Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXVII. The Darkness


__ADS_3

Kegelapan menyelimuti ruang baca. Begitu pekat, hingga Maira tak dapat melihat telapak tangannya sendiri. Masih teringat kalimat-kalimat yang dibacanya dalam novel karya Michael membuatnya napasnya memburu. Jantungnya mendadak berdegup di luar normal. Hal pertama yang ada di pikirannya sekarang ini adalah mencari selamat.


Mulut Maira memang dikenal pedas, tetapi toh ia manusia biasa yang mempunyai hormon adrenalin. Kini ia merasakan hormon adrenalinnya meluber, menciptakan sensasi gemetar seolah seluruh persendiannya dilucuti. Dalam otaknya, masih tergambar betapa sadisnya deskripsi pembunuhan keempat ketika korban dijerat lehernya dengan kawat hingga meregang nyawa. Maira tidak mau mati dengan cara seperti itu.


Perlahan ia meraba-raba rak buku, mencari tempat berlindung. Ia merasa ada orang lain berada di ruangan yang sama dengannya. Begitu perlahan ia beringsut, agar tak menimbulkan suara. Tak berapa lama, ia menunggu apa yang terjadi. Ia mendengar seseorang menutup pintu ruang baca.


Krieeet!


Suasana sangat menegangkan. Maira menahan napas, sambil menutup mulutnya kuat-kuat. Suara langkah kaki terdengar teratur mulai mendekat. Maira duduk berjongkok di bawah rak buku berharap keajaiban terjadi. Tiba-tiba terbayang di pikirannya wajah Karina dan Yoga sambung menyambung, seolah menghantui.


“Aku tak mau mati seperti mereka. Tidak!” gumamnya lirih.


Tiba-tiba, dalam kegelapan yang pekat samar-samar ia melihat sesosok bayangan mendekat. Napasnya terasa berhenti seketika. Maira merangkak menjauh dengan perlahn menuju ke sisi lain rak. Sosok itu seperti memburunya dalam gelap. Otaknya berasa buntu, yang ia inginkan hanya satu. Ia harus keluar dari ruangan itu dalam keadaan hidup.


Ia beranikan berdiri, mengintip dari celah-celah buku yang disusun di rak. Sayangnya tak terlalu jelas terlihat. Umpatan-umpatan ia lontarkan dalam hati. Di tangannya tak ada apa pun yang bisa dipakai untuk bertahan hidup. Jadi pilihannya hanya satu, ia harus lari menghindar.


Perlahan kembali ia menyusur rak, menuju persembunyian lain. Di ruang baca ada beberapa meja baca. Mungkin di sana lebih aman karena lebih leluasa untuk bergerak. Di seberang meja baca ada pintu keluar. Siapa tahu ia bisa berlari keluar melalui pintu itu. Agar lebih leluasa, dilepasnya sepatu yang dipakai. Kini bertelanjang kaki, berjingkat perlahan menuju meja baca.


Baru maju beberapa langkah, tiba-tiba lampu menyala! Entah ia harus senang atau bagaimana, tak peduli. Tak disangka sosok berjubah hitam telah berdiri di hadapannya. Jaraknya tak berapa jauh. Di tangan sosok itu tergenggam seutas kabel tembaga. Benar dugaannya, pembunuh itu akan menghabisi korban berikutnya dengan seutas kabel yang ia bawa!


Tak berpikir panjang lagi, Maira berbalik arah sekuat tenaga. Sayangnya sosok itu tak tinggal diam. Gerakannya begitu cepat memburu langkah Maira. Dalam paniknya, Maira hanya menggunakan rak-rak buku sebagai benteng pertahanan. Sayangnya langkah Maira kalah cepat. Ia merasakan jari-jari tangan mencengkeram bahunya dengan kasar. Tubuhnya tertarik ke belakang!


Tahu-tahu, ia marasakan benda keras mencekik lehernya. Terasa menyakitkan. Sekuat tenaga Maira mencoba melepaskan sesuatu yang menjerat leher. Cekikan makin kuat hingga ia susah bernapas. Semantara tangan kirinya memegangi leher, tangan kanan Maira melayangkan sepatu yang ia bawa ke wajah sosok misterius itu.


Duk!


Sepatu Maira menghantam wajah sosok berjubah hitam. Cekikan di leher mengendur. Hal ini tak disia-siakan Maira. Ia membalik tubuhnya, menendang perut sosok berjubah hitam hingga ia terjajar ke belakang. Menahan sakit, sosok itu berdiri sempoyongan.


“Mati kau, Bangs*t!” umpat Maira.

__ADS_1


Sebelum sempat bangkit, Maira segera berlari menuju pintu. Sosok itu terus memburu Maira, namun sebelum sempat menangkap wanita muda itu, sebuah bantingan keras berdentum di depan wajah si sosok.


