
Reno dan Jeremy kembali menyusur lorong di bawah ruang bawah tanah. Semakin ke dalam, ternyata makin banyak percabangan lorong. Reno bahkan tak pernah menduga kalau di bawah kastil ini terdapat banyak lorong dan bilik yang jumlahnya puluhan. Pantas saja, si pembunuh bisa dengan leluasa bersembunyi dan menyekap korban di tempat seperti ini. Siapa pun dia pasti telah menguasai seluk-beluk kastil. Setahu Reno, yang paling tahu tentang seluk-beluk kastil pasti orang-orang yang pernah tinggal di sini. Helen, asisten rumah tangga yang misterius itu telah lama meninggal. Jadi siapa lagi yang tahu tentang kastil?
Setahu Reno, Helen tak punya keluarga. Atau mungkin dia punya keluarga, tetapi Reno tidak tahu? Ia berpikir, semoga Dimas bisa melacak apa pun tentang kastil yang misterius ini, baik dari segi bangunan maupun tentang orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.
Mariah, adalah keluarga dekat Anggara Laksono, tetapi dia tidak tinggal di kastil ini. Ia juga menduga, pasti Mariah juga belum tahu kalau di bawah kastil ini dipenuhi lorong-lorong misterius dan bilik-bilik. Dari kesemua bilik itu, aada yang terkunci, dan ada pula yang terbuka pintunya. Melihat dari bentuk-bentuk ruangannya, sepertinya ruang bawah tanah ini adalah bekas penjara atau tempat penyiksaan. Walau Reno tidak mempunayi indera keenam seperti Mariah, ia merasa tidak nyaman berlama-lama berada di ruang bawah tanah ini. Ia memutuskan untuk segera kembali ke kastil bagian atas.
"Sepertinya kita akan menghabiskan waktu kalau kita menelusuri ruang bawah tanah ini berdua saja, Jer!" kata Reno.
"Pak Reno nyerah begitu saja?" tanya Jeremy mulai gusar.
"Bukan. Bukan menyerah. Tapi kita harus pikirkan cara lain. Yang kita lakukan ini tindakan bodoh dan tidak realistis. Kamu nggak lihat, ruang bawah tanah ini penuh lorong yang menyesatkan. Bisa-bisa kita tersesat di sini dan lupa jalan keluar. Memang katanya ruang bawah tanah ini tembus pula ke ruang baca, hanya saja aku belum menemukan jalan rahasia itu. Lebih baik kita kembali, dan kita pikirkan cara terbaik untuk menemukan mereka," ucap Reno.
"Maaf Pak! Kalau Pak Reno tidak sanggup, maka saya yang akan cari sendiri! Masalahnya ini adalah yawa manusia, Pak. Bisa saja penundaan yang Pak Reno buat itu akan berakibat fatal buat mereka. Kita harus menemukan mereka secepatnya!" Jeremy mulai berargumen.
"Aku paham itu, Jer! Aku paham. Tetapi dalam prosedur kerja kepolisian pun kita diwajibkan memikirkan keselamatan kita sendiri, jangan sampai kita bertindak bodoh dan abai terhadap diri sendiri. Ingat Jer! Yang kita hadapi ini bukan maling jemuran yang biasa nyolong pakaian dalam di kampung-kampung. Bukan Jer! Yang kita hadapi ini adalah seseorang yang gemar menghabisi nyawa dengan cara sadis. Ia juga punya otak yang licik dn pintar, sehingga mudah menecoh kita. Selain itu, ia juga pintar memainkan drama, berpura-pura baik di depan kita semua, tetapi di dalam hati sangat bernafsu untuk menghabisi. Kita nggak boleh main-main, Jer! Kita perlu taktik menghadapi yang seperti ini. Kita harus pikirkan langkah-langkah untuk berbuat!" papar Reno.
Ia berusaha meyakinkan Jeremy yang sepertinya ingin berbuat nekat, menyusur ruang bawah tanah yang misterius. Padahal, Reno saja harus berpikir berpuluh kali untuk menyusur ruangan bawah tanah yang ternyata begitu luas dan membingungkan ini. Jeremy tampak terdiam sejenak. Ia berusaha memahami perkataan Reno. Bagaimanpun, Reno adalah seorang polisi yang punya banyak pengalaman menangani banyak kasus. Tentunya, ia sudah mempertimbangkan baik dan buruknya, setiap akan melakukan sesuatu. Sedangkan Jeremy adalah warga sipil biasa yang awam dengan hal-hal kriminal seperti ini. Ia hanya bisa mengehal napas.
