Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
148. Pengejaran


__ADS_3

Sosok itu menerima paket yang baru saja diberikan padanya dengan perasaan penuh tanya. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan Gerry dan Nayya dalam apartemen. Sebelum pergi, ia berpesan kepada mereka.


“Aku ada urusan lain hari ini. Jangan bertindak macam-macam dan membuat keributan. Malam ini tidak ada ekstra tempat tidur buat kalian, karena kalian sudah membakarnya, maka kalian harus tidur di lantai atau di manapun terserah, aku tak peduli. Aku akan kembali besok pagi dengan membawa makanan. Tak ada makan malam buat kalian hari ini. Jadi biasakanlah bertahan dengan perut kosong!”


Gerry dan Nayya sebenarnya merasa sangat senang ketika sosok itu pergi, walaupun mereka sadar kondisi apartemen sangat tidak layak setelah kekacauan tadi siang. Apartemen terlihat kacau dan berantakan. Asap masih sedikit pekat, sementara sisa-sisa barang yang terbakar masih berserakan.


“Aku akan bersihkan apartemen ini,” ucap Nayya setelah sosok itu benar-benar pergi.


“Tidak perlu, Nay! Buat apa? Biarkan saja! Ini bukan apartemen kita. Lebih baik kita siapkan saja tempat untuk beristirahat kita nanti malam. Aku akan tidur di bawah, sementara kamu bisa menggunakan sofa,” kata Gerry.


“Kamu tidur di bawah? Tapi lantainya kan dingin. Jangan! Pakai saja sofanya. Paling aku juga nggak tidur. Aku tak bisa tidur dalam kondisi seperti ini," ujar Nayya.


“Nggak ... nggak! Kamu harus istirahat. Jangan sampai kamu sakit. Kita harus bertahan hidup, apapun yang terjadi, jangan sampai kalah dengan manusia setan itu!” ucap Gerry.


“Tapi dirimu ....”


“Aku nggak apa-apa. Biasa juga kok tidur di lantai. Tenang saja! Nggak usah terlalu memikirkan aku,” ucap Gerry.


Nayya mengangguk. Ia berpikir bahwa Gerry ini begitu baik padanya. Sebenarnya Ia mendengar pula bahwa Alma, kekasih Gerry juga dibunuh beberapa waktu lalu. Ia merasa bersimpati pada pria itu. Ingin ia bertanya lebih jauh tentang pembunuhan Alma, tetapi niat itu diurungkan karena mungkin Gerry akan merasa tidak nyaman.


“Aku sampai sekarang masih tak habis pikir, Nay!” ucap Gerry sambil duduk di sebuah sofa.

__ADS_1


“Apa yang ada di pikiranmu?” tanya Nayya.


“Aku nggak menyangka kalau pelaku semua kejahatan ini adalah orang yang kukenal. Ini benar-benar gila! Aku seolah melihat sosok lain dalam dirinya. Seperti sosok iblis yang merasuk ke dalam tubuhnya. Kamu lihat matanya tadi? Penuh dendam bukan? Aku merasa seperti bukan dia yang sebenarnya!” ucap Gerry.


“Aku juga nggak menyangka Ger. Aku juga kenal dengan dia. Kupikir dia tidak seperti orang yang kukenal seperti sebelumnya. Ia seolah menjelma menjadi sosok sadis yang tak punya hati. Sampai sekarang aku masih ingat saat dia membunuh wanita yang ada di Kampung Hitam itu. Ini seperti mimpi buruk. Wanita itu berusaha melindungiku, tetapi dia bernasib malang. Manusia iblis itu menghabisinya dengan tanpa belas kasih!”


“Kamu tahu, Nay! Tadi sebenarnya ingin sekali aku melawan dan bahkan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Entah kenapa hati kecilku menolak untuk melakukan itu. Kalau aku membunuhnya, lalu apa bedanya aku dengan dia?”


“Ger, menurutku itu adalah pikiran yang salah. Posisi kita saat ini tidak bisa memilih, dan tak boleh pula kita menggunakan hati. Pilihannya hanya ada dua. Membunuh atau dibunuh! Aku juga orang yang tidak suka menyakiti orang lain. Bahkan membunuh semut pun aku tidak tega. Tetapi kali ini, kalau saja ada kesempatan, maka aku akan bunuh manusia iblis itu dengan tanganku sendiri!” geram Nayya.


Gerry menghela napas. Mungkin apa yang dikatakan Nayya ada benarnya. Posisi mereka saat ini sedang terjepit. Bukan tidak mungkin bahwa sosok itu akan membunuh sewaktu-waktu. Mereka harus bertindak lebih taktis, dan mengabaikan perasaan yang mungkin timbul.


***


Di dalam kotak kardus itu ternyata ada selembar foto wanita yang sedang tersenyum dan secarik kertas dengan tulisan tangan. Ia mengamati foto wanita itu dengan saksama, berusaha mengingat-ingat paras wanita yang ada di dalam foto. Ia seperti pernah melihat paras wanita itu, tetapi agak lupa di mana.


Kemudian ia beralih ke secarik kertas yang ditulis dengan tulisan tangan. Ia membacanya perlahan.


“Ini adalah foto Dewi Utari. Sebelum kamu membunuhnya, dia adalah wanita yang sangat baik dan penyayang. Sayangnya ia harus berakhir tragis karena perbuatanmu. Foto ini kukirim kepadamu agar kau ingat atas kejahatan yang telah kau lakukan pada adikku ini. Jangan kamu pikir aku akan diam. Aku bersumpah atas nama Tuhan, akan menuntut balas atas kematian adikku. Nyawa dibalas dengan nyawa. Jangan kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu, karena anak buahku banyak berkeliaran di kota ini. Tak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanmu. Sengaja aku tidak melibatkan polisi, karena aku ingin menghabisimu dengan tanganku sendiri! Jadi silakan tentukan sendiri tanggal kematianmu!”


Sosok itu membaca tulisan itu dengan jantung berdegup. Ia menjadi gelisah, jangan-jangan ada yang mengetahui keberadaannya. Ia melihat sekeliling. Banyak orang keluar-masuk ke dalam toko pakaian, sementara kondisi jalan juga cukup ramai. Pikirannya tidak tenang. Jangan-jangan dirinya sedang diintai.

__ADS_1


Segera ia menstarter mobil, hendak pergi meninggalkan tempat itu.


Braaak!


Tiba-tiba, ia merasa ada seseorang yang menggebrak kaca samping bagian belakang. Ia menoleh ke belakang, mendapati dua sosok pria dengan tampang sangar di luar mobil. Pikiran sosok itu kalut, jangan-jangan ini adalah pria yang mengirimkan paket misterius kepadanya. Ataukah ini kakak dari wanita yang ia bunuh tempo hari?


“Turun!” perintah pria bertampang sangar itu.


Sosok itu berusaha tenang, lalu segera menginjak pedal gas mobil. Ia hendak melarikan diri segera, malas berurusan dengan dua orang pria dengan tampang tak bersahabat itu. Melihat gelagat akan kabur, dua pria sangar itu segera melompat ke arah sepeda motor yang diparkir tak jauh pula di belakang mobil.


Mobil putih melaju cukup kencang membelah jalanan, sementara sepeda motor di belakangnya juga memacu kecepatannya agar bisa terus membuntuti mobil putih. Dari kaca spion, sosok itu bisa melihat kalau dia sedang dibuntuti oleh sepeda motor yang dikendarai dua pria sangar tadi.


“Sial!” umpatnya.


Ia segera mengarahkan mobil ke arah pinggiran kota agar lebih leluasa dan tidak terjebak keramaian lalu lintas. Sialnya, beberapa ratus meter di depan, lampu lalu lintas berganti warna merah yang artinya semua kendaraan harus berhenti. Sosok itu merasa cemas. Ia tidak ada waktu untuk berhenti. Ia menerobos lampu merah dengan nekat, sehingga hampir saja mobilnya bertabrakan dengan mobil lain yang kebetulan melaju. Penumpang mobil itu hanya bisa memaki-maki ketika ia hampir ditabrak oleh mobil putih.


Mobil putih terus melaju ke arah pinggiran kota, tepatnya arah hutan kota yang jarang dilintasi oleh kendaraan. Sepeda motor di belakangnya juga terus membuntuti, seperti tak mau kehilangan jejak.


“Brengsek! Aku harus mengecoh mereka!” gumam sosok itu.


Ia membelokkan mobil ke sebuah jalan setapak yang masih berupa tanah berbatu menuju hutan yang rimbun. Ia berpikir bahwa sebaiknya ia keluar mobil dan bersembunyi dalam hutan itu, sambil menunggu situasi aman.

__ADS_1


***


__ADS_2