Blaamm!!


Maira menutup dengan keras pintu ruang baca hingga si sosok itu terperangkap di dalamnya. Agar tak bisa kemana-mana, Maira mengunci pintu cepat-cepat. Rupanya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Kunci ruang baca masih tergantung. Deru napasnya memburu. Keringat bercucuran. Ia merasa puas telah lolos dari maut. Bahkan ia sangat puas, telah mengunci sosok itu dalam ruang baca.


“Tamat riwayatmu!” teriak Maira sambil mengacungkan jari tengahnya.


Langkahnya gontai, menuju kamar Ammar. Perasaannya lega bercampur takut. Hampir saja ia meregang nyawa di ruang baca. Rupanya ia masih beruntung malam itu. Secara membabi-buta ia mengetuk pintu kamar si polisi. Tak lama, polisi itu keluar dengan mata berat. Ia sudah bersiap hendak memejamkan mata ketika ketukan Maira mengagetkannya.


“Apa kamu bisa lebih sopan sedikit? Jam berapa ini?” ucap Ammar.


“Maaf. Tapi ini penting.”


“Sepenting apa?”


“Astaga! Ini serius kan? Aku akan sangat marah apabila ini hanya candaan!”


Ammar mengernyitkan dahi, menatap sosok Maira dengan tajam. Maira memang terlihat berantakan. Rambutnya kusut masai, dengan muka pucat bermandikan peluh. Maira menunjukkan lehernya di hadapan Ammar Marutami. Bekas jeratan itu jelas tercetak di leher Maira yang mulus. Bekas jeratan yang berwarna merah.


“Menurutmu aku menjerat leherku sendiri, Pak Polisi? Apa untungnya aku berbohong kepadamu? Aku telah berjuang antara hidup dan mati dan kamu anggap ini suatu kebohongan?” Maira mulai gugup.


“Tenanglah, Maira. Tak perlu emosi. Aku tidak bilang bohong, aku hanya bertanya saja tadi. Aku hanya sangat terkejut kamu bisa lolos dari maut. Ini luar biasa sekali. Apalagi seperti yang kamu bilang tadi, kamu berhasil mengurungnya dalam ruang baca. Tentunya ini adalah berita yang sangat baik.”


“Tentu saja. Siapkan senjatamu, mari kita periksa ruang baca! Aku yakin sosok itu tak bisa lolos!”


“Tunggu! Kamu bilang tadi kamu tahu identitas pembunuh itu. Dari mana kamu tahu? Apakah dia memperlihatkan wajahnya?”


“Tidak, Pak Polisi. Sosok itu memakai jubah hitam. Tadi sempat mati lampu sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku bisa merasakan naluri membunuhnya. Ia bagai binatang buas yang sangat bernafsu uuntuk menghabisiku!”

__ADS_1


“Lalu dari mana kamu tahu identitas pembunuhnya?”


“Dari novel yang kubaca ....”


“Novel? Jangan bercanda, Maira! Jangan samakan ini dengan kisah fiksi yang kamu baca. Oke, kalian memang penulis yang gemar berhalusinasi. Tetapi tolong jangan samakan kasus ini dengan novel,” kata Ammar.


“Sudah kuduga kamu tak akan percaya. Kamu akan percaya setelah baca novel itu sendiri. Kamu akan terkejut andai tahu siapa penulis novel itu,” ujar Maira.


“Siapa?”


“Michael Smith Artenton. Aku yakin dia pelaku dari semua pembunuhan ini. Kemiripan urutan pembunuhan sangat mirip, demikian juga dengan alat pembunuhan yang dipakai. Kamu pasti akan tercengang membaca itu.”


“Hmmm. Nanti aku baca novelnya!”


“Sekarang mari kita ke ruang baca dan kita tangkap pembunuh itu!”


Tanpa membuang banyak waktu Ammar membawa pistol di tangannya, mengikuti langkah Maira ke ruang baca. Suasana masih hening. Langkah mereka perlahan menuju pintu.


Klik!


Jari-jari Maira terasa gemetar ketika membuka pintu. Ammar sudah siaga dengan pistol yang tergenggam di tangan. Keduanya masuk dengan jantung berdebar. Hening, nyaris tak ada tanda-tanda seseorang di dalam ruang baca.


“Kamu yakin dia terkunci?” bisik Ammar.


Maira mengangguk. Sungguh di luar dugaan. Tak ada seorang pun dalam ruang baca. Ammar sudah memeriksa tiap sudut ruangan, tetapi sosok berjubah hitam tetap tak menunjukkan batang hidungnya.


“Ruangan ini tidak ada siapa-siapa, Maira!” geram Ammar.


***

__ADS_1


__ADS_2