
Dimas mengacungkan senjata api ke arah sosok bayangan hitam yang sedang berjalan di koridor. Bayangan hitam itu juga tampak terkejut melihat kehadiran Dimas dan Hans, apalagi ia dalam keadaan tertodong. Spontan ia mengangkat kedua tangannya.
“Jangan tembak! Jangan tembak aku! Aku Ringo!” ucap sosok hitam itu.
“Ringo? Siapa dia?” bisik Dimas kepada Hans.
“Ringo. Hmm. Ya, aku tahu. Turunkan senjatamu! Dia adalah satu dari sekumpulan anak muda yang berkemah di sekitar sini. Kurasa dia tidak ada niat jahat,” ujar Hans.
Dimas menurunkan senjatanya seraya berkata,” Cepat berjalan kesini! Mengapa kamu mengendap di sekitar sini?”
Tanpa menunggu perintah dua kali, Ringo berjalan menuju Dimas dan Hans. Wajahnya terlihat cemas, dengan pisau lipat tergenggam di tangannya.
“Astaga! Apa yang hendak kamu lakukan?” tanya Dimas.
“Ma-maaf. Tadi kami panik karena lampu tiba-tiba mati. Saya mempunyai inisiatif untuk keluar kamar dan memeriksa keadaan. Karena belakangan ini ada hal-hal aneh terjadi pada kami,” terang Ringo.
“Lebih baik dia ikut kita saja. Sangat berbahaya berada di kastil ini sendirian,” ucap Hans.
“Baiklah, kamu ikut kami saja. Kastil ini tidak aman. Kamu harus mematuhi apa pun yang kuucapkan, jangan bertindak tanpa arahan!” perintah Dimas.
Ringo yang awalnya ingin menjelajah kastil sendirian, urung melanjutkan niatnya. Ia harus menuruti perintah polisi itu. Bagaimanapun, akan lebih aman apabila ia bersama seseorang, apalagi polisi yang bersenjata.
Mereka masuk ke dalam kamar Ammar, mengambil sebuah senter besar di dalam lemari, kemudian segera kembali ke ruang tengah. Untungnya, tak ada hambatan berarti.
Kehadiran mereka bertiga segera disambut dengan perasaan lega oleh penghuni kastil lain. Mereka segera menyalakan beberapa lilin dan memasang di beberapa titik, agar terang lebih merata.
Dalam suasana remang, kini mereka dapat melihat wajah masing-masing yang terlihat cemas dan takut. Dimas duduk, kemudian menatap seluruh penghuni kastil yang berkumpul di ruangan itu.
“Kami tadi diserang saat di ruang makan. Aku berhasil melukainya, tetapi setelah itu dia berhasil lolos entah kemana. Jangan khawatir! Setelah ini kami akan meringkus mereka semua. Kami mengumpulkan kalian di sini, akan mengumumkan satu hal penting, tentang rentetan peristiwa yang saling berkaitan, setelah kami mengumpulkan bukti-bukti yang ada. Kami juga akan membuka identitas psikopat yang sebenarnya, karena kami telah mengantongi sejumlah fakta yang ada,” kata Dimas.
__ADS_1
Semua penghuni mendengar dengan antusias. Mereka tak sabar mendengar kebenaran yang akan disampaikan oleh para polisi itu.
“Mungkin, saya silakan Ammar atau Reno yang akan menyampaikan lebih lanjut!” kata Dimas.
Ammar berdehem perlahan. Ia hendak menyampaikan terlebih dahulu mengenai fakta-fakta yang ada.
“Baik. Biar aku dulu yang menyampaikan, nanti Reno akan menyambungnya. Oke, aku mulai. Sejujurnya ini kasus yang agak rumit. Pertama kali datang ke sini, niatku tentu saja tidak berharap akan adanya kasus seperti ini, karena aku baru sadar kalau Helen berbohong atas kematian paman dari istriku. Semakin jauh, mulai banyak kemunculan kejadian aneh, dan serentetan kematian misterius. Aku sudah memutar otak dan berusaha mengungkap, tapi nyatanya sangat berbahaya. Psikopat itu selalu tahu apa yang hendak aku lakukan. Aku mencatat beberapa fakta mengenai ini.
Aku tidak menyangkal Anggara Laksono bukan orang baik. Sebelum ini ada kasus hilangnya beberapa penulis di kastil ini pula, tapi sayangnya tak ada seorang pun yang serius mengusut kasusnya. Baru aku sadar bahwa Anggara mempunyai kekuasaan untuk membungkam penegak hukum sekalipun. Lalu aku berusaha mencari fakta, bahwa Anggara memang membunuh para penulis itu. Kejadian itu sempat ditentang olah istrinya yang bernama Anjani, tetapi aku tidak tahu keberadaannya di mana sekarang. Jelas sekali pelaku kekacauan ini adalah anak Anggara yang menghilang, karena aku melihat kotak musik yang sama di foto, dengan kotak musik di loteng tempat Rania dibunuh,” papar Ammar.
“Aku nanti akan ceritakan fakta tentang bayi yang hilang ini. Lanjutkan dulu, Ammar!” tukas Reno.
