
Dimas dan Ammar tak mau menunggu waktu lama. Setelah menerima petunjuk baru dari kepolisian, mereka segera melangkah turun ke ruang bawah tanah. Mereka sengaja melalui tingkap yang berada di dekat dapur, karena mereka mereka lebih menguasai lorong-lorong yang ada di situ, daripada kalau lewat jalur rahasia di ruang baca. Sebelum berangkat, Dimas tetap menyiapkan senjata untuk berjaga-jaga, walaupun Ammar mengatakan itu tak perlu. karena toh pelaku sedang berada di ruang makan, jadi keadaan bawah tanah dalam kondisi aman.
Mereka mulai turun dengan waspada. Seperti biasa, lorong bawah tanah terasa gelap, pengap, dan beraura mistis. Mereka melangkah dengan hati-hati. Walau mereka yakin kondisi aman, tetapi mereka perlu untuk tetap waspada. Saat ini misi utama mereka adalah menemukan Jeremy karena Juned bilang mungkin Jeremy dalam keadaan terluka, karena Juned mendengar teriakan Jeremy yang melengking kesakitan.
"Ruang bawah tanah ini selalu membuat degup jantungku berdetak lebih kencang," gumam Ammar.
"Ya, sebenarnya sama saja. Karena kita pernah merasakan pengalaman buruk di tempat ini. Sampai sekarang pun aku merasa seperti dihantui arwah Tiara yang tidak tenang sedang bergentayangan di sekitar sini," timpal Dimas.
Mereka terus berjalan menyusur lorong, tetapi belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Jeremy. Namun, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki di lorong lain yang letaknya seperti tak jauh dari tempat mereka. Ammar dan Dimas saling berpandangan. Langkah kaki siapa gerangan di dalam ruang bawah tanah ini? Mereka mulai meningkatkan kewaspadaan. Bahkan, Dimas mulai mengambil pistolnya untuk bersiaga.
"Suara itu berasal dari lorong sebelah. Perlu kita periksa sepertinya," bisik Dimas.
Ammar mengangguk setuju. Di depan mereka ada persimpangan lorong. Mereka mengambil lorong sebelah kanan, karena suara langkah itu sepertinya memang berasa dari sebelah kanan. Mereka begitu berhati-hati, agar tidak menimbulkan suara. Lorong begitu gelap, sehingga Ammar harus menggunakan senter untuk menerangi. Lorong sebelah kanan terhubung langsung dengan pusat instalasi listrik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kastil itu. Di sana ada sebuah box besar berisi sekering yang berperan penting dalam memasok kebutuhan listrik di kastil. Perasaan Dimas mendadak tidak enak, mengapa ada suara langkah kaki di tempat penting ini?
Tiba-tiba, langkah Dimas terhenti. Dalam gelapnya lorong, ia melihat sesuatu yang bergerak mencurigakan di dekat kotak sekering. Ia tidak terlalu bisa melihat dengan jelas, sehingga berbisik kepada Ammar.
"Coba, Bang, arahkan senter ke arah kotak sekering di depan sana!" perintah Dimas.
Ammar dengan sigap mengarahkan senter ke arah depan. Mereka hanya melihat sekelebat bayangan yang tiba-tiba menghilang di kegelapan. Tentu saja hal itu membuat Dimas makin penasaran. Ia berlari cepat ke arah bayangan hitam itu, sementara Ammar juga segera menyusul. Sayangnya, mereka hanya mendapati lorong yang hening dan sunyi. Bayangan hitam itu cepat sekali menghilang ditelan kegelapan.
"Kamu lihat kan Bang?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Iya, aku juga lihat ada bayangan hitam yang bergerak cepat. Tapi siapa? Bukankah tersangka kita sedang berada di atas? Jangan-jangan dia dia berhasil lolos dari pengawasan?" terka Ammar.
Dimas segera mengecek kotak yang berisi instalasi listrik yang ada di dekatnya. Sementara, Ammar menyorotkan senter untuk mengecek sirkuit listrik yang ada. Paras Dimas berubah cemas seketika, karena ia menemukan sesuatu yang tidak beres dengan sirkuit listrik di depannya.
"Ada yang sengaja merusaknya. Pantas saja tadi lampu di ruang makan redup nyala redup nyala. Dan sekarang malah sudah terputus sama sekali. Kurasa di atas sedang mati lampu, mungkin malam ini kita akan berada di kastil dalam keadaan gelap. Ada seseorang yang sengaja melakukan ini!" ucap Dimas.
"Kalau begitu kita harus menemukan Jeremy dan Mariah segera!" ucap Ammar tak sabar.
