
Reno tersadar dari tidurnya yang hanya sejenak. Musik klasik masih mengalun pelan dari pemutar musik di kamarnya. Buru-buru ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul empat lewat beberapa menit. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia sudah terbius dalam kelelahan, sehingga tak terasa tertidur sampai beberapa jam. Padahal sore ini, rencananya ia akan mencari alamat pemilik mobil putih yang ringsek di dasar jurang.
Buru-buru ia pergi ke kamar mandi, bukan untuk mandi tentunya. Karena ia membutuhkan waktu paling tidak setengah jam untuk mandi. Ia hanya melihat bayangan wajahnya di cermin, kemudian membasuh muka dengan sabun khusus muka. Ia tidak ingin terlihat kusam. Ia sadar bahwa usianya tidak muda, tetapi ia tetap berusaha menjaga penampilannya tetap menarik. Untuk untuk pria seusianya, ia terlihat menawan. Pesonanya lebih memancar dan lebih berwibawa. Tak heran, beberapa wanita masih suka melirik padanya. Sayangnya, ia tidak begitu tertarik, mengingat ia sudah mempunyai istri.
Selesai urusan membersihkan diri sejenak, ia segera beranjak mengganti pakaian yang lebih kasual, serta menyisir rambut. Olesan sunblock juga ia ratakan ke wajah dan leher agar jilatan sinar ultraviolet tak memanggang kulitnya. Setelah siap, ia baru ingat kalau sisa makanan tadi pagi yang ia pesan melalui aplikasi masih belum ia masukkan ke dalam kulkas. Padahal masih tersisa banyak. Buru-buru ia mengamankan makanan itu.
Setengah berlari ia hendak keluar rumah, tetapi ketika ia membuka pintu depan, sesosok wanita muda berdiri di depan pintu, menatapnya dengan tatapan heran. Paras wanita muda itu begitu manis, dengan riasan yang alami dan rambut yang tertata rapi. Matanya lebar dan tak berpoles eye-shadow atau sejenisnya. Ia menggunakan setelan ringkas warna cerah, terlihat begitu sesuai dengan postur tubuhnya yang semampai.
“Silvia?” ucap Reno.
“Aku ... aku hanya mampir mengambil beberapa barang,” ucap wanita muda itu dengan lirih.
Tatapan wanita muda bernama Silvia itu begitu lembut tetapi menusuk. Sesaat, Reno terpaku. Ia tak tahu harus berbuat apa-apa. Ia teringat akan tugas di luar.yang harus ia lakukan.
“Oh iya, silakan .... “
Reno tak bisa berkata apa-apa. Wanita muda itu masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar, mencari sesuatu di dalam lemari, sembari memasukkan beberapa baju ke dalam tas.
“Kamu sehat?” tanya Silvia.
“Aku ... aku sehat, Sil. Bagaimana denganmu?” tanya Reno.
Ia masih berdiri mematung menatap gerak-gerik wanita itu.
Silvia tersenyum sambil menggeleng. Ia tak menjawab apapun. Tangannya cekatan memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tas. Entah kenapa, Reno seperti dihunjam rasa bersalah. Silvia terlihat begitu cantik dan tenang, walau ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan dalam perasaannya.
“Kamu mau bertugas kan? Seperti biasa. Aku hanya sebentar kok. Semoga sukses ya!”
Silvia telah selesai dengan urusannya, kemudain mendekati Reno. Ia mencium pipi suaminya dengan lembut.
“Aku tak akan kemana-mana. Selesaikan urusanmu dahulu. Aku hanya merasa kesepian di rumah besar ini sendirian,” bisik Sivia lembut.
Tak lama, wanita muda itu berlalu meninggalkan Reno sendirian. Polisi itu semakin merasa bersalah. Sebelum wanita itu beranjak keluar daru rumah, ia tarik lengannya.
“Tunggu!” ucap Reno cepat.
__ADS_1
“Kamu sedang terburu-buru. Lebih baik kamu laksanakan tugasmu di luar. Aku nggak apa-apa kok. Toh karirmu juga penting untuk keberlangsungan rumah tangga kita. Aku bisa mengerti itu. Oke?” tegas Silvia.
“Aku ... aku minta maaf. Aku harus menyelesaikan tugasku, Sil. Aku mohon kamu jangan pergi. Tetaplah di rumah ini. Jangan pulang ke rumah orangtuamu. Itu akan merendahkan harga diriku sebagai suamimu. Kumohon!” pinta Reno.
