Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
152. Siaran Langsung


__ADS_3

Sebuah taksi berhenti di depan gedung berlantai delapan di pusat bisnis yang cukup sibuk. Hari belum terlalu malam, karena matahari baru saja tenggelam. Kesibukan masih terlihat, para pekerja baru saja pulang dari kantor sehingga jalanan terlihat sedikit macet.


Ferdy turun dari taksi, segera masuk ke dalam lobby gedung untuk menuju lantai enam. Langkahnya sedikit terburu-buru, tak peduli dengan sekitarnya.


Ia masuk ke dalam lift, memencet nomor lantai yang akan membawa ke lantai enam. Di lantai itu, kehadirannya sudah ditunggu beberapa orang yang akan melakukan produksi acara talk-show yang dipandu oleh Gilda Anwar. Melihat kehadiran Ferdy, wanita muda itu tersenyum cerah, seraya menyambut.


“Apakah aku terlambat?” tanya Ferdy.


“Empat puluh lima menit sebelum on-air. Well, cukup tepat waktu. Silakan ke ruang wardrobe dulu untuk memperbaiki penampilanmu. Kamu terlihat sedikit berantakan malam ini,” ucap Gilda.


Ferdy segera beranjak ke ruang rias. Seorang artist make-up menyisir rambutnya, mengusapnya dengan pomade, memberi bedak tipis pada wajah serta merapikan penampilannya. Ia melihat bayangan dirinya pada cermin yang dikelilingi lampu dengan sedikit khawatir. Ia tidak terbiasa tampil di depan publik. Mendadak jantungnya berdegup agak kencang.


Waktu yang ditentukan tiba. Di dalam studio yang sudah dipenuhi kru, Ferdy duduk di sebuah sofa bermotif bunga sebagai bintang tamu, sementara Gilda Anwar dengan tampilan rapi, akan memberikan sejumlah pertanyaan pada dirinya. Ferdy merasa sedikit gugup, sampai pada akhirnya ia menghirup napas dalam-dalam. Sorot kamera di sekelilingnya membuat ia sedikit panik.


“Selamat datang di acara An Hour with Gilda,” sapa Gilda ramah.


Ferdy tersenyum semanis mungkin. Ia sadar saat ini ia tengah disorot kamera televisi, dan disiarkan langsung di seluruh penjuru negeri. Ia dapat membayangkan kalau saat ini ada puluhan ribu pasang mata menatap parasnya dari layar kaca. Ia tahu bahwa rating acara yang dipandu Gilda ini sangat baik. Ia berusaha menampilkan ekspresi sealami mungkin.


Untunglah, sepanjang acara berlangsung, Gilda banyak melontarkan candaan yang menghilangkan rasa gugupnya. Namun, pertanyaan-pertanyaan Gilda kadang membuatnya harus berpikir keras sebelum ia menjawab.


“Jadi benarkah kamu adalah salah seorang yang sempat melihat Jenny Veronica terakhir kali secara langsung di pesta malam itu, sebelum dia ditemukan meninggal?” tanya Gilda dengan nada serius.


“Iya, saya memang sempat melihat dia malam itu,” jawab Ferdy pendek.


“Apakah kamu merasa ada sesuatu yang aneh pada Jenny atau sesuatu yang nggak biasa begitu?” tanya Gilda.


Ferdy terdiam sejenak. Pertanyaan-pertanyaan Gilda mirip pertanyaan polisi yang membabi-buta, seolah menginterogasi dirinya. Ia menarik napas sejenak.


“Aku tak begitu memperhatikan, karena banyak orang yang hadir di sana malam itu. Lagipula aku tidak mengenal gadis itu secara baik. Yang kutahu dia adalah teman dari sepupuku, Gerry.”

__ADS_1


“Baik. Menurut catatan kepolisian yang berhasil saya dapatkan, Jenny dibunuh di pesta itu. Bisa nggak kamu ceritakan kronologis kejadiannya pada pemirsa di rumah?” pinta Gilda.


Ferdy mengernyitkan dahi. Ia tidak menyangka bahwa Gilda mendapat info yang cepat dan akurat. Tak mungkin ia mengelak dari pertanyaan itu.


“Entahlah. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Tahu-tahu salah seorang teman kami berteriak melihat mayat Jenny di kamar mandi. Kami berhamburan ke sana untuk mengecek, dan kami menemukan Jenny dalam keadaan tewas,” ungkap Ferdy.


“Bisa kamu ceritakan gimana keadaannya?”


“Aku tidak melihat lama karena aku tidak ... tidak tega melihat seorang gadis dalam keadaan mengenaskan seperti itu. Aku hanya melihat banyak darah. Itu saja.”


