
Mariah Alray merasa tubuhnya terguncang. Rupanya Dokter Dwi membangunkan dari lelap tidurnya. Rasa penat yang mendera, memicu rasa kantuk yang tak tertahankan, sehingga ia tanpa sadar ia tertidur. Ia masih mengumpulkan segenap kesadaran yang masih berkelana. Dilihatnya dr. Dwi menatap cemas.
“Kita nggak boleh tertidur untuk saat ini. Harus waspada!” bisik dr. Dwi.
“Maaf. Aku sangat lelah, sehingga nggak sengaja tertidur. Kupikir si pembunuh itu tidak kembali ke tempat ini atau bagaimana? Mengapa dia belum ke sini?” tanya Mariah.
“Hmm. Entahlah. Kupikir ada sesuatu yang terjadi di atas sana. Mungkin ada seseorang yang terbunuh atau bagaimana. Perasaanku tidak enak.” Ucap dr. Dwi.
“Apa yang harus kita lakukan? Aku sudah putus asa. Sepertinya aku akan mati di tempat ini. Aku juga mengkhawatirkan keselamatan suamiku. Apakah dia baik-baik saja di sana? Ini adalah mimpi buruk yang nggak pernah kubayangkan. Sama sekali nggak menduga kalau paman mempunyai sisi lain yang gelap seperti ini,” gumam Mariah sambil melirik ke arah wanita paruh baya yang terbaring di atas tempat tidur.
“Ya, ini memang mengerikan, Mariah. Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Lihat! Perempuan tua itu juga tak kalah sadis dengan anaknya. Ia sangat menginginkan bola matamu. Sebenaranya aku mempunyai anastesi. Bisa saja aku menyuntikkan cairan itu ke tubuhnya, dan kita habisi saja dia. Tetapi itu bukan solusi. Dia sama sekali tidak berdaya untuk saat ini. Lebih baik kita fokus untuk menumbangkan si psikopat itu,” ujar dr. Dwi.
“Dokter, apakah kamu sudah makan? Perutku lapar sekali...” bisik Mariah.
“Aku nyaris tidak berpikir makanan di saat seperti ini, Mariah. Maaf.”
“Tak apa. Aku akan makan buah apel yang ada di meja itu saja.”
Mariah bangkit, kemudian beranjak menuju meja kecil yang berada di sisi ranjang perempuan yang bernama Anjani itu. Ada beberapa buah apel di dalam piring, yang memang disediakan untuk Anjani. Rasa lapar yang dialami Mariah, memaksanya untuk mengambil buah apel tersebut.
Ia hendak mengambil buah apel tersebut, ketika terdengar suara menegur.
“Jangan kau ambil apel itu!”
Mariah menghentikan apa yang diperbuatnya. Ia memalingkan muka ke arah Anjani yang terlihat menatap ke arahnya, walau ia sadar bahwa saat ini perempuan itu tak bisa melihat. Mariah hanya terdiam, tanpa sepatah kata pun.
“Kamu pikir aku tidak bisa melihat apa yang sedang kamu lakukan. Apel ditukar dengan bola mata. Apa itu cukup adil?” kata Anjani.
Untuk sesaat, Mariah bingung apa yang hendak ia lakukan. Dokter Dwi mengisyaratkan untuk tetap diam, dengan meletakkan telunjuk di depan mulut. Mariah mengurungkan niat, mundur perlahan menjauhi Anjani.
“Aku pikir dia tidur, ternyata dia bisa melihat apa yang kulakukan,” bisik Mariah pada dr. Dwi.
__ADS_1
“Iya, matanya memang terpejam tetapi otaknya bekerja dengan cukup bagus. Ia sama gilanya dengan psikopat itu. Kita harus berhati-hati. Jangan sampai apa yang kita rencanakan diketahui olehnya.”
“Bagaimana caranya?”
“Kita bicara dengan bahasa isyarat saja. Apakah kau bisa?”
Mariah mengangguk, sambil menatap waspada ke arah Anjani. Perempuan itu memang terlihat tak berdaya, tetapi siapa sangka kalau dia memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Mariah. Ia berharap agar perempuan tua itu lengah sekejap, sehingga apa pun yang ia lakukan tak terlihat.
***
Ben terbangun ketika pagi mulai menyapa kastil itu. Ia merasa bosan berada dalam kamar sepi sendirian. Tempat tidur tua yang berada di dalam kamar terdengar berderit saat dia bergerak. Sebenarnya ia ingin segera pergi dari kastil ini pula. Suasana di kastil juga terlihat seram. Ia bangkit, menuju arah jendela. Sepi di luar sana. Ia beranjak untuk membuka lemari pakaian di dalam kamar milik Yoga tersebut. Ia masih menemukan tumpukan pakaian yang disusun tak begitu rapi.
