
Makan siang telah terhidang di meja makan sejak sepuluh puluh menit lalu. Seperti biasa, Helen selalu menyiapkan menu yang istimewa dengan jumlah yang banyak! Kepiawaiannya memasak layak diacungi jempol, karena apa pun yang ia masak menjadi sangat spesial. Di saat yang lain merasa cemas dengan kondisi di dalam kastil, ia masih terus memasak tanpa rasa khawatir. Ya, Helen terlihat berkuasa seolah pemilik kastil yang sebenarnya.
Yang pertama kali ke meja makan adalah Cornellio Syam. Ia heran, karena satu-satunya yang hadir di meja makan adalah dirinya. Padahal biasanya para penulis lain sudah berada di tempat itu. Agak canggung ia duduk seorang diri, sementara Helen menuangkan air putih di gelasnya. Cornellio menopang dagu, sambil memerhatikan gerak-gerik wanita paruh baya itu dengan saksama.
“Apa makanan sebanyak ini selalu habis, Helen?” tanya Cornellio.
“Anda tak perlu khawatir. Makanan ini bukan hanya disajikan untuk kalian, tetapi aku juga membuat lebih untuk penghuni lain di sekitar kastil ini,” jawab Helen sambil terus beraktivitas.
“Penghuni lain? Bukankah di sekitar ini tidak ada rumah? Yang ada hanya perkebunan teh. Siapa yang kamu maksud dengan penghuni lain?”
“Setiap pagi, aku keluar dari kastil dan memberi makan puluhan anjing liar yang tinggal di sekitar kastil. Mereka hidup berkelompok, tidak mengganggu. Malahan mereka menjaga lingkungan kastil ini tetap aman. Mereka akan menyalak keras apabila ada orang asing masuk,” terang Helen.
Cornellio menahan napas. Masih ingat di benaknya, saat kawanan anjing liar itu mengoyak tubuh Karina dan membawa lari pergelangan tangan gadis Eropa Timur itu. Apakah yang dimaksud Helen ini adalah kawanan anjing yang sama? Cornellio tak berani membayangkan. Ia terlalu bergidik ketika tergambar dalam pikirannya anjing-anjing buas itu bahkan memakan daging manusia.
“Bagaimana mungkin ada anjing liar, Helen? Apakah tak ada yang memiliki mereka?”
“Anjing itu telah tinggal di sini selama puluhan tahun, bahkan sebelum kastil ini ada penghuninya. Tak jelas siapa pemiliknya. Konon, dahulu ada sebuah keluarga yang membuang sepasang anjing di sekitar sini. Sekarang anjing itu telah beranak-pinak dan membentuk kawanan,” tambah Helen.
Cornellio manggut-manggut. Tak ada pertanyaan lagi mengenai anjing-anjing liar itu. Dilihatnya, Tiara Laksmi juga mulai masuk ke dalam ruang makan. Wajahnya terlihat pucat, seperti sakit. Ia memakai sweater dan menggunakan sebuah celana kain agak lebar. Pandangannya tak bersemangat.
“Kamu sedang sakit?” sapa Cornellio.
__ADS_1
“Sedikit flu. Entahlah, aku merasa kurang enak sejak tadi malam, jadi aku berdiam diri dalam kamar saja. Kuharap hari ini ada makanan yang bisa mengembalikan stamina,” keluh Tiara Laksmi.
“Aku akan membuatkan sup khusus untukmu,” kata Helen.
“Terima kasih, Helen.”
Kemudian satu-persatu penghuni kastil mulai berdatangan ke meja makan, hanya Ammar sepertinya belum menampakkan diri. Ia masih mengurung diri di kantor Anggara Laksono, berusaha mengurai rentetan kasus yang semakin rumit. Polisi itu memilih menunda makan siang untuk menulis beberapa fakta yang ia temukan.
Ammar semakin yakin, pembunuhan Anggara Laksono hanya sebuah awal dari rentetan pembunuhan tanpa motif yang jelas. Awalnya ia mengira bahwa pembunuhan Anggara berlatarbelakang dendam. Nyatanya, pembunuhan itu tidak berakhir, bahkan semakin beruntun.
Kemudian diikuti dengan pembunuhan Karina yang cukup brutal di kebun teh. Fakta yang ia temukan, gadis itu dibunuh menjelang petang dengan sebuah benda tajam yang merobek-robek bagian perut. Selama ini, Karina dikenal sebagai wanita muda yang tak punya banyak musuh dan baik. Ini sangat mencengangkan ketika seseorang menginginkan kematiannya.