Silvia terdiam, menatap mata suaminya dalam-dalam. Sebenarnya ia sedih juga apabila harus meningalkan suaminya sendirian di rumah. Ia sadar, mungkin yang dilakukan sedikit kekanak-kanakan, karena merajuk seperti itu. Rasanya juga tak adil apabila orangtuanya juga turut tahu masalah rumah tangga yang sedang ia hadapi bersama Reno.
“Selesaikan tugasmu dulu, Ren! Maaf!”
Silvia, wanita muda yang keras kepala, tetap pada pendiriannya. Ia tetap berlalu dari hadapan suaminya tanpa peduli dengan apa yang dirasakan olehnya. Reno hanya bisa melihat kepergian Silvia dengan perasaan gelisah, tetapi ia juga tak mampu menahan kepergiannya. Wanita itu selalu terlihat cantik, sama seperti saat pertama kali ia bertemu.
“Maafkan aku, Silvia,” lirih Dimas.
Ia berusaha untuk kembali fokus dengan pekerjaan yang dihadapinya saat ini. Setelah kepergian Silvia, ia segera menuju mobil. Ia harus bisa membedakan antara urusan karir dan urusan pribadi. Keduanya tak boleh saling tumpang-tindih. Sejenak, ia harus melupakan bayangan Silvia yang terus bergentayangan di otaknya.
Reno melajukan kendaraan sambil menurut arah yang ditunjukkan oleh aplikasi penunjuk jalan di mobilnya. Matanya fokus dengan kondisi jalan. Kali ini ia tidak boleh kehilangan infomasi lagi. Jalanan terlihat tak begitu ramai, beberapa pengendara motor menguasai jalanan, sehingga perjalanan agak tersendat. Klakson sahut-menyahut, menambah ramai suasana. Alamat yang diinformasikan pihak kepolisian berada dekat pinggiran kota, sehingga ia harus membelah kepadatan kota untuk bisa sampai ke sana.
***
Sepiring bubur disajikan panas di atas meja, sementara Gerry masih lemah terduduk bersandar di dinding kamar. Ia masih belum tertarik untuk makan bubur itu. Kepalanya masih terasa pening, dan perutnya mual. Beberapa bagian tubuhnya juga masih terlihat memar dan luka, hanya dibalur dengan obat seadanya.
Gerry hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Jawaban itu membuat gadis kecil itu tidak senang.
“Kakak harus makan biar lekas sembuh!” ucap Ratri.
Gerry hanya terdiam. Dilihatnya mata gadis kecil itu yang menatapnya tulus. Sudah lama ia tak melihat tatapan seperti itu. Bahkan dari ibunya sendiri. Orang tuanya yang terlalu sibuk dengan urusan bisnis, lebih memilih tinggal di luar negeri daripada harus membersamai anaknya. Mereka berpikir gelimang harta cukup untuk membahagiakan Gerry. Padahal, bukan itu yang Gerry cari.
“Baik, Kakak akan makan buburnya,” ucap Gerry lemah.
Ratri tersenyum manis. Ia merasa lega. Ia mengambil piring bubur itu, kemudian menyodorkan kepada Gerry. Walau agak susah-payah, Gerry menerima pemberian Ratri. Ia berusaha untuk tidak mengecewakan gadis kecil itu.
Tak lama, seorang pria yang cukup berumur masuk ke dalam kamar, melihat Gerry dengan tatapan dingin. Gerry merasa canggung melihat tatapan itu. Ia meletakkan piring bubur yang sedang dipegangnya.
“Makanlah, Nak!”
Suara parau pria tua itu terdengar begitu dalam, tetapi sangat mendamaikan. Parasnya yang berkerut termakan zaman, tetapi tetap berwibawa. Gerry merasa bapak tua ini adalah seorang pekerja keras di masa lampau. Beban hidup tergambar dari parasnya.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menolong saya, Pak,” ucap Gerry.
“Tak apa. Jurang di atas sana memang cukup berbahaya untuk dilewati. Kalau tidak hati-hati, mobil bisa tergelincir dan masuk jurang. Tapi kurasa kamu beruntung karena berhasil selamat. Rupanya Tuhan tidak menghendaki kamu mati dengan cepat. Mungkin orang lain akan mati, tetapi kamu tidak. Ini suatu keajaiban. Bersyukur pula hanya ada luka-luka kecil di sekujur badan, tapi itu jauh lebih baik daripada kamu mati mengenaskan,” ucap kakek itu.