“Baik. Aku menduga Anjani ini masih hidup. Aku juga berpendapat bahwa penulis yang bernama Madeline Rahma juga dibunuh oleh Anggara. Setelah itu, Anggara menikah lagi dengan Anastasia Pratiwi, yang lukisannya bisa kita lihat di ruangan ini. Sekarang anak Anggara itu menyusup ke tengah-tengah kita untuk menghabisi ayahnya, dan menghabisi kita semua tentunya,” lanjut Ammar.
“Aku tambahkan, yang menyusup ke kastil ini sebenarnya bukan penulis. Anggara mempunyai anak kembar, yang berprofesi sebagai penulis telah dihabisi di apartemennya bersama pacarnya. Yang ada di sini adalah penulis gadungan. Ia mencuri semua identitas, berpura-pura sebagai saudara kembarnya,” tambah Reno.
Seketika yang hadir di ruang tengah terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kebenaran itu. Mereka menunggu pengungkapan kebenaran itu dengan antusias.
“Jangan terburu-buru. Dengarkan analisisku dulu!” jawab Reno.
***
Senjata tajam menghunjam dahsyat ke arah dada dr. Dwi, tetapi dengan sigap dokter itu berhasil menangkap pergelangan tangan sosok berjubah. Akibatnya, mereka berdua terjatuh ke lantai. Senjata tajam itu berjarak beberapa inchi saja dari muka dr. Dwi, tetapi dengan sekuat tenaga dokter itu menahan tangan si psikopat agar tak semakin turun. Kini muka mereka berhadapan dalam jarak dekat. Bahkan dr. Dwi bisa merasakan hembusan napas si psikopat yang tak teratur. Dokter itu mengerahkan kekuatannya, sehingga berhasil membelokkan tangan penyerangnya ke samping. Senjata tajamnya menghunjam mengenai lantai!
Hal itu tak disia-siakan oleh dr. Dwi. Ia menendang perut penyerangnya hingga terjengkang. Senter terpelanting jatuh, pecah, hingga suasana kembali gelap gulita. Sosok itu berkelebat, kabur menembus gelapnya lorong. Dokter Dwi hendak mengejar, tetapi sepertinya ia tidak mungkin melakukan itu, karena ada Elina dan Adrianna di ujung lorong yang mungkin nyawanya juga terancam. Dokter Dwi kembali meraba-raba dalam gelap, berusaha mendekati mereka.
“Elina! Adrianna! Apakah kalian masih ada di situ?” tanya dr. Dwi.
“Iya, Dok. Kami masih di sini. Gelap sekali. Kami bingung mau kemana!” jawab Elina.
__ADS_1
“Bertahanlah di situ! Aku akan kesana!”
Dokter Dwi bersusah payah merayap melalui dinding, hingga sampai ke tempat Elna dan Adrianna berdiri. Saking gelapnya, bahkan mereka tak dapat melihat wajah masing-masing.
“Apa yang harus kita lakukan? Gelap sekali. Sepertinya akan sulit untuk naik,” kata Elina.
“Kita tetap harus naik. Tak aman di sini, karena pembunuh itu bisa datang kapan saja. Ia menguasai tempat ini. Kita harus memberitahu orang-orang di atas!” ajak dr. Dwi.
“Aku takut ...,” gumam Elina.
“Aku mau naik saja! Aku bersumpah akan membalaskan kematian Cornellio dengan tanganku sendiri. Lihat saja nanti!” gerutu Adrianna.
“Untuk saat ini, hal itu tak mudah dilakukan. Ayo, kita segera naik! Ada seorang lagi yang harus segera kita selamatkan. Kalian jalan di depan, sementara aku melindungi kalian dari belakang,” ucap dr. Dwi.
“Siapa lagi yang ada di sini, Dokter? Kukira kau sudah mati. Ternyata masih ada lagi. Siapa?” tanya Adrianna penasaran.
“Mariah. Istri Ammar. Dia disekap, dan kita harus menolongnya segera!”
“Mariah? Bukankah dia sedang di kota? Astaga! Aku sama sekali kalau ditangkap juga oleh psikopat itu!”
“Lebih baik kita segera naik. Jangan sampai psikopat itu kembali dengan senjata yang lebih berbahaya!”
Mereka segera menyetujui ucapan dr. Dwi. Dalam kegelapan lorong, mereka berjalan saling berpegangan, merayap perlahan.
***
PENGUMUMAN
Teman-teman, saya ucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah dukung novel ini! Selamat, kalian telah memasuki episode-episode terakhir. Sebentar lagi para polisi akan mengungkap siapa pembunuh itu sebenarnya. Namun, tetap nggak mudah ya? Karena sosoknya kan masih kabur di ruang bawah tanah.
__ADS_1
By the way, selepas novel ini jangan kemana-mana ya! Karena Reno dan Dimas akan menghadapi kasus lain yang nggak kalah seru. Kasus seperti apa? Terus ikuti di novel ini ya. Terima kasih.
Gamsa hamnida!