Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
101.Pesta Tahun Baru


__ADS_3

Jarum jam masih menunjukkan pukul 11.32, tetapi awan tampak sudah bergulung-gulung. Suasana gelap, sesekali kilat menyambar di pelosok langit. Angin mulai behembus kuat, menerbangkan dedaunan kering yang berserak di sepanjang trotoar. Lalu-lintas sedikit ramai. Seorang gadis berbalut busana kasual tempak gelisah di sebuah halte bus, menunggu angkutan umum yang lewat. Ia berharap agar hujan tak segera turun siang itu.


Adinda Kirana, gadis belia itu baru saja pulang dari kampus, tetapi sayangnya dihadang dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Ia memilih untuk bertahan di halte, sembari menunggu angkutan umum yang lewat. Hanya ia sendiri di halte itu, membuat ia sedikit tak nyaman,


Suasana menjelang tahun baru sudah terlihat di kota itu. Sudut-sudut kota mulai bersolek, di beberapa tempat sudah dipasang tenda-tenda besar, persiapan konser musik yang akan digelar nanti malam. Kalau cuaca tak bersahabat seperti ini, tentu akan mengecewakan. Adinda tak peduli dengan segala hiruk-pikuk tahun baru dan pernak-perniknya. Seperti biasa, ia ingin berbaring di kamar kost sendirian, sambil mendengarkan lagu-lagu galau yang ia kumpulkan dalam playlist-nya.


Sebuah mobil berhenti di depan halte, mengagetkan gadis itu. Dari kaca depan menyembul seraut wajah gadis lain berkacamata hitam. Ia mengisyaratkan agar Adinda masuk ke dalam mobil.


“Bareng aku aja yuk!” ajak gadis berkacamata hitam itu.


Adinda melihat ke arah langit yang semakin gelap. Sepertinya ia memang harus menumpang mobil temannya. Ia bergegas masuk ke dalam mobil, duduk di bagian depan.


“Jam segini kok udah pulang, Din?” tanya gadis berkacamata itu.


“Iya. Hanya ada satu mata kuliah aja. Kamu kok udah pulang juga jam segini, Rasti?” tanya Adinda.


Gadis berkacamata yang dipanggil Rasti itu hanya tertawa lebar, sembari menyetir mobilnya menembus kepadatan lalu lintas kota.


“Kamu kayak nggak kenal aku aja, Din! Kalau aku mah udah biasa bolos. Dosen nggak enak ngajar ya pilih bolos. Sebenernya mau ke mal, tapi kok mau hujan. Ya udah pulang aja!” ujar Rasti.


“Rudi nggak jemputin kamu?”


“Ah udahlah! Jangan bicarain Rudi lagi. Males!” kata Rasti dengan gusar.


“Kalian putus?” tanya Adinda.


“Nggak juga sih. Tapi dia bikin kesel. Suka godain cewek-cewek lain. Aku lagi diemin dia. Biar aja! Biar tau rasa. Cowok kayak gitu harus dikasi pelajaran,” kicau Rasti.

__ADS_1


Adinda tak berkomentar apapun. Ia mengenal Rasti dengan cukup baik. Gadis itu sebenarnya pintar, tetapi ia tidak begitu berniat untuk belajar. Orangtuanya super sibuk dan sering bepergian ke luar negeri. Rasti hanya tinggal di rumahnya yang mewah bersama adik laki-lakinya yang masih SMP, serta dua orang ART yang melayani kebutuhannya sehari-hari.


“Eh, ntar malam kamu datang nggak ke pesta tahun baru di rumah Gerry. Kayaknya nggak banyak yang diundang. Datang yuk!” ajak Rasti.


“Males sih sebenernya acara-acara begitu, mending tidur aja di rumah,” ujar Dinda.


“Eh, jangan dong! Sekali-kali lah datang ke pesta. Jangan di rumah aja! Ntar aku jemput di kost-mu ya. Nggak apa-apa, kita datang telat aja,” ucap Rasti.


Dinda menghela napas. Ia tidak menolak. Dua hari lalu, teman sekampusnya, Gerry mengumumkan akan mengadakan pesta menyambut tahun baru di rumah mewahnya. Ia mengundang siapa saja yang mau datang. Sayangnya, undangan itu tak begitu direspon beberapa orang, karena reputasi Gerry tak terlalu bagus. Dia akrab dengan minuman keras dan dunia malam, sehingga beberapa mahasiswa enggan datang ke tempatnya.


