Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
155. Isolasi


__ADS_3

Jarum jam merapat di angka delapan pagi. Adinda merasa gelisah, duduk di kursi yang disediakan di kantor polisi. Rupanya ia yang pertama datang memenuhi undangan dari kepolisian. Ia belum melihat teman-temannya yang lain di tempat itu. Ia menyapukan pandangan ke sekitar. Ada beberapa polisi yang mulai beraktivitas. Adinda merasa kurang nyaman sendirian di situ.


“Bosan?”


Tiba-tiba Adinda melihat Dimas menghampiri sambil membawa cup kertas berisi kopi. Ia memberikan pada Adinda.


“Minumlah dulu. Ini akan membuat perasaanmu lebih baik,” ucap Dimas.


“Terima kasih, Pak.”


Adinda sedikit gugup menerima pemberian kopi dari Dimas. Ia merasa salah tingkah ketika polisi muda itu memperhatikannya.


“Santai saja. Tak perlu gugup. Proses isolasi ini perlu kami lakukan untuk menguak misteri yang selama ini belum terpecahkan. Jadi, kalau kamu merasa tidak bersalah, tak perlu takut berlebihan,” ujar Dimas.


Adinda hanya tersenyum kecil, sembari mengangguk. Ia menyeruput kopi pemberian Dimas. Perutnya sedikit hangat. Ia memang melewatkan sarapan pagi itu, karena agak terburu-buru memenuhi undangan dari kepolisian.


“Oke, buatlah dirimu nyaman. Aku ada kerjaan yang harus kuselesaikan,” kata Dimas seraya meninggalkan Adinda sendirian.


Dimas memasuki ruangan Reno. Rekan kerjanya itu sedang fokus menatap layar komputer sambil mengusap-usap dagu.


“Mereka sudah datang?” tanya Reno.


“Baru seorang saja. Adinda Kirana. Kita tunggu beberapa menit lagi, mungkin setelah ini mereka datang. Ada fakta baru yang kamu temukan?” tanya Dimas.


“Hanya fakta-fakta kecil, tapi mungkin membantu. Aku masih memeriksa rahasia-rahasia kecil ketiga gadis yang menjadi korban dari manusia jahat itu. Semuanya memang mempunyai kesamaan. Sama-sama cantik, populer, dan ... ada satu fakta yang membuatku merasa tertarik untuk menyelidiki lebih jauh,” kata Reno.


“Fakta apa itu?” tanya Dimas penasaran.


“Ketiga gadis ini pernah mempunyai relasi dengan satu orang yang sama,” kata Reno.


“Siapa?”


“Aku akan ungkap nanti, belum berani menyimpulkan. Aku sudah coba buka media sosial yang bersangkutan, ternyata akunnya telah ditutup. Entah apa ini ada hubungannya atau tidak, tetapi bukankah ini kebetulan sekali?”


Dimas manggut-manggut. Ia penasaran dengan siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Reno, tetapi tak berniat untuk bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


Di ruang tunggu, satu-persatu para anak muda yang diundang mulai berdatangan. Lena dan Rasty datang bersamaan karena mereka berangkat dalam mobil yang sama.


“Hai Din. Kamu duluan di sini?” tanya Rasty.


Adinda mengangguk. Ia berusaha menutupi rasa cemas dengan memainkan jari-jarinya. Ia tidak mengobrol apapun dengan kedua gadis yang baru saja bergabung.


“Kamu nggak barengan sama Ferdy?” tanya Lena sambil menghempaskan tubuhnya di sebelah Adinda.


“Nggak!” jawab Adinda pendek.


“Oh, kirain. Kan kalian ....”


Lena menghentikan kalimatnya. Adinda tidak menggubris perkataan Lena, walau ia paham dengan apa yang dimaksud oleh Lena.


“Loh, kalian udah resmi pacaran?” Rasty menimpali.


“Belum. Belum kok,” jawab Adinda.


Tak lama, satu-persatu mulai berdatangan. Alex datang hampir berbarengan dengan Rudi, disusul dengan Miranti, sedangkan Ferdy datang paling akhir. Mereka duduk melingkar di sebuah sofa yang disediakan di lobby kantor polisi.


Mereka sedikit cemas menunggu instruksi selanjutnya mengenai apa yang mereka harus lakukan. Tak ada yang berniat mengobrol. Masing-masing memilih untuk berdiam diri, seraya mencurigai satu sama lain. Di saat seperti ini, mereka memilih untuk mencari aman, enggan untuk saling bicara.


“Emangnya harus ngobrolin apa? Gimana rasanya membunuh gitu? Atau ... udah berapa lama pengalamanmu menjadi pembunuh?” Miranti menanggapi.


