Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
284. Diary Widya


__ADS_3

Para penghuni istirahat selama sepuluh menit, sebelum Reno dan Ammar kembali bertanya pada mereka. Mereka menikmati kopi dan teh yang telah disediakan oleh Bu Mariyati sambil mengobrol santai, sementara Ammar dan Reno masuk ke dalam untuk berdiskusi sejenak.


"Apa yang kau tangkap dengan wawancara singkat tadi?" tanya Reno sambil menyeruput kopi buatan Bu Mar.


"Sejauh ini sepertinya aku tak menemukan sesuatu yang berarti. Namun, aku sempat mencatat ada yang menyembunyikan sesuatu, alias tidak sepenuhnya berterus terang. Ya, memang mereka bercerita secara spontan, tetapi tidak semua diceritakannya padamu," terang Ammar.


"Siapa yang melakukan itu?" tanya Reno penasaran.


"Ini hanya analisisku, Ren. Berdasarkan pengalaman yang kudapatkan sejak aku terjun di dunia investigasi. Bahasa tubuh adalah hal yang sangat penting dalam komunikasi. Namun, untuk kebenarannya tidak bisa kita pastikan. Mungkin saja analisisku ini salah," jawab Ammar.


"Tak apa, aku hanya ingin tahu siapa saja di antara mereka yang punya indikasi berbohong?"


"Semua yang sudah kamu wawancara, semuanya punya rahasia yang disembunyikan. Ini terlihat dengan cara mereka berbicara yang penuh kehati-hatian, agar tak salah. Mata mereka tak fokus, seperti berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. Entahlah, mungkin itu memang gaya mereka, namun aku menilai memang ada rahasia mereka yang tak ingin diketahui orang. Ditambah lagi, mereka berkecimpung di dalam dunia hiburan yang penuh kepalsuan. Tentu mudah saja mereka berakting, walaupun begitu kebohongan tetap tak bisa disembunyikan," lanjut Ammar.


"Hmm, ya ... ya aku sependapat. Terutama Riky dan Guntur yang begitu misterius. Hubungannya dengan Widya cukup rumit. Kurasa ada unsur cinta segitiga di antara mereka. Entahlah. Tulisan Widya, tentang kekagumannya pada Riky yang kupikir adalah sebuah rahasia, ternyata banyak juga yang tahu akan hal itu," ucap Reno.


"Belajarlah satu hal, Ren! Tak ada rahasia di dunia artis. Bahkan aib-aib mereka seolah sasaran empuk pemberitaan media, serapi apa pun mereka sembunyikan, pasti akan terendus oleh publik," sungging  Ammar.


"Sebenarnya ada yang mengganjal di pikiranku akan satu hal. Kalau memang Widya sengaja disetting untuk bunuh diri, apa hubungannya dengan kasus yang terdahulu? Apa hubungannya dengan Daniel Prawira?" tanya Reno.


"Kau belum baca buku harian Widya secara keseluruhan?" tanya Ammar.


"Hmm, belum. Hanya lembar-lembar awal saja. Kamu menemukan sesuatu dalam buku harian itu selain rasa sukanya pada Riky?"


"Aku tidak tahu apakah info ini valid atau tidak, yang jelas Daniel Prawira ini mempertahankan Widya sebagai penata rias artisnya selama bertahun-tahun. Widya menuliskan rasa terima kasihnya pada Daniel Prawira karena mempercayainya. Coba kau ambil buku itu!" terang Ammar.


Reno segera mengambil buku harian yang ia temukan di kamar Widya, seraya membuka dengan cepat lembar-lembarnya. Ia baca ulang bagian-bagian tulisan Widya yang erat kaitannya dengan Daniel Prawira. Ia mengecek tulisan Widya mengenai Daniel Prawira.

__ADS_1


Mata Reno  tertumbuk pada sebuah tulisan lain yang mempunyai arti penting.


"Rasa terima kasih tak terhingga pada Bos Besar, Mister Daniel Prawira atas kepercayaannya selama bertahun-tahun mempercayakan urusan rias-merias artis. Aku memang bukan yang sempurna, tetapi Pak Daniel tahu siapa yang bekerja dengan menggunakan hati. Ah, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tahu ada yang nyinyir dengan pencapaianku ini. Mengapa bukan dia saja yang didepak dari samping Pak Daniel? Pembisik misterius bagai ular yang menggerogoti jiwa"


"Bukankah ini tulisan yang aneh?" tanya Reno sambil menunjukkan tulisan itu kepada Ammar.


"Ya, ini yang kumaksud! Siapa yang dimaksud 'dia' di sini? Pembisik misterius yang berada di samping Daniel Prawira? Siapa yang dimaksud Widya? Sepetinya orang ini tak rela kalau Widya menjadi penata rias artis. Namun, Daniel Prawira tak begitu mempedulikannya," ucap Ammar.


