
Widya merasa gelisah di kamarnya. Ia sungguh tak ingin menampakkan diri hari itu, karena masih teringat pesan ancaman misterius yang ia terima kemarin. Ia hanya tiduran, sambil menatap langit-langit kamar. Sebelum berangkat ia memang menceritakan kegelisahan yang ia alami pada rekannya, yakni Guntur dan Riky. Namun kedua rekannya itu hanya menganggap enteng. Bahkan, Widya dinaggap terlalu berlebihan. Kini, kegelisahan itu terasa semakin mendalam. Satu-persatu, ia mengingat beberapa orang disekelilingnya yang telah tewas. atau mengalami percobaan pembunuhan. Sungguh, Widya tak mau berakhir seperti mereka.
Tok ... tok ...tok!
Pintu kamarnya diketuk perlahan. Sebenarnya ia tak mau bertemu siapa-siapa, karena di saat seperti ini penting untuk tidak percaya dengan siapa pun. Bahkan orang terdekat, bisa menjadi musuh yang tak terlihat. Suara ketukan itu membuatnya waspada.
"Siapa?" tanya Widya.
"Ini aku Wid, Laura!" sahut suara perempuan di luar kamar.
Widya agak ragu, apakah harus membuka kamar atau tidak. Ia berpikir, kalau Laura mungkin aman saja untuk masuk kamar, karena rasanya hampir tidak mungin kalau ia akan berbuat buruk kepadanya. sikap Laura selama ini sangat manis kepadanya. Ia memutuskan untuk membuka pintu.
"Aku agak nggak enak badan, Mbak!" kata Widya.
"Oh, kamu sakit? Lapor saja sama Pak Reno ya. Siapa tahu ada obat yang bisa kamu minum!" saran Laura.
"Oh, jangan!" tolak Widya cepat.
"Kenapa Wid?"
"Nggak ... nggak. Palingan aku cape aja kok. Ntar juga baikan. Mending nggak usah bilang ke Pak Reno," ucap Widya.
"Terserah kamu deh. Mau ikut jalan-jalan nggak. Kebetulan kami mau jalan-jalan rame-rame di sekita sini aja sih, nggak jauh-jauh. Kalau rame-rame kan dibolehin saja. Siapa tahu, suasana sekitar sini akan membuat pikiranmu jadi fresh. Gimana?" tanya Laura.
Widya berpikir sejenak, mempertimbangkan baik-buruknya apabila ia ikut jalan-jalan bersama mereka. Sepertinya jalan-jalan jauh lebih aman daripada menyendiri di dalam kamar. Lagipula, sepertinya tidak mungkin si pembunuh akan berbuat nekat saat jalan-jalan, karena mereka berjalan bersama, bukan sendiri-sendiri.
"Oke, tunggu sebentar ya. Aku ganti baju dulu," ucap Widya.
"Nggak usah ganti. Itu saja. Kan kita bukan lagi jalan ke mal, Wid. Di sekitar sini aja kok. Mumpung belum terlalu siang. Yang lain udah nungguin di bawah, ntar kelamaan kalau nunggu kamu ganti baju Yuk langsung saja!""
Widya mengangguk, menuruti saran Laura. Mereka berdua keluar kamar, hendak menuruni tangga, tetapi baru dua anak tangga ,mereka mendengar suara teriakan dari arah dapur.
"Tolong! Tolong!"
Laura dan Widya saling berpandangan, seolah saling bertanya ada kejadian apa gerangan di dapur. Mereka segera turun untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sesampai di dapur sudah ada beberapa penghuni yang ada di sana, yaitu Guntur dan Riky. Selain itu mereka juga melihat Reno dan Ammar yang sudah ada di sana terlebih dahulu. Mereka tampak menenangkan Bu Mariyati yang kelihatan panik.
"Tenang Bu! Tenang! Ada apa ini?" tanya Reno.
"Ada penyusup, Pak! Ada penyusup! Cepat tangkap orang itu! Cepat Pak!" ucap Bu Mariyati dengan cepat.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Bu. Santai saja. Siapa penyusupnya? Apa Ibu tahu?" Ammar bertanya dengan nada lebih lunak.
"Iya, Pak. Penyusup itu tadi memukul kepala saya dengan wajan, sehingga tak sadarkan diri. Penyusup itu Gilda Anwar, Pak. Ia ada di dalam rumah ini. Aku yakin itu. Dia masih ada di dalam," ucap Bu Mariyati.
"Astaga! Nekat sekali itu perempuan. Kita harus beri dia pelajaran agar jera!" ucap Reno.
"Gilda? Apa dia harus berbuat senekat itu untuk mencari berita?" tanya Ammar.
Selama ini, Ammar tak pernah bersentuhan langsung dengan Gilda. Ia hanya melihat Gilda sebagai jurnalis di Channel-9. Saat kasus kastil tua, tidak ada keberadaan Gilda, karena lokasinya yang agak jauh dari kota.
"Dia biasa berbuat seperti itu, dan selalu bikin repot kami. Aku akan memberi pelajaran agar dia jera. Aku mempunyai rencana tersendiri untuknya," kata Reno.
"Tapi di mana dia sekarang?"
"Aku yakin, ntar lagi pasti kita tahu di mana dia. Toh rumah ini terisolasi, nggak mungkin juga dia bakalan kabur jauh-jauh," ucap Reno.
