Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LVIII. A Scream


__ADS_3

Sebuah lorong gelap terbentang di depan, membuat Michael, Aldo dan Elina takjub. Mereka tidak menyangka bahwa di bawah kastil terdapat lorong dan bilik-bilik tersembunyi, mengingatkan pada ruang-ruang penjara bawah tanah. Suasana senyap. Aldo ragu untuk melangkah lebih dalam, demikian juga Elina. Gadis belia itu menggamit lengan Aldo erat.


“Kalian mau masuk untuk menyingkap misteri dalam lorong ini?” tanya Michael. Suaranya bergema, menambah nuansa seram.


“Aku ragu, Michael. Kita tidak tahu apa yang menunggu di depan sana. Kita juga tak punya senjata apa pun. Aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku, Michael. Tidak. Jika kamu mau masuk, masuk saja!” ujar Aldo.


“Aku ikut kamu saja, Sayang. Sepertinya bukan ide yang baik masuk ke dalam lorong ini,” bisik Elina lirih. Rasa penasaran musnah begitu saja ketika melihat suasana lorong yang gelap dan menakutkan.


“Kalau kalian takut, boleh kembali ke atas. Aku akan masuk sendirian menyusur lorong ini. Siapa tahu aku akan menemukan petunjuk atas hilangnya Cornellio, Ammar, dan yang lainnya,” ucap Michael.


“Kamu yakin?” tanya Aldo.


Michael mengangguk.


“Good luck, Michael!”


Aldo dan Elina memilih untuk kembali ke atas sementara Michael sudah waspada, siap melangkah menembus gelapnya lorong. Ada sedikit rasa gentar, karena mendadak suasana menjadi senyap sepeninggal Aldo dan Elina. Ia menepis semua rasa takut yang membayangi isi kepalanya.


Berbekal keyakinan, Michael mulai melangkah ke dalam lorong yang gelap dan lembap. Di sepanjang sisi lorong terdapar banyak bilik-bilik, entah apa yang ada dalam bilik itu. Setelah berjalan beberapa saat, di depannya terdapat percabangan lorong. Ia bingung, lorong mana yang harus ia tempuh.


“Kiri atau kanan?” gumamnya.


Lorong kiri dan kanan terlihat sama. Hanya gelap dan lembap. Karena bingung menentukan pilihan, ia langsung saja memilih lorong kanan. Dalam pikirannya, hal baik selalu dimulai dari kanan. Harapannya, ia akan menemukan petunjuk dalam lorong kanan.


Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan, seperti suara pintu baja dipukul-pukul. Michael menghentikan langkah. Suara itu intens, tak jauh dari tempatnya berdiri. Agak bergema, sehingga menyulitkan untuk menemukan sumber suara sebenarnya. Ia masih bersikap waspada, menajamkan pendengaran. Tubuhnya berpaling ke belakang. Sepertinya suara itu berasal dari lorong sebelah kiri. Setengah berlari ia berbalik arah menuju lorong kiri.


Sebelum sampai ke lorong kiri, ia terkejut karena hampir menabrak seseorang. Sosok orang itu juga tak kalah terkejutnya, ia hampir saja memukul dengan linggis yang dibawanya. Michael segera mengenali sosok yang baru ditabraknya. Segera ia menangkis pukulan sosok itu.


“Adrianna! Stop! Ini aku, Michael!” teriak Michael sambil menangkis pukulan wanita berwajah Asia yang telah ditabraknya. Sontak Adrianna menghentikan pukulannya, menatap Michael dalam-dalam.


“Michael? Syukurlah. Aku kira orang lain!” Adrianna menghela napas lega.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Michael.


“Tadi di atas aku bertemu Aldo dan pacarnya, dia bilang kamu sedang menyusur lorong gelap di bawah sini. Aku penasaran sehingga aku mengajak Tiara untuk turun. Tapi kukira Tiara tadi tertinggal di belakang. Untunglah, aku segera bertemu denganmu. Hampir saja aku memukulmu dengan linggis ini, karena kukira kau pembunuh itu,” ucap Adrianna.


“Oya? Bagaimana kalau aku ternyata memang pembunuhnya? Apa kau takut?” seringai Michael.


“Itu tidak lucu, Michael! Kita semua tahu bahwa masing-masing dari kita adalah tersangka. Jangan bercanda seperti itu lagi!” ucap Adrianna dengan kesal sambil memukul lengan Michael.


Tiba-tiba dari ujung lorong, terlihat Tiara dengan langkah tergesa. Ia juga memegang sebatang linggis. Wajahnya terlihat cemas, tetapi kemudian berubah senang melihat keberadaan Adrianna dan Michael.


