
Mantari mengetuk langit, memancarkan cahaya keemasan ke segala penjuru kota. Suasana masih sedikit lengang, tak banyak warga yang memulai aktivitas. Sebagian bahkan masih melingkar dalam selimut-selimut mereka. Setelah mengurus segala sesuatu, Dimas menyetir mobil dengan sedikit tergesa menuju rumah isolasi. Beberapa anggota polisi ia ajak ikut serta untuk menginvestigasi tempat kejadian perkara. Sebuah mobil ambulans juga mengekor di belakang, lengkap dengan petugas paramedisnya.
Sayangnya, iring-iringan kecil itu juga diikuti oleh tamu tak diundang. Dimas melihat dari kaca spion, sebuah mobil van putih bertuliskan Channel-9, mengikuti paling belakang.
“Astaga, Gilda!” gumamnya.
Sejenak ia ragu untuk melanjutkan perjalanan, sambil berpikir apabila berita pembunuhan ini diliput oleh media. Ia berpikir mungkin saja berita ini akan menimbulkan kehebohan publik dan menciptakan opini-opini di masyarakat. Tempat isolasi itu akan diketahui media, sehingga proses investigasi menjadi tak steril. Bukan tidak mungkin, tempat itu akan dikunjungi banyak orang yang tidak berkepentingan. Menimbang itu semua, terpaksa Dimas menepikan mobil ke sisi jalan. Rupanya, beberapa mobil yang mengikuti juga ikut menepi.
Seorang petugas polisi yang berada di belakang mobilnya turun dan menghampiri.
“Kenapa berhenti? Ada masalah?” tanya polisi itu.
“Ben, sepertinya kita nggak bisa lanjut kalau mobil media itu menguntit kita,” gumam Dimas sembari memberi isyarat mata ke arah mobil van yang ikut berhenti di barisan paling belakang.
Polisi bernama Beni itu menoleh ke arah mobil van putih, mendapati seorang gadis muda turun dari mobil. Ia berjalan mendekat ke arah para polisi itu.
“Mengapa berhenti, Pak? Kami sudah siap meliput berita pagi ini!” ucap Gilda.
“Maaf ya, Gilda. Kami tidak akan melanjutkan perjalanan. Kasus ini sementara tertutup, dan tak ada satu pun media yang mendapat izin untuk meliput. Ini demi kebaikan bersama. Jadi, saya sarankan untuk memutar mobilmu dan kembali ke kota. Nanti kami akan memberi keterangan pers secara resmi dan kalian bebas bertanya-tanya. Tetapi, tidak untuk liputan langsung dari tempat kejadian,” terang Dimas.
“Loh, nggak bisa begitu dong, Pak. Kami para jurnalis berhak mendapat informasi dan fakta yang akan kami siarkan untuk masyarakat. Nggak bisa dong melarang kami untuk meliput. Mohon maaf, saya akan melanjutkan tugas saya sebagai seorang jurnalis profesional!” ucap Gilda.
Dimas mendengkus. Ia malas berdebat dengan wanita muda ini, apalagi di hadapan beberapa polisi lain. Reputasinya sebagai polisi bisa jatuh. Segera ia tarik tangan Gilda, menyingkir dari para polisi lain untuk membicarakan hal lebih pribadi.
“Kamu jangan bikin masalah ya Gilda! Kamu mengerti dong, kasus ini akan berubah fatal kalau kalian meliputnya. Tempat isolasi itu adalah rahasia kepolisian dan nggak seorang pun di luar itu yang boleh meliput. Nanti aku janji akan memberimu berita eksklusif, tetapi tidak di tempat kejadian!” ucap Dimas.
“Tapi ... tapi ini penting, Dimas. Aku harus meliput kejadian langsung dari tempat kejadian! Kamu juga harusnya mengerti aku. Ini sudah jadi tugasku!" paksa Gilda.
“Nggak Gilda! Kalau kamu masih nekat, maka aku nggak segan-segan menyuruh anggota polisi untuk mengamankanmu. Ini berkaitan dengan rahasia kepolisian, jadi kamu nggak berhak untuk meliput seenak jidatmu!”
“Kamu mau tangkap aku? Silakan! Biar masyarakat kota ini semakin tahu kebobrokan kinerja polisi. Menghalang-halangi jurnalis untuk mendapatkan berita akan menjadi berita yang sangat negatif bagi kepolisian. Jadi terserah kamu saja. Bagaimana?” tawar Gilda.
“Gilda! Kamu....!” Dimas merasa gemas.
__ADS_1
Hampir saja ia hilang kesabaran, tetapi diurungkan. Ia kehabisan kata-kata menghadapi wanita ini. Melihat posisinya di atas angin, Gilda tersenyum penuh kemenangan.
“Oke, oke Dimas. Aku nggak mau menempatkanmu dalam masalah. Jangan khawatir, aku akan pergi habis ini. Hanya aja ada satu syaratnya. Aku ingin satu wawancara spesial denganmu di acaraku minggu depan. Dalam acara itu, kamu harus memberikan informasi akurat yang tak pernah diketahui televisi lain. Cukup mudah kan?” tawar Gilda.