Ammar mencatat pula upaya pembunuhan Maira di ruang baca yang gagal. Sayangnya, Ammar belum yakin dengan cerita itu, karena si pembunuh tiba-tiba menghilang tanpa jejak, padahal pintu ruang baca dikunci. Menurutnya ini adalah sesuatu yang janggal, kecuali dua kemungkinan! Pertama, Maira berbohong atas peristiwa itu, dan yang kedua memang ada jalan rahasia di ruang baca itu. Ammar kini cenderung mempercayai pendapat kedua, bahwa memang ada jalan rahasia. Hal ini diperkuat dengan hilangnya dr. Dwi di ruang baca, tanpa ada yang tahu kemana dokter itu berada.
Berikutnya adalah kematian Rania yang cukup tak terduga. Gadis malang ini dilempar dari ketinggian puluhan meter dari atas loteng. Ia sudah menyelidiki loteng itu, namun tak ada sesuatu yang mencurigakan. Hanya loteng biasa dan berdebu, beserta sebuah kotak musik yang masih tertinggal.
Yang terbaru, adalah undangan pembunuhan yang diterima Cornellio. Untunglah, peristiwa pembunuhan itu gagal. Selain itu, ada hal-hal yang juga dicatat Ammar. Faktanya, Anggara Laksono mempunyai seorang anak yang hilang. Ammar tengah berusaha keras mengungkap keberadaan dan identitas anak itu.
Sementara itu, ia juga tidak mengabaikan tentang teknik pembunuhan yang serupa dengan novel yang ditulis oleh Michael. Secara langsung, penulis novel detektif itu menolak mentah-mentah kalau dia dijadikan tersangka. Belakangan diketahui bahwa novel yang ia tulis menghilang dari ruang baca. Ia menduga bahwa ada orang yang meniru teknik pembunuhan dalam novel.
Di saat yang lain menikmati makan siang, Ammar segera bergerak cepat menuju kamar Anggara, kembali memeriksa foto-foto pribadi yang berada di sana. Ia yakin, bahwa bayi itu ada hubungannya dengan kasus pembunuhan di kastil ini. Ia segera mencari informasi lebih jauh mengenai ini. Dibongkarnya lemari milyuner itu, untuk memeriksa apa yang tersembunyi di sana. Sebuah album foto yang lain ia temukan!
__ADS_1
Dalam album foto usang itu, ia menemukan lebih banyak foto-foto si bayi dan sesuatu sangat mengejutkan! Bayi dalam foto itu membawa sebuah kotak musik yang nyaris sama dengan kotak musik yang ia temukan di loteng. Kini ia benar-benar yakin, bahwa anak yang hilang itu telah kembali untuk menuntaskan dendamnya. Tetapi siapa?
Segera, ia membuka kembali buku biografi Anggara Laksono yang ditulis oleh Madeline Rahma. Sayangnya dalam biografi itu, Anggara tak banyak bercerita tentang kehidupan pribadi. Ia hanya mengekspos mengenai usaha-usahanya dalam memperoleh kekayaan dan kesuksesan hidup. Ia juga menyinggung tentang Anastasia Pratiwi, wanita yang dicintainya. Tetapi menjelang halaman akhir, ia tertegun menemukan nama yang asing...
“Anastasia Pratiwi berubah mengubah hidupku menuju puncak kejayaan. Kenangan bersama Anjani telah kukubur dalam-dalam, bersama raganya jauh di dalam tanah.”
Tulisan itu mengganggunya. Anjani? Apakah dia sosok wanita yang menggendong bayi dalam foto buram itu? Terkubur di dalam tanah? Apakah maksudnya Anjani ini telah meninggal atau bagaimana?
Kembali rasa penasaran mengusik hati. Kembali ia telusuri lembar demi lembar buku biografi itu, berharap menemukan sebuah informasi yang lebih penting. Di halaman tengah, kembali ia menemukan kalimat-kalimat yang membuatnya takjub.
“Saat senggang, aku mengundang para penulis novel pujaanku untuk bertandang ke kastil tua, menjamu mereka dengan hidangan tak terbayangkan. Aku menjamu mereka, karena saat itu adalah perjumpaan terakhir dengan mereka. Aku ingin mereka merasa senang sebelum menikmati masa-masa akhir.”
Astaga!
Ammar melanjutkan membaca.
“Agak sedikit gila memang. Tetapi seseorang memang harus dihukum atas kesalahan yang ia lakukan. Tak ada seorang pun yang boleh menghentikan. Tidak juga Anjani. Aku akan melakukan segala cara mewujudkan mimpi-mimpi gilaku.”
Kini, Ammar fokus untuk menggali lebih dalam. Siapakah Anjani sebenarnya?
***
__ADS_1