“Lalu apa yang terjadi dengan mayat Jenny?”


“Pacar Jenny, yaitu Rudi, mengusulkan untuk membuang mayat Jenny ke dalam danau ... ini semua adalah salahnya ..., “ jawab Ferdy lemah.


Acara bincang-bincang itu sukses menyedot perhatian sebagian warga kota. Banyak orang antusias mengikuti acaranya. Mereka juga penasaran dengan kronologis pembunuhan Jenny. Keterangan Ferdy cukup mengejutkan, karena mereka tidak menyangka bahwa jasad Jenny sengaja dibuang ke danau oleh teman-temannya sendiri.


Di saat bersamaan, Rudi sedang berada di kamar saat ponselnya berbunyi. Rupanya ada panggilan dari Lena. Rudi sebenarnya malas untuk mengangkat, tetapi pada akhirnya ia angkat juga panggilan itu. Yah, ia tahu Lena ada sedikit rasa simpati terhadap dirinya, tetapi ia tak menggubris perasaan Lena. Ia sudah cukup trauma dengan kejadian yang menimpa Jenny dan Nayya.


“Kamu sudah nonton Channel-9?” tanya Lena di seberang.


“Memangnya kenapa? Bukankah itu channel berita?”


“Namamu disebut di acara An Hour with Gilda. Coba kamu tonton sekarang!” pinta Lena.


Rudi penasaran dengan apa yang dikatakan Lena. Ia menyalakan TV untuk mencari tahu. Yah, ia melihat Ferdy sedang diwawancarai oleh Gilda Anwar. Secara jelas dalam acara itu Ferdy memojokkan dirinya, seolah dia lah yang harus bertanggungjawab atas kematian Jenny.


“Kurang ajar! Harusnya dia yang harus mati! Sumpah akan kubunuh dia!” umpat Rudi.


***

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, tetapi tanda-tanda sosok misterius itu kembali ke apartemen belum tampak. Gerry mulai gelisah, padahal ia sudah menyiapkan air dalam termos. Ia menarik napas seraya menatap ke arah Nayya yang juga mulai bosan.


“Kurasa dia nggak akan datang kesini. Biasanya sebelum jam 9 dia sudah kesini mengantar makanan,” ucap Nayya.


“Mungkin besok pagi dia akan kesini,” desah Gerry.


“Kalau besok pagi, berarti kamu harus merebus air lagi, karena air itu nggak cukup panas. Aku berharap sih dia nggak pernah datang ke sini lagi. Kita kabur dengan cara kita sendiri,” kata Nayya.


“Susah tanpa bantuan orang luar, Nay. Kita memerlukan bantuan orang lain. Kita terperangkap di sini,” ucap Gerry.


Nayya terlihat bosan. Ia mempermainkan jari-jarinya.


“Aku rindu ... “ kata Nayya lirih.


“Keluargamu?” tanya Gerry.


“Ya. Mereka pasti cemas dan sedih dengan kehilanganku. Seharusnya malam itu aku tak pergi berbelanja, karena Mama sudah mengigatkanku sebelumnya untuk tidak pulang larut malam. Aku menyesal.”


Nayya mulai meneteskan air mata. Gerry merasa iba, mendekati Nayya dan mengusap bahu gadis itu.


“Kamu beruntung, Nay. Punya keluarga yang sayang padamu. Ini berbeda dengan orang tuaku yang sibuk berbisnis di luar negeri, dan menyerahkan aku pada pembantu di rumah mewah. Mereka pikir aku akan bahagia dengan kemewahan yang mereka berikan. Mereka salah. Aku merasa iri dengan kebahagiaan teman-teman yang bisa berkumpul dengan keluarganya. Bahkan saat ini, seandainya pun orang tuaku tahu bahwa aku diculik, mereka nggak akan peduli. Yang ada dalam pikiran mereka adalah uang, uang, dan uang. Aku muak,” ucap Gerry lirih.


“Kadang aku berpikir ... mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang diculik oleh sosok gila itu?”


“Kamu mengenal dia dengan baik, bukan?” tanya Gerry.


“Iya Ger. Dulu. Dulu sekali. Aku hanya nggak menyangka dia mempunyai sisi segelap ini. Aku ... aku hanya nggak percaya. Dia masih menyimpan dendam sedahsyat itu.”


Gerry terdiam. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Nayya terlihat mengantuk. Mungkin ia lelah. Gerry juga merasa lelah, seolah harapan untuk keluar dari ruangan ini sudah musnah. Menjelang pukul sebelas, ia mendengar suara kunci pintu terbuka.

__ADS_1


Klik!


***


__ADS_2