Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
228. Lolos


__ADS_3

Mengetahui pintu depan dalam keadaan terkunci, Dimas memutar ke belakang untuk mencari akses masuk yang biasa digunakan. Sementara, Reno masih bersiap-siaga di depan mencegah segala kemungkinan yang terjadi. Dimas mencoba membuka pintu belakang yang terhubung dengan dapur, tetapi ternyata pintu belakang pun dalam keadaan terkunci.


"Sial!" rutuk Dimas sambil menggerak-gerakan pegangan pintu.


Sekilas ia melihat jendela kasa yang menghubungkan dengan dapur dalam keadaan rusak dan terbuka. Rupanya ada seseorang yang sengaja merusak dan menggunakan jendela ini sebagai pintu masuk ke dalam villa. Segera Dimas menggunakan jendela yang telah rusak itu. Begitu ia masuk, ternyata ia terhalang rak yang berisi peralatan dapur, sehingga beberapa alat masak terjatuh dan menimbulkan suara ribut.


"Aduh!" rutuk Dimas.


Lagipula, suasana di dalam villa sangat gelap, sehingga Dimas nyaris tak bisa melihat apa-apa di dalam. Sekarang ia berada di dalam dapur, sambil berdiri wasapda. ia menajamkan pandangan, sambil menyalakan cahaya dari ponselnya. Dimas menduga bahwa masih ada orang di dalam villa itu. Ia mendengar suara langkah kaki di lantai atas. Perlahan ia mencari tangga terdekat, sambil terus waspada. Sebuah pistol tergenggam di tangan kanan, sedang tangan kiri memegang ponsel.


Langkah demi langkah terasa mencekam. Ia menemukan tangga kayu di ruang tengah. Setiap langkah yang ia buat, menimbulkan bunyi berderit, padahal ia sudah cukup berhati-hati. Di atas tangga, ia melihat sebuah lorong yang mengapit dua kamar yang pintunya berseberangan. Ia kian waspada, sambil menajamkan pandangan dan pendengaran.


Ia mendekat ke salah satu pintu. Rupanya pintu itu telah rusak bagian kuncinya, karena dibuka secara paksa dengan suatu alat. Perasaan Dimas makin cemas. Ia khawatir telah terlambat dan akan menemukan pemandangan yang sama sekali tak diinginkan. Ia buka perlahan pintu kayu yang telah rusak itu.


Krieet!


Suara deritan pintu itu menimbulkan suara yang cukup menyeramkan, apalagi di kondisi yang gelap seperti ini. Dimas tetap waspada dengan senjatanya masuk ke dalam kamar. Suasana kamar itu sunyi dan gelap. namun, tiba-tiba ia mendengar suara napas manusia seperti terengah-engah dan suara gemerisik. Ia segera mencari sumber suara sambil mengacungkan senjata.


Dimas mengacungkan senjata ketika ia melihat sesosok manusia di dekat lemari bertutupkan selimut. Dimas menyingkap selimut itu, mendapati seorang pria yang menutupi muka dengan kedua tangan.


"Ampun! Ampun! Jangan bunuh aku ... jangan!" pinta orang dalam selimut dengan nada memelas.


Dimas menghela napas. Ia mendapati Ollan yang sedang ketakutan, bersembunyi dekat lemari. Ada rasa lega di hati Dimas, karena rupanya dia belum terlambat. ia tak mendapati sosok pembunuh di sekitar tempat itu. Hanya saja, pintu kamar sudah sempat dirusak.

__ADS_1


"Kamu Ollan?" tanya Dimas.


"I-iya Pak. Saya Ollan. Ampun, Pak!" ucap Ollan dengan nada ketakutan.


"Kamu aman. Aku bukan pembunuh, aku dari kepolisian. Berdiri lah! Mana pembunuh itu?" tanya Dimas.


Ollan membuka talapak tangan yang menutupi muka. Ia bernapas lega, karena yang datang bukan sosok pembunuh itu. Padahal, tadi ia yakin bahwa ia tidak akan selamat. Kedatangan Dimas membuatnya merasa lega bukan kepalang. namun, Ollan juga sama sekali tidak tahu keberadaan si pembunuh. Bahkan, ia mengira yang datang tadi adalah seseorang yang ingin mengincar nyawanya.


"Aku-aku ... tidak tahu, Pak. Tadi memang dia berusaha mendobrak pintu, tetapi mungkin ketika dia tahu ada yang polisi yang hendak masuk, dia kabur entah kemana," terang Ollan.