Tiba-tiba dari arah pintu dapur, datang pula Rianti. Rupanya tadi ia sudah menunggu di luar karena berencana untuk jalan-jalan. Namun, karena yang lain tidak kunjung datang, ia akhirnya menyusul ke dapur. Tak lama, Henry juga muncul dari ruangan dalam. Paras Henry tampak aneh.
"Pak, sepertinya penyusup itu ada di kamarku," kata Henry pelan.
"Oya, bagaimana bisa tahu?" tanya Reno.
"Tadi saya masuk kamar, saya mencium aroma parfum wanita yang asing di hidung. Aku langsung berpikir bahwa ada orang lain di kamarku. Ada suara aneh di kolong ranjang, tetapi aku tak menengok. Jadi aku segera keluar dan langsung kukunci kamarnya. Pasti si penyusup itu lagi kebingungan di dalam kamar, karena kukunci dari luar," kata Henry.
"Jadi gimana nih? Jadi jalan-jalan nggak?" tanya Rianti dengan nada kecewa.
"Kita tunda sore. kalian tak boleh keluar tanpa pengawasan!" perintah Reno.
***
Dimas saat ini sedang konsentrasi dalam menggali informasi seputar fakta terbaru tentang pembunuhan Daniel Prawira, yang saling berkaitan dengan pembunuhan lain. Ia masih mengamati foto lama Daniel Prawira itu, lalu ia berpikir harus memberitahu Reno tentang masalah ini agar meningkatkan kewaspadaan, karena kamar yang ada di dalam foto ini mengingatkan pada seseorang.
Selepas makan siang, ia berencana mengunjungi rumah isolasi. Paling tidak, Reno harus tahu tentang fakta baru ini. Mungkin fakta ini tak berhubungan langsung dengan kasus yang sedang terjadi, tetapi layak pula dipertimbangkan. Ia hanya berpikir, mengapa Daniel Prawira difoto dalam keadan tanpa busana di kamar orang lain, tanpa ada maksud tertentu?
Sebelum ia ke rumah isolasi, ia menyempatkan mengunjungi rumah sakit untuk melihat kondisi Niken dan Rani. Kedua wanita itu mengalami dehidrasi, sehingga harus diinfus dan menjalani rawat inap. Apalagi Rani, ia masih terlihat syok dengan kejadian yang telah terjadi. Kematian yang dialami sang kakak, tepat di hadapan matanya, saat sang pembunuh menghabisi sang kakak. ia masih belum bisa menerima hal itu.
"Saat ini ia masih belum bisa diajak berkomunikasi. Mungkin dia membutuhkan bantaun terapis," terang dr. Dwi yang menangani langsung.
"Kuharap ia segera pulih kembali Dokter. Lalu bagaimana dengan Niken? Apakah dia semakin membaik?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Ya, dia sudah lebih stabil. Walau sudah pulih, kusarankan untuk tidak bicara dengannya dulu, apalagi kalau itu menyangkut kasus yang sedang kau tangani karena mungkin hal itu akan membangkitkan trauma. Jadi lebih baik menunggu sampai dia benar-benar sepenuhnya sadar," saran dr. Dwi.
"Oh ya, Dokter. Aku mengerti. Aku hanya ingin memastikan saja bahwa semua berjalan dengan baik. Bagaimana pula dengan kondisi Faishal?" Dimas bertanya lagi.
"Faishal perkembangannya bagus. Ia sudah mulai pulih, tetapi ia terus menanyakan Melani. Kami belum memberitahu keadaan sebenarnya, sehingga kami menjauhkan dia dari jangkauan TV atau apa pun yang memuat berita tentang Melani," kata dr. Dwi.
"Lebih baik kita inforamsikan yang sebenarnya kalau dia sudah keluar dari rumah sakit," sahut Dimas.
Dr. Dwi mengangguk menyetujui ucapan Dimas. Setelah memastikan semua beres, ia melangkah keluar dari rumah sakit besar itu. Ia melangkah menyusuri koridor yang tak begitu ramai, hingga terdengar ponselnya berbunyi. Ternyata panggilan dari Reno.
"Iya, Ren. Baru saja aku mau ke sana, karena ada informasi yang harus kusampaikan kepadamu," kata Dimas.
"Oh, kebetulan sekali. Tapi, sebaiknya kamu ke sini agak nanti atau besok juga boleh. Saat ini aku sudah bersama Ammar Marutami. Ammar bilang, kita harus menghadirkan Ollan untuk mengetahui reaksi si pembunuh secara langsung. Sebenarnya aku juga sudah mengantongi beberapa nama, tetapi harus lebih yakin lagi dan memerlukan bukti tambahan. Jadi nanti kalau ke sini, kamu jemput Ollan di Kampung Hitam, dan bawa dia ke sini!"
"Hmm, ide bagus. Nanti aku akan jemput Ollan!"
"Ada berita buruk juga sebenarnya .... "
"Apa itu?"
"Gilda, mantan kekasihmu berhasil menyusup ke rumah isolasi dan membuat kekacauan di sini. Sekarang posisi masih terkunci di kamar Henry. Menurutmu, harus kuapain dia agar jera?" tanya Reno.
"Hmm. Gilda? Aku ... aku bingung bagaimana cara menangani gadis sok tahu itu," ucap Dimas.
"Aku sudah ada rencana buat dia," kata Reno.
"Bagaimana rencanamu?"
"Nanti keceritakan kepadamu saat kamu di sini!"
***
__ADS_1