Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
108. Sepatu Silver


__ADS_3

Rasty terbangun tiba-tiba. Ia melirik jam digital yang berada di atas meja. Pukul 02.17. dini hari. Ia merasa kerongkongannya sangat kering, sehingga ia harus beranjak dari tempat tidur. Mungkin segelas air dapat meredakannya. Ia menguap, memulihkan kesadaran.


Mama dan Papa, serta dua adiknya yang masih kecil sepertinya terlelap dalam kamar masing-masing. Tanpa menyalakan lampu, Rasty berjalan menuju ruang makan yang gelap. Tujuan utamanya adalah kulkas yang terletak di dekat dapur.


Ia mengambil segelas air dingin, menenggak hingga tak bersisa. Tiba-tiba di atas kulkas ia melihat sebuah kotak yang dibungkus dengan rapi, seperti kado. Baru ingat, tadi sore Mama mengatakan bahwa ada kiriman paket untuknya dari ekspedisi. Rasty mengernyitkan dahi. Siapa yang mengirimi paket? Perasaan ia tak memesan apa pun dari online shop. Jadi siapa yang mengirim ini?


Ia mengecek pada bungkus kotak itu, siapa tahu ada nama pengirim yang tertera di sana. Nyatanya, paket itu dikirim tanpa nama pengirim. Rasa kantuk hilang seketika. Ia segera kembali ke kamar untuk membuka paket tak bernama tersebut.


Ia membuka bungkusnya pelan, mendapati sebuah kotak kardus bekas sepatu. Ia buka perlahan kotak itu dengan penasaran. Ia tidak sedang berulang tahun, tetapi mengapa dapat paket? Setelah mendapati isi kotak kardus itu ia menahan napas. Isinya sebuah sepatu perempuan berhak sedang berwarna perak. Yang mengherankan, sepatu itu hanya sebelah kanan saja. Apa maksudnya? Siapa yang telah berbuat sekonyol ini?


“Sialan!” umpatnya.


Tiba-tiba ia teringat, seperti pernah melihat sepatu sebelah kanan ini, tetapi di mana? Ia lupa. Yang jelas penampakan sepatu ini seperti tak asing. Ia yakin, pernah melihat sepatu ini sebelumnya. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi. Ia tak jadi melanjutkan tidurnya, karena rasa ingin tahu, siapa pemilik sepatu ini?


Ia hanya duduk di atas ranjang, mengamat-amati sepatu tak bertuan itu. Masih tak habis pikir, mengapa ada orang yang mengirim sepatu hanya sebelah?


“Mungkin besok saja kutanyakan pada Dinda, Lena, atau Miranti,” gumamnya.


Ia tak sabar menunggu esok hari. Sayangnya, karena bosan, rasa kantuk datang juga. Karena tidak tertahankan, ia tertidur dengan sepatu dalam pelukannya. Begitu bangun, ia melihat jarum jam yang sudah merapat ke angka tujuh! Astaga! Langsung saja ia tancap gas, mandi seadanya, tanpa sarapan, langsung berangkat ke kampus.


“Kamu nggak sarapan dulu, Ras? Nih, Mama sudah buatin nasi goreng kesukaanmu!” ujar Mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


Nasi goreng yang disiapkan Mama memang cukup menggoda, tetapi ia tidak punya waktu untuk itu. Ia hanya meminum segelas susu yang sudah tersedia.


“Aku buru-buru, Mah. Kesiangan bangun. Aku berangkat dulu yah!”


Rasty segera pergi setelah mencium punggung tangan Mamanya. Ia ingin segera pergi ke kampus, dan menceritakan kejadian aneh yang ia alami pada teman-temannya.


Sepanjang kegiatan perkuliahan, ia tidak bisa konsentrasi. Ia ingin jam kuliah segera berakhir. Berkali-kali ibu dosen yang terlihat galak menegurnya karena ia terlihat tidak bisa mengikuti jalannya kuliah dengan baik.


Saat perkuliahan berakhir, ia segera mencari Miranty dan Lena yang terlebih dahulu pergi ke kantin. Ia berjalan agak tergesa sampai tak sadar hampir menabrak Alex. Mahasiswa berkacamata itu heran melihat Rasty yang kelihatan cemas, seperti dikejar setan.


“Kamu kenapa, Ras?” tanya Alex.


“Lex, ikut yuk!”


“Kemana? Aku mau ke perpustakaan mengembalikan buku,” kata Alex.

__ADS_1


“Kayaknya kita perlu ngumpul lagi deh. Hidup aku nggak tenang semenjak peristiwa itu. Ada saja yang gangguin. Kayaknya ada seseorang yang ngerjain kita,” kata Rasty.


“Ngerjain kita? Maksudmu apa sih? Aku nggak paham,” ucap Alex.