"Pak Reno harus paham posisi saya juga. Saya begitu menkhawatirkan kondisi Stella yang sampai saat ini tak jelas kabar beritanya. Padahal Nadine sudah ditemukan dalam keadaan selamat. Jujur Pak, itu membuat saya sangat nyesek. Mengapa bukan Stella saja yang ditemukan? Tetapi bukan berarti saya benci Nadine sih Pak. Maksudnya, saya juga ingin Stella ditemukan dalam keadaan selamat," ucap Jeremy dengan suara pelan.
Reno kali ini juga terdiam sambil menghela napas. Ia juga berusaha memahami posisi Jeremy. Ia tidak bisa membayangkan kalau saat ini Silvia berada di posisi Stella, tentu dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Ya, tiba-tiba ia teringat Stella. Ia telah meninggalkan dia selama beberapa hari, dan selama itu pula ia belum melakukan kontak dengan istrinya itu. Namun, ia harus tetap bersikap profesional. Ia tidak boleh lemah dengan hal seperti ini.
Akhirnya setelah berunding sejenak, kedua pria itu sepakat untuk kembali dulu ke atas, karena melihat situasi di dalam ruang bawah tanah cukup menyulitkan untuk ditelusuri kalau hanya mengandalkan dua orang saja. Mereka melangkah kembali, berbalik arah menuju lorong keluar dari ruang bawah tanah. Mereka hanya saling terdiam menyusuri lorong, tenggelam dalam rasa gelisah masing-masing.
Tak lama, mereka tiba di tingkap keluar dari ruang bawah tanah yang menghubungkan dapur. Namun, mereka terhenti sejenak, karena tak biasanya tingkap itu tertutup. Biasanya kalau ada yang turun ke bawah tanah, tingkap akan dibiarkan terbuka. Firasat Reno jadi tidak enak. Buru-buru ia mencoba membuka tingkap itu. Ternyata, firasatnya terbukti benar! Tingkap itu tidak bisa dibuka. Ada yang sengaja menutup tingkap.
"Kita terperangkap! Ada yang menutup tingkap!" ucap Reno.
"Astaga!"
***
Dimas segera melajukan mobil ke arah tenggara kota, sesuai alamat yang diberikan petugas tata usaha sekolah. Ia sedang melacak keberadaan Suci Andriani, gadis yang sosoknya terekam dalam foto lama milik Mariah. Ia cukup heran, kalau Suci Andriani adalah bagian dari The Girl Squad, mengapa dia tidak turut diundang di reuni kastil itu? Namun, kalau dia bukan anggota The Girl Squad, mengapa sosoknya ikut berfoto di antara keenam gadis lain? Dimas ingin menemukan jawaban dari pertanyaan ini, karena ini mungkin ada kaitannya dengan kasus yang sedang ia hadapi.
Mobil Dimas memasuki kawasan padat penduduk yang kondisi jalannya tak begitu lebar. Banyak pemukiman warga di sisi jalan. Rumah-rumah mereka berjejal, berhimpit-himpitan, dan cenderung kumuh. Banyak anak-anak bermain di tepi jalan, bahkan di antara mereka tidak memakai baju. Dimas kemudian berbelok ke sebuah gang yang hanya muat satu mobil. Ia memperlambat laju mobil, karena menurut alamat yang ia telusuri, kediaman Suci Andriani tidak jauh dari tempat ini.
"Gang Berlian nomor 71. Mungkin di depan .... " gumam Dimas sambil memelototi kertas bertuliskan alamat yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Mobil dimas berhenti di sebuah rumah sederhana, yang bercat kusam dan banyak mengelupas, dengan halaman sempit yang ditanami tanaman-tanaman hias, tetapi tidak terawat. Dimas melihat tulisan nomor rumah, sepertinya sudah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Mila.
