
Ben mendengr suara sorak-sorai, berpadu dengan suara gemercik air yang jatuh di bebatuan, dibarengi suara kecipak orang bermain air. Rombongan kecil itu tengah menikmati asyiknya bercengkrama di bawah aliran air yang jatuh dari tebing. Sesekali terdengar teriakan para gadis yang digoda oleh para pria yang ada di sana.
Ben menghela napas, menyingkir dari keributan itu. Ia hendak menelisik hutan yang berada di sekitar air terjun. Sejuknya air sama sekali tak menarik perhatian. Ia lebih tertarik dengan rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sisi anak sungai. Ia masuk ke dalam hutan yang agak gelap. Sinar matahari hanya sedikit yang bisa menerpa lantai hutan , karena daun-daun yang begitu rapat.
Semakin masuk ke dalam, pepohonan makin rapat. Semak belukar makin lebat. Ben merasa tiba-tiba suasana sepi merayap. Kicau burung seolah sirna, demikian suara pekik riang teman-temannya juga tak terdengar lagi. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, hanya deret pohon yang seolah menertawai. Ben mulai khawatir, tak bisa menemukan jalan kembali ke air terjun. Ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya di depan sana!
***
“Aldo, tunggu! Jangan tinggalin aku!” teriak Elina sambil tergesa menyusul langkah Aldo yang begitu gesit menyusur jalan setapak dalam hutan.
“Cepatlah, Sayang! Sebentar lagi siang. Hutan ini membuatku merasa lebih aman daripada aku harus berdiam dalam kastil itu,” ucap Aldo.
“Kakiku lelah. Banyak nyamuk menggigitku. Aku nggak biasa berjalan di hutan seperti ini. Berhentilah sejenak, aku mau istirahat!” pinta Elina.
“Kalau kita istirahat, maka hilang kesempatan kita untuk melihat air terjun,” ujar Aldo.
“Aldo! Tunggu! Kamu yakin langkah kita sudah benar?”
Aldo menghentikan langkah, memandang sekeliling. Belum ada tanda-tanda air terjun sudah dekat. Hanya deret pepohonan, tetapi tidak terlalu rapat. Mereka masih bisa merasakan hangatnya sinar mentari yang menjilat kulit.
“Apa kamu mendengar suara aliran air?” tanya Aldo.
“Kamu bercanda? Yang kudengar dari tadi hanya suara kicauan burung, desir angin dan gemerisik dedaunan. Tak ada aliran air. Mungkin air terjun itu hanya khayalan saja!” desah Elina.
“Kurasa bukan khayalan. Aku mencium sesuatu yang teramat indah di sekitar sini. Cocok untuk objek pemotretan. Kamu bisa jual foto kamu di majalah wisata,” ucap Aldo.
“Aku sudah ngga peduli sama sekali dengan objek foto. Batrei kameraku sudah menipis. Kupikir sebaiknya aku pulang saja!” kata Elina.
“Pulang? Kita sudah separuh jalan lebih dan kamu sekarang bicara tentang pulang? Nggak, Elin! Kita harus menemukan air terjun itu!” Aldo kembali melangkah menyusuri jalan setapak.
“Kamu selalu keras kepala! Aku nggak tertarik lagi dengan air terjun itu! Aku mau pulang sendiri!” Elina tak mau kalah. Ia membalikkan langkah, menjauhi Aldo dengan langkah tergesa.
“Elina, kamu jangan bodoh!” teriak Aldo.
“Aku nggak bodoh, Aldo! Aku hanya lelah, ingin tidur dalam kamar sepanjang hari! Bye!” ucap Elina denga kesal.
“Elina! Kamu nggak ngerti jalan pulang! Kamu bisa tersesat nanti!” cegah Aldo.
“Aku tahu jalan pulang! Jadi jangan halangi aku!”
__ADS_1
Aldo merasa geram dengan sikap Elina yang keras kepala. Terpaksa ia menyusul langkah kekasihnya itu. Dalam hati ia merutuk, karena perempuan selalu mau menangnya sendiri.
“Kamu nggak perlu mengikuti aku Aldo! Aku bisa pulang sendiri. Aku serius,” ucap Elina.
“Kamu serius tahu jalan pulang?”
“Aku bukan anak TK. Tenang saja, aku akan sampai di kastil dengan selamat. Camkan itu! Maaf, aku nggak mau mengganggu kesenanganmu. Lebih baik kamu melanjutkan perjalanan ke air terjun saja,” kata Elina.