Rasa ingin tahunya kembali timbul. Ia membuka laci lemari, menemukan beberapa bugkus rokok dan sebotol minuman beralkohol. Selain itu, ada pula selembar foto gadis cantik di sana, dengan tulisan RANIA di belakang foto. Ben mengernyitkan dahi.
“Siapa orang-orang ini?” gumamnya.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Ben terkejut, buru-buru menutup laci lemari dan bersikap canggung melihat Helen yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, sambil membawa nampan berisi makanan.
“Maaf, Bu. Aku hanya ... hanya melihat-lihat saja,” ucap Ben takut-takut.
“Kuingatkan dirimu, anak muda! Jangan sampai mencampuri urusan yang bukan urusanmu di sini. Kalau kau membutuhkan tempat untuk tidur, aku dapat menyediakan untukmu, dan kau dapat ekstra makan gratis pula! Jadi jangan coba-coba berbuat bodoh!” Helen mencoba memperingatkan.
“Maafkan aku, Bu. Aku paham itu. Tak akan kulakukan lagi,” ucap Ben.
“Jadilah anak pintar! Jangan seperti yang lain. Kamu tahu, seseorang terluka tadi malam gara-gara kebodohannya. Sekarang makanlah! Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu!”
Helen meletakkan nampan berisi makanan yang ia bawa di atas meja yang berada di dalam kamar. Mata Helen menatap tajam ke arah Ben yang terlihat cemas. Bagi Ben, Tatapan itu terlihat mengancam dan penuh intimidasi sehingga Ben bingung, hendak berbuat apa.
“Kurasa aku akan segera kembali ke kota setelah teman-temanku datang,” ucap Ben.
“Teman-temanmu yang sedang berkemah dekat air terjun?” tanya Helen penasaran.
__ADS_1
“Iya. Harusnya hari ini mereka kembali ke kota,” ucap Ben.
Helen tersenyum kecil, penuh arti. Ben merasa tidak nyaman dengan senyuman itu. Ia membuang muka ke arah jendela.
“Mereka akan sedikit terlambat ke kota,” ucap Helen.
“Oh ya? Mengapa? Kami sudah merencanakan hari ini akan kembali,” tanya Ben sedikit bingung.
“Pagi-pagi tadi aku ke halaman depan, dan mendapati sesuatu terjadi pada mobil kalian. Entah kenapa ban mobil itu kempes keempat-empatnya. Harus ada mekanik dari kota yang dipanggil kesini untuk memperbaikinya. Itu membutuhkan waktu, mengingat jarak kota agak jauh dan kita tidak punya alat komunikasi,” terang Helen.
“Kempes? Bagaimana mungkin? Sebelumnya mobil itu baik-baik saja!” Ben mulai gusar.
“Entahlah. Saranku, tetaplah bertahan di kastil ini sambil menunggu teman-temanmu. Kalau mulai bosan, kamu boleh jalan-jalan di sekitar sini. Tapi ingat, jangan terlalu jauh karena kamu nggak mengenal dengan baik wilayah ini,” ucap Helen.
“Ini benar-benar sial!” ketus Ben.
“Sabarlah dulu. Semua akan baik-baik saja apabila kamu bersikap tenang dan nggak panik. Kadang rasa panik bisa mencelakakanmu kapan saja. Nikmati saja apa yang ada di kastil ini!”
Ben terdiam. Helen kembali tersenyum aneh. Ben makin merasa ada yang ganjil di kastil ini. Tidak hanya bangunannya yang menyeramkan, tetapi juga penghuninya yang aneh. Masih teringat penemuan kerangka manusia yang ia temukan dalam pondok di tengah hutan. Ia berpikir, bercerita kepada Helen tentu bukan pilihan tepat. Ia membiarkan wanita itu pergi keluar.
“Oya, satu lagi!” tiba-tiba Helen masuk lagi ke dalam kamar.
“Iya Bu ....” ucap Ben.
“Jangan panggil aku Bu. Panggil aku Helen saja. Dan jangan lupa untuk tetap selamat!” ucap Helen cepat.
“Tetap selamat? Apa maksudnya?” tanya Ben heran.
Helen tak menjawab. Perempuan itu buru-buru menutup pintu kamar, dan berlalu dari hadapan Ben.
“Tetap selamat?” Perkataan Helen masih terngiang di telinganya.
__ADS_1
***