
Pintu yang terkunci di kamar Nadine sontak membuat Ryan panik, Ia mencoba menggebrak pintu, tetapi tentu saja pintu tak bisa terbuka dengan mudah. Mariah juga ikut panik, tetapi ia berusaha tenang. Ryan memanggil-manggil nama Nadine, karena khawatir, terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Nadine ... Nadine! Apa kamu di dalam?" panggil Ryan.
Dari dalam kamar itu, terdengar suara merintih dan suara ribut., tetapi Ryan tidak yakin itu suara Nadine. Ia sadar bahwa kondisi Nadine saat ini sedang lemah, sehingga tak mungkin bisa berteriak. Ia begitu cemas memikirkan kondisi Nadine di dalam kamar yang terkunci itu. Otaknya sudah tak dapat berpikir dengan jernih.
"Aku akan panggil Juned!" kata Mariah kemudian.
"Cepat Mariah! Aku takut terjadi apa-apa dengan Nadine!"
Mariah segera pergi meninggalkan Ryan yang masih terus berusaha membuka pintu. Pria itu sangat menyesali kebodohannya, karena tidak berpikir panjang. Seharusnya ia mengunci kamar sebelum meninggalkannya, bukan malah meninggalkan ruangan kamar dengan kunci tergantung. Dalam panik yang mendera, ia terus memukul-mukul pintu yang terbuat dari kayu itu. Walau tampak tua, ternyata pintu kamar didesain sangat kuat. Rasanya mustahil untuk bisa mendobrak pintu begitu saja.
"Nadine! Apa kamu masih di dalam? Jawab Nadine!"
Lagi-lagi teriakan Ryan tak mendapat jawaban, sehingga Ryan semakin cemas. Ia berharap agar istrinya masiih dalam keadaan hidup di dalam kamar itu. Ia hanya pasrah, sembari kesal dengan dirinya sendiri. Berkali-kali ditendangnya daun pintu untuk meluapkan kemarahannya.
"Sial!" umpatnya.
Tak lama kemudian, Juned datang ke tempat itu bersama Mariah. Ia membawa beberapa alat untuk membobol pintu. Ryan segera mundur, memberi kesempatan kepada Juned untuk membuka paksa pintu yang terkunci. Ryan menunggu dengan cemas, tak sabar melihat pintu terbuka. Juned mengutak-atik, seraya melepas pegangan pintu.
Braak!
Dalam hitungan menit, pintu kamar Nadine terbuka. Ryan menghambur masuk, memeriksa kondisi Nadine. Istrinya sedang dalam keadaan panik, pucat dan ketakutan sambil menatap ke arah jendela. Juned segera memeriksa jendela kaca yang ada di kamar itu. Tampaknya, jendela itu sengaja dipecah. Serpihan kaca masih terserak di lantai.
"Kamu ... kamu nggak apa-apa kan? Maafkan aku, Nadine! Maafkan aku!" ucap Ryan sambil segera memeluk Nadine yang masih ketakutan.
"Aku akan ambilkan minum untukmu, Nadine. Tunggu sebentar!"
Mariah segera keluar dari ruangan, menuju dapur untuk mengambil air dan sesuatu yang mungkin bisa dimakan. Ia tahu bahwa Nadine dalam keadaan lapar. Sedianya, ia hendak memasak sup, tetapi belum kunjung selesai. Mariah membuka lemari es, mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengganjal perut. Ia mengambil sebuah apel, mungkin bisa digunakan sementara untuk mengganjal perut.
Kalau ia melihat apel, ingatan Mariah kembali terbayang peristiwa saat ia menjadi tawanan Tiara di ruang bawah tanah. Psikopat itu hendak mencongkel matanya, untuk dipersembahkan kepada Andini, si ibu psikopat itu. Peristiwa itu sangat membekas di pikirannya.
__ADS_1
Sementara, Ryan memeriksa bagian tubuh Nadine, kalau-kalau ada yang terluka, Nadine berusaha mengatur napasnya yang tersengal, sembari menunjukkan pergelangan tangannya yang terlihat memar dan memerah, seperti bekas cengkeraman. Ryan segera mengusap bekas itu.
"Apa yang ia lakukan padamu?" tanya Ryan.
Nadine hanya menggeleng sambil menangis, kemdian dengan terbata-bata ia mencobe berbicara," Ketika kamu keluar, seseorang masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu. Aku tidak bisa mengenali ... orang itu berkostum hitam dan bertopeng aneh. Ia hendak mencekikku, tetapi kutahan dengan tanganku. Sehingga ia mencengkeram lenganku dengan kuat. Untung kalian cepat datang. Sosok berkostum aneh itu rupanya khawatir kalau kedoknya terbongkar."