Aldo terdiam. Ia menghentikan langkahnya, menatap Elina yang sudah tidak berniat melanjutkan perjalanan.
“Okay, Elina. Jaga dirimu!” ucap Aldo.
“Bye, Aldo!”
***
Adrianna dan Michael segera menghambur ke ruang bawah tanah hendak menolong Tiara yang terkurung dalam ruang bawah tanah. Sekali lagi, Adrianna bertemu Helen yang belum selesai memasak di dapur. Wanita paruh baya itu heran melihat Adrianna yang tampak panik, apalagi sambil mengajak Michael. Firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu terjadi di ruang bawah tanah.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Helen.
“Tidak apa-apa,Helen. Ada yang harus kami selesaikan di bawah sana. Kamu tidak perlu panik.” Michael berusaha menenangkan.
“Apakah ada yang terbunuh lagi?” Helen terus bertanya. Ia bahkan lupa kalau saat ini sedang mengiris kentang.
Helen langsung terdiam, kemudian mengangkat alis. Ia melanjutkan mengiris kentang di hadapannya.
Adrianna merasa ragu-ragu, berdiri di atas tingkap. Michael sudah bersiap masuk ke dalam ruang bawah tanah, menatap Adrianna, memberi isyarat agar wanita itu ikut masuk ke dalam.
“Aku sungguh tidak ingin masuk ke sana lagi!” ucap Adrianna ragu-ragu.
“Tak apa Adrianna. Paling tidak kamu bisa menunjukkan padaku tempat di mana Tiara disekap, dan aku juga sekalian mencari bilik tempat Mariah disekap,” ucap Michael.
“Mariah? Aku nggak lihat Mariah. Lebih baik kita tolong Tiara dulu. Aku khawatir dia kenapa-napa.” Adrianna tidak bisa menutupi kegugupannya.
“Kalau begitu bantu aku menunjukkan jalannya!”
Walaupun ragu-ragu, Adrianna tetap menuruni tangga yang menuju bawah tanah. Ia selalu merasa tidak nyaman berada di tempat ini. Sesampai di ujung lorong, ia berbelok ke lorong kanan. Bilik-bilik berderet di sepanjang sisi. Inilah yang membuat Adrianna bingung. Semua terlihat sama.
“Tunggu sebentar!” kata Adrianna.
__ADS_1
“Kenapa Adrianna?” tanya Michael.
“Aku agak lupa di bilik mana Tiara disekap. Semua terlihat sama. Aku akan memanggil namanya. Semoga dia menyahut,” ucap Adrianna.
“Dengan satu catatan....”
“Catatan? Apa itu?”
“Tiara masih hidup!”
Adrianna mendengkus kesal. Segera saja ia memanggil nama Tiara berkali-kali, sayangnya tak ada sahutan.
“Kamu yakin Tiara disekap di bilik sekitar sini?” Michael mulai meragukan ucapan Adrianna.
“Tentu saja. Ia sendiri yang bilang padaku agar mencari pertolongan, karena bilik itu digembok, sepertinya membutuhkan bantuan seorang pria untuk membukanya,” terang Adrianna.
Michael berhenti sejenak. Matanya memicing, meningkatkan rasa wasdpada. Entah kenapa ia mencium ada sesuatu yang tidak beres. Naluri detektif yang dimiliknya mulai menggeliat.
“Semoga Tiara masih hidup,” gumam Michael.
“Mengapa kamu ngomong seperti itu?” tanya Adrianna.
“Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang nggak benar. Kurasa pembunuh itu lebih cerdas daripada kita. Dia mengawasi gerak-gerik kita sejak tadi, kemudian memindahkan Tiara dari bilik menyeramkan entah kemana.”
“Oh, Tuhan. Mendadak perasaanku tidak enak. Kita harus segera temukan bilik itu secepatnya! Aku ingat sekarang. Aku masih ingat bentuk pintunya yang berjeruji.”
Adrianna berkata dengan gugup.
“Banyak juga pintu yang berjeruji di sini!”
“Aku tahu yang seperti apa! Cepat!”
Tak berapa lama, Adrianna berhenti di sebuah bilik berjeruji yang dimaksud. Michael menatap tajam ke arah pintu baja yang dibangun.
“Kamu yakin?” tanya Michaeel.
Adrianna mengangguk. Michael segera mengambil tindakan. Adrianna khawatir sebab tak ada suara dari dalam bilik. Apakah Tiara sudah tewas?
“Tiara!” Michael membuka pintu dengan cepat!
__ADS_1
Sayangnya, Michael kecewa dengan usahanya itu.
***