“Adrianna! Mengapa kamu meninggalkanku?” ucap Tiara.


“Tiara? Maaf, aku nggak ada maksud meninggalkanmu. Tadi kupikir kamu masih di belakangku. Nah, ketika aku masuk ke lorong gelap ini, aku baru sadar kamu tidak ada. Aku sangat takut. Untunglah, aku bertemu Michael. Hampir saja aku memukulnya, karena kukira dia pembunuh itu!” ujar Adrianna.


“Hai Michael! Apakah kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan di sini?” tanya Tiara.


“Belum, Nona-nona! Lebih baik kita kembali ke atas. Sangat berbahaya bagi kalian untuk berada di bawah sini. Mungkin ini suatu jebakan atau entahlah. Perasaanku selalu saja tidak nyaman berada terlalu lama di tempat ini.”


“Siapa itu?” bisik Adrianna dengan suara gemetar.


“Lebih baik kita ke atas. Aku takut sekali ....” sambung Tiara.


“Tunggu!” Michael memberi isyarat diam dengan jarinya.


Erangan itu terdengar sekali lagi, seperti erangan putus asa. Michael menajamkan pendengaran. Suara itu tak jauh dari tempat mereka berdiri!


***


Setelah menemui Antony dan Sonya, Hans akhirnya memutuskan untuk menolong mereka. Ia menumpang mobil yang dikendarai oleh Antony, berbalik arah menuju tempat terjadinya kecelakaan yang dialami Ammar. Hans sempat melncuri pandang ke arah Sonya yang berpenampilan sedikit nakal, kemudian mengerlingkan mata. Sayangnya, Sonya tak menggubris. Ia membuang muka ke arah luar jendela.


“Ceritakan kronologis kejadian kecelakaannya!” perintah Hans.

__ADS_1


“Sebenarnya bukan teman kami yang mengalami kecelakaan. Kami sebenarnya berempat, hendak berkemah di sekitar kastil yang Anda tinggali, karena aku pernah melihat sebuah air terjun kecil di belakang kastil. Sayangnya, di tengah perjalanan kami melihat kecelakaan yang mungkin terjadi tadi malam. Sebuah mobil jatuh ke jurang, dan penumpangnya seorang pria, kami temukan selamat dengan kaki patah....” Antony masih fokus mengemudi.


“Lanjutkan!”


“Kami bingung hendak minta bantuan kemana. Tidak mungkin kami kembali ke kota karena jaraknya terlalu jauh. Kastil tua adalah satu-satunya yang dapat kami temui di sekitar sini,” lanjut Antony.


“Kurasa kalian telah melakukan tindakan tepat. Aku nggak menyangka bahwa di dunia ini masih ada anak muda baik seperti kalian. Semoga kita masih bisa menyelamatkan penumpang mobil itu. Kita akan bawa ke kastil, karena di sana temanku yang mempunyai ilmu kedokteran. Kuharap dia bisa membantu,” ujar Hans.


“Wah, kuharap itu bisa membantu!”


Mobil terus melaju menyusuri jalan beraspal yang sepi. Hari sudah mulai siang. Matahari sedikit meninggi, membuat Sonya gelisah. Sesungguhnya, ia sama sekali tidak berharap kejadian ini. Dalam bayangannya, ia sudah bisa bersantai di dalam tenda sambil menikmati cemilan yang ia bawa. Sayangnya, ia tidak bisa mewujudkan dalam waktu dekat.


“Oya, siapa namamu?” Hans memalingkan muka ke arah Sonya yang sedang melamun.


“Oh, namaku Sonya, Om!” jawan Sonya cepat.


“Om? Hahaha. Jangan panggil aku Om. Aku tidak setua sangkaanmu, Nona Kecil!” Hans tergelak.


“Maafkan aku. Jadi harus memanggilmu apa?” tanya Sonya.


“Panggil aku Hans! Hans Christopher ....”


“Hans Christopher? Apakah penulis terkenal itu?” tanya Sonya. Parasnya melunak. Justru kini ia terlihat penasaran dengan pria yang duduk di kursi depan itu.


“Tepat! Tak salah lagi! Kamu pernah mendengar namaku?”


“Bukan hanya mendengar! Aku mengkoleksi setiap novel yang kamu buat. Astaga! Aku tidak menyangka aku akan bertemu Anda di sini!” ucap Sonya dengan mata berbinar.


Hans menyeringai, menatap wajah gadis belia itu dengan tatapan nakal.


Satu umpan masuk perangkap! Gumam Hans.

__ADS_1


***


__ADS_2