Dimas menyapukan pandangan ke penjuru ruang. Ia tidak ingin kembali kecolongan. Ia harus bisa membawa Ollan dalam keadaan hidup. Tak lama, ollan mengikuti di belakang Dimas untuk segera keluar dari villa itu. Reno juga sudah berhasil masuk ke dalam villa melalui jendela dapur. Dia terkejut melihat Dimas bersama Ollan yang sedang dalam keadaan takut.


"Lebih baik kamu amankan Ollan dulu saja! Aku akan menyisir tempat ini. Siapa tahu ada petunjuk yang bisa kita temukan!" ucap Reno.


Ia bergerak sampai keluar villa yang gelap itu. Hanya dengan menggunakan senter, ia memeriksa segala kemungkinan yang bisa digunakan kabur oleh pelaku. Namun, sepertinya tak ada yang mencurigakan. Bisa jadi, pelaku itu lari ke arah perbukitan untuk meloloskan diri. Ia kembali menemui Dimas dan Ollan yang masih dalam keadaan takut.


Mereka mengamankan Ollan yang sedang dalam keadaan syok. Di dalam mobil, Ollan duduk di bangku tengah, hanya terdiam, karena masih teringat dalam pikirannya, bagaimana tadi ia hampir mati terbunuh di dalam kamar yang didobrak secara paksa oleh seseorang.


"Jadi bagaimana ceritanya, Ollan?" tanya Reno sambil menyetir mobil.


"Aku ... aku sungguh sangat terpukul dengan kejadian ini, Pak! Aku pikir kematian sudah begitu dekat. Padahal awalnya aku ke villa itu hanya untuk menenangkan pikiran, karena aku baru saja kehilangan pekerjaan. Namun, ternyata anggapanku bahwa villa itu terlindung adalah sebuah kesalahan. Villa itu justru tempat paling sempurna untuk mengincar nyawaku," lirih Ollan.


"Kamu punya dugaan siapa pelakunya, Ollan? Atau mungkin kamu punya musuh atau habis bertengkar dengan seseorang?" tanya Reno.

__ADS_1


"Musuh? Aku merasa tak pernah punya musuh secara serius, Pak. Orang-orang di sekitarku sangat baik, dan aku tak pernah berpikir bahwa ada orang yang akan menginginkan kematianku. Ini sangat mengejutkanku," cerita Ollan.


"Oya, kamu bilang tadi bahwa kamu kehilangan pekerjaan. Mengapa kamu malam memilih villa Henry untuk kamu jadikan tempat untu menenangkan diri?" Reno terus mengajukan pertanyaan.


"Karena hanya villa itu satu-satunya yang ada dalam pikiranku, karena aku memegang kuncinya. Aku nggak tahu harus pergi kemana, Pak. Otakku sangat kalut pada waktu itu. Jadi aku meutuskan untuk pergi ke villa, paling tidak sampai dua atau tiga hari, karena aku sangat malas bertemu orang-orang," ucap Ollan.


"Kamu izin ke Henry?" tanya Reno lagi.


"Tidak, Pak. Bang Henry tak tahu kalau aku memakai villa-nya. Aku pakai begitu saja, karena kupikir Bang Henry sendiri jarang memakai villa, jadi aku bisa menempati sekaligus membersihkan," jawab Ollan.


"Apakah ada orang yang tahu bahwa kamu sedang berada dalam villa itu?"


"Iya, Pak. Sebelum aku memutuskan untuk tinggal di villa itu, aku ... aku sempat mengirim kabar pada seorang teman bahwa aku akan berada di villa itu," ucap Ollan.


"Teman? Siapa?"


"Salah seorang sahabatku, Pak. Namanya Dian. Tapi, kurasa dia tidak akan bilang ke siapa-siapa kalau aku lagi ada di villa itu. Entahlah, saat ini aku tidak mau berpikiran apa-apa saat ini. Yang penting aku selamat, itu sudah cukup buatku," bisik Ollan.


Reno manggut-manggut. Kini ia semakin dihadapkan permasalahan yang pelik. Ia masih harus menyelidiki lebih lanjut mengapa Ollan menjadi sasaran pembunuhan? Mungkin kalau Anita, ia masih bisa berpikir bahwa gadis itu memang ada hubugangan dekat dengan Daniel. Tapi Ollan? Apa hubungannya dengan Daniel?


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2