Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
140. Penemuan


__ADS_3

Gerry masih meringkuk di kursi di dalam mobil ketika sosok itu berjalan mengitari mobil. Sesaat kemudian si sosok menggebrak badan mobil.


Braaak!


“Turun Gerry! Turun! Atau aku akan meledakkan kepalamu!” ancam sosok itu sambil mengacungkan pistol ke kaca mobil.


Melihat itu, Gerry gentar juga. Untuk turun pun ia juga masih merasa ragu-ragu. Saat ini situasinya bagai buah simalakama. ia ragu, antara turun atau tidak. Pada akhirnya, ia tidak punya pilihan lain. Ia pasrah dengan apa yang terjadi. Perlahan ia membuka kunci, dan turun dari mobil. Sosok itu menyeringai puas sambil mengacungkan senjata tepat ke kepala Gerry.


“Kamu takut Ger?” tanya sosok itu.


“Tembak saja aku! Tak kusangka kamu pelaku dari ini semua. Selama ini kamu berbaik hati kepadaku, ternyata semua adalah topeng busukmu. Tembak saja aku kalau berani!” tantang Gerry.


“Tenang Ger! Tenang! Semua memang akan mati. Aku sudah membereskan Alma. Sepertinya kamu juga akan menyusul secepatnya, tetapi aku tidak mau terburu-buru. Ada banyak yang harus kita kerjakan. Tepatnya, sesuatu yang harus kamu kerjakan!” ucap sosok itu.


“Aku tidak akan menuruti perintah bodohmu itu!”


“Kamu pasti mau Gerry. Dan harus mau! Sebab kalau tidak, maka aku sendiri yang akan menghabisimu. Aku kenal dirimu. Kamu takut mati kan? Polisi sebentar lagi pasti akan kesini. Sebaiknya kita segera pergi, dan biarkan para polisi mengurus mayat polisi wanita bodoh itu!”


Tak lama, sosok itu mengisyaratkan Gerry untuk masuk ke dalam mobil putih. Sebenarnya Gerry merasa enggan, tetapi ia tak punya pilihan yang lebih baik. Gerry masuk ke kursi depan dengan todongan senjata.


“Kamu bisa menyetir kan? Nah, aku mau kamu menyetir sesuai dengan petunjukku!” perintah sosok itu.


Gerry terdiam. Ia memegang setir mobil dengan enggan. Keinginannya untuk kabur kian menguat. Diam-diam ia merencanakan sesuatu. Sayangnya hal itu terbaca oleh sosok berbaju hitam.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Ger! Jangan bodoh! Jangan bermain-main denganku, karena nyawa taruhannya. Jalankan mobil sesuai petunjukku dan jangan bertingkah aneh. Kalau kamu salah arah satu meter saja, maka peluru ini akan menembus perutmu. Kupastikan kamu mati malam ini juga!”


Gerry tak punya pilihan lain. Ia menjalankan mobil sesuai arah yang diucapkan oleh sosok itu. Ia merasa, harus segera kabur dari dalam mobil ini, walau harus mempertaruhkan nyawa sekali pun. Sambil menyetir, Gerry masih memutar otak agar bisa lepas dari cengkeraman manusia psikopat ini.


“Belok kanan!” perintah sosok sambil mengarahkan pistol ke arah perut Gerry.


Gerry menuruti perintahnya. Sepertinya mustahil baginya untuk lolos. Ia juga tidak mau mati konyol begitu saja. Ia harus berbuat sesuatu!

__ADS_1


***


Dimas tiba di kantor polisi tepat ketika mobil Reno hendak meluncur. Buru-buru Dimas turun dari taksi dan berganti masuk ke dalam mobil Reno. Ia menatap Reno dengan perasaan bersalah.


“Maaf, aku sedikit terlambat!” ucap Dimas cepat.


“”Hmm. Tumben? Ada masalah?” tanya Reno.


“Nggak kok. Hanya masalah kecil saja, tetapi sudah dapat kuatasi. Ngomong-omong kita langsung menuju kediaman Gerry nih!”


“Iya, kita langsung ke rumah Gerry!”


Mobil yang dikendarai Reno segera meluncur ke jalan raya yang mulai sepi, menuju kediaman Gerry yang agak jauh. Paras Reno tampak gelisah, sehingga menimbulkan beragam tanya di benak Dimas.


“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi ya?” tanya Dimas.


