini. Kamu nggak usah bicara dengan yang lain terkait Adit. Kalau ada yang nanya, bilang aja nggak tahu. Aku nggak mau para penghuni lain ikutan panik gara-gara Adit menghilang. Nanti setelah sarapan, kita turun ke ruang bawah tanah, kita cari Adit. Oke?" kata Reno dengan tegas.
"Baik, Pak! Sekalian kita menolong seorang polisi yang ditangkap di ruang bawah tanah situ, Pak. Kasihan dia rupanya sangat membutuhkan pertolongan," ucap Jeremy.
"Polisi? Siapa yang ditangkap di ruang bawah tanah? Kamu ketemu sama dia langsung?" tanya Reno penasaran.
Setahu Reno, belum ada polisi baru yang dtugaskan dari kota untuk menggantikan posisi Ramdhan.
"Seorang polisi wanita, Pak. Namanya Niken. Tadi malam aku bertemu di salah satu bilik yang ada di bawah. ia bilang kalau seseorang tengah menyergapnya, dan membawanya ke dalam bilik. Awalnya kukira ia adalah Stella ternyata bukan. Aku hendak menolong, tetapi bilik itu digembok, sehingga tidak mungkin aku membukanya sendirian. Jadi kubilang padanya bahwa hari ini aku akan menyampaikan kepada Anda," papar Jeremy.
"Astaga! Mengapa dia kesini juga? Bikin urusan tambah kacau saja! Ya sudah, nanti sehabis makan pagi ini kita berdua turun dan mencari orang-orang yang mungkin disekap di bawah sana!" tandas Reno.
***
__ADS_1