Yang ada di pikiran Ammar saat ini hanyalah keselamatan Mariah. Bagaimana tidak? Ia tahu istrinya itu pasti mengalami trauma parah, karena ini adalah kali kedua ia menghilang, dan sampai saat ini belum diketahui nasibnya. ia santa mengkhawatirkan nasib Mariah.
"Tenang, Bang. Kita nggak boleh gegabah juga. Saat ini kondisi tengah genting. Reno sedang berada di atas sendirian, karena Juned sedang menjaga Niken. Kita memang harus segera menemukan Jeremy dan Mariah, tetapi sampai saat ini pun kita nggak tahu kemana mereka berada. Belum lagi kita harus memikirkan sirkuit listrik ini agar kembali menyala. Sirkuit ini harus diperbaiki agar listrik kembali menyala, karena kegelapan akan sangat berbahaya. Segala sesuatu bisa saja terjadi di atas sana! Kita harus berpikir tentang skala prioritas. Kita akan mendahulukan hal penting terlebih dahulu. Yang jelas, lampu kastil harus menyala, karena akan sangat berbahaya apabila kastil dalam keadaan gelap!" terang Dimas.
"Aku bisa memperbaiki sirkuit ini, tapi memang butuh waktu. Tidak bisa dalam waktu singkat," kata Reno.
"Baik, aku akan coba. Nanti kamu ambilkan pula lampu penerangan agar aku bisa melihat dengan lebih jelas, karena aku tak bisa mengandalkan senter saja di sini!"
Dimas mengangguk. Tanpa membuang waktu, Dimas segera kembali ke atas untuk mengambil peralatan dan lampu penerangan yang dibutuhkan Ammar untuk memperbaiki instalasi listrik yang memang sengaja dirusak oleh seseorang secara misterius.
Sementara itu, suasana di ruang makan tampak tegang karena lampu yang menerangi ruangan itu tiba-tiba mati. Gelap langsung menyelimuti ruang makan. Reno segera bertindak cepat, ia mengambil ponsel dan menyalakan senter dari ponselnya.
"Jangan ada yang berpindah tempat!" perintah Reno.
__ADS_1
Reno mengarahkan cahaya senter ke masing-masing penghuni kastil. Semua tampak tegang. tak ada yang berpindah tempat. Reno heran, mengapa sistem penerangan kastil tiba-tiba mati. Ia menduga ada sabotase listrik terkait ini. Namun siapa pelakunya? Bukankah semua penghuni saat ini tengah berada di ruang makan bersamanya?
"Apakah tidak sebaiknya kita mengambil lilin atau apa?" usul Edwin.
"Tidak! Tidak ada yang boleh pergi dari sini untuk saat ini. Kita tidak tahu penyebab matinya listrik di kastil ini, Bisa jadi ini sabotase. Sangat berbahaya kalau kalian sendirian. Kita harus tetap bersama-sama," ucap Reno.
"Tapi sampai kapan kita begini terus? Apa kita akan duduk dalam gelap seperti ini terus? Apakah kita tidak sebaiknya kita pindah ruangan saja? Ruangan ini kan memang tidak ada jendelanya. Bagaimana kalau kita pindah ke ruang baca saja?" usul Lily.
Reno terdiam. Usul Lily memang cukup bagus. Mereka tak bisa berdiam diri dalam gelap seperti ini, sementara ada ruang lain yang lebih terang. Ia mengeluarkan pistol dari balik bajunya untuk besiaga. Sepertinya tak ada jalan lain selain pindah ruangan. Ia akan berjalan di belakang para penghuni itu untuk menjaga segala kemungkinan.
"Baik. Lily benar. Kita tidak bisa berada di ruang gelap ini terus-menerus. Sekarang kalian harus patuhi petunjukku. Masing-masing dari kalian silakan berjalan ke arah ruang baca. Aku akan berada di belakang kalian dan menjaga segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Ingat! Jangan sampai ada yang berbuat bodoh, karena aku tak segan-segan meledakkan kepala kalian apabila kalian kabur atau berbuat nekat!" ancam Reno.
Mereka semua mengangguk tanda mengerti. Setelah diberi aba-aba oleh Reno. mereka mulai berjalan perlahan menuju ruang baca. Langkah mereka sangat hati-hati karena kondisi gelap. Reno menyorotkan lampu senter dari ponselnya ke koridor panjang yang gelap, sementara mereka berjalan. Pistolnya tetap dalam keadaan siaga. Di sisi kanan-kiri koridor berdiri patung-patung manusia dalam berbagai gaya, sehingga menambah suasana bertambah seram.
"Sial!"
Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Reno mengumpat karena ia baru menyadari kalau batrei ponselnya habis! Lampu dari senter ponselnya mati dan suasana mendadak gelap!
***
__ADS_1