Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
203. Menunggu


__ADS_3

Para artis dan kru yang ada di studio itu masih tercekat mendengar penuturan Riky. Mereka bingung harus berbuat apa. Mereka sebenarnya sudah sangat lelah dengan segala aktivitas yang telah mereka lakukan sepanjang hari, dan saat ini waktu menunjukkan pukul dua dini hari lebih lima belas menit. Mereka hanya saling berpandangan, saling menunggu.


Anita tampak syok, ia menutup mulut dengan tangannya, karena tak menyangka ada kejadian yang mengerikan ini. Demikian pula para wanita yang ada di situ. Paras mereka berubah takut. Demikian juga dengan Ollan, pria melambai itu terlihat panik luar biasa.


“Ap-apa yang harus kita lakukan?” tanya Riky.


Parasnya juga terlihat pucat karena bingung. Ia berharap agar semua yang ada di situ bisa memberi solusi atas keadaan ini.


“Tentu saja kita akan panggil polisi! Jangan ada yang menyentuh apa pun di sekitar jasad Pak Daniel, biar polisi yang menangani!” perintah Faishal.


Faishal buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku hendak menelepon polisi. Guntur, pria berusia menjelang tiga puluh tahun itu keluar dari ruangan kerjanya. Ia tampak penasaran dengan apa yang terjadi.


“Ada apa sih?” tanya Guntur.


“Ada yang membunuh Pak Daniel di toilet, Gun! Lehernya dijerat dengan kabel oleh seseorang entah siapa,” tutur Riky.


“Astaga! Dijerat? Siapa pelakunya? Apakah salah seorang yang ada di sini?” tanya Guntur sambil melayangkan pandangan ke setiap orang yang ada di ruangan itu.


“Kami juga tidak tahu pelakunya. Tetapi semua yang ada di gedung ini sudah pulang. Ada sekuriti di lantai bawah, tetapi tidak mungkin sekuriti pelakunya. Mungkin pelakunya adalah seseorang di antara kita,” kata Riky.


“Mungkin Faishal .... “


Tiba-tiba Anita bersuara sambil melirik pria tampan itu dengan kesal. Anita Wijaya adalah salah satu artis kesayangan Pak Daniel. Beberapa kali ia membintangi film yang dibintangi oleh Daniel Prawira.


“Hey! Jangan sembarangan ya kalau bicara! Aku memang kesal sama Pak Daniel tapi bukan berarti aku yang bunuh dia. Bagaimanapun aku menghormati Pak Daniel sebagai seorang sutradara. Menegur artis itu biasa!” ucap Faishal.


Gara-gara ucapan Anita, ia urung menelepon. Rupanya ia terpancing emosi mendengar ucapan gadis belasan tahun tersebut. Kalau saja bukan seorang gadis yang berbicara, mungkin Faishal sudah menghantam mulutnya.

__ADS_1


“Lalu siapa? Memangnya ada yang mau mengakui pembunuhan?” ucap Anita dengan sewot.


“Tenang! Tenang! Ini bukan ranah kita untuk saling menuduh. Kita harus panggil polisi untuk menyelesaikan ini. Bahkan polisi pun juga tidak bisa memutuskan sembarangan tanpa penyelidikan. Jadi, kita harus menunggu penyelidikan polisi,” ucap Guntur menengahi.


“Kurasa kita harus menghubungi sekuriti di bawah terlebih dahulu. Biar sekuriti yang menghubungkan dengan polisi. Lebih baik jangan kita yang melapor sendiri,” tambah Hendry.


Semua menyetujui perkataan Hendry. Melalui telepon kantor, Faishal menghubungi sekuriti yang ada di bawah, melaporkan bahwa telah terjadi pembunuhan di lantai lima belas. Tak ada seorang pun yang berani beranjak meninggalkan tempat itu. Walau rasa lelah dan kantuk mendera, mereka tak bisa pergi begitu saja sebelum polisi datang.


Tak lama dua orang sekuriti dari lobby utama datang dan langsung mengecek tempat kejadian perkara. Mereka sangat terkejut dengan kejadian itu. Salah seorang di antara mereka langsung memberikan perintah.


“Bapak-bapak dan ibu-ibu tenang ya. Kita tunggu polisi untuk melakukan penyelidikan. Kami akan segera menghubungi kepolisian, dan mohon bapak-bapak dan ibu-ibu untuk tidak meninggalkan tempat ini dulu, sampai polisi datang. Mohon untuk tidak ke toilet dulu, sampai polisi menyelidiki tempat itu,” perintah salah seorang sekuriti senior yang sedang bertugas malam itu.