“Ntar aku ceritain! Yuk kita cari Lena dan Miranti!” ucap Rasty sambil menarik lengan Alex.


“Eh, tapi aku kan ...”


Rasty tidak peduli. Ia menarik lengan Alex, sampai ke kantin. Gedung kantin cukup besar dan ramai. Banyak mahasiswa yang sedang makan siang di tempat itu. Suara terdengar riuh-rendah. Rasty menyapukan pandangan ke seluruh pelosok kantin, mencari keberadaan teman-temannya.


“Kemana sih mereka?” tanya Alex.


“Tadi sih aku lihat mereka berjalan ke arah kantin. Atau mungkin ke tempat lain ya?”


“Bisa aja kan ke toilet?”


“Tapi pasti mereka makan siang di sini. Coba kita ke stand mi ayam. Biasanya mereka makan di sana!”


Keduanya segera menorobos kerumunan mahasiswa yang sedang antre makanan. Stand mi ayam terletak agak di ujung, jadi tidak terlihat dari depan. Benar saja, mereka melihat kedua gadis itu sedang menikmati mi ayam. Lena melambaikan tangan ketika melihat Rasty dan Alex.


“Ntar aja. Aku mau tanya kalian nih.” Kata Rasty cepat.


“Nanya apaan? Kelihatannya penting banget,” ucap Miranti.


Rasty menghela napas sejenak, kemudian menatap ke arah Lena. Parasnya masih memancarkan rasa cemas. Alex menunggu dengan penasaran.


“Kalian pernah nggak sih mengalami kejadian aneh akhir-akhir ini?” tanya Rasty kemudian.


“Yah, bahas masalah itu lagi. Kenapa sih semua pada bahas masalah itu lagi? Nggak Dinda, nggak kamu. Semua bahas itu. Udahlah lupain aja!” ketus Lena.


“Kalian mau bahas masalah kejadian itu lagi ya?” Alex ikut berbicara.


“Kamu tuh menghilangkan selera makan aja, Ras!” keluh Lena.


“Maaf. Tapi aku bener-bener nggak tahan dengan ini semua.”


Tak lama, Gerry dan Alma kebetulan lewat di dekat meja mereka. Melihat keberadaan Rasty dan teman-teman, Gerry mendekat.

__ADS_1


“Hai, kok pada ngumpul? Pada bahas apaan nih?” tanya Gerry.


“Ini nih si Rasty! Bilangnya mengalami kejadian-kejadian aneh gitu. Aku sih santai aja. Tapi kan bikin suasana jadi nggak enak!” ucap Lena.


“Kejadian aneh apa, Ras?” tanya Gerry.


“Oke. Aku akan cerita. Kemarin aku mendapat kiriman sebuah paket dari orang yang nggak dikenal. Isinya aneh banget, sebuah sepatu ....”


“Dari penggemarmu kali!” potong Lena.


“Dengerin dulu! Aku belum selesai bercerita. Jadi sepatu itu seperti ini ....”


Rasty membuka tas, mengeluarkan sebuah sepatu pesta perempuan berwarna perak. Semua melihat sepatu dengan saksama. Rasty meletakkan sepatu di atas meja.


“Tunggu ... tunggu! Sepatu itu sama persis dengan sepatu yang dikirimkan ke aku. Itu sepatu kanan kan? Aku juga mendapat kiriman sepatu yang sama seperti itu dua hari lalu. Kalo yang dikirimkan ke aku sebelah kiri. Cuman karena kupikir itu adalah orang iseng, aku biarkan saja.”


Alma ikut membuka suara. Gerry terkejut dengan pengakuan Alma, seolah tak percaya.


“Kamu kok nggak cerita, Sayang?” tanya Gerry.


“Ya, aku pikir buat apa. Kan aku udah anggap hanya hal iseng, jadi ya nggak kupikir lagi. Tapi serius, sepatu itu sama persis dengan sepatu yang dikirim kepadaku,” kata Alma.


“Terus sepatu itu sekarang di mana?” selidik Gerry.


“Ya di rumah. Ngapain juga kubawa-bawa?”


Semua masih melihat sepatu itu penuh tanya. Tiba-tiba Alex bergumam, sambil memegang sepatu itu.


“Aku baru ingat kalau sepatu ini ada yang punya ... aku ingat ketika dia masuk ke ruang tengah, dia menenteng sepatu, katanya sepatu itu licin,” ucap Alex.


“Sepatu siapa sih?” Lena makin penasaran.


“Ini sepatu Jenny. Ya, aku ingat ini sepatu Jenny. Dia pakai sepatu ini pas pesta!”


Ucapan Alex sontak membuat paras Rasty dan Alma berubah takut. Bagaimana mungkin sepatu orang yang sudah meninggal dikirim ke mereka?


***

__ADS_1


__ADS_2