Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
353. Terikat Lagi


__ADS_3

Mariah memasuki kantor polisi yang tak seberapa ramai. Tujuan utamanya adalah kantor Dimas, karena ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengannya. Perasaanya masih gundah karena pertemuan dengan Gilda tadi pagi. Ia berusaha mengembalikan suasana hatinya agar tidak kesal terbawa hingga sore.


Mariah sadar, mungkin Gilda akan memberitakan hal buruk tentang dirinya di masa lalu. Namun, ia tak terlalu mencemaskan itu. Ia hanya ingin segera menginformasikan kondisi kastil kepada Dimas, karena sekarang ini kondisi sedang kacau. Ia tak perlu mengkhawatirkan Gilda atau yang lainnya.


Ia menemui Dimas di dalam kantornya, ketika polisi muda itu tengah mencoret-coret buku agendanya. Melihat kedatangan Mariah, ia meletakkan pulpen, dan mempersilakan Mariah duduk. Ia heran melihat kedatangan Mariah. Biasanya kedatangan yang tak biasa seperti ini, membawa berita yang kurang menyenangkan.


"Sibuk?" tanya Mariah.


"Tidak juga, Kak. Hanya sedikit yang harus diselesaikan. Biasa lah, masalah kastil itu benar-benar membuatku kurang tidur dan makan belakangan ini. Tumben?" tanya Dimas sambl merapikan kertas-kertas yang berserak tak rapi di atas meja.


"Seperti biasa, Dimas. Kalau aku menemuimu, pasti ada pesan yang ingin kusampaikan. Pesan ini dari Bang Ammar, dan harus segera kusampaikan kepadamu," ucap Mariah.


"Pesan apa itu?" tanya Dimas.


"Dim. kondisi kastil semakin gawat dan tak menentu. Teror hampir terjadi tiap hari, dan sekarang seorang korban jatuh lagi. Ini membuat kami sangat tertekan,sehingga kami dicekam ketakutan. Personel kami juga kurang. Hanya mengandalkan  Reno dan Juned saja, tentu kurang maksimal, sedangkan kau tahu sendiri posisi suamiku belum sepenuhnya pulih. Tadi malam, Lily dikejar sosok misterius, padahal posisi di dalam kastil. Kami butuh bantuan segera!" terang Mariah.


"Loh, siapa lagi yang jadi korban Kak Mariah? Apa ada lagi yang terbunuh?" tanya Dimas penasaran.


"Ya, Dim. Tadi malam Aditya ditemukan dalam keadaan tewas. Lehernya tergorok. Sekarang Bang Ammar memintaku untuk menginformasikan agar pihak kepolisian mengirim tim paramedis segera. Ini sungguh membuat kamu semua dicekam dalam rasa takut, seolah kematian mengincar kami di mana pun. Kami nggak bisa tidur nyenyak," ucap Mariah.


"Tunggu ... tunggu. Kakak bilang tadi personel kurang ya? Bukankah kepolisian sudah mengirim Niken? Seharusnya dia kan sudah bertugas di sana?" tanya Dimas.


"Juned menemukan tas nya tergeletak begitu saja di dekat kolam renang. Jeremy juga bilang bahwa ia sempat bertemu dengan Niken dalam keadaan terkurung dalam bilik di bawah tanah. Sampai sekarang keberadaan Niken belum diketahui. Mungkin ia masih berada di dalam salah satu bilik di bawah tanah. Rupanya sosok itu berhasil menangkapnya, hanya saja kita juga belum tahu apakah Niken berhasil selamat atau tidak," jawab Mariah.


"Astaga! Dugaanku benar bahwa Niken di kastil itu akan menambah masalah. Sudahlah, kita lupakan dulu masalah Niken. Saya akan segera kembali ke sana. Kebetulan sekali Kak Mariah ke sini, karena ada sesuatu yang ingin saya konfirmasikan," ujar Dimas.

__ADS_1


"Apa itu, Dim?"


Dimas mengeluarkan selembar foto tentang The Girl Squad, beserta foto Suci yang ada di dalamnya. Ia menunjukkan foto itu kepada Mariah.


"Pasti Kakak tahu foto ini kan?" tanya Dimas.


Mariah mengamati foto itu sebentar. Jelas ia tahu foto itu, apalagi ada foto Suci di dalamnya. Ia terkejut Dimas pada akhirnya menemukan foto di masa lalu tersebut. Ia menghela napas dan mengangguk.


"Itu foto lama. Pasti kamu menanyakan keberadaan siapa gadis ini sebenarnya kan?" tanya Mariah sambil menunjuk sosok Suci di dalam foto.


"Aku sudah tahu itu, Kak. Namanya Suci kan? Dia sudah meninggal karena bunuh diri dan dalam keadaan hamil. Ibu Suci mengatakan padaku kalau ada salah seorang sahabatnya yang dekat, tetapi tidak diketahui identitasnya. Aku menduga, bahwa sahabat Suci ini ada di salah satu foto ini, dan sekarang berada di kastil itu," ucap Dimas.


"Iya Dimas. Kamu benar. Sahabat Suci itu memang berada di kastil bersama kami sekarang, tetapi kami juga nggak tahu siapa sebenarnya dia. Dia mengincar keselamatan kami semua. Aku mendapat ancaman pembunuhan juga, tetapi aku juga belum punya gambaran siapa yang melakukannya. Semua serba misterius dan terselubung," kata Mariah.