Ia segera turun dari mobil, memasuki halaman, kemudian mengetuk pintu. Sepertinya suasana begitu sepi, seperti tak berpenghuni. Dimas menunggu beberapa saat, mungkin orang di dalam rumah tidak mendengar ketukannya. Untunglah, tak lama berselang, pintu rumah terbuka. Seorang perempuan berusia lebih dari setengah abad membuka pintu, kemudian menatap Dimas dengan tatapan aneh. Mungkin wanita itu curiga, karena tidak biasanya ia kedatangan tamu yang berpakaian rapi seperti ini.
"Selamat pagi, Ibu. Apakah benar ini rumah Suci Andriani?" tanya Dimas dengan sopan.
__ADS_1
Wanita itu semakin menunjukkan tingkah aneh. Parasnya tiba-tiba berubah sedih, tidak segera menjawab pertanyaan Dimas. Ia terlihat menghela napas.
"Ada perlu apa mencari Suci?" tanya Ibu itu kemudian.
"Mohon maaf Ibu. Saya Dimas, dari kepolisian. Saya ingin bertemu sebentar dengan Suci. Apakah bisa?" tanya Dimas, berusaha sesopan mungkin agar wanita yang dihadapannya itu tidak merasa terintimidasi.
"Hanya bertemu? Mari saya antar!" ucap ibu itu.
Dimas agak terkejut. Ia merasa ibu ini belum terlalu memahami apa yang ia maksud, tetapi ia sudah memutuskan sendiri. Tiba-tiba saja ibu itu keluar dari dalam rumah dan mengenakan kerudungnya. Ia mengunci pintu seraya berkata," Mari, Pak!"
Dimas yang masih bingung, mau tak mau mengikuti saja langkah si ibu. Wanita itu menyusur sebuah jalan kecil di samping rumahnya, yang diapit rumah-rumah lain yang kumuh dan padat. Seorang tetangga yang sedang menjemur baju menyapa ibu itu.
"Mau kemana, Tin?" tanya si tetangga.
"Antar tamu, Teh!" jawab si Ibu.
Tetangga itu sekilas melihat kearah Dimas dengan tatapan takjub, mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Mungkin dalam hidupnya ia jarang melihat seorang pria dengan tampilan rapi seperti ini.Namun, ia tak berkomentar apa-apa. hanya menatap kepergian si ibu dan Dimas.
Setelah berjalan beberapa lama-lama melewati sepetak kebun singkong, mereka tiba di sebuah tempat yang membuat Dimas bergidik. Ibu itu membawa Dimas mengunjungi sebuah areal pekuburan kampung yang terlihat sepi. Dimas tidak tahu mengapa ibu ini membawanya ke tempat seperti ini. Mereka mendatangi sebuah makam yang sedikit tidak terawat, yang lokasinya tepat dibawah pohon kamboja. Dimas merasa kurang nyaman berada di tempat itu. Dilihatnya batu nisan yang mulai berlumut, bertuliskan 'Suci Andriani'. Dimas baru paham, kalau Suci Andriani yang ia cari ini ternyata sudah meninggal.
"Ini makamnya, Suci," ucap ibu itu dengan suara parau.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih Saya tidak tahu kalau Suci sudah meninggal," ucap Dimas perlahan.
Wanita itu mengehentikan ceritanya sejenak. Matanya tampak berkaca-kaca, karena menahan kesedihan yang tiba-tiba meluap di dadanya. Dimas merasa bingung. Tiba-tiba saja ibu ini bercerita, tanpa ia minta. Ia berusaha mendengarkan ibu itu terlebih dahulu, tanpa ada niat untuk menyela.
"Dia tidak penah bahagia. Tidak pernah, Pulang sekolah selalu murung, dan hanya makan sedikit. Saya selalu bertanya ada masalah apa, tetapi dia hanya menggeleng. Saya adalah seorang ibu yang gagal. Saya gagal membuatnya bahagia dan membuatnya terhibur. Saya ingin sekali tahu apa masalah-masalah dia, agar saya juga dapat merasakan kesakitan yang dialaminya."
Ibu ini menghela napas, setelah dapat menguasai emosinya.
"Kemudian rasa penasaran saya memuncak. Saya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan putri saya. Namun, tak ada seorang pun yang tahu mengapa Suci seperti itu, padahal saya sudah bertanya kesana-kemari. Prestasi di sekolah juga tiba-tiba menurun, sampai pada suatu saat saya menemukan sebuah buku harian miliknya yang ketinggalan di meja belajar. Saya nggak pernah lihat buku itu sebelumnya. Saya penasaran, sehingga saya memutuskan untuk membaca isi buku hariannya.