"Jadi siapa pembisik misterius ini?"


"Nanti kita akan cari tahu jawabannya!"


Sepuluh menit berlalu, mereka harus kembali untuk menginvestigasi dua orang terakhir yakni Henry dan Rianti. Mereka melangkah, kembali ke beranda depan. Di tempat itu, para penghuni sudah menunggu kehadiran mereka berdua. Reno dan Dimas mengambil tempat, kemudian bersiap.


"Bagaimana? Apa kalian sudah cukup rileks? Kalian tidak perlu tegang. Kalian sudah biasa syuting film, jadi harusnya tak perlu setegang ini," kata Reno.


Reno hanya tersenyum sambil mengangguk. Tatapannya kini menyasar pada Rianti yang sepertinya sudah siap. Wanita itu berusaha tersenyum, tetapi sejatinya tidak bisa menutupi ketegangannya.  Ia menggenggam selembar saputangan untuk mengurangi rasa tidak nyaman.


"Kamu sudah siap Rianti?" tanya Reno.


"Oh, tentu saja. Silakan kalau ada yang ingin ditanyakan," ucap Rianti sambil tersenyum.


"Pertanyaan yang sama, Rianti. Apa yang kamu lakukan dua jam menjelang Widya melakukan bunuh diri?" tanya Reno.


"Tak ada hal khusus yang saya lakukan. Pak. Sebenarnya kemarin aku merasa agak pusing, karena malam sebelumnya aku tak biasa tidur karena gangguan bunyi-bunyi di luar kamar. Jadi sehabis makan siang aku memutuskan untuk berbaring dan minum obat paracetamol untuk meredakan rasa pusing," ucap Rianti.


"Setelah itu kamu turun untuk ikut jalan sore bukan?"

__ADS_1


"Iya, Pak. Karena rasa pusing sedikit mereda. Jadi aku berpikir mungkin jalan-jalan akan membuatku sedikit lebih rileks. Tapi ternyata jalan sore itu juga gagal dilakukan. Padahal pagi sudah direncanakan, ternyata gagal juga. Sepertinya kita harus menjadwal ulang rencana ini," kata Rianti sambil meremas saputangannya.


"Jadi kamu sempat tertidur sewaktu di kamar?" tanya Reno lagi.


"Ya, saya sempat tertidur, tetapi hanya sebentar. Mungkin hanya lima atau sepuluh menit. kemudian aku terbangun melihat jam. Rupanya sudah cukup sore, sehingga aku bergegas turun ke bawah. Nah, pada saat itu aku memang melewati kamar Widya. Kukira dia sudah turun ke bawah, tetapi aku mendengar suara orang bercakap-cakap di dalam kamar Widya," terang Rianti.


"Suara laki-laki atau perempuan?"


"Aku nggak yakin, Pak. Suara itu cukup kecil dan tak jelas terdengar. Mungkin itu perasaanku saja," kata Rianti.


"Hmm, oke ... oke. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Widya? Apakah kamu mengenalnya dengan cukup baik?" tanya Reno.


"Widya adalah penata rias yang cukup terkenal, dan sering merias suamiku, jadi otomatis aku kenal dia, karena aku sering ikut suami ke tempat syuting. Ya, mungkin aku dan Widya tidak berteman akrab, tetapi tentu saja kami saling mengenal. Kami saling menyapa apabila bertemu di suatu pertemuan atau acara," lanjut Rianti.


"Ada hal menarik yang kau catat dari Widya? Atau mungkin kamu sempat mencatat hal yang aneh yang berlaku padanya?" tanya Reno.


Rianti berpikir sejenak sambil mengingat-ingat, sampai pada akhirnya ia menggeleng.


"Aku jarang sekali bertemu Widya. Kalaupun bertemu, dia juga tak pernah bicara masalah pribadi. Hanya saja, semua juga tahu kalau ia menyukai Riky, tetapi aku tak mencampuri urusan yang bukan urusanku. Aku juga tak pernah mengungkit-ungkit masalah itu," kata Rianti.


"Jadi kalian tidak berhubungan dekat layaknya teman kan ya?" tanya Reno lagi.


"Kurasa tidak, Pak. Kami memang mengobrol, tetapi sebatas saling kenal. Kurasa Widya agak tertutup dengan orang lain. Entahlah, aku tak begitu mengenalnya secara baik," pungkas Rianti.


"Oke. Kami akan catat semua informasi yang kalian berikan. Interviu ini sangat penting untuk kita, jadi kuharap kalian bisa jujur di sini. Berarti tinggal satu yang belum kita wawancara hari ini, Henry. Apa kau siap?"


"Tentu! Aku siap, Pak!" jawab Henry cepat.

__ADS_1


***


__ADS_2