"Hmm, begini saja Kak Mariah. Tentu ancaman pembunuhan itu adalah sesuatu hal yang serius dan nggak bisa dipandang remeh. Untuk sementara Kakak nggak usah kembali ke kastil, dan Kakak kembali saja ke rumah. Biar aku yang menggantikan Kakak ke kastil. Tempat itu terlalu berbahaya, apalagi kita nggak tahu siapa sebenarnya si pelaku," saran Dimas.


"Tapi Kak, ini demi keselamatan Kakak sendiri. Terlalu berbahaya kalau Kakak di sana, dan aku yakin,temen-temen Kakak di sana bisa mengerti," ucap Dimas.


"Mereka tidak akan mengerti, Dimas. Mereka akan menganggap aku seorang pengkhianat, karena si pembunuh itu tidak hanya mengincarku. Tetapi semua! Semua yang ada di kastil itu terancam nyawanya. Semua sudah pernah terancam. Bahkan Farrel yang tak tahu apa-apa. Kara yang tak berdosa, semua dihabisi tanpa ampun. Aku nggak akan memaafkan diriku sendiri kalau aku berada di kota, sementara semua temanku dibantai di sana. Maaf Dimas, aku nggak bisa. Aku harus secepatnya kembali!" tegas Mariah.


Dimas hanya menghela napas sambi mengangguk-angguk. Ia tidak bisa menghalangi Mariah untuk tetap tinggal di kota. Sepertiya ia harus segera menyelesaikan penyelidikannya, agar bisa segera kembali ke kastil. Sepertinya kastil dalam keadaan darurat dan perlu tambahan personel.


***


Krieeet!

__ADS_1


Jeruji besi itu terbuka setelah si sosok misterius membukanya. Ia mengamati arah luar kastil yang sunyi. Rupanya kastil itu tehubung langsung dengan kawasan hutan, sehingga siapa pun akan mudah untuk mengakses apabila hendak masuk ke dalam kastil. Ia melihat ke arah Niken yang tak sadarkan diri. Sosok itu berhasil membungkam kesombongan Niken dengan sekali pukul di kepalanya. Tak lama, ia menyeret perempuan itu menjauh dari lorong, menuju ke dalam hutan.


Niken dapat merasakan kalau saat ini tubuhnya terseret di antara tanah dan daun-daun kering. Sayangnya ia tak dapat berbuat apa-apa. ia hanya pasrah saja dengan kondisi yang berlaku. Ia hanya merasakan sosok itu menyeretnya semakin jauh dari lorong, entah menuju ke mana. Ia ingin sekali berontak, tetapi apa daya, energinya seolah terkuras habis.


Tak lama, dalam keadaan tak berdaya, Niken merasakan kalau sosok itu memaksanya berdiri, kemudian menyandarkan tubuhnya yang lemah pada sebuah pohon. Ia merasakan tubuhnya dikelilingi oleh ikatan-ikatan yang berulang, sampai dadanya terasa sesak. perlahan Niken membuka mata.


"Di ... di mana aku?" tanya Niken.


Ia mendapati tubuhnya terikat pada sebuah pohon di tengah hutan yang sepi. Sosok itu tak menggubris pertanyaannya. Ia masih terus memperkuat ikatan pada tubuh Niken.


"Ja-jangan. Jangan bunuh aku. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Aku janji kalau kamu lepaskan aku, aku tidak akan membuka identitasmu pada siapa pun. Aku akan bantu dirimu untuk lolos. Aku janji. Aku punya uang juga, asal kau biarkan aku selamat. Jangan sakiti aku," pinta Niken dengan suara lemah.


Permintaan itu rupanya sia-sia belaka, karena  si sosok tak mau mendengarkan sama sekali permintaan Niken. Ia malah tersungging dengan puas melihat Niken terikat di pohon.


"Selesai sudah urusan denganmu. Aku mau mengurus yang satu lagi!" ucap sosok itu.


"Tunggu! Kamu nggak akan tinggalin aku di sini sendirian kan? Kumohon jangan tinggalin aku!"


Sosok itu tak menjawab, kemudian ia dekatkan mulutnya pada telinga Niken seraya berbisik," Semoga kamu beruntung, Niken! Polisi sombong dan tak tahu diri. Jangan kau kira uangmu cukup untuk membeli nyawamu. Sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana sendirian di hutan ini. Kalau kau beruntung, kau akan mati cepat karena gigitan ular atau sengatan kalajengking."


"Ka-kamu mau ke mana? Tidak! Jangan tinggalkan aku!"


Sosok itu tak menjawab, segera meninggalkan Niken sendirian terikat di hutan yang sepi itu. Paras Niken berubah cemas. Ia tak bisa membayangkan apabila ditinggalkan di tempat ini sendirian sampai malam. Hutan ini begitu sepi. Tentu akan sangat mengerikan berada di tempat ini sendiri.


"Jangaaan! Toloong!"

__ADS_1


Teriakan Niken hanya sia-sia belaka, tenggelam ditelan desir angin yang bertiup di pucuk-pucuk pohon. Lengkingannya berbuah sia-sia. Matahari kian meninggi. Kini ia benar-benar sendirian di tengah hutan yang sunyi .Ia berusaha meronta, tetapi ikatan begitu kuat. Ia terus melengking, smapai kemudian ia pasrah dengan semua yang berlaku. Ia hanya berharap ada seseorang yang menemukannya.


***


__ADS_2