“Sejujurnya aku merasa bersalah, Dim! Aku tadi menyuruh Fani untuk mengawal Gerry karena memang tak ada orang lain yang jadwalnya kosong selain dia. Tetapi aku takut terjadi apa-apa dengan dia. Bagaimanapun Fani adalah rekan kerja kita yang cukup piawai dalam mengatasi berbagai kejahatan. Tapi entah mengapa kali ini aku merasa khawatir. Aku sudah menghubungi berkali-kali, tetapi tak diangkat. Demikian juga radio mobilnya juga tak terjawab. Bukanlah ini nggak biasa?” cemas Reno.


Mobil itu melaju agak kencang menyusuri jalan yang lengang. Kota ini sedang dicekam rasa takut yang luar biasa. Padahal jarum jam menunjukkan waktu terlalu larut, tetapi suasananya sudah begitu sepi. Banyak orang memilih berdiam di rumah semenjak banyak kejadian pembunuhan yang meneror kota.


Mobil itu mulai memasuki kawasan pinggiran. Mata Reno tiba-tiba menangkap mobil polisi yang terparkir di pinggir jalan sepi dekat pepohonan. Lampu polisi di mobil itu masih berputar-putar, menerangi sekitar yang gelap. Namun, kecurigaan Reno memuncak, karena seolah tak ada seorang pun di sana.


“Aku yakin itu mobil Fani! Mari kita periksa!” ucap Reno.


Reno mengehntikan mobilnya di belakang mobil polisi itu. Mereka turun dengan tetap waspada, dengan senjata tergenggam di tangan. Merea memeriksa dalam mobil, ternyata kosong tak ada seorang pun di dalamnya.


“Kosong? Mana Fani dan Gerry?” tanya Reno.


“Aku akan periksa sekitar tempat ini!”


Dimas mulai berkeliling. Pertama ia mencurigai tanah lapang yang berada di sisi jalan. Tanah lapang itu memang agak tersembunyi dari rerimbunan pohon yang tumbuh menjulang. Kondisi rumputnya agak tinggi. Sepertinya biasa digunakan untuk bermain bola menjelang sore oleh anak-anak muda setempat.

__ADS_1


Dimas melangkah dengan waspada. Perasaannya tidak nyaman. Benar saja, beberapa meter di depannya ia melihat sesosok tubuh tergeletak tak bergerak. Degup jantungnya berubah tak beraturan. Dalam gelap, ia menggunakan cahaya dari ponsel untuk menerangi sekitar. Ia mendekati sosok yang tergeletak itu, dan seketika ia terkejut bukan kepalang!


Ia melihat tubuh Fani yang tewas dalam keadaan mengenaskan. Kepalanya dipenuhi darah karena tertembus peluru. Lutut Dimas terasa lemas. Segera ia menghubungi Reno yang berjaga di sekita mobil dengan menggunakan ponsel.


“Ren ... tolong panggilkan aparat dan ambulans ke sini!” ucap Dimas dengan suara bergetar.


“Ada apa, Dim? Apa yang kamu temukan?” jawab Reno di seberang.


Dimas hanya menggelengkan kepala dengan sedih. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia sama sekali tak menyangka bahwa jasad yang tergeletak tak bergerak itu adalah Fani, rekan satu kerjanya.


“Dimas, apa yang terjadi?” tanya Reno tak sabar.


“Fani ... “ jawab Dimas dengan lemah.


“Fani? Ada apa dengan Fani? Dia baik-baik saja kan?” tanya Reno.


“Sepertinya kamu harus melihat sendiri ke sini, Ren!” jawab Dimas.


Reno yang mendengar ucapan Dimas menjadi cemas. Setengah berlari ia menyusul ke tempat di mana Dimas menelusur. Langkahnya tergesa. Perasaannya sungguh tak enak. Ia tak dapat membayangkan kalau-kalau rekannya itu benar-benar tewas!


Reno melihat Dimas sedang berdiri di samping sesosok tubuh yang tergeletak tak bergerak di rerumputan. Dari sini, Reno sudah dapat menebak apa yang terjadi. Apalagi setelah ia mendekat untuk memastikan siapa sebenarnya sosok yang tergeletak itu.


Reno dapat mengenali secara jelas. Ya, sosok itu memang benar Fani. Ia melihat rekan wanitanya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Perasaan bersalah seketika menyeruak.


“Aaagghh!”


Reno berteriak keras. Ia merasa seperti orang bodoh yang dipermainkan oleh pembunuh berantai. Ia menyesali kematian Fani yang tragis. Ia menggeram menahan amarah.


“Aku bersumpah! Aku sendiri yang akan menghukum pembunuh gila itu!” geram Reno.


***

__ADS_1


__ADS_2