
Jeremy memandu para pria lain untuk menemukan pondok kayu terpencil yang terletak di tengah hutan. Di pondok ini tadi, Jeremy menemukan sosok Nadine terbaring tak berdaya di lantai, dan kemudian ada Stella yang menyusul. Jeremy kini tiba di pondok itu dengan membawa para pria untuk menolong Nadine yang sepertinya kesulitan untuk berjalan. Perlahan ia membuka pintu pondok yang lapuk dimakan zaman.
"Di pondok ini ... di pondok ini aku menemukan Nadine. Ada Stella di dalam sana yang sedang menungguinya. Ayo kita segera tolong Nadine!" ajak Jeremy.
Mereka segera menghambur masuk ke dalam pondok yang pengap itu. Suasana yang agak gelap di dalam pondok, memaksa Ramdhan untuk menyalakan senter kecil yang selalu siap sedia di dalam tas kecilnya. Ramdhan mengarahkan cahaya senter ke seluruh penjuru pondok, tetapi sepertinya tak seorang pun di dalam sana.
"Stella ... Nadine! Kalian di mana?" panggil Jeremy.
"Di mana kamu temukan Nadine?" tanya Ramdhan.
Jeremy terdiam dan kebingungan. Ia tadi jelas-jelas melihat sosok Nadine terbaring di lantai pondok itu, tetapi kini sosok itu seolah lenyap. Bahkan Stella, yang sedang menunggui Nadine juga menghilang. Jeremy tercekat. Ia bingung harus berkata apa-apa.
"Tadi ... tadi jelas mereka ada di tempat ini. Nadine kondisinya sangat lemah dan mungkin susah untuk berjalan. Bagaimana mungkin sekarang mereka tak berada di tempat ini lagi?" ucap Jeremy.
"Kamu yakin mereka ada di sini?" Aditya mulai menyangsikan.
"Ya! Tentu saja aku yakin. Aku tidak sedang mabuk atau mengigau. Aku tadi melihat dengan jelas dengan mata kepalaku sendiri Nadine terbaring di lantai ini. Dia jelas masih hidup walau dalam keadaan lemah. Tadi Stella menyusul ke sini dan menjaga dia. Bagaimana mungkin sekarang mereka berdua menghilang?"
Jeremy berubah menjadi panik. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedua perempuan yang ia tinggalkan tadi kini menghilang begitu saja. Bahkan kini ia mencemaskan keadaan istrinya. Ia segera menyisir ruangan-ruangan dalm pondok, tetapi tak ada tanda-tanda keberadaan Nadine ataupun Stella.
"Sepertinya kita harus periksa sekitar pondok ini!" ucap Edwin.
"Tidak! Saat ini kita tidak boleh berpencar. Pak Reno benar, kawasan air terjun ini tak aman untuk kita semua. Siapa pun pelakunya, pasti pernah mengunjungi tempat ini, sehingga begitu hapal seluk-beluk hutan dan air terjun ini. Lebih baik kita segera kembali ke kastil. Di sini tidak aman!" kata Ramdhan.
"Aku tidak mau kembali tanpa Stella! Aku akan menunggunya di sini!" ucap Jeremy.
"Kau jangan gila, Jeremy! Di sini sangat berbahaya dan segala kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin saja Stella dan Nadine telah kembali ke kastil duluan tanpa menunggu kita!" kata Edwin.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin! Kalau Stella kembali ke kastil, pasti akan bertemu kita di air terjun. Ia tidak mungkin kembali ke kastil secepat itu. Lagipula aku tadi berpesan agar dia menunggu," kata Jeremy.
"Ada jalan pintas menuju kastil tanpa melewati air terjun dan kita tidak tahu itu. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jadi kuperintahkan kita harus segera kembali ke kastil. Tadi Pak Reno memberi perintah padaku untuk segera kembali ke kastil!" imbuh Ramdhan.
"Lalu bagaimana dengan nasib Stella? Aku nggak bisa biarkan dia sendirian di hutan sini. Aku ini suaminya! Aku yang harus bertanggungjawab kalau terjadi apa-apa dengan dirinya. Kalian tidak boleh merasakan apa yang aku rasa. Kalau kalian mau ke kastil, silakan! Tapi aku akan mencari Stella!" Jeremy mulai ngotot.