"Oh, Tuhan. Untunglah kamu nggak apa-apa. Aku janji nggak tinggalin kamu lagi, Nadine. Nggak akan! Kamu sekarang aman. Jangan takut lagi ya!" kata Ryan.
"Sepertinya pelaku kabur lewat jendela ini! Aku akan periksa di luar, siapa tahu dia masih di sekitar sini," ucap Juned.
Juned setengah berlari keluar kastil, menuju halaman samping, tempat jendela kamar yang ditempati oleh Nadine. Terlihat serpihan kaca di bawah, di antara semak bunga. Juned memeriksa sekitar tempat itu, tetapi terlihat sepi. Ia bergerak ke belakang, karena memperkirakan bahwa si pelaku mungkin langsung ke belakang, mengganti baju, masuk ke kastl, dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Juned tak melihat siapa pun di halaman belakang, tetapi tiba-tiba ia melihat Lily yang tampak terburu-buru, melangkah dari arah kolam renang menuju dapur. Juned segera menghampiri wanita muda itu, menatap dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Hal itu tentu saja membuat Lily merasa heran.
"Ada apa ya?" tanya Lily.
"Kamu dari mana?" tanya Juned penuh selidik.
"Aku ... aku dari gudang mencari alat untuk membersihkan langit-langit kamar. Ada beberapa sarang laba-laba sehingga harus dibersihkan.Kenapa memangnya?" tanya Lily.
"Iya aku tahu itu, terima kasih sudah mengingatkan. Maaf, aku harus membersihkan kamar, permisi!"
Lily bergegas meninggalkan Juned, yang terus menatapnya denga penuh kecurigaan. Juned menghela napas. Ia masih sangsi, apakah wanita itu terlibat dengan semua kejadian ini?
***
Mariah sudah siap dengan hidangan makan siang. Ia menyiapkan segala makanan di meja makan dengan dibantu oleh Maya, karena dua wanita yang lain terbaring sakit saat ini, yakni Rosita dan Nadine. Sementara, suami-suami mereka dengan setia menunggu. Di pihak lain, keberadaan Stella juga masih misterius hingga detik ini, sehingga membuat Jeremy merasa gusar. Siang itu pula, ia memilih untuk berbuat nekat. Tanpa sepengetahuan yang lain, ia hendak menyusul Reno yang masih berada di hutan untuk mengamankan jasad tanpa kepala milik Farrel.
Jeremy tak mau menunggu-nunggu pencarian dari para polisi, karena ia merasa [ara polisi bergerak terlalu lamban, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dalam hutan siang itu juga. Tujuan pertamanya adalah pondok tua di tengah hutan, tempat ia terakhir kali bertemu Stella. Bagaimanapun, ia harus bisa menemukan Stella, entah seperti apa caranya.
Sementara, kondisi di meja makan tak seramai biasanya. Yang hadir di tempat itu hanya Juned, Lily, Maya, Adit, dan Ammar. Ryan dan Edwin menunggui istri masing-masing, sedangkan Jeremy pergi ke hutan tanpa sepengetahuan mereka.
__ADS_1
"Mana Jeremy?" tanya Ammar sambil menatap para penghuni satu-persatu.
"Aku tidak bertemu dengan dia siang ini. Kamarnya juga tampak sepi," jawab Aditya.
"Biar aku periksa saja kamarnya!" ucap Juned.
Semua menunggu Juned memanggil Jeremy dengan perasaan tegang. Rasa takut merayap, karena apabila salah seorang menghilang dari kastil, pikiran mereka langsung ke hal-hal yang mengerikan. Peristiwa yang terjadi pada Nadine dan Rosita cukup mengejutkan, dan kini Jeremy pun menghilang. Tentu ini adalah hal yang mencemaskan.
"Dia tidak ada di kamarnya!"
Juned kembali ke ruang makan dengan paras cemas. Semuanya terdiam, menampakkan paras gelisah. Ammar, satu-satunya polisi senior yang kini berada di kastil, berusaha menenangkan. Kalau ia menampakkan kepanikannya, tentu akan berpengaruh secara psikologis ke yang lain. Ia mencoba diam, kemudian mengambil makanan yang tersaji di hadapannya.
"Kita makan dulu siang ini. Aku yakin Jeremy dalam keadaan baik!" kata Ammar.
"Aku ... aku tiba-tiba kehilangan selera," gumam Maya.
"Tidak ada yang tidak makan hari ini. Semua harus makan agar kita mempunyai energi uuntuk menhadapi kejahatan berencana ini. Makanlah Maya!" perintah Ammar tegas.
Maya hanya menghela napas. Ia tak punya pilihan lain, kecuali menuruti perintah Ammar.
***
__ADS_1