***


Hujan baru saja selesai mengguyur kota itu, hingga suasana menjadi sejuk. Untunglah hujan tidak berlanjut sampai malam, sehingga masyarakat kota bisa keluar rumah untuk merayakan tahun baru yang akan tiba dalam hitungan jam.l


Adinda mengenakan gaun hadiah dari ibunya beberapa tahun silam. Sebuah gaun sederhana dengan lengan terbuka, berwarna hitam, terkesan elegan. Ia merias wajah dengan riasan tipis dan natural, tak begitu mencolok. Ia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian banyak orang.


“Wah, nggak nyangka kamu cantik banget. Baru pertama kali ini aku lihat kamu pake gaun. Biasanya kan nggak gini!” puji Rasti, ketika melihat Adinda hendak masuk mobil.


“Ah, biasa aja kok!” sambut Adinda.


“Tapi Rasti bener lho, Din. Kamu kayak beda gitu. Aku yakin ntar cowok-cowok yang di pesta akan melirik kamu, terus ngajakin dansa gitu deh!” timpal gadis berkacamata yang duduk di belakang.


Lena Amalia, gadis berkacamata yang tinggi semampai. Parasnya terlihat cerah, dengan riasan cukup semarak.


Sementara Miranti Tobing, gadis di sebelahnya tampak acuh tak acuh, sibuk dengan ponsel di tangan. Ia begitu fokus, tak peduli dengan obrolan yang terjadi. Ia sedang membaca sebuah laman berita online.


“Eh, kalian sempet ngikutin kasus kastil tua nggak. Dua bulan kemarin kasus itu diberitakan besar-besaran lho di TV. Aku kok jadi serem gitu ya!” ujar Mira.

__ADS_1


“Iya sih, aku sempat lihat beritanya di TV. Serem! Aku nggak mau denger lagi,” ucap Rasti.


“Lagian ngapain sih Mir kamu bahas itu? Kita kan mau ke pesta. Nggak usah bahas yang aneh-aneh!” gerutu Lena.


Miranti terdiam. Mobil Rasti melaju menembus malam, menuju ke sebuah kompleks perumahan elit di ujung kota. Sebuah kompleks perumahan yang luas, dengan bangunan rumah yang megah, dan beberapa mobil mewah terparkir di halaman. Untuk masuk, mereka harus diperiksa oleh sekuriti kompleks.


“Kalian lihat nggak tadi. Sekuriti itu ganteng banget tahu!” celetuk Rasti.


“Idih! Apaan sih! Noh kamu urusin si Rudi. Denger-denger dia sekarang jalan sama Jenny. Bener nggak sih?” Lena menanggapi.


“Gosip aja lo! Aku udah lupain si Rudi. Cowok nggak guna kayak dia, harusnya ke laut aja!” gerutu Rasti.


“Hilih! Lo bilang ke laut, ntar pasti mau juga. Aku udah hapal lagu lamamu,” cibir Lena.


Adinda hanya diam, tak berminat ikut dalam arena gosip itu. Ia lebih tertarik mengamati deretan rumah-rumah indah bak istana negeri dongeng yang berjajar di kompleks perumahan itu.


Tak lama, mereka sampai di sebuah halaman berumput yang luas, di depan sebuah rumah luar biasa megah berlantai tiga. Beberapa mobil lain sudah terparkir pula di halaman. Suasana juga mulai agak ramai. Letupan kembang api beberapa kali meledak di angkasa, padahal belum pergantian tahun.


Banyak mahasiswa bergerombol menikmati minuman sambil menggoda para mahasiswi yang kebanyakan tampil cantik malam itu.


Suara musik berdentum terdengar dari dalam rumah. Adinda ragu, apakah dia harus masuk atau tidak. Baru keluar dari mobil saja, beberapa mata pria sudah menatapnya, seakan hendak menelan bulat-bulat.


“Eh, ayo masuk! Kok malah bengong!” tegur Rasti.


“Aku duluan ya! Aku mau berburu cowok!” ucap Lena. Ia menggamit lengan Mira agar ikut dengannya.


Setelah mengatur napas, Dinda mengikuti langkah Rasti masuk ke arena pesta. Ia merasa canggung dengan mata-mata yang banyak memperhatikan. Dinda memang tampak lain malam itu. Ia terlihat begitu anggun, karena kecantikan alami yang dimiliknya, bukan polesan seperti kebanyakan mahasiswi yang berada di tempat itu.

__ADS_1


***


__ADS_2