Ramdhan terdiam. Sepertinya tekad Jeremy sudah bulat, dan tak bisa dibelokkan lagi. Hal ini wajar, mengingat Jeremy adalah suami Stella. Tiba-tiba pintu pondok terbuka. Reno dan Ryan rupanya juga telah bergabung bersama para pria itu. Ryan masih tampak bersemangat, ia langsung mengitari pondok untuk mencari keberadaa Nadine.
"Mana Nadine? Di mana dia?" tanya Ryan.
"Tenang Ryan. Nadine saat ini belum dapat kami temukan, dan kami akan segera temukan dia. Bersabarlah!" ucap Ramdhan.
Secara singkat, Ramdhan menceritakan kronologis kejadian kepada Reno, bahwa saat ini Nadine dan Stella menghilang. Padahal menurut pengakuan Jeremy, sebelumnya kedua wanita itu berada di dalam pondok menungu bantuan. Kecemasan menyeruak seketika. Terutama Ryan. Ia tampak semakin panik melihat istrinya tidak berada di tempat itu. Sebelumnya ia berharap bisa bertemu dengan Nadine.
"Aku tidak bisa pergi. Tidak. Aku akan menunggu di sini sampai aku bertemu dengan Nadine. Kalau kalian kembali, kembali saja. Aku akan tetap di sini!" ucap Ryan.
"Baik. Sekarang begini. Ramdhan, kamu bawa mereka semua ke kastil. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi. Sementara aku akan tinggal di sini bersama Ryan dan Jeremy, sambil mencari keberadaan Stella dan Nadine. Nanti kau bilang juga pada Dimas untuk menyusul kesini Segera laksanakan, karena situasi makin pelik. Aku khawatir, pembunuh itu akan menjebak kita semua di sini," perintah Reno.
Ramdhan tak menunggu perintah dua kali. Tak ada pula bantahan dari Edwin dan Aditya. Mereke bertiga segera kembali ke arah air terjun untuk menjemput siapa saja yang tersisa di sana. Ia merasa keputusan Reno itu sudah benar, sama dengan apa yang ia pikirkan. Yang terpenting sekarang ini adalah mereka harus segera mengakhiri petualangan di air terjun ini. Semakin lama ditunda, mungkin korban yang jatuh akan semakin banyak.
"Dugaanku benar. Sepertinya ini akan menjadi ajang pembantaian!" gumam Aditya sambil mempercepat langkah menyusur jalan setapak menuju air terjun.
"Jangan aneh-aneh, Dit! Perkataanmu itu akan membuat yang lain makin panik!" ucap Edwin.
"Kita nggak bisa sembunyi dari kenyataan ini, Win. Lihat Nadine dan Stella menghilang. Berikutnya siapa? Ini benar-benar mengerikan. Mereka semua harus sadar bahwa kita semua dalam bahaya!" kata Aditya.
Mereka bertiga segera menuju air terjun yang saat itu hanya tingal Rosita sendirian. Ia tampak kebingungan, karena ia tak mendapati siapa-siapa di sana. Tentu saja, hal ini makin mengherankan, karena terakhir masih ada Lily dan Farrel. Rosita terlihat celingak-celinguk, karena tak ada siapa-siapa di sana.
__ADS_1
"Pada kemana mereka, Ros?" tanya Edwin.
Rosita tersenyum gembira melihat kehadiran Edwin dan rombongan kecil itu.
"Entahlan, Win. Aku tadi di dalam air dan tidak mendapati mereka. Lily katanya mau buang air kecil tetapi aku tidak tahu ia buang air kecil di mana. Farrel juga menghilang begitu saja. Aku jadi cemas," ucap Rosita.
"Sekarang keringkan badanmu dan kita kembali ke kastil segera. Jangan tunda-tunda lagi. Ayo cepat!" perintah Edwin.
"Memangnya ada apa, Win?" tanya Rosita.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang mari kita segera kembali ke kastil!"
"Mana yang lain?"
"Mereka nanti akan menyusul. Cepatlah Ros!"
Rosita segera membenahi dirinya. Ia tak mau bertanya apa-apa lagi. Ia hanya mengikuti langkah suaminya bersama Aditya dan Ramdhan. Sesuai arahan dari Reno, Ramdhan tak menunggu lagi kehadiran Lily, Farrel, atau yang lain. Ia harus fokus untuk membawa anggota yang tersisa ini kembali ke kastil dalam keadaan selamat.
***
__ADS_1