
Dimas memperbaiki posisi duduknya sambil memelototi tulisan dalam map yang di bawanya, sementara para wanita yang ada di hadapannya sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Paras cantik mereka tampak terlihat samar-samar, terpapar cahaya lilin yang bergoyang tertiup angin.
"Aku akan beralih ke motif. Kalian tadi sudah mendengar kronologi semua peristiwa yang sudah terjadi di kastil ini. Sekarang aku akan mengurai motif si pelaku. Sejujurnya, ini agak pelik karena seperti yang kubilang tadi, tak ada pola dalam kasus pembunuhan ini. Seolah si pembunuh memilih korbannya secara acak. Tetapi tentu itu tidak benar. Tidak mungkin seseorang membunuh tanpa suatu alasan kan? Pembunuhan Lidya jelas bukan suatu kebetulan atau asal-asalan. Si pelaku memang sudah merencanakan pembunuhan ini sejak lama, dan ia berpikir bahwa kegiatan reuni adalah momen yang paling tepat untuk melancarkan aksinya. Mungkin karena dirasa yang paling mungkin dibunuh duluan saat itu Lidya, maka Lidya lah yang menjadi korban pertama. Bukan tidak mungkin kalian juga sedang dalam incarannya, tetapi belum menemukan waktu yang tepat," papar Dimas.
"Jadi kira-kira apa motifnya?" tanya Rosita lagi.
"Aku mencoba menelusuri pola pembunuhan yang terjadi, dan menghubungkan rangkaian kejadian-kejadian yang sudah ada, serta memeriksa latar belakang kalian semua. Aku baru sadar, kalau pembunuhan ini mirip dengan pembunuhan yang pernah menimpa para penulis yang pernah tinggal di kastil ini. Pembunuhan Lidya identik dengan pembunuhan Karina Ivanova, penulis terkenal itu. Demikian juga Farrel yang dipenggal kepalanya juga hampir sama dengan yang menimpa Yoga. disusul dengan pembunuhan Kara yang juga sama dengan pembunuhan Rania. Pelaku pembunuhan itu adalah Tiara atau dalam hal ini kembarannya yang bernama Tivani. Ia mempunyai masa lalu kelam. Ia dan ibunya sengaja dicampakkan oleh Anggara Laksono yang memilih untuk kawin lagi. Tiara atau Tivani adalah sepupu dari Mariah. Tentu kalian juga pernah dengar kisah kelam ini, bukan?" tanya Dimas.
Para wanita itu mengangguk-angguk. Mereka memang pernah mendengar kisah kelam di balik pembunuhan yang menimpa para penulis terkenal itu. Kisah itu ditulis ulang dalam sebuah novel oleh Michael Smith Artenton, seorang penulis novel misteri yang berhasil lolos dari pembunihan di kastil tua, serta kisah ini juga banyak diulas dalam berita-berita televisi.
"Jadi kesimpulannya bagaimana?" tanya Rosita dengan antusias.
"Kesimpulanku adalah, si pelaku pembunuhan yang sekarang adalah pengagum Tiara, yang mungkin mempunyai kisah hampir sama. Kemungkinan dia berasal dari keluarga yang hancur, dengan orang tua tunggal yang ayahnya berselingkuh. Dugaanku ini makin menguat, ketika aku memeriksa latar belakang keluarga kalian, walau ada yang memalsukan data kartu keluarga karena hal ini," tutur Dimas.
"Siapa yang berbuat sekejam itu?" tanya Nadine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu belum apa-apa, Nadine. Yang lebih keji adalah ibu dari si pelaku ini juga menghabisi suami dan selingkuhannya, kemudian menanam jasad mereka di halaman belakang selama bertahun-tahun. Kami baru berhasil mengungkap misteri itu kemarin. Bukankah itu sangat keji?" tanya Dimas.
Semua wanita itu menunjukkan paras bergidik mendengat kekejian yang diceritakan oleh Dimas. Namun, Dimas tahu bahwa ada satu dari mereka yang sedang berakting. Dimas hanya tersenyum sinis melihat sandiwara itu.
"Si pembunuh lupa, tak ada kejahatan yang sempurna. Semua akan terungkap pada waktunya. Tentunya, pembunuhan yang terjadi itu juga berkaitan dengan masa lalu kalian yang kurang baik. Maksudku adalah, saat kalian membentuk suatu grup bernama The Girl Squad. Sebuah grup yang awalnya dibangun atas dasar ingin tampil bergaya di antara yang lain, dengan anggota gadis-gadis populer di bidangnya masing-masing. Mariah yang berkharisma, Rosita yang trendy, Nadine yang cantik, Maya yang cerdas, Stella yang petualang, dan Lidya yang modis. Sayangnya, pertemanan itu hanya omong kosong, karena mereka ta mau tahu dengan latar belakang masing-masing, hanya ingin terlihat tampil bergaya di hadapan yang lain. Selain itu, sikap mereka juga sangat meremehkan yang lain, seperti misalnya ... Suci!" Dimas menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
Kembali para wanita itu menundukkan pandangannya. Masa lalu yang kelam itu dikorek oleh Dimas dengan gamblang. Rasanya mereka seolah ditelanjangi, sehingga mereka merasa bersalah dan malu. namun, toh semua itu sia-sia, karena harga yang harus dibayar teramat mahal. Banyak nyawa yang harus dikorbankan karena ini, bahkan nyawa orang yang tak bersalah sekali pun.