Gerry mengangguk perlahan. Apa yang diucapkan kakek itu terdengar sangat mengerikan. Mungkin keajaiban memang berpihak kepadanya. Ia juga tidak menyangka bahwa ia masih bisa selamat terjun ke dalam jurang dalam itu.
“Kami sebenarnya ingin membawamu ke dokter, tetapi kamu lihat sendiri bahwa aku bukan orang kaya. Untuk akses ke rumah sakit juga agak susah dari tempat ini. Rumahku ini tersembunyi dari keramaian, dibalik ladang jagung. Jadi aku hanya membalur obat-obatan tradisional. Aku berharap itu dapat meredakan luka yang sedang kamu alami,” kata kakek itu lagi.
“Kakek tak perlu repot. Ini pun sudah cukup. Saya berjanji kalau sudah pulang ke rumah, saya akan membalas semua kebaikan kakek dan keluarga. Sekali lagi, saya sangat berterima kasih atas pertolongan kakek,” ucap Gerry dengan sopan.
“Tak perlu, tak perlu. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa saja. semua bahan obat-obatan tumbuh di sekitar sini. Jadi kamu nggak perlu berpikir bahwa aku membeli semua obat-obatan itu. Kamu nggak usah berpikir itu,” ujar si kakek.
Gerry sangat terharu mendengar ucapan si kakek. Ia tidak menyangka masih ada seorang yang berhati baik, di tengah dunia yang serba hedonis. Biasanya segala sesuatu diukur dengan uang, tetapi kakek ini membuka matanya bahwa ketulusan lebih mahal dari apa pun.
“Jadi bagaimana semua bisa terjadi?” tanya kakek itu.
“Ceritanya panjang, Kek,” ucap Gerry.
Ia berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan peristiwa yang berserak dalam ingatannya. Semua berjalan begitu cepat. Masih ingat ketika ia berada di kantor polisi saat menjalani proses wawancara. Saat itu ia bersama Rasty. Kemudian yang diingatnya, ia diantar pulang oleh seorang polisi wanita bernama Fani, sampai kemudian dihadang oleh mobil putih di tengah jalan. Sayangnya, Fani tak sempat selamat.
Napas Gerry terasa sesak ketika membayangkan semua potongan-potongan peristiwa yang terjadi sebelumnya. Ia ingin mencurahkan semua apa yang dialaminya pada pak tua itu, tetapi lidahnya terasa kelu. Ia masih belum siap untuk berbicara. Ia hanya menggeleng perlahan.
Kakek tua itu paham kalau Gerry masih trauma dengan apa yang dialaminya. Ia tidak mendesak atau memaksa untuk berbicara. Ia hanya mengangguk-angguk.
“Tak apa, lebih baik kamu beristirahat sampai kamu benar-benar pulih. Nanti kalau sudah pulih, kamu akan kuantar ke rumahmu. Aku sadar, tempat ini mungkin sedikit kurang nyaman buatmu,” ucap Pak Tua itu.
“Eh, bukan begitu Pak. Saya senang tinggal di sini,” tukas Gerry cepat.
Pak Tua itu mengangguk, kemudian meninggalkan kamar. Kini hanya ada Ratri yang sibuk dengan bonekanya. Entah mengapa, walau rumah ini sangat sederhana, Gerry merasa lebih tenang tinggal di sini. Rumahnya memang mewah, dengan segala fasilitas yang ada, tetapi ia tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Itulah sebabnya ia kadang menggelar pesta hanya untuk mengusir kesepiaannya.
Sayangnya, pesta yang terakhir ia gelar menjelang tahun baru kemarin berubah menjadi petaka. Seorang gadis ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya, dan semua seolah mejadi bola liar yang menggelinding. Pembunuhan demi pembunuhan terjadi, dan kini bahkan membuatnya terdampar di sebuah rumah terpencil di dasar jurang.
Namun, lepas dari semua itu, ia kembali bersyukur. Dilihatnya sosok Ratri yang begitu bahagia dengan boneka usang. Gerry berjanji, selepas dari ini semua, ia akan membelikan gadis itu sebentuk boneka yang bisa bernyanyi dan tertawa. Ia akan membantu keluarga sederhana ini agar mereka juga merasakan kelap-kelip indahnya dunia.
***
__ADS_1