“Aku tak peduli, Gilda! Lakukan apa saja yang kamu suka!”
Gilda tersenyum, kemudian dengan langkah penuh percaya diri ia berjalan menuju mobil van putih. Di dalam mobil, Wandi sudah menunggu di belakang kemudi.
“Bagaimana Mbak?” tanya Wandi.
“Kita balik aja, Wan!”
“Kok balik? Bukannya kita mau meliput berita yang seru?”
“Jangan khawatir, Wan. Aku mendapat gantinya yang sepadan. Penyelidikan ini tertutup dan kita nggak diperbolehkan untuk meliput. Sudah, kita kembali saja!” tandas Gilda.
***
Pagi juga menyapa rumah isolasi yang lengang. Tak ada yang sadar dengan kejadian buruk yang terjadi. Lena dan Adinda menunggu sarapan pagi dengan duduk-duduk di beranda depan sembari menghirup udara pagi yang sejuk dan bersih.
“Aku lewat saja di depan kamarnya, tetapi sepertinya masih terkunci. Kuketuk juga nggak ada yang menyahut. Mungkin masih tidur,” jawab Lena.
“Ini sudah hampir jam setengah delapan masa masih tidur?” Adinda merasa ragu.
“Tak taulah! Lagian aku juga nggak ngurusi jadwal tidurnya Miranti kok. Ngomong-omong, kamu mulai bosan nggak di sini? Kalau aku jujur, iya! Baru hari pertama di rumah ini, kok sepi banget? Kalau di rumah, pagi-pagi gini ada aja yang lewat. Tukang bubur, tukang cilok, apalah apalah ....”
Adinda hanya menghela napas. Sayup-sayup dilihatnya di kejauhan, serombongan kecil orang-orang yang berjalan agak tergesa masuk ke dalam halaman. Ia mencolek lengan Lena.
“Len ... siapa mereka? Kok ada beberapa polisi dan paramedis? Ada apa ya?” tanya Adinda penasaran.
“Nggak tau juga sih! Mungkin teman-temannya Pak Reno kali!” jawab Lena.
“Iya aku tahu. Tapi kok ada paramedisnya segala. Memangnya ada yang sakit?”
__ADS_1
“Kan kaki Miranti sakit kemarin. Kali aja Miranti harus dirawat atau harus diobati lebih serius gitu. Nggak taulah!”
Mendadak perasaan Adinda tidak tenang. Dimas dan rombongan yang baru datang itu langsung masuk begitu saja, tanpa mempedulikan keberadaan Lena dan Adinda yang ada di teras. Paras-paras mereka tampak serius, seperti ada sesuatu yang terjadi. Adinda menatap penasaran, kemudian menatap Lena.
“Kamu lihat itu nggak sih, Len? Mereka kelhatan serius banget. Jangan-jangan ada yang serius terjadi,” ucap Adinda dengan cemas.
“Ah udahlah! Aku lagi males mikir!”
Adinda merasa gusar dengan Lena yang sok-sok tak acuh. Ia meninggalkan gadis itu sendirian, kemudian masuk ke dalam rumah. Ia melihat rombongan itu sedang berbicara dengan Reno dengan sedikit berbisik-bisik. Adinda merasa tidak enak untuk mencuri dengar. Ia hanya melirik dan mencuri-curi pandang, sambil berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi. Lena bilang, mungkin paramedis itu datang untuk mengobati kaki Miranti. Namun, Adinda meragukan itu. Seperti ada sesuatu yang lebih serius.
“Woe!” Tiba-tiba Ferdy mengagetkan dari belakang.
“Eh, kamu ngagetin. Kamu lihat mereka? Ada apa sih? Kok kelihatannya aneh banget,” bisik Adinda.
Ferdy melihat sekilas ke arah rombongan polisi dan paramedis itu, tetapi ia hanya menggeleng.
“Aku nggak tau apa-apa sih. Emang ada apa?” tanya Ferdy penasaran.
“Kayaknya sesuatu terjadi pada Miranti deh!”
“Kan memang kaki Miranti sakit, Din.”
“Aku rasa bukan hanya sekedar itu. Firasatku mengatakan ada yang nggak beres terjadi sama dia. Sejak pagi aku nggak liat Miranti. Aku harap dia baik-baik saja,” gumam Adinda.
“Iya, semoga dia baik-baik saja,” tambah Ferdy.
Kedatangan beberapa orang di rumah isolasi itu menarik perhatian para penghuni lain. Semua terlihat tergesa-gesa. Tak lama, Adinda melihat dua orang paramedis mengangkat sebuah tandu dengan sosok yang ditutup kain putih keluar dari kamar Miranti.
“Astaga! Apakah itu Miranti?” gumam Adinda.
“Miranti? Astaga!” Ferdy yang berdiri di samping Adinda juga tampak terkejut.
Tak lama para penghuni lain juga mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan tadi malam. Jasad Miranti diusung keluar menuju ambulans. Raut panik menyelimuti seketika. Ancaman pembunuhan itu bukan isapan jempol semata. Kini satu korban telah jatuh. Mereka tak mau jadi yang berikutnya.
__ADS_1
***