“Kalian kelihatan tegang banget ya. Justru kalian harus bersyukur, dengan isolasi ini kita bisa lebih cepat tahu pembunuh sebenarnya, dan pastinya itu bukan aku!” ucap Rasty dengan penuh percaya diri.


“Mana ada pembunuh yang ngaku?” cibir Alex.


“Lalu menurutmu siapa pembunuhnya?” tanya Rasty.


“Itu bukan kapasitasku mengatakan siapa pembunuhnya. Biar nanti pihak yang berwajib yang mengusut. Yang ada di sini semua pasti mengatakan bukan pembunuhnya. Kecuali nanti .... “


Alex terdiam sesaat.


“Kecuali apa, Lex?” Rudi mulai menanggapi.

__ADS_1


“Semoga saja tidak. Tapi aku punya firasat buruk dengan isolasi ini. Aku khawatir, isolasi ini akan jadi ladang pembunuhan baru untuk si pembunuh. Yang kita hadapi ini bukan sembarang pembunuh. Dia adalah orang yang cukup pintar. Itulah mengapa aku sebenarnya enggan ikut dalam isolasi ini,” terang Alex.


“Kalaupun ada pembuhuhan di sana nanti, dia tidak bisa pergi kemana-mana. Polisi akan sangat mudah menangkapnya. Dia nggak akan berbuat sebodoh itu,” ucap Rudi.


“Kuharap kita semua aman dan tidak ada yang terbunuh lagi.” Adinda menghela napas.


Beberapa saat kemudian, Dimas menghampiri mereka. Suasana menjadi hening. Dimas melihat ke arah mereka satu-persatu.


“Apa kalian sudah siap?” tanya Dimas.


Pertanyaan Dimas itu hanya dijawab dengan anggukan dari mereka. Rasa cemas semakin merayap. Tentu, ini berbeda dengan liburan biasa. Sejatinya, ini adalah isolasi yang menegangkan, karena mereka akan dikurung dalam sebuah rumah bersama salah seorang yang dicurigai sebagai pembunuh berantai. Sudah barang tentu akan timbul rasa saling curiga di antara mereka.


“Kita akan berangkat sepuluh menit lagi, menunggu mobil siap. Kalian akan berangkat dengan menggunakan minibus milik kepolisian dan akan dikawal dengan ketat, untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan,” ucap Dimas.


Semua terdiam.


“Sebelum berangkat ke tempat isolasi, aku ingin semua peralatan komunikasi seperti ponsel, tablet, laptop atau apapun itu tidak dibawa. Yang perlu kalian bawa adalah kebutuhan pribadi kalian, karena kami akan mengurus semua, mulai dari makanan, laundry, dan semua yang kalian butuhkan selama beberapa hari.”


“Astaga, ini akan jadi mimpi buruk ....” gumam Rudi.


“Nanti setiba di sana, akan ada pengurus rumah tangga yang siap melayani kalian. Apabila ada sesuatu yang kalian perlukan, kalian bisa melapor ke mereka. Kami juga memasang CCTV di tempat-tempat strategis, kecuali kamar mandi dan kamar tidur. Kami akan pantau selama 24 jam. Aku dan Reno bergantian tinggal di sana. Jadi kalau kalian kabur, percuma saja, karena kami akan segera tahu.”


Sederet aturan yang diucapkan oleh Dimas membuat nyali semua yang ada di situ menciut. Mereka berpikir bahwa isolasi ini tentu tak akan menyenangkan, karena lebih mirip penjara. Segala gerak-gerik mereka akan diawasi CCTV selama 24 jam, tentu ini akan sangat membuat tidak nyaman.


“Ada pertanyaan?” tanya Dimas.


Semua terdiam. Bingung harus menanyakan apa. Yang jelas, isolasi ini terdengar sangat menyeramkan. Sayangnya mereka tak bisa menghindar, dan wajib ikut.


“Kalau tidak ada, silakan siapkan barang-barang kalian. Petugas kami akan menggeledah tas kalian, kalau-kalau ada alat komunikasi atau senjata berbahaya yang bisa digunakan untuk mencelakai orang lain,” ucap Dimas.


“Tunggu! Bukankah itu sudah masuk ranah privasi! Harusnya tak perlu sampai menggeledah seperti itu!” protes Rudi.


“Tak ada lagi privasi di sini. Kami berhak mengetahui barang apa saja yang kalian bawa!”


Mereka tak bisa mengelak ketika dua orang petugas kepolisian menggeledah isi tas mereka, bahkan mengaduk-aduk sampai berantakan, kalau-kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sayangnya, kedua petugas itu tak menemukan apapun. Mereka menyatakan bahwa kelompok anak muda ini tidak membawa sesuatu yang mencurigakan. Semua bernapas lega.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, mereka menaiki minibus milik kepolisian, bersiap meluncur menuju tempat isolasi yang disiapkan.


***


__ADS_2