
Tok ... tok ... tok!
Tok ... tok ... tok!
Suara ketukan pintu terdengar beruntun, mengejutkan Reno yang terlelap karena lelah. Ia menengok ke arah jam dinding yang menunjuk angka tiga lebih lima belas menit. Hawa dingin menusuk kulit. Reno mengenakan cardigan warna putih tulang, kemudian beranjak membuka pintu. Ia baru sadar bahwa malam ini ia mendapat giliran berjaga dengan Pak Paiman. Sayangnya rasa kantuk memaksanya untuk terlelap sejenak.
“Maaf, Pak. Saya melaporkan bahwa keadaan aman malam ini. Saya ingin istirahat sejenak, Pak,” ucap Pak Paiman.
Reno hanya mengangguk, membiarkan Pak Paiman berlalu dari hadapannya. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk berpatroli dini hari itu. Ia menyelipkan senjata di pinggang dan sebuah senter. Ia tidak ingin kegiatan patroli kali ini diketahui oleh penghuni rumah isolasi.
Pertama-tama, ia menyusur ke seluruh penjuru lantai satu yang lengang. Semua lampu dalam ruangan dimatikan, kecuali lampu depan. Ruang tamu terlihat menyeramkan, karena ornamen-ornamen antik seolah dapat berbicara. Ruang makan juga begitu. Kamar-kamar semua dalam keadaan tertutup, tak ada yang mencurigakan.
Ia beranjak menuju dapur, mendapati lampu dapur yang masih menyala. Ia melihat sebuah gelas dengan air terisi setengah di atas meja dapur. Ada yang baru minum, tetapi tak dihabiskan. Selebihnya, tampak biasa-biasa. Tiba-tiba ia mendengar suara kran dinyalakan di wastafel tempat cuci piring.
Reno bergegas menghampiri seraya berkata,” Bu Mariyati?”
Sayangnya di wastafel itu tak ada siapa-siapa. Bahkan kran juga tidak dinyalakan. Jadi suara apa yang ia dengar? Ia mendengar sangat jelas suara air mengalir dari kran beberapa saat lalu, lalu mengapa tiba-tiba suara itu menghilang seolah tak terjadi apa-apa?
Reno menghela napas. Perasaannya tidak enak. Ia tidak ingin lebih lama berada di dapur, sehingga memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba di pintu dapur ia berpapasan dengan Alex.
“Eh, Pak!” kata Alex.
“Kok bangun jam segini, Lex?” tanya Reno.
“Saya ... saya haus, Pak. Kok udara di kamar panas banget ya? Mau minum dulu!” ucap Alex seraya pergi ke dapur, membuka pintu kulkas, menuang segelas air dan segera menenggaknya.
Reno mengernyitkan dahi. Sebelum dia meninggalkan Alex ia berpesan,”Berhati-hatilah!”
__ADS_1
Polisi muda itu kemudian naik ke lantai dua untuk melanjutkan patroli ke seluruh isi rumah. Di lantai dua terdapat sebuah balkon yang memungkinkan untuk melihat situasi sekitar rumah. Reno menyempatkan untuk menuju ke tempat itu seraya mengawasi sekitar. Malam itu, terlihat sangat sunyi. Dari balkon ia nyaris tidak melihat apapun, hanya kegelapan yang menyelimuti.
Setelah memastikan semua aman, ia hendak kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahat, karena besok pagi tugasnya akan diambil alih oleh Dimas. Ia melewati kamar-kamar sekali lagi untuk memastikan keadaan.
Ketika melewati kamar Miranti, ia agak heran karena pintu kamar terbuka sedikit. Ia merasa penasaran, kemudian mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok!
“Miranti, kamu ada di dalam?” tanya Reno.
Tak ada jawaban dari Miranti, tetapi pintu tak ditutup. Rasa curiga menguat. Insting sebagai seorang polisi mengatakan ada yang tak beres. Ia membuka kamar Miranti, mendapati gadis itu terbaring di lantai tak bergerak.
“Astaga!”
Segera Reno memeriksa keadaan gadis itu, siapa tahu ia masih hidup. Sayangnya, ia tak merasakan denyut nadi di pergelangan tangan. Gadis itu terlihat lemas. Ia melihat ke arah leher Miranti yang berbekas merah, seperti bekas cekikan. Ia menduga kematian gadis ini masih belum terlalu lama, karena ia merasakan sedikit hangat di tubuhnya.