Mereka patuh mendengar perintah sekuriti itu. Sebentar kemudian, mereka berpencar mencari tempat duduk masing-masing. Paras mereka masih terlihat gelisah dan cemas. Terbunuhnya Pak Daniel benar-benar sangat mengejutkan. Dapat dipastikan, proyek film ini akan tertunda karena sang sutradara tewas terbunuh.


“Ini benar-benar brengsek! Pembunuh gila itu telah merusak semua rencana!” keluh Riky.


“Kira-kira siapa pembunuhnya?” tanya Faishal Hadibrata.


Faishal hanya menghela napas. Ia tak bisa berkata apa-apa.


Di sudut ruang yang lain, tampak Rianti Tobing, istri Hendry Tobing terlihat mondar-mandir, sambil memainkan ponselnya. Ia juga tampak gusar dengan kejadian kematian Pak Daniel di studio film itu.


“Aku mau pulang saja ya. Aku kan nggak begitu kenal dengan Pak Daniel. Aku nggak ada sangkut-pautnya dengan kematian dia. Masa aku juga diperiksa?” keluh Rianty.


“Kalau ibu pulang, eyke juga ikut ya. Eyke takut di sini iiih ....”


Ollan, manajer kemayu itu tampak gelisah juga. Berkali-kali ia mengipasi dirinya dengan kertas yang banyak terhambur di meja kerja.

__ADS_1


“Kamu nggak kemana-mana Ollan! Kamu tetap di sini!” perintah Hendry tegas.


“Mau ngapain sih eyke di sini, Bang? Nanti Eyke malah diapa-apain lagi,” ucap Ollan.


“Nggak ada yang doyan sama kamu, Lan!” ucap Hendry.


Ollan terlihat manyun mendengar itu.


Sementara di ruangan depan, para artis wanita berkumpul, duduk melingkar di sebuah sofa. Masing-masing menampakkan kegelisahan. Tak ada yang mengobrol satu sama lain, karena mereka larut dalam kegelisahan masing-masing.


“Karirmu di dunia film akan meredup, Nit,” tiba-tiba Renita bersuara, memecah keheningan.


“Kok Mbak Reni ngomong gitu?” ucap Anita denga sewot.


“Kan siapa pun tahu kalau kamu anak emas Pak Daniel. Kalau Pak Daniel nggak ada, siapa lagi yang akan pakai kamu sebagai artis. Aku nggak yakin ada sutradara lain yang mau. Aktingmu kan juga pas-pasan. Jadi gimana dong,” ucap Renita.


Ucapan itu cukup pedas, tetapi Anita tak berani membantah. Usianya memang cukup muda apabila dibanding Renita yang memang sudah lebih lama bergelut di dunia film. Walaupun begitu, ia merasa sakit hati mendengar ucapan Renita.


“Mbak Reni kan juga main film esek-esek doang....”


Anita bergumam, nyaris tak terdengar. Renita memang tak mendengar, karena ia bersikap cuek, sambil memainkan ponsel. Ia kesal terperangkap di lantai lima belas ini. Sementara di kursi lain, Laura menyandarkan kepala sambil menutup mata. Ia tak mau peduli dengan obrolan kedua rekan kerjanya itu. Perasaannya sungguh tidak nyaman. Ia merasa semua artis yang terlibat dalam film garapan Daniel Prawira ini seolah memandang rendah dirinya karena dia memang baru bermain film pertama kali.


Tiba-tiba, Widya yang sejak tadi di dapur, muncul di ruangan itu sambil membawa mug-mug berisi teh panas.


“Sepertinya kita harus minum teh dulu biar pikiran tenang, kayak iklan TV itu. Ada yang mau teh?” tanya Widya.


“Makasih ya Mbak Wid. Tau aja kalau aku lagi haus!”

__ADS_1


Anita mengambil mug di nampan dan meminum teh itu perlahan. Sedangkan Renita masih tak peduli. Laura membuka mata perlahan, ikut mengambil mug, dan minum teh bersama Anita dan Widya. Pada akhirnya, Renita juga ikut bergabung bersama mereka, minum teh sembari menunggu kedatangan polisi di tempat itu.


***


__ADS_2