
Juned menyorotkan senter ke muka seseorang yang baru saja diringkusnya. Sosok itu tampak silau dengan cahaya senter, sehingga ia menutupi sebagian muka dengan jari. Juned terkejut, karena sosok yang ringkus tak lain adalah Ryan. Pria itu rupanya berhasil masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui terowongan di hutan yang tak sengaja ia temukan sebelumnya. Ia terlihat bingung, mengapa Juned meringkusnya.
"Astaga ... kamu kemana aja? Kamu nggak apa-apa?" tanya Juned.
Ryan hanya bisa menggeleng karena sebenarnya ia merasa letih. Juned segera paham bahwa Ryan baru saja mengalami hal yang tidak biasa. Ia tidak banyak tanya lagi, segera membimbing Ryan melangkah menyusur lorong.
"Lebih baik kamu kuantar ke atas saja. Di bawah sini tidak aman. Kita harus berhati-hati. Kita temui dulu Pak Ammar, baru kita ke atas," ucap Juned.
Ryan tidak memberi tanggapan apa-apa, karena sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang terjadi di ruang bawah tanah ini. Yang ia inginkan saat ini adalah segelas cokelat panas dan sepotong roti, kemudian ia hanya ingin berbaring untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia merasa kedinginan karena suhu di hutan yang tidak bersahabat. Juned sendiri tidak ingin bertanya lebih jauh, karena kondisi Ryan yang masih tampak belum memungkinkan.
Dua pria itu berjalan perlahan, kembali menuju ke pusat instalasi listrik tempat Ammar bekerja. Juned berusaha mengingat lorong yang tepat, tempat instalasi listrik, karena ia merasa semua lorong di ruang bawah tanah ini terlihat sama. Kadang ia merasa sedikit bermasalah dengan ingatannya. Kali ini ia berusaha untuk lebih berkonsentrasi dengan lorong yang dilaluinya.
"Sepertinya lorong ini," gumam Juned, ketika ia sampai pada sebuah persimpangan.
Ia mengisyaratkan agar Ryan mengikuti langkahnya untuk berjalan ke arah kiri. Keduanya kembali menyusur lorong sebelah kiri yang gelap dan memanjang. Kali ini, dugaan Juned benar. Karena di ujung lorong mereka dapat melihat kotak instalasi listrik yang berukuran cukup besar. Juned menyorotkan senter ke instalasi tersebut, tetapi ia heran mengapa Pak Ammar tak ada di sana? Ia melihat peralatannya diletakkan di lantai, seolah ditinggalkan begitu saja.
"Loh, kemana Pak Ammar?" gumamnya.
__ADS_1
Ryan tidak mengatakan apa-apa. Parasnya tampak cemas, karena ia sudah menahan rasa dingin dan lapar sedari tadi. Ia khawatir terserang hipotermia.
"Aku mau langsung ke atas saja," kata Ryan.
"Oke, mungkin Pak Ammar juga sedang ke atas. Ayo kuantar!"
Juned merasa iba dengan kondisi Ryan yang berantakan. Ia tak perlu mengkhawatirkan Ammar karena ia yakin polisi itu bisa menjaga diri. Yang harus ia khawatirkan sekarang ini adalah Ryan yang kondisinya kacau. Mereka berjalan lagi menyusur lorong, menuju tingkap yang menghubungkan dapur.
***
"Boleh aku lanjutkan? Sampai di mana tadi?" ujar Dimas sambil membuka-buka kembali map yang ada di tangannya.
"Kami sangat penasaran dengan analisisnya, Pak!" ucap Maya.