Sebagai seorang polisi ia tidak boleh panik menghadapi keadaan ini. Segera ia tutup tubuh Miranti dengan selimut, tak menyentuh apapun sebelum diperiksa lebih lanjut. Ia melihat kunci kamar Miranti masih menggantung di tempatnya, tak ada pembobolan secara paksa. Ini berarti Miranti sengaja membuka pintu sebelum ia tewas terbunuh.
Untuk mensterilkan kamar Miranti, Reno mengunci pintu kamar itu. Ia kembali ke kamarnya sendiri dengan perasaan tak menentu. Sebagai seorang polisi ia semakin merasa gagal. Ia sudah berjanji menjaga keamanan dari penghuni rumah isolasi ini, tetapi nyatanya ada korban terbunuh.
Rasa bersalah membuatnya tetap terjaga hingga pagi. Rasa ini sama dengan yang ia rasakan saat kejadian Fani terbunuh. Ia yang menyuruh Fani untuk menjaga Gerry malam itu, sehingga menyebabkan wanita itu terbunuh. Kini, seolah si pembunuh mencundanginya lagi dengan terbunuhnya Miranti.
Ia mencoba untuk berpikir jernih dan menenangkan pikiran. Segera ia menghubungi Dimas, agar segera datang ke rumah isolasi itu dengan tim medis dan sejumlah anggota kepolisian dari divisi kriminal untuk menyelidiki pembunuhan lebih lanjut.
Saat itu, Dimas juga tengah terlelap mengarungi alam mimpi. Teleponnya sengaja disetel dalam mode senyap, sehingga ponselnya hanya bergetar saat Reno menghubungi. Ponsel itu sengaja ia letakkan di meja dekat tempat tidur. Kalau-kalau ada panggilan darurat. Sebagai seorang polisi ia harus siap dipanggil kapan saja, seperti dini hari ini.
Dimas mendengar getaran ponselnya, kemudian menguap dan mengucek mata, berusaha mengembalikan kesadaran yang melanglang-buana. Saat itu hampir pukul empat, Dimas meraih ponsel, mendapati nama Reno memanggilnya. Perasaannya sontak tidak tenang. Kalau Reno memanggil di jam begini, tentu ada suatu kejadian tak biasa.
__ADS_1
“Ada apa, Ren?” tanya Dimas di sela-sela kantuknya.
“Dim, Miranti terbunuh. Sepertinya ada yang mencekik lehernya. Ini masih kurahasiakan agar tidak menimbulkan kepanikan. Besok sebelum berangkat ke sini kamu koordinasi dengan tim penyelidik dan medis untuk mengevakuasi ya,” ucap Reno.
“Astaga!”
Dimas tercekat. Baru satu malam di rumah isolasi, sudah ada korban pembunuhan baru. Ia berharap agar bisa ke tempat isolasi sekarang. Ia merasa gemas dengan segala yang terjadi di sana.
“Apa perlu aku ke sana sekarang, Ren?” tanya Dimas.
“Tak perlu. Tunggu pagi saja. Aku sudah mengunci ruangannya. Kedatanganmu akan menimbulkan kepanikan. Aku akan coba telusuri kasus ini dengan senyap, agar pembunuh itu tak lari kemana-mana. Ruang CCTV juga disabotase. Situasi serba repot. Dan kusarankan padamu, agar terbiasa dengan hal-hal aneh yang terjadi di sini,” ucap Reno.
“Hal-hal aneh? Apa maksudmu?”
“Entahlah, mungkin halusinasiku karena lelah atau apa. Tapi kalau kamu mengalami juga, berarti aku sedang tidak berkhayal,” kata Reno.
“Hmm, kamu bikin aku penasaran, Ren!”
“Semoga bukan hak yang serius, Dim. Lupain saja. Kita fokus saja pada penyelidikan di sini. Oya, jangan izinkan mereka keluar dari rumah isolasi walau sebentar. Aku sangat menyayangkan kematian Miranti, padahal sebelumnya ia sudah lolos dari percobaan pembunuhan, nyatanya tetap saja ia terbunuh dengan tanpa perlawanan. Yang kita hadapi ini bukan orang biasa-biasa,” ucap Reno.
“Siap, Ren! Sepertinya aku tak sabar untuk terjun langsung dan membekuk pelaku dengan tanganku sendiri. Aku geregetan. Dianggapnya kita ini orang bodoh. Seperti main-main!” geram Dimas.
“Sabar, Dim! Yang penting kita pastikan dulu keselamatan anak-anak itu, jangan sampai ada korban baru jatuh. Reputasi kita akan anjlok kalau publik tahu ada korban berjatuhan lagi, karena program isolasi ini adalah inisiatif dari kepolisian,” kata Reno.
“Siap Boss-ku!”
***
__ADS_1