Di sinilah saya tahu apa yang sedang ia rasakan. Saya tahu apa yang sedang membuatnya gelisah. Rupanya ia mengalami tekanan mental yang luar biasa dari teman-temannya. Suci sampai sekarang tidak mengungkap siapa nama teman-temannya yang melakukan tekanan mental itu kepadanya. Ia tidak pernah menuliskannya. Hanya saja, ia merasa sangat sedih ketika ia dihina dan dicap miskin .... "
Kali ini si Ibu tidak kuasa menahan emosinya. Air mata mulai turun membasahi pipi yang mulai keriput. DImas merasa iba. Ia memberikan sapu tangan miliknya, agar si Ibu dapat mengusap air mata.
"Ibu tidak harus bercerita kalau hal itu membuat ibu sedih," ucap Dimas.
"Biarkan saya bercerita! Anda polisi kan? Saya ingin menceritakan ini agar Suci mendapat keadilan. Dia tidak pantas mati. Dia tidak pantas!" Si Ibu mulai emosi.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Suci, Bu? Lebih ibu ikhlaskan saja kematian Suci, itu jauh lebih baik. Saya yakin, kalau Suci masih ada, tentu dia juga tidak ingin ibu seperti ini. Ikhlaskan saja," kata Dimas.
"Saya sebenarnya ikhlas. Tapi bagaimana ya? Saya tidak bisa melupakan begitu saja yang menimpa anak saya. Dia adalah anak yang baik. Tak seharusnya menerima perlakuan seperti ini," ucap ibu itu.
__ADS_1
"Perlakuan seperti apa yang ibu baca di buku harian itu?" tanya Dimas tergoda untuk bertanya.
"Kata kasar, makian, bahkan katanya perlakuan tidak mengenakkan secara fisik. Saya tidak bisa membayangkan, betapa menderitanya Suci. Ia menerima perlakuan ini selama berbulan-bulan. Dia tidak pernah menyebutkan siapa yang melakukan ini, sehingga saya ingin sekali datang ke sekolahnya. Namun, belum sempat saya ke sana, Suci sudah meninggal. Suci hanya menyebutkan ada beberapa teman perempuan yang suka menyakitinya, tetapi ada seorang teman yang selalu membelanya. Suci hanya menuliskan bahwa seorang teman ini adalah sahabat dekatnya, yang selalu melindungi dia ketika yang lain mulai menghina dan menyakiti." terang si Ibu.
"Suci sama sekali tidak menuliskan nama-nama itu, Bu?"
"Tidak sama sekali. Mungkin Suci berpikir, dia tidak ingin merepotkan orang lain, jadi ia menyimpan semua kepedihan ini untuk dirinya sendiri. Bahkan tidak juga ia menuliskan di buku harian," ungkap si Ibu.
"Saya turut perihatin mendengar itu, Bu. Semoga siapa pun yang jahat itu, akan mendapat hukuman yang setimpal. Maafkan saya yang terlalu banyak bertanya Bu. Sungguh, saya tidak bermaksud untuk membuat ibu sedih," ucap Dimas.
"Jadi ada apa sebenarnya Bapak mencari Suci?" tanya ibu itu lagi dengan paras penasaran.
"Saya ... saya hanya ingin tahu karena ... karena saya menemukan foto anak ibu di sebuah buku, dan saya sangat tertarik untuk mengetahui kisah sebenarnya dari putri ibu," jawab Dimas agak gugup.
"Foto mana? Boleh saya lihat?"
Dimas tidak punya pilihan lain. Terpaksa ia mengeluarkan foto yang ia ambil dari file Mariah, ia tunjukkan kepada ibu itu. Melihat Suci dalam foto, paras si Ibu kembali sedih, tetapi kemudian ia tampak gusar dan marah.
"Gadis-gadis ini! Ya aku yakin gadis-gadis ini yang telah melakukan tekanan mental dan fisik kepada Suci! Aku tidak pernah bertemu mereka, tetapi aku yakin, gadis-gadis ini lah yang dimaksud Suci!"
***
__ADS_1