"Setelah kematian Kara, muncul lagi kejadian-kejadian beruntun yang seolah saling berkaitan. Salah satunya adalah percobaan pembunuhan kedua dialami oleh Nadine yang sedang beristirahat dalam kamar. Tiba-tiba pintu dikunci, dan Nadine nyaris terbunuh karena dicekik sampai pada akhirnya si pelaku kabur lewat jendela kamar. Sampai saat ini, si pelaku belum bisa kita identifikasi. Di sisi lain, Stella yang menghilang juga belum bisa ditemukan sampai saat ini. Lalu penemuan kepala Farrel di dalam karung yang sengaja diletakkan di depan kamar Mariah. Forensik menyebut kepala Farrel dipenggal dengan kapak. Ini benar-benar sadis dan mengerikan kan? Lalu dalam waktu yang hampir bersamaan, Maya yang menghilang saat perjalanan ke air terjun ternyata juga kembali dari hutan. Menurut pengakuan Maya, seseorang memukul kepalanya, dan membawanya ke suatu tempat, kemudian meninggalkan dirinya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Bukan begitu, Maya?" ucap Dimas.
"I-iya, Pak. Memang benar seperti itu," ucap Maya lirih.
__ADS_1
Parasnya begitu cemas. Ia hanya menunduk, tak berani menatap teman-temannya atau pun paras Dimas yang menatap tajam ke arahnya.
"Teror berlanjut dengan ditemukannya Aditya dalam keadaan tergorok di ruang bawah tanah. Sebelumnya, Aditya menghilang saat menemani Jeremy ke ruang bawah tanah. Lalu pemukulan terhadap Edwin di kebun teh saat jalan pagi bersama Rosita. Menurut keterangan Rosita, Edwin menghilang saat mencari botol minum yang kebetulan terjatuh. Benar bukan?" tanya Dimas sambil melihat ke arah Rosita.
Wanita muda itu tak berucap apa-apa, hanya mengangguk cepat.
"Lalu dalam laporanku juga disebutkan bahwa Lily mengaku pernah dikejar sosok misterius di kastil ini. Untungnya ia segera masuk ke kamar, hingga sosok itu berhenti mengejar. kesimpulanku mengatakan bahwa hampir semua penghuni tempat ini mendapat teror dari si pelaku. Bahkan, rekan kami Niken juga tak luput dari teror ini. Ia hampir tewas disekap di dalam hutan. Lalu ada Ramdhan yang mengalami kecelakaan serius saat perjalanan kembali dari kota. Dan yang terakhir adalah menghilangnya Ryan yang diduga berada di hutan, Mariah yang menghilang begitu saja saat pagi hari, serta Jeremy yang menghilang saat menemani Juned di ruang bawah tanah. Lengkap bukan? Tak ada yang luput satu pun dari teror-teror itu," tutur Dimas sambil menghela napas.
Kembali Dimas menatap satu-persatu wajah para wanita yang ada di hadapannya. Wajah mereka menyorotkan rasa khawatir dan kegugupan yang gagal untuk disembunyikan. Mereka merasa tegang, takut namanya disebut atau didakwa terkait kasus ini.
"Ada yang merasa belum pernah diteror? Sudah pernah diteror semua kan? Nah, bagus. Sayangnya, aku berpendapat bahwa salah satu dari kalian ada yang mengarang cerita tentang teror itu, pura-pura mendapat teror, padahal dia adalah pelaku dari semua kekacauan ini. Atau istilahnya, maling teriak maling," lanjut Reno.
"Katakan siapa orang itu, Pak!" ucap Rosita tak sabar.
"Sabar, Ros. Sabar. Pasti aku akan ungkap, karena sudah pasti serapi apa pun rencana kejahatan, akan ada celah yang bisa digunakan untuk mendakwa kalian. Aku sudah mencatat kejanggalan-kejanggalan yang pasti nanti kuungkap. Sebelum itu, aku akan bicara tentang motif dari kejadian ini. Jujur aku harus mengakui bahwa untuk mengungkap motif ini tidaklah mudah, karena korban seolah random alias acak. Si pelaku sepertinya asal bunuh orang. Apalagi setelah ia juga membunuh Kara yang sama sekali tidak kalian kenal dan ada sangkut-pautnya dalam hidup kalian. Bukankah itu aneh? Namun, tetap saja sebuah pembunuhan ada motif yang cepat atau lambat akan terbongkar, sepandai apa pun kalian sembunyikan!"
***
__ADS_1