"Suci Andriani, pasti nama itu tak asing di telinga kalian bukan? Gadis hitam manis yang ingin numpang populer, tetapi kalian hina dan campakkan, sehingga menimbulkan depresi yang mendalam. Gadis ini memendam semuanya, bahkan tak menceritakan kejadian ini pada siapa pun termasuk ibunya. Bahkan ketika seorang pria memperdayanya, ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Semua yang terjadi pada Suci adalah hal yang sangat menyedihkan. Hal itu lah yang membuat salah seorang dari kalian bersimpati padanya. Secara diam-diam, salah seorang dari kalian membuat suatu hubungan rahasia dengan Suci, mendengarkan setiap keluhan-keluhannya, bahkan berjanji dengan suatu ikata persaudaraan aneh, dengan janji ikatan darah!"
Dimas mengeluarkan secarik kertas dan menunjukkan pada para wanita itu. Di atas kertas terdapat bekas olesan darah berbentuk menyilang. Dimas memperoleh kertas itu dari ibu Suci. Sepertinya kertas itu semacam kertas perjanjian yang dikuatkan dengan tanda darah dari Suci dan dari seseorang yang masih dirahasiakan identitasnya.
"Walau darah di kertas ini telah mengering, kami tetap bisa mengecek kandungan di dalam darah ini, dan ternyata memang golongan darahnya identik dengan salah seorang di antara kalian, yaitu golongan darah AB plus.Hanya sedikit orang yang mempunyai golongan darah ini. Di sini, hanya ada salah seorang dari kalian yang mempunyai golongan darah itu."
Dimas tersenyum karena ia merasa sebenarnya identitas si pelaku ini sudah dalam genggamannya, sehingga sulit si pelaku untuk mengelak karena bukti-bukti yang ada sudah ia kantongi.
"Siapa ... siapa orangnya?" tanya Rosita tak sabar.
"Tenang Rosita! Aku masih belum selesai. Selain golongan darah dan latar belakang keluarga, aku juga mencatat kejanggalan dalam kasus ini, walau si pelaku sudah beberapa kali mencoba berbohong dengan sangat meyakinkan. Selain itu harus kuakui, pelaku ini adalah pemain drama yang sangat hebat, karena hampir berhasil mengelabui banyak orang. Tak ada yang menduga kalau di balik kelembutan, tersimpan rasa dendam dan kekejian yang mendalam. Ia berjanji akan menghabisi kalian semua, atau paling tidak akan mengambil orang-orang yang kalian sayang, demi menunaikan janjinya kepada Suci. Padahal Suci sendiri tidak menginginkan hal ini. Suci gadis baik dan tidak suka mendendam. Tentu kalau ia tahu ini semua, ia akan menyesal. Sungguh disayangkan bukan?"
"Sabar Rosita. Baiklah, aku akan sebut satu nama itu beserta alasan-alasannya. Latar belakang keluarga sudah sangat identik, lalu aku juga melihat kalung yang sama dengan kalung yang pernah dipakai Suci dalam foto, di kamar pelaku ini, lalu aku juga melihat golongan darah yang sama, serta kejanggalan cerita-cerita yang nanti akan kusampaikan. Tak lain dan tak bukan pelakunya adalah ...."
Tiba-tiba Dimas menatap tajam ke arah mereka satu-persatu. Semua berharap-harap cemas menanti ucapan yang akan meluncur dari mulut Dimas. Paras mereka gelisah, saat Dimas tersenyum penuh arti.
"Maya!" ucap Dimas tajam.
"A-aku?" Maya tampak ketakutan mendengar itu.
__ADS_1
"Tentu saja bukan kamu, May. Maaf, tapi aku hanya mengingatkan bahwa kamu juga sedang dalam incarannya karena pelaku ini menyimpan dendam besar terhadpmu, dan sangat mengiginkan kematianmu. Hanya saja saat kepalamu dipukul di hutan, ia tak punya banyak waktu untuk menghabisimu, karena ia sedang mengincar Farrel. ia ingin membuat kematian Farrel menjadi dramatis seperti kematian Yoga, jadi kamu diletakkan begitu saja, tetapi bukan berarti kamu akan selamat. Si pembunuh ini sedang menungg saat yang tepat untuk menhabisimu. Sayang, kesempatan itu kupastikan tidak ada, karena kejahatannya akan berhenti malam ini!"
"S-siapa itu?" tanya Maya takut-takut.
"Tak lain dan tak bukan, si pelaku adalah Nadine!"
***
__ADS_1