Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
249. Review Kasus


__ADS_3

Reno memarkir mobilnya di depan kediaman Dimas. Ia berharap bisa segera bertemu dengan rekan kerjanya siang itu untuk mendiskusikan isi teka-teki kelima yang diterimanya. Mereka punya waktu dua hari, sebelum pembunuh itu mengeksekusi korban incarannya. Reno berharap, kali ini akan mendapat titik terang. Kasus ini ternyata tak sesederhana yang dibayangkan, karena melibatkan beberapa orang yang mempunyai alibi masing-masing.


Ia mengetuk pintu rumah Dimas, tetapi sayangnya ketukan itu tak berbalas. Reno tak melihat mobil Dimas. Kemungkinan besar, rekan kerjanya itu sedang keluar. Ia mencoba menghubungi via telepon, tetapi nomor Dimas tidak aktif. Mendadak ia merasa cemas. Ia tahu, Dimas sedikit bersifat emosional dan gegabah. Perasaan khawatir timbul begitu saja, kalau-kalau sang rekan kerja bertindak di luar koordinasi.


Reno berjalan kembali ke mobilnya dengan perasaan sedikit kecewa. Diputuskannya untuk segera kembali ke kantor. Mau tidak mau, ia harus berusaha memecahkan misteri itu sendirian. Segera ia masuk ke dalam ruangannya, dibuka kembali arsip-arsip yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Daniel Prawira. Ia mulai merunut urutan kejadian sejak pertama kali sutradara terkenal itu ditemukan tewas di toilet studio film.


Ia kembali melihat foto-foto Daniel Prawira yang tergeletak di lantai kamar mandi, dengan jeratan kabel di lehernya. Dari data forensik diketahui bahwa penyerangan itu dilakukan secara tiba-tiba, mungkin saat korban baru saja keluar dari kamar mandi. Dalam genggaman tangan Daniel ditemukan selembar kertas yang bertuliskan teka-teki, petunjuk untuk menguak siapa korban selanjutnya.


Di dalam ruang kerja Daniel, ditemukan polis asuransi yang bernilai ratusan juta rupiah, serta kartu ucapan aneh yang tak diketahui siapa pengirimnya. Selama ini, diketahui kalau Daniel adalah seorang duda yang tak mempunyai anak. Seluruh harta warisannya jatuh ke tangan Margareth Prawira, yang belakangan diketahui kalau itu adalah nama palsu. Margareth Prawira yang sebenarnya adalah Anita Wijaya.


Dalam peristiwa pembunuhan Daniel itu, ada 10 orang yang masih bertahan di studio. Tiga di antaranya dicoret dari daftar tersangka, karena sudah tewas terbunuh, dan satu lagi masih dalam perlindungan polisi. Kini, menyisakan tujuh tersangka yang harus ia teliti satu-persatu. Ia berharap bisa menemukan petunjuk dari 7 tersangka yang tersisa.


Pembunuhan kedua, terjadi pada Anita Wijaya, seorang artis muda yang mempunyai hubungan dekat dengan Daniel Prawira. Reno menduga, Anita dibunuh karena mendapat warisan bernilai tinggi dari Daniel. Gadis muda itu tewas tergantung di kebun durian milik Daniel di batas kota. Petunjuk yang didapat dari pembunuhan Anita adalah bungkus cokelat merk Silver King, sama seperti bungkus cokelat yang ditemukan di pembunuhan sebelumnya. Di dalam mulut Anita ditemukan pula gumpalan kertas yang berisi petunjuk seputar siapa korban ketiga.


Korban ketiga adalah Ollan, seorang manajer artis yang namanya juga cukup dikenal dengan baik di dunia hiburan. Ollan adalah satu-satunya korban yang berhasil lolos dari upaya pembunuhan, karena Reno dan kawan-kawan bergerak cepat. walaupun begitu, Ollan nyaris terbunuh apabila mereka datang terlambat. Pria gemulai itu sedang berada villa milik Henry Tobing, ketika si pembunuh menyusup ke dalam villa untuk menghabisi Ollan. Sepertinya, pembunuh sudah tahu seluk-beluk villa dengan baik. Tak mengherankan, karena villa itu sering dipakai pula untuk pesta para artis.


Ollan saat ini tengah disembunyikan di sebuah kampung yang terkenal karena keangkerannya, yakni Kampung Hitam. Di sini, Ollan dititipkan pada Raymond Brothers, yang namanya memang sudah tak asing di kalangan kepolisian. Sejak kasus Ferdy, Raymond Brothers kini menjadi mitra kepolisian, dengan imbal balik kasus-kasus lama mereka diputihkan.


Korban keempat adalah Renita Martin. Wanita muda ini tewas mengenaskan di rumahnya, dengan beberapa jari terpotong. Selain tewas, rupanya ada orang lain yang turut menjadi korban. Sampai saat ini, Rani, adik dari Renita belum diketahui keberadaannya, serta Niken, yang bertugas mengawasi Renita juga menghilang. Belum ada petunjuk penting dari kasus ini.


Reno memelototi satu-persatu arsip para korban dan juga para tersangka. Ia masih belum menemukan korelasi atau benang merah dari masing-masing tersangka ini. Masing-masing mempunyai kehidupan pribadi yang berbeda. Satu-satunya benang merah yang menghubungkan merek adalah dunia hiburan. Ya, semua tersangka itu bergerak di dunia hiburan. Hampir semuanya terkenal, kecuali beberapa nama yang memang bertugas di belakang layar seperti Widya, Riky, dan Guntur.


Reno menghela napas. Ia harus menyusun kepingan-kepingan puzzle ini dari awal. Langkah pertama yang ia lakukan adalah melakukan pemanggilan terhadap pasangan Rianti dan Henry. Ini adalah kali kedua pasangan itu dipanggil, setelah pemanggilan pertama terkait villa tempat Ollan nyaris dihabisi. Agar menyingkat waktu, Reno tidak menempuh jalur prosedural yang rumit. Ia hanya menelepon Henry dan Rianti, kemudian membuat janji di sebuah tempat makan, agar suasana tidak begitu formal. Reno perlu melakukan pendekatan secara pribadi. Reno memilih Alamanda Cafe, sebuah cafe yang menyajikan makanan lezat dan kekinian, banyak dikunjungi berbagai kalangan.


Ia segera menelepon Henry untuk membuat janji bertemu. Pada saat itu, Henry tengah mengendarai mobil menuju Kampung Hitam untuk menjemput Ollan. Deringan ponsel mengagetkannya, sehinga segera ia angkat panggilan dari Reno tersebut.


"Iya Pak!"

__ADS_1


"Bisakah siang ini kita bertemu di Alamanda Cafe? Ada sesuatu yang penting yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Reno.


"Siang ini? Wah mendadak sekali ya Pak. Mohon maaf, Pak. Saya siang ini ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Bagaimana kalau digeser waktunya menjadi sore jam 4?" tawar Henry.


"Jam 4? Baiklah. Tapi kuharap kamu tepat waktu ya!"


"Baik Pak!"


Setelah menghubungi Henry. kini Reno berniat menghubungi Rianti. Ia berniat membicarakan tentang kertas ancaman yang mungkin ditujukan pada Henry dan Rianti.


Pada saat itu, Rianti tengah berada di salon untuk mengubah penampilannya. Ia sengaja mewarnai rambut dan mengubah gaya rambutnya, sehingga ia nyaris tak dikenali. Rianti mematut-matut diri di depan cermin dengan bangga sembari tersenyum-senyum sendiri.


"Gimana menurutmu, Jon?" tanya Rianti pada Joni, si penata rambut.


"Mbak Rianti jadi terlihat sepuluh tahun lebih muda. Pokoknya cantik Mbak!" puji Joni.


Ponsel Rianti diletakkan dalam tas, sehingga ia tak begitu mendengar ketika Reno melakukan panggilan kepadanya berkali-kali. Setelah puas, mematut diri, Rianti mengambil tas nya, mendapati ponsel dalam tas bergetar. Ia langsung mengangkat saat mengetahui yang memanggil adalah Reno.


"Iya Pak. Maaf saya tadi tidak dengar saat bapak menelepon," ucap Rianti.


"Begin Mbak Rianti, bisakah kita bertemu sore ini pukul 4 di Alamada Cafe? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Anda," ucap Reno.


"Jam 4? Bisa nggak ya? Aku usahakan ya Pak! Semoga tidak ada jadwal yang bentrok," ucap Rianti.


"Usahakan datang karena ini sangat penting!"


"Baik Pak!"

__ADS_1


Rianti merasa sedikit gundah. Hal penting apa yang akan dibicarakan Reno? Ia segera menyelesaikan urusannya di salon, sebelum dia meninggalkan tempat itu dengan perasaan cemas.


***


Ollan gelisah di dalam rumah sendiri. Saat ini, Raymond keluar sebentar untuk membeli obat untuknya. Pintu depan tentu saja dalam keadaan terkunci untuk mencegah dirinya kabur. Sedangkan pintu belakang juga dalam keadan digembok dengan gembok kecil. Ollan merasa muak dengan keadaan yang seperti tawanan. Ia mulai tak betah tinggal di rumah itu.


Diam-diam, ia mencari peralatan di lemari dekat dapur. Ia pernah melihat salah seorang personel Raymond Brothers menyimpan semacam linggis kecil dalam lemari Ia membuka lemari, dan menemukan linggis itu dalam sebuah peti khusus peralatan pertukangan. Ia ambil, kemudian ia berusaha mencongkel gembok di pintu belakang, mumpung Raymond tidak ada di tempat.


Perkara membuka gembok bukanlah hal yang gampang. Ollan hampir putus asa membuka gembok, apalagi Raymond sebentar lagi tiba. ia berusaha ekstra keras, sampai pada akhirnya gembok ukuran kecil itu tercongkel juga.Ollan terengah-engah sambil tersenyum penuh kepuasan.


Klik!


Tiba-tiba ia mendengar suara pintu depan dibuka. Ia segera menyusup keluar lewat pintu belakang yang baru saja dibuka secara paksa. Ollan melarikan diri ke kebun pisang belakang rumah. Tak ada barang yang ia bawa, kecuali dompet dan ponsel. Selebihnya, ia hanya berlari menerobos kebun-kebun pisang.


Raymond sama sekali tak menaruh curiga kalau Ollan berhasil keluar rumah dari pintu belakang. Ia meletakkan obat pusing yang dipesan Ollan di atas kulkas di ruang tengah.


"Obatnya kutaruh di atas kulkas ya Lan!" kata Raymond.


Raymond tak mendapatkan jawaban. Suasana rumah terdengar sepi. Sejenak Raymond merasa heran, mengapa si Ollan tidak mau menjawb panggilannya. Ia ketuk pintu kamar Ollan, karena ia mengira pria itu tidur di dalam kamar.


"Lan! Lan! Bangun! Ini obatnya sudah ada," kata Raymond.


Ucapan Raymond itu juga tak digubris. Tentu saja, hal ini membuat Raymond semakin aneh. Tak biasanya Raymond bersikap seperti ini. Kecurigaannya semakin mendalam. ia mencoba membuka kamar Ollan, ternyata tak dikunci. Alangkah terkejutnya Raymond ketika mendapati kamar Ollan